
Salsa menjalani terapi jalan dua kali dalam seminggu. Eneng adalah pendamping setia. Selain Gama, Airil juga terkontaminasi dengan virus markoneng. Kedua dokter tampan yang terkenal tegas dan dingin akan langsung oleng jika bertemu Eneng.
Delapan bulan sudah Eneng menjaga salsa. Dan salsa kini sudah bisa berdiri dan berjalan walaupun tertatih. Kedua orangtua Salsa sangat bahagia dengan kemajuan putrinya. Bahkan Eneng mendapat bonus karena hasil kerjanya yang bagus. Walaupun terkadang menjadi biang rusuh.
Eneng juga belum bisa pulang ke kampung menjenguk emak dan adiknya. Bahkan Japri yang meminta ijin untuk menjenguk Eneng di Jakarta masih belum diijinkan oleh Eneng. Saat ini Japri sedang menelpon Eneng, menanyakan pertanggungjawaban Eneng kepada dirinya. Memang dunia Eneng sudah terbalik. Bukan wanita yang meminta tanggung jawab namun pria.
"Loe telponan sama siapa neng. Kok kayaknya gak seneng gitu"
"Sama orang yang merasa sudah Eneng lecehkan non"
"Hah. Maksudnya gimana neng. Kok gue bingung"
Eneng menceritakan secara mendetail kisahnya bisa menjadi tunangan japri temannya dikampung semenjak kecil. Salsa tertawa hingga perutnya kram.
"Ya Allah neng. Loe ternyata omes banget yak. Haha"
"Bukan omes neng. Eneng kan harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Termasuk mencari pasangan hidup. Detailnya harus Eneng pertimbangkan. Jangan sampai salah pilih"
"Termasuk anunya neng"
"Itu sih hanya kekhilapan non"
"Kekhilapan yang loe impikan neng"
"O jelas"
Salsa hanya bisa tertawa mendengar perkataan pengasuhnya yang memang mesum itu. Selama menjalani fisioterapi, salsa dan Eneng jarang bermain ditaman komplek lagi dan sore ini Eneng mengajak salsa ke taman komplek. Mencari udara segar. Padahal tujuan Eneng melihat yang bening-bening sedang main basket.
"Wah tumben hari ini gak begitu rame ya non"
"Iya neng"
"Non tunggu sini bentar ya. Eneng mau beli cilok dulu"
"Gue mau juga dong neng. Pedes ya. Jangan lupa minumnya sekalian"
"Asyiap"
Eneng berjalan ke pinggir lapangan membeli cilok dan air minum. Salsa tidak memperhatikan jika dari dari ujung lapangan basket ada seseorang yang menatapnya.
"Ji. Samperin aja. Mintalah maaf. Gue tau loe merasa bersalah sama salsa"
Pemuda itu masih terdiam menatap salsa yang tengah bercanda dengan anak kecil. Setelah memantapkan hatinya, pemuda itu berjalan mendekati salsa. Dia berdiri tepat di samping kursi dimana salsa duduk.
"Sa"
Salsa mendengar namanya dipanggil, masih diam saja. Karena dia mengenali suara itu. Sekali lagi pemuda itu memanggil nama salsa. Dan salsa menoleh untuk memastikan.
"Sa. Salsa. Apa kabar"
"Panji"
"Iya ini gue. Kamu apa kabar sa"
"Aku eh gue baik ji"
"Syukurlah. Boleh aku bicara sebentar sama kamu sa"
"Mau bicara apa"
"Tentang kita"
"Tentang kita. Memangnya ada apa sama kita ji"
"Sa. Aku duduk sini boleh"
"Ini tempat umum loe boleh duduk disini"
Panji sedikit canggung berada didekat salsa. Apalagi mereka bertemu kembali setelah tiga tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu. Karena kesalah pahaman membuat mereka terpisah.
"Kamu selama ini dimana sa"
"Ada dirumah"
"Tapi keluarga kamu bilang, kalau kamu ada diluar negeri"
"Sengaja. Karena mereka tidak mau melihat gue kembali menjadi bahan ejekan"
"Sa. Aku minta maaf. Tak seharusnya malam itu aku nerima keputusan kamu untuk pisah. Aku baru sadar setelah aku berulang kali mencari kamu dirumah tapi yang kudapati kamu meninggalkan aku pergi tanpa aku menjelaskan semuanya. Sa, apa aku masih bisa memiliki hatimu"
Salsa berusaha menahan rasa didadanya. Perih itu kembali muncul karena kehadiran Panji. Mungkin rasa itu juga masih ada. Atau hanya sekedar simpati.
Panji menatap salsa dari samping. Dia terus menatap salsa dari sebelum salsa berbicara hingga salsa kembali terdiam. Sedangkan salsa hanya menatap lurus. Eneng yang sudah kembali dari membeli cilok, langsung berlari mendekati salsa yang sedang didatangi seorang pria.
"Non ini pesanannya"
"Makasih neng"
"Wah ada cowok ganteng. Kenalan boleh"
Salsa hanya diam melihat Eneng menggoda Panji. Sedangkan Panji hanya terus menatap wajah salsa.
"Ih kacang mahal bro. Dicuekin gue nya"
Eneng duduk di kursi lain yang masih berada didekat salsa. Tanpa mau menyela setiap pembicaraan mereka, Eneng khusyu' dengan ciloknya. Panji melanjutkan perkataannya.
"Sa, aku gak pernah jadian sama Ela. Bahkan rumor aku tunangan dengan dia juga itu tidak benar. Dan malam itu saat dikafe, aku menunggu kamu sa. Tapi Ela bilang kamu sudah dijodohkan dengan seorang dokter anka dari sahabat papi kamu. Awalnya aku gak percaya. Tapi waktu itu aku sering melihat seorang dokter muda selalu datang kerumah mu. Ela terus berusaha mendekatiku sa. Dan selalu aku tolak. Aku pun pergi meninggalkan kota ini sa untuk menjauhi Ela. Selama enam bulan aku berada di Singapura. Dan aku terus berusaha mencarimu sa"
Eneng diam mendengarkan sambil manggut-manggut. Salsa terdiam. Mengingat apa yang mungkin terlewatkan. Panji mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto.
"Lihat ini sa. Ini undangan pernikahan Ela dengan pria lain bernama Ajisaka. Ela hamil anak pria itu. Dan itu tepat satu bulan setelah kamu pergi tanpa kabar. Apa keluarga kamu tak memberitahukan berita ini"
Salsa mencoba mengingat. Saat maminya mengatakan jika Ela sepupunya akan meninjau karena sudah hamil terlebih dahulu. Namun maminya tak memberitahukan dengan siapa Ela menikah.
"Tidak. Mami hanya memberitahu jika Ela menikah"
"Ela sengaja ingin menjebakku agar bisa menikah denganku. Beruntung Salim bisa memperingatkaku dan aku pergi menjauh"
Panji terus menatap salsa. Salsa sengaja menoleh kearah Panji. Dia melihat kedalam matanya. Dan memang tidak ada kebohongan dalam mata Panji. Panji meraih kedua tangan salsa.
"Sa. Masihkah sama rasa itu. Aku tidak pernah mencari wanita lain sa. Hingga kini namamulah yang masih menguasai hatiku. Jujur saat aku melihatmu kembali beberapa Minggu yang lalu, ingin rasanya aku memelukmu sa. Bahkan aku mengikutimu hingga didepan rumahmu"
"Ji. Gue gak tau apa rasa ini memang masih untukmu atau bukan. Walaupun saat ini loe sudah mengatakan semuanya, entah mengapa hati ini masih sakit. Biarkan gue mencoba mengerti dengan perasaan ini jika"
"Baiklah. Aku akan menunggumu sa. Tapi ijinkan aku untuk kembali mendekati dirimu kembali sa"
"Baiklah ji"
"Terimakasih sa"
Sepasang anak manusia yang sedang membenahi hubungan melupakan seorang makhluk absurd yang memperhatikan keduanya dengan pandangan ingin.
"Oh suitnya. Eneng mau dong digituin. Coba aja Aa Gama yang gituin Eneng, pasti langsung aja Eneng ke KUA"
Salsa tertawa. Sedangkan Panji yang belum mengenal eneng, sedikit penasaran tentang sosok unik itu.
"Siapa dia sa"
"Kenalkan Menli monro"
"Apa Manly monro. Setau gue adanya Marilyn Monroe"
"Nah itu. Maklum lidah Eneng suka keseleo"
"Oh Eneng to namanya"
"Eh bukan ya. Julia Perez"
"Loh yang bener siapa sih"
Salsa hanya bisa tertawa saja. Dia sudah paham watak Eneng jika melihat cowok ganteng pasti langsung oleng.
"Dia pengasuh gue ji. Karena dialah gue punya keberanian untuk kembali hidup"
"Makasih ya neng sudah membawa salsa kembali"
"Lah emang non salsa dari mana"
"Maksudnya terimakasih sudah membuat salsa semangat lagi neng"
"Oh itu. Santai saja. Itu hal mudah untuk Eneng"
Teman-teman Panji ikut mendekati Panji dan Salsa. Karena mereka semua bening. Kumatlah si markoneng.
"Ya Allah gusti. Nikmat mana lagi yang kau dustakan neng. Disini saya mulai oleng"
_____
Hai gaeessss...Jangan lupa bahagia ya
Jempol goyang yuk digoyang goyang..