
"Ono. Cariin kaos kaki gue"
"Iya"
"Kunnnnn. Mana topi hitam gue"
"Iya bentar"
"Buruan Ono"
"Iya. Warna apa"
"Putih lah. Gue upacara"
"Kunnnnn. Cepat keburu siang"
"Ini udah dapat"
"Kun. Bukan yang ini. Topi hitam kun. Ini biru dongker"
"Oh salah toh"
"Buruan"
"Kalian tuh sudah besar. Kenapa selalu merepotkan KunNo"
"Biar olahraga papa"
"Betul kata Abang"
KunNo sudah bersiap akan mengikuti sikembar ke sekolah. Sudah sedari mereka taman kanak-kanak KunNo menjadi pengasuh tak kasat mata. Kini mereka sudah duduk di kelas delapan. Waktu memang cepat berlalu. Bahkan hingga saat ini mereka masih belum memiliki adik.
"Mah. Pah kami berangkat dulu"
"Gak bareng papa kalian"
"Gak pah. Ntar pak Kasdim makan gaji buta kalau gak nganterin kita"
"Ya sudah. Hati-hati. Belajar yang benar. Thian jangan gangguin anak perempuan terus"
"Kan sambil menyelam minum air pah. Sambil belajar cari jodoh"
"Ngeles aja. Salim sini sama mama biar berkah"
"Beres mama cantik"
Mereka sudah berpamitan kepada kedua orangtuanya. Airil juga berangkat kerumah sakit. Eneng akan menjalani aktivitas seperti biasanya dirumah keluarga Malik. Walaupun sudah tidak memiliki anak balita, Eneng tetap setia bekerja disana meskipun tidak mau menerima gaji.
Si kembar Dean satu sekolah dengan si kembar anak Eneng. Sedangkan anak Devin berbeda sekolah karena memang tempat tinggal mereka berjauhan. Setiap weekend mereka saling bertemu.
Disekolah si kembar double F sangat mudah dibedakan. Namun terkadang mereka berubah menjadi sosok yang sama. Keduanya memiliki kecerdasan yang sama. Hanya Thian lebih mudah bergaul dibandingkan Fathan yang cenderung pendiam. Mereka adik kelas sikembar Dean Malik.
"Than. Ada titipan surat dari anak kelas D"
Salah satu teman sekelas Fathan menyodorkan amplop berwarna maroon kepada Fathan. Hal yang sudah biasa mereka lihat. Bahkan terkadang si kembar juga mendapatkan kue atau kotak bekal makanan. Dibandingkan Thian, lebih banyak penggemar Fathan. Mereka penasaran dengan sikap Fathan yang begitu dingin.
"Buat loe aja Ji"
"Ogah ah. Yang dapat surat cinta loe, kenapa kasiin ke gue"
"Kasih Thian aja"
"Adik loe juga gak mau"
"Buang tempat sampah"
"Gak enak ah. Ni gue taruh disini ya. Terserah mau loe apain"
Aji pergi ke bangkunya sendiri setelaheletakkan surat diatas meja Fathan. Thian yang baru saja dari kantin datang menghampiri kakaknya.
"Nih susu loe"
"Hmm"
"Surat lagi bang. Gue buka ya"
"Hmm"
Thian membaca surat itu. Dia hanya tersenyum disudut bibirnya. Surat itu sekarang berubah menjadi pesawat mainan. Thian sengaja menerbangkan pesawat mainan itu didepan kelas. Dan mengenai salah satu siswa yang sedang duduk sambil bercanda didepan kelas lain.
"Bos. Tuh surat nyasar ke si cupu"
"Biarin no. Biar cupu bahagia"
"Kasian kali bos kalau nanti salah paham"
"Kalian itu gak bisa lihat pesona asli si cupu ya. Coba perhatikan baik-baik"
KunNo menatap lekat seorang siswa cupu bernama Lukman. Walaupun tak berkaca mata, namun Lukman memiliki pesona yang menawan jika dipermak.
"Benar kata Thian. Dia aslinya lumayan juga no"
"Hemm. Ternyata Thian memiliki penglihatan yang tajam"
Thian sudah kembali masuk kedalam kelas. Dia tidak satu bangku dengan Fathan. Karena pernah saat pelajaran matematika, Thian berubah menjadi Fathan. Sama-sama dingin. Dan sang guru kesal karena susah membedakan. Mereka akhirnya duduk terpisah.
Bel masuk kelas sudah dimulai. Harusnya mereka upacara. Namun karena hujan tiba-tiba turun, upacara ditiadakan. Jam pelajaran segera dimulai. Jam pertama adalah bahas Indonesia dan guru yang mengajar mereka masih muda dan cantik.
"Selamat pagi anak-anak"
"Pagi Bu Meta"
"Kita berdoa dulu sebelum pelajaran dimulai. Berdoa mulai"
Kelas seketika hening karena para siswa sedang khusyuk berdoa.
"Berdoa selesai"
"Fathian. Apa kamu sakit"
"Tidak Bu"
"Terus kenapa kamu selalu menunduk"
"Masih berdoa Bu"
"Panjang sekali dia kamu"
"Saya berdoa semoga kelak mendapat jodoh seperti ibu yang cantik mempesona"
"Cie cie. Uhuy"
"Fathian. Kamu ya suka banget gombal"
"Itu kenyataan Bu. Ibu itu bagai cahaya dipagi hari. Yang memancarkan kehangatan untuk hati saya Bu"
"Cieeeeeeeee"
"Sudah. Sudah. Fathian serius. Jangan gombal lagi"
"Serius saya Bu. Gak main-main dengan hati saya Bu"
"Ihirrrr"
Suara riuh menyoraki Thian yang sedang menggoda guru muda tersebut. Fathan hanya tersenyum tipis melihat kelakuan adiknya. Fathan tidak merasa malu atau risih dengan gaya Thian yang suka menggombali cewek-cewek. Selama tidak merugikan, Fathan tetap stay cool.
"Kun. Thian emang beda"
"Darahnya Eneng masuk kesini semua kayaknya no"
"Iya. Raja gombal"
Pelajaran pun dimulai. Mereka fokus mendengarkan guru menjelaskan. Mencatat apa yang memang penting untuk mereka pelajari nanti. Setelah dua jam, pelajaran pertama usai. Kini mereka sedang beristirahat.
Fathan dan Thian selalu ke kantin bersama dua orang temannya. Riki dan Nando. Mereka kenal sejak masih taman kanak-kanak. Dikantin si kembar Dean sudah menunggu.
"Lama amat kalian"
"Bu Meta ngasih catatan tambahan bang"
"Oh. Sudah gue pesenin. Kayak biasanya kan"
"Iya. Thanks bang"
Mereka hanya sesekali bercanda sambil menunggu makanan datang. Tiba-tiba datang dua orang disiswi mendekati meja mereka sambil marah-marah.
"Fathan. Gue mau ngomong sama loe"
Fathan tak menanggapi disisi tersebut. Apalagi yang mereka dekati saat ini Thian bukan Fathan. Fathan duduk ditengah dan Thian dipinggir.
"Loe dengar gak sih than Sisil mau ngomong"
"Ngomong aja gak ada yang melarang"
Thian berubah menjadi Fathan. Fathan dan lainnya hanya melirik dan tersenyum tipis melihat cara Thian menjadi kakaknya.
"Apa maksud loe ngasih surat ini ke Lukman. Kalau loe emang gak suka, gak usahlah kasih surat ini ke orang lain"
Thian menjadi Fathan, tetap terdiam. Sedangkan Fathan asli asyik bermain game online.
"Loe punya mulut kan. Apa gagu loe"
Thian paling benci dikatai secara sarkas seperti itu. Dia langsung berubah menyeramkan. Dan barulah mereka sadar jika dia adalah Thian.
"Loe nuduh gue apa punya bukti. Jangan asal ngabacot aja loe. Penampilan cewek jiwa preman. Jangan-jangan gender loe juga diragukan. Operasi plastik loe"
"Fathian"
"Ya kenapa. Gue Thian. Loe punya bukti kalau Abang gue ngasih surat itu ke Lukman"
Kedua sisiwi tadi terdiam dan saling pandang. Thian semakin menampakkan wajah marahnya.
"Gak bisa jawab kan kalian. Makanya jangan asal tuduh. Karena kalian sendiri yang akan malu"
"Kalau bukan Abang loe yang ngasih siapa lagi. Karena surat itu memang buat Fathan. Dan sekarang ada di Lukman"
"Kenapa loe gak tanya sama Lukman darimana dia dapat surat itu"
Mereka langsung diam. Karena memang belum menanyakan kepada Lukman dari mana dia memperoleh surat itu.
"Pergi kalian. Bikin semak mata gue aja"
Setelah kedua siswi itu pergi, Nando mencoba bertanya kepada Thian.
"Loe apain suratnya bro"
"Gue jadiin pesawat. Eh gak taunya jatuh dipangkuan Lukman"
"Hahahaha. Jodoh kali mereka"
"Harusnya mereka berterimakasih ke gue udah gue cariin jodoh"
_______
Dasar Thian gak ada duanya....
Maaf ya dipercepat.....
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk