
Note Author...Jadi gaes othor hanya mengambil sebagian kecil kisah yang dialami teman sendiri. Sebelum beliau menikah dan bahagia sekarang. Awalnya othor tidak percaya ada adat semacam itu. Tapi setelah melihat sendiri beberapa tahun lalu, othor baru percaya. Jadi sistem mereka pernikahan diatur sedari kecil. Mereka dipilihkan jodoh oleh keluarga. Dan itu wajib bagi yang sudah bertunangan untuk menikah. Walaupun mereka tidak saling suka. Dan kebanyakan mereka menikah tidak lama. Yang terpenting kententaun adat sudah dijalani. Seperti semacam syarat saja untuk luar dari kampung. Masalah pengusiran itu benar. Mereka dianggap pembawa sial dikampung. Maaf ya beberapa othor ubah ceritanya.
________
Dua hari belum juga ada jalan keluar. Esok akad nikah akan dijalani. Airil sama gelisahnya dengan Eneng. Bahkan mereka sudah menemui Japri namun selalu digagalkan oleh Tati.
"Neng kita harus cari cara untuk bertemu Japri. Kuncinya hanya di dia. Seperti kata anak pak tetua, jika Japri setuju dengan ide kita. Kamu selamat neng"
"Sebenarnya tuan, Eneng sedikit curiga dengan keluarga Tati. Bahkan Tati sendiri menghalangi Eneng bertemu dengan Japri. Padahal dia tau Eneng hanya ingin membatalkan pernikahan ini"
"Jay punya ide pah"
"Apa"
Jay membicarakan ide gilanya. Awalnya Arka sedikit menolak, namun jika dipikir memang itu jalan satu-satunya. Mereka akan melibatkan Airil. Sebelumnya, mereka akan memberitahukan anak tetua desa untuk ikut dalam misi ini"
"Oke kita sudah setuju. Sekarang kamu hubungi Airil neng. Masalah ijin rumah sakit itu gampang. Karena rumah sakit tempat Airil bekerja masih punya kerabat kami"
"Baik tuan"
Eneng langsung menelpon Airil. Dan meminta Airil untuk datang ke kampungnya malam ini juga. Dan Eneng menceritakan rencana mereka. Airil setuju dan beruntung dia sedang free besok pagi.
"Tuan. Tugas Eneng selesai"
"Oke. Anak pak tetua meminta kita bertemu didekat Mushola. Biar saya dan Pak Rudi saja yang menemui"
"Baik"
Jay dan sang pengacara langsung melesat pergi menemui anak tetua desa. Selama dua hari disana, Eneng sudah mengerti mengapa para tetangga tidak berani mendekati Eneng. Keluarga Tati menyebar berita, jika Eneng selingkuh lebih dulu dan Japri membalasnya. Tati menambahkan jika selama ini Eneng sudah memilki seorang anak dengan pria dikota. Bahkan demi harta keluarga Japri Eneng menyembunyikan kebenaran yang ada.
Banyak warga tak percaya. Apalagi menurut mereka Eneng tidak berubah sama sekali. Dan bahkan tidak seperti orang sudah memiliki anak. Bahkan karena berita itu juga, emak Eneng menjadi sakit.
"Neng sebaiknya kita beritahu rencana kita kepada emak kamu. Agar nanti tidak semakin sakit. Dan minta adik kamu menyiapkan barang-barang yang akan dibawa pindah ke kota. Aidil sudah menyiapkan rumah untuk kalian disana"
"Baik nyonya. Maaf Eneng sangat merepotkan. Terimakasih hanya itu yang Eneng bisa berikan"
"Kamu tidak merepotkan. Kamu adalah anak perempuan keluarga Fathir. Jadi jangan pernah merasa sungkan kepada kami"
"Sekarang kita temui emak dan Titi"
"Ya nona"
Jasmine, Melany dan Arka mengikuti Eneng menemui emaknya yang masih terbaring sakit. Mereka menceritakan semua rencana mereka. Emak kaget dengan rencana gila mereka. Namun jika tidak melakukan itu, walaupun rumah sudah hancur mereka diusir tetap tidak bisa melepaskan jeratan Japri kepada Eneng. Dan emak pun akhirnya berkata jujur.
"Neng. Emak setuju dengan rencana kalian. Emak ikhlas kehilangan rumah ini. Asal kamu tau neng. Sebenarnya Japri mau melepaskan kamu tapi tidak dengan Tati. Karena ayah Japri meninggalkan semua warisan atas nama kamu. Sengaja Tati meminta kalian menikah bertiga hanya demi warisan itu. Kamu kan tau adat disini. Setelah menikah pemilik warisan berhak memberikan kepada siapa saja yang diinginkan. Itu tujuan Tati"
"Emak tau darimana"
"Sebulan yang lalu, setelah kamu pergi memutuskan hubungan kamu dengan Japri. Emak Tati datang dan meminta agar pernikahan kalian tetap dilanjutkan. Emak Tati juga menceritakan semua niatnya"
Jasmine dan Melany semakin geram. Hanya demi uang mereka melakukan hal seperti ini. Memperalat Eneng untuk tujuan tak baik.
"Neng. Mendengar rencana kalian emak rasa itu jalan terbaik. Biarlah nama baik rusak. Namun setidaknya kita sudah tidak tinggal disini lagi. Biarlah mereka mengusir kita. Tapi hidup kita lebih damai"
"Emak ridho"
"Insyaallah neng. Emak ikhlas dan ridho. Asal kita bisa selalu bersama"
"Ya sudah kita berkemas dari sekarang Mak. Akang Airil akan datang malam nanti. Dan sopir nyonya juga akan datang satu orang mengangkut barang-barang kita. Bawa yang terpenting dan berharga saja Mak"
"Iya neng. Biar Titi nanti membantu berkemas"
Setelah mendapat restu dari emak, Eneng merasa yakin dan lega menjalankan rencana gila dari Jay. Ini demi kebahagiaan bersama. Dan berharap adat dikampung ini bisa hilang.
Sebelum malam semakin larut, Airil sudah tiba didekat kampung Eneng. Namun dia tidak langsung menuju rumah Eneng. Dia menginap ditempat yang sudah disiapkan oleh anak tetua desa.
"Pak dokter untuk malam ini tinggal di sini dulu. Besok sesuai rencana, kita akan kesana bersama"
"Iya saya mengerti. Dan terimakasih atas bantuannya"
"Saya melakukan ini juga demi kepentingan saya sendiri. Saya juga dipaksa untuk menikah dengan orang yang sudah dipilihkan. Dan saya sudah menolak berkali-kali. Abah tidak pernah mau mendengarkan alasan. Bahkan kekasih saya sudah saya perkenalkan kepada keluarga, tetap saja ditolak. Bahkan diminta menikah bertiga seperti Eneng"
"Semoga usaha kita berhasil kang"
"Aamiin"
"Saya pamit dulu. Takut ada warga yang tahu keberadaan pak dokter disini"
"Iya sekali lagi terimakasih"
"Sama-sama"
Airil datang tidak sendiri malam ini. Airil memilih merebahkan tubuhnya sebelum pertarungan esok hari. Berdoa dan berdoa itu yang Airil lakukan saat ini. Ridho dan restu orangtua juga sudah didapatkan oleh Airil. Orangtua Airil langsung menyukai Eneng.
Fajar belum menampakkan semburatnya, namun Eneng sudah terbangun karena kegelisahannya. Dia bahkan bersujud dipersetiga malamnya berharap yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Dia meminta kelancaran jika memang apa yang dilakukannya saat ini adalah yang terbaik.
Beberapa orang yang diminta untuk merias Eneng sudah datang. Eneng hanya diam menurut. Emak dan Melany yang sebenarnya berat melihat ini semua, langsung menangis. Dalam diamnya Eneng masih meminta. Dia berdoa.
Sedangkan Airil juga sedang mempersiapkan diri. Anak tetua desa sudah mengirimkan makanan untuk Airil dan rombongannya. Bahkan anak pak tetua desa juga membawa serta kekasihnya untuk ikut dalam sandiwara ini. Biarlah dia dikatakan durhaka. Tapi ini semua demi menghapus ketidak adilan yang ada.
"Neng kamu cantik sekali"
"Terimakasih teh"
"Yang kuat ya neng. Kami percaya kamu tidak seburuk itu"
"Insyaallah teh. Terimakasih"
Perias itu sudah menyelesaikan tugasnya. Sesuai rencana Jay, mereka sudah bersiap pada posisi masing-masing.
"Neng sabar. Tidak lama hanya tinggal beberapa jam lagi. Kamu pasti terbebas"
"Iya tuan. Semoga dilancarkan"
"Terimakasih tuan"
"Ingat. Tetap tenang dan jangan sampai Mereka curiga dengan kita"
"Baik"
Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dan akad nikah akan dilakukan pukul delapan tiga puluh menit di balai kampung. Eneng diarak dari rumahnya. Dipersimpangan jalan dia bertemu dengan Japri dan Tati. Eneng hanya tersenyum tipis. Japri yang memang sudah menyadari ada rasa untuk Eneng, tak hentinya menatap Eneng. Itu membuat Tati kesal.
"Para pengantin sepertinya sudah siap. Sebaiknya kita lakukan saja akad nikahnya sekarang. Siapa yang akan menjadi istri pertama"
"Saya pak penghulu"
Tati maju lebih dahulu. Japri sedang belajar mengucap kata ijab didepan penghulu. Eneng semakin cemas. Dia saat ini benar-benar berharap pada keajaiban.
"Baik. Saudara Japri sudah siap"
"Siap pak"
"Kita mulai saja akad nikahnya ya. Dengan mempelai Hartati Ningrum binti Kosim"
"Ya pak"
Pak penghulu mengucap kata ijab kepada Japri untuk Tati. Namun ternyata tak semulus saat dia berlatih dua kali Japri salah meneyebut nama. Dan yang terakhir barulah benar dan dinyatakan sah.
"Sekarang ijab untuk istri kedua Japri. Sudah siap nak japri"
"Siap pak"
Belum juga sang penghulu mengucap kata ijab, Airil sudah datang dengan membawa orangtuanya dan juga seorang anak kecil laki-laki berusia dua tahun.
"Mama"
Anak tersebut berlari memanggil Eneng dengan sebutan mama. Dan langsung memeluknya.
"Raja. Sayang kamu disini nak"
"Raja kangen mama. Tadi malam raja diajak kesini sama papa"
"Mama juga kangen kamu nak"
Japri yang mendengar anak kecil itu memanggil Eneng dengan sebutan mama, langsung marah.
"Siapa dia neng"
"Dia Raja"
"Anak siapa dia neng Apa jangan-jangan benar berita yang dikabarkan Tati kalau kamu sudah memiliki anak"
"Iya. Raja anak ku dan Kang Airil"
Airil maju dengan gagahnya. Para warga langsung berkomentar. Tati dan keluarganya merasa menang karena berita bohong yang disebarkan olehnya menjadi nyata.
"Kurang ajar kamu neng. Berani kamu memiliki neng"
"Aku tidak menipu siapapun. Dari awal aku sudah mengatakan jika kita batalkan pernikahan ini. Tapi kamu tetap ngotot mengikuti kemauan gila Tati"
"Dasar perempuan m****an. Sudah kere belagu"
Perkataan pedas terlontar dari mulut emak Tati. Tetua adat akhirnya angkat bicara. Sesuai dengan perkiraan sang anak, abahnya pasti akan murka. Selain mengusir, kediaman mereka akan dihanguskan.
Japri masih marah. Dia tak terima Eneng sudah menikah dengan orang lain dan memiliki anak. Anak pak tetua datang membawa kekasihnya.
"Abah jangan lanjutkan adat tak beradab ini. Jika Abah melanjutkan, maafkan anakmu ini. Karena aku juga sudah menghamili Putri"
Tetua dan para warga semakin kaget dengan pengakuan dari Arif. Sang Abah langsung menampar wajah Arif.
"Anak kurang ajar. Tak tau adat"
"Jika Abah tetap melakukan adat aneh desa ini, maka Abah juga akan kehilangan anak. Karena Arif juga akan menjalankan adat yang berlaku"
Abah Arif langsung limbung dan hampir pingsan. Sebenarnya Putri tidak hamil. Itu hanya siasatnya saja. Perempuan yang ditunangkan kepada Arif, langsung pingsan dan keluarganya juga marah. Arif tak peduli dia hanya ingin adat ini lenyap.
"Maafkan Arif bah. Arif terpaksa jika tidak begini akan banyak korban ketidak adilan dari adat aneh ini. Hanya dengan begini adat ini bisa hancur"
Emak Arif langsung memeluk anaknya. Selama ini diapun tidak setuju dengan adat aneh ini.
"Jika Abah tetap keras kepala. Ambu akan ikut Arif hidup dikota bersama menantu Ambu"
"Ambu. Jika Ambu berani membantah Abah, hidup kalian akan hancur"
"Maaf bah. Jika Ambu memilih durhaka. Kami pamit. Arif, Putri ayo kita meninggalkan desa ini"
"Baik Ambu"
Ambu mengandeng Arif dan Putri. Abah masih diam dengan amarahnya. Eneng juga dibawa pergi oleh Airil dan keluarganya.
"Bahagialah kalian. Dan Tat. Harga milik ayah japri silahkan kamu miliki. Mintalah japri mengubah untuk dirimu. Jangan menyebarkan berita tak baik hanya demi kepentingan mu sendiri"
"Gak usah sok suci. Kamu saja punya anak diluar nikah"
"Aku hanya membuat nyata tuduhan kamu. Tapi tak seperti apa yang kamu kabarkan. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga anak kalian lahir dengan selamat"
Eneng pergi bersama Airil Dan Arjuna. Akhir panjang kisah Japri dan Eneng penuh dengan intrik. Eneng dan keluarganya lega semua berakhir walaupun dengan merelakan harta peninggalan abahnya.
______
Nah tinggal misteri Dzaky ya gaess... Dan kenapa Japri masih disebut suami Eneng dicerita sebelah...Pusing kan... othornya saja pusing😂😂
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk