
Sebelum kembali bekerja kota Eneng menyempatkan diri menemui Japri. Airil dan emak ikut bersama Eneng menemui Japri. Eneng sudah menceritakan kondisi Japri saat ini. Sebagai dokter, Airil sangat paham bagiamana psikis Japri. Walaupun di bukan psikolog. Rasa kemanusiaan yang membuat Airil mau menemani Eneng.
"Neng. Semoga kedatangan kita bisa membantu Japri"
"Iya kang"
Didepan rumah Japri sudah penuh dengan para tetangga. Bahkan suara tangis anaknya yang begitu kencang bersautan dengan suara teriakan. Dan Eneng tahu suara itu berasal dari Japri. Airil dan Eneng langsung berlari dan menyibak kerumunan tertangga Japri.
"Ada apa ini"
"Si Japri teriak-teriak kayak orang gila neng"
Airil langsung mendekati Japri. Badan lebih kurus dan tak terawat. Kumis tidak dicukur bahkan pakaian berbau apek.
"Bagaimana awalnya bisa seperti ini"
Salah satu warga yang kebetulan saat itu bertugas menjaga Dzaky, langsung menjelaskan awal mula Japri menjadi lebih histeris dibandingkan biasanya.
"Tadi pagi Japri masih baik-baik saja pak dokter. Pas siang saya mau ambil popok Dzaky, ada seorang pria datang kesini. Tapi saya gak kenal. Sepulang orang itu, Japri teriak-teriak sampai sekarang"
Airil memeriksa kondisi Japri. Karena dia tidak membawa alat, dia memeriksa secara manual. Beberapa warga yang sedang memegangi tangan dan kaki Japri, diminta Airil untuk dilepaskan.
"Kang"
"Bentar. Biar aku coba bicara pelan-pelan sama dia dulu"
"Iya kang"
Eneng memilih menggendong Dzaky dan berusaha menenangkannya. Dzaky yang merasakan kehangatan kasih sayang dari Eneng, bisa tenang secara perlahan. Hingga Dzaky tertidur pulas dalam pelukan Eneng.
Airil masih mencoba berkomunikasi dengan Japri. Walaupun masih berteriak terus, namun sesekali Japri mau menjawab pertanyaan Airil. Dari potongan informasi yang Japri sampaikan kepada Airil, Airil bisa menyimpulkan jika saat ini Japri depresi karena batinnya tertekan. Japri meminta beberapa orang membawa Japri ke rumah sakit terdekat.
Airil ikut membawa Japri ke rumah sakit. Walaupun jaraknya lumayan jauh, Airil tetap ingin Japri dirawat. Eneng tetap menemani Dzaky dirumah.
Setelah tiga jam lamanya, Airil bisa kembali kerumah Eneng. Eneng sudah menyambut Airil diteras sambil menggendong Dzaky. Airil yang melihat dari dalam mobil langsung tersenyum.
"Kok malah kayak disambut anak sama istri ya"
Airil turun dari mobil dengan tersenyum. Eneng menyambut dengan senyum. Hati Airil benar-benar merasa nyaman dan tenang menatap Eneng dihadapannya.
"Sudah pulang kang"
"Iya sayang. Dzaky bobok"
"Iya baru aja"
Airil mendekati Eneng dan Dzaky. Entah apa yang terlintas dibenak Airil. Airil mengecup lembut kening Eneng dan beralih ke kening Dzaky. Eneng yang mendapat serangan mendadak. Tiba-tiba saja cegukan.
"Hug. Hug. A. Kang. Sem hug bro no"
"Hahaha. Lupa beneran sayang khilaf"
"Gak bis hug a ber hug hen ti"
"Hahaha iya nanti aku obati sayang. Habisnya aku berasa disambut anak sama istri. Huh udah gak sabar sayang. Pengen segera halal"
Eneng yang masih cegukan hanya tersenyum tipis dan berjalan masuk kedalam rumah. Airil mengikuti dari belakang. Eneng meminta Airil istirahat terlebih dahulu sebelum mereka kembali ke Jakarta. Eneng masih berusaha menyembuhkan cegukannya.
"Neng berangkat jam berapa"
"Nunggu akang bangun Mak"
Eneng menjawab pertanyaan emak sambil cegukan. Emak sudah tau penyakit ajaibnya Eneng. Emak malah semakin menggodanya.
"Huh baru dicium cegukan. Gimana dibobol gawangnya"
"Mak"
"Ingat neng, jangan bikin malu emak pas malam pertama. Jangan sampai kamu ngompol karena takut lihat timun"
"Emang malam pertama itu beneran sakit ya Mak"
"Sakit. Kalau berhenti. Hahaha"
"Serius Mak"
"Lah ya serius. Besok juga kamu rasakan sendiri. Emak cuma ingatin jangan sampai pingsan atau kejang. Gak asyik aja kan timun tegak menantang kamunya kejang-kejang"
"Ish Mak ih"
Airil sudah bangun. Dia memeriksa ponselnya. Menunggu kabar dari dokter yang merawat Japri. Karena belum ada kabar, Airil memilih keluar kamar. Di ruang tengah terlihat Eneng juga terlelap sambil memeluk Dzaky. Airil mendekat Eneng dan berjongkok menatap wajah Eneng yang terlelap dengan tenang. Airil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah eneng.
"Sayang. Kamu lelah ya"
Airil kembali mengecup kening Eneng. Airil berdiri dan berjalan menuju toilet untuk mencuci wajahnya. Airil masih berdiri didekat pintu kamar mandi mengamati dapur dirumah Eneng. Terdengar suara tangis Dzaky dari ruang tengah. Airil berlari untung menolong bayi mungil itu.
"Sayang nak. Anak pintar. Jangan nangis ya. Bunda baru bobok"
Airil menimang-nimang Dzaky hingga terdiam. Sesekali Airil menggoda Dzaky hingga bayi itu tersenyum.
"Sama ayah dulu ya nak"
Emak yang baru saja pulang dari warung melihat Airil menggendong Dzaky hatinya menjadi haru. Apalagi mendengar Airil membahasakan dirinya dengan sebutan ayah.
"Iya Mak"
"Ealah Eneng masih molor aja"
"Gapapa Mak. Capek mungkin"
"Ril. Kamu bangunin Eneng. Kita bicara mengenai Dzaky. Pak RT akan kesini membahas Dzaky"
"Ya Mak"
Airil berjongkok membangunkan Eneng. Dengan lembut Airil membangunkan Eneng. Eneng bukannya bangun malah membalikkan badannya sambil meninggalkan jejak.
Bruttttt breeeet
"Ya Allah. Hahaha. Dasar ratu kentut"
Emak mendekati Airil dan mengambil alih tugas membangunkan Eneng dengan caranya.
"Kalau mau bangunin nih kebo betina jangan kayak gitu"
"Terus gimana Mak"
"Tutup telinga Dzaky. Mundur satu kilometer"
"Jauh banget Mak"
"Ya udah. Siap-siap ya"
Airil mengangguk dan berjalan mundur menjauh sambil menutup telinga Dzaky. Dan emak beraksi.
"Enenggggg Mira jadi item"
Suara emak benar-benar mengalahi toa masjid dan dalam sekejap Eneng terbangun. Karena kaget Eneng berlari keluar rumah tanpa alas kaki. Tujuannya adalah kandang Mira di rumah Budi. Airil hanya melongo melihat Eneng berlari kencang sekali.
"Emak Eneng Mak"
"Biarin aja. Bentar lagi juga balik"
Airil duduk menunggu eneng. Dan benar hanya sepuluh menit setelah Eneng berlari tadi, Eneng sudah kembali dengan wajah kesalnya. Bahkan saat Airil menyapa tidak di tanggapi.
"Emakkkk"
"Apa sih teriak-teriak. Berisik"
"Mira masih bule Mak belum jadi item"
"Oh kirain apa"
"Emak bikin kesal Eneng saja. Masih ngantuk nih"
"Udah bangun kasian Airil nungguin kebo kampung tidur"
"Iya mak kebo"
"Eh kurang ajar ngatain emak"
"Lah bener kan anak kebo lahirnya dari emak kebo kan. Masak anak kebo lahir dari emak kucing"
"Pusing neng. Mandi sono. Bentar lagi pak RT kesini"
"Ya Mak"
Sore menjelang. Kepulangan Eneng sedikit ditunda. Mereka sedang membahas tentang Dzaky. Airil juga sudah mendapat kabar mengenai Japri. Dan Airil juga mengatakan didepan ketua RT dan Arif selaku penerus tetua desa.
"Kita semua tahu. Japri tidak memiliki saudara. Sedangkan Tati sebagai ibu kandung sudah tidak pernah kesini menengok anaknya. Apalagi keluarga Tati. Jadi apa sebaiknya Dzaky kita serahkan kepada panti asuhan saja. Kalau mengandalkan warga bergantian menjaga, itu tidak efektif. Apalagi lebih banyak jompo disini"
"Saya juga sudah mendapat kabar dari rumah sakit. Japri harus dirawat intens disana. Depresinya sudah terlalu parah"
"Terus biayanya gimana dok. Rumah sakit kan gak mungkin gratis"
Eneng langsung memberikan pendapatnya didepan para warga.
"Jual saja warisan Japri. Nanti uangnya kak Arif yang simpan untuk kebutuhan Japri dan anaknya. Warisan itu atas nama Eneng kan. Nanti Eneng akan bantu"
"Itu ide bagus neng. Masalah biaya sudah beres. Sekarang masalah Dzaky gimana"
"Dzaky biar emak dan Titi yang merawat sampai Japri sembuh. Anggap saja ini anak Eneng juga"
"Eneng setuju"
Eneng menatap Airil meminta persetujuan. Sambil tersenyum Airil mengangguk tanda setuju. Namun Airil mengajukan syarat. Dia akan membuatkan surat kuasa yang nantinya sebagai bukti jika hanya Japri yang bisa merawat Dzaky nantinya. Karena Airil khawatir Tati akan berusaha merebut Dzaky.
______
dah ya...besok masih bahas Dzaky
jangan lupa bahagia gaesss
jempol digoyang yuk