Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Sisi Lain Duo F



"Assalamualaikum gaesss. Apa kabar kalian"


"Waalaikumsalam. Papa. Kapan sampainya"


"Huh sudah dari tadi. Kalian kemana saja. Papa sama Mama datang malah kalian ngilang"


"Biasa pah. Jalan-jalan. Mama mana pah"


"Mama lagi kerumah temannya"


"Oh. Oya meja yang Thian pesan mana"


"Inden itu dek. Minggu depan baru jadi"


"Oh oke"


Setelah mencium tangan dan berpelukan dengan sang papa, si kembar langsung mengatakan ide yang sempat mereka diskusikan kemarin.


"Pah Abang mau ngomong"


"Apa bang"


"Hm. Adek kan kemarin main ke sekolah anak-anak disini. Nah kata adek sekolahnya perlu perbaikan. Dan mereka juga harus berjalan memutar jauh untuk ke sekolah"


"Terus"


"Kami berdua berniat memperbaiki sekolah mereka dengan uang tabungan kami pah. Dan jika uang kami masih ada sisa, kami ingin membangunkan jembatan untuk mereka lewati"


Tanpa menjawab, Airil langsung memeluk kedua putranya dan menetes air mata. Dia begitu bangga dengan kedua putranya.


"Jangan semua menggunakan tabungan kalian. Papa akan membantu kalian. Nanti kita lihat kondisinya bersama-sama nak"


"Makasih pah"


"Kenapa papa menangis"


"Papa terharu dan bahagia. Tak menyangka hati kalian begitu mulia nak"


Si kembar kembali memeluk sang papa. Dan mereka tertawa bahagia bersama. Emak baru saja kembali dari kebun melihat cucu dan menantunya saling berpelukan, langsung ikut memeluk mereka dari belakang.


"Ah. Berpelukan"


"Auhhh. Gepeng gaess. Gepeng"


"Ini mah big Po"


"Po obesitas papa"


"Berisik kalian. Kan kita teletabis"


"Uhuk. Emak lepasin kita. Engap ini"


"Iya oma. Habis nafas ini"


Si kembar dan Airil meminta emak melepaskan pelukannya. Emak pun melepaskan dan sedikit menjauh.


"Siapa yang habis nafas. Sini Oma kasih nafas bantuan"


"Oh no"


"Halah sok nolak. Padahal ngarep. Dahlah Oma mau mandi. Penuh lumpur ini"


Ketiga pria tampan itu baru menyadari jika pakaian mereka sudah penuh dengan lumpur. Si kembar langsung berteriak sekencang mungkin. Dan emak hanya melengos saja.


"Omaaaa"


Airil dan si kembar bergantian membersihkan diri setelah emak selesai mandi. Eneng sudah kembali dari rumah Ais dan membawa beberapa bungkus mi ayam. Awalnya Ais memberinya cuma-cuma namun Eneng menolak dan tetap membayar.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Mamaaaa. Kangen"


"Heleh. Kangen kok gak minta jemput"


"Hehe. Mama bawa apa"


"Mie ayam dari Bibi Ais. Yuk dimakan"


"Asyik"


Eneng merangkul pinggang Thian dan berjalan menuju ruang tengah. Bukan karena meja makan emak yang belum datang. Namun saat mereka berkumpul bersama lebih nyaman jika makan beralaskan karpet dan sambil bercerita.


"Mak. Airil mau tanya dong"


"Paan. Tanya aja gak ada yang larang"


"Sekolah anak-anak sini punya pemerintah daerah atau yayasan sih"


"Oh itu dulu milik perseorang. Yang ngajar cuma satu. Terus jaman Eneng gurunya nambah jadi tiga orang"


"Terus sekarang"


"Kalau kata orang-orang, itu yang ngelola masih si Arif. Dia yang manggil teman-teman sesama guru. Dan katanya lagi diusulkan ke dinas ato apa gitu"


"Hmm. Gitu"


"Kenapa sih. Tumben loe nanyain sekolah itu air mancur"


"Nggak. Ini si kembar pengen bantu perbaiki gedungnya. Katanya sudah tidak layak"


"Memang gedungnya kan cuma dibangun swadaya. Beneran tong kalian mau nyumbang"


"Iya oma. Boleh kan"


"Boleh banget"


Emak langsung memeluk keduanya dan bergantian menciumi pipi mereka kanan dan kiri. Namun emak lupa jika bibirnya masih berbekas sambal.


"Muah. Memang cucu Oma anak yang hebat. Baik hatinya kayak Oma"


"Oma stop. Oma habis makan sambal. Bisa pedih ini"


"Hehehe. Lupa"


"Ish Oma ih"


Airil dan Eneng saling berpandangan dan saling tersenyum. Mereka begitu bangga dengan putranya.


"Loe air mancur kalau mau tau lebih banyak, langsung tanya sama Arif. Dia pasti senang ada yang bantu"


"Iya Mak"


Thian sebenarnya sudah sangat kepo dengan perkataan Omanya. Dan dia pun langsung menanyakan apa yang ada dibenaknya.


"Oma. Kenapa Oma memanggil papa dengan sebutan air mancur"


"Lah kalau gak mancur berarti letoy dong"


Airil tersedak mendengar ucapan emak. Si kembar masih bingung dengan perkataan Omanya. Walaupun sifat mereka tengil dan sedikit oleng, namun mereka masih sangat polos.


"Apanya yang letoy Oma"


"Terong bakar"


"Emang papa makan terong bakar"


Eneng mengentikan percakapan unfaedah diantara mereka.


"Stop. Kalian belum saat tau. Nanti kalian akan paham sendiri. Emak jangan racuni pikiran mereka"


"Heleh. Kalian aja juga punya. Paling masih timun belum terong"


"Iya iya"


Si kembar saling pandang dan mengangkat kedua bahunya karena masih belum paham. Emak menikmati sisa mie ayam mereka. Dari luar terdengar suara salam.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Biar mama saja yang lihat. Kalian lanjutkan makan"


Eneng berjalan keluar melihat siapa yang datang. Dan ternyata segerombolan anak muda datang mencari si kembar.


"Kalian. Ada apa"


"Teteh. Si kembar ada"


"Ada baru makan. Kalian masuk dan tunggu saja"


"Terimakasih teh"


Beberapa anak gadis mencoba menarik perhatian Eneng dengan berbagai bahasa tubuh. Eneng menghela nafasnya. Dan bergumam pelan sambil berjalan masuk kedalam rumah.


"Huh. Anak jaman now. Lihat yang bening dikit udah kayak ulet keket nyariin pucuk daun"


Eneng memberitahukan si kembar jika mereka dicari oleh teman-temannya. Si kembar membereskan mangkok bekas mereka makan, dan mencuci tangan serta mulut mereka. Setelah siap mereka menemui teman-teman mereka.


"Ada apa gaess"


"Kalian mau balik ke kota ya"


"Iya. Tau darimana kalian"


"Kami lihat teteh Eneng tadi. Jadi kami pikir orangtua kalian jemput kalian"


"Iya. Kami kembali besok pagi. Kan Senin kita sudah masuk sekolah. Kalian juga kan"


"Iya kami juga"


"Apa kalian akan melupakan kita setelah pulang ke kota"


"Ya nggaklah. Kami akan main lagi nanti"


"Tapi kan libur sekolah masih lama lagi"


"Gak usah nunggu libur sekolah bisa kok"


"Janji ya kalian"


"Iya. Kami janji"


Si kembar saling berjanji dengan teman-teman mereka dikampung untuk datang berkunjung kembali nanti. Marsinah menangis sesenggukan karena merasa kehilangan orang yang sedang dia sukai. Iqbal pun menggodanya.


"Loe kenapa nangis mar"


"Aa Thian kenapa ninggalin Sina disini"


"Hem. Maksudnya gimana nih. Gue gak paham. Kan teman-teman disini banyak"


"Huh. Ganteng-ganteng tapi lemot. Maksud Sina. Sina gak mau Aa balik ke kota. Disini saja sama Sina sama teman-teman lainnya"


"Oh. Ngomong yang jelas dong. Tapi maaf gue tetap harus balik. Sekolah gue disana bukan disini"


"Kan bisa pindah kesini"


"Tidak semudah itu Maemunah"


"Huh. Jomblo lagi gaess"


Bowo menjawab peryataan jomblo marsinah dengan olokan.


"Lah emang loe jomblo dari dulu kali Marsinah. Sok ganti nama Sina segala"


"Diem loe"


Eneng dan Airil yang mendengar percakapan para anak muda itu hanya saling tersenyum.


"Anka kita jadi rebutan diisini sayang"


"Namanya juga ganteng"


"Siapa dulu bapaknya"


"Cuma terong doang gak ada guanya juga gak jadi kang"


"Iya-iya anak kita berdua"


"Ya iyalah. Masa anak tetangga"


"Ya janganlah. Kan lawan mainnya cuma kamu sayang"


Emak yang berdiri dibelakang Airil dan Eneng, melihat mereka saling bermesraan, langsung memeluk Ono yang sudah berdiri disampingnya.


"Haduh. Mata lolos gue. Rusak gara-gara mereka Ono"


"Haduh Mak. Gepeng Ono Mak. Lagian mananya yang polos sih Mak. Semua penuh rintangan gitu kok polos"


"Sesekali bikin senang gue kenapa sih no"


Plak


"Haduh Mak. Jangan digeplak kepala Ono"


"Makanya kalau ngomong jangan suka asal"


"Ono kan jujur, baik hati dan tidak sombong Mak"


Plak


"Jawab lagi kan loe"


"Haduh Mak. Iya Ono gak ngomong lagi deh"


"Sama orangtua itu harus bekerja bisa nyenengin ati. Paham gak loe"


Ono tak menjawab pertanyaan emak, dan emak kembali memukul kepala Ono.


Plak


"Malah diem kan loe"


"Aduh Mak. Ngomong salah. Diam salah. Dahlah pasrah Ono Mak. Pasrah. Sok atuh mau diapain aja silahkan"


"Nah gitu baru anak Sholeh"


"Sholeh tapi ancur sama aja Mak"


"Apa loe bilang"


"Gak Mak. Nggak. Ono gak ngomong apa-apa kok"


"Awas aja loe jawab lagi"


"Hem"


________


Nasib loe no...itu belum hukuman dari si kembar loh ya...


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol dan votenya dongggg