
"Ya Allah gusti. Thian"
"Apa sih Oma. Kenceng banget teriaknya. Thian dari tadi duduk disini"
Emak melihat cucu yang duduk disebelah kanannya. Emak memperhatikan dengan cermat wajah cucunya itu.
"Loe Patan bukan Thian"
"Ini Thian Oma. Bukan Abang"
"Gak gak loe itu Patan. Gak usah bohong sama Oma. Ntar jidat loe lebar. Mana Thian"
"Serah Oma. Dibilang ngeyel"
"Eh ngatain oma ngeyel"
Memang yang sedang duduk disamping emak adalah Fathan dan Thian sedang pergi keluar. Jika emak tahu Thian keluar tanpa ijinnya, bisa diberi hukuman oleh emak.
Fathan masih berperan sebagai Thian sambil menunggu sang adik pulang. Thian sedang membeli sesuatu tak jauh dari kompleks.
"Loe itu Patan bukan Thian. Oma apal banget tabiat kalian. Dimana adik loe"
"Hem. Beli makanan"
"Apaaa. Kenapa gak bilang Oma"
"Ntar kalau bilang Oma gak bolehin keluar"
"Pasti boleh lah. Tau gitu Oma nitip rujak"
Fathan memilih mengakui jati dirinya sebelum sang Oma ngamuk. Emak datang ke kota karena akan berangkat umroh satu Minggu lagi. Sedangkan orangtua Airil akan datang dua hari lagi. Menunggu Arjuna ada waktu mengantarkan mereka.
Tak lama terdengar suara sepeda Thian memasuki rumah. Emak melihat dari jendela. Melihat Thian membawa kantong plastik emak tampak bahagia. Dia menyambut sang cucu dengan senyuman.
"Thian. Baru pulang"
"Oma. Tau ini Thian"
"Ya taulah. Oma kan juga ngerawat kalian dari orok. Gak bisa dibohongi. Bawa apa itu"
"Makanan..."
Belum juga Thian selesai melanjutkan perkataannya, emak sudah merebut plastik ditangannya. Didalam plastik masih ada bungkusan dari kertas tebal. Emak mencoba membukanya perlahan. Emak langsung melemparkan kembali bungkusan itu membuat isinya berhamburan keluar.
"Anak sontoloyo. Akhhh. Jauhkan itu dari Oma"
Emak naik ke kursi. Namun emak lupa jika kursi itu tak sanggup menahan beratnya beban emak.
Krekkkk
Brugh
Eneng yang baru saja pulang dari rumah Jay, langsung berlari setelah mendengar suara benda terjatuh keras.
"Ya Allah. Kursi gue apes bener nasibnya"
"Anak durhakim loe neng. Bukan khawatir sama emak malah kursi yang dikasihani"
"Emak kelihatan jelas gapapa. Lah kursi Eneng, sudah tak berwujud lagi. Lagian emak kenapa ngrusakin kursi"
Eneng berjalan mendekati sang Emak sambil diam-diam memperhatikan tubuh emak takut ada luka ditubuh emak.
"Noh anak sontoloyo. Emak kira bawa makanan manusia. Eh ternyata bawa tikus putih buat makan ular kesayangannya"
Keduanya menatap Thian yang menangkapi anak tikus yang berhamburan. Thian masih tertawa setelah melihat sang Oma mematahkan kursi dimeja makan.
"Hahaha. Nasib loe si. Sabar ya. Ikhlas ya si"
"Dasar anak sontoloyo. Tau gitu Oma gak ijinin loe keluar tau gak"
"Kasian dong Bobby dong Oma kelaparan. Gak takut apa ntar peliharaan papa jadi sasaran"
"Lagian ya loe Thian. Peliharaan kok yang ngulet-ngulet mleyot gitu"
"Lucu Oma"
"Apanya yang lucu. Hiii"
Satu Minggu yang lalu ada seekor ular Sancaka masuk kedalam rumah. Ular itu masuk kedalam rumah saat semua anggota keluarga sedang menonton drama. Dan lampu memang dimatikan agar suasana lebih mendramatisir. Airil saat itu mengenakan sarung. Karena usai pulang dari masjid dia tidak menggantinya.
"Pah"
"Apa mah"
"Jangan mentang-mentang gelap anak-anak gak lihat. Si Otong dibebasin"
"Otong"
"Iya. Masukin lagi dalam sarung. Gak enak dilihat anak-anak pah"
"Apanya yang dimasukkin sayang. Kamu minta dimasukkin sayang"
Airil memainkan matanya dihadapan Eneng. Eneng yang kesal memukul paha Airil.
"Aduh sayang sakit"
"Mesum. Cepet masukin kandang si Otong ini"
"Otong apa sih sayang. Otong anteng didalam"
"Lah terus ini apa yang empuk-empuk panjang agak licin"
"Lah gak tau"
Eneng dan Airil sama-sama menatap kearah tangan Eneng yang sedang mengelus sesuatu. Airil mulai menegang. Eneng meminta Fathan menyalakan lampu.
"Abang nyalakan lampu"
"Ya mah"
Begitu lampu menyala. Airil berteriak dan melompat ke sisi lain sofa dan menimpa kepala Thian tanpa sengaja.
"Hahhhh"
"Maaf adek. Papa kaget"
"Kenapa sih"
"Tuh"
Airil menunjuk kearah Eneng yang sudah kegirangan mendapat mainan baru. Bahkan kini mainan itu melingkar manja dileher Eneng. Si kembar juga sangat antusias melihat apa yang Eneng bawa.
"Ah. Mama itu cantik sekali"
"Adik suka"
"Heem. Boleh buat adek"
"Boleh. Pelihara aja"
"Nooo. Papa gak ijinin. Itu binatang yang bahaya"
"Bahaya kalau gak dikasih makan. Selagi dia kenyang gak akan bahaya"
Ular sanca seukuran lengan Thian. Airil yang masih takut memilih menjauh. Fathan melihat kearah perut ular itu nampak menggembung.
"Kayaknya dia habis makan deh. Nih perutnya gede"
"Kira-kira makan apa ya bang"
Si kembar saling menatap dan mencoba mengingat sesuatu. Keduanya langsung beridiri mencoba memeriksa kandang peliharaan lainnya.
"Coba dihitung yang bener dek"
Thian mencoba menghitung hewan yang ada didalam kandang. Thian mengulangi hingga tiga kali dan hasilnya masih tetap sama.
"Kurang satu bang"
"Bener berarti dek. Dia makan marmut kita satu"
"Pantes dielus mama gak melawan dia"
Mereka kembali masuk dan membawa peliharaan baru yang diberi nama Bobby. Airil memilih menghindar karena dia sangat takut dengan bintang melata itu.
Emak yang mendengar cerita asal mula Bobby, tertawa terbahak-bahak. Dia tak menyangka jika menantunya takut terhadap hewan melata.
"Neng emak mau tanya"
"Apa Mak"
"Pas loe ngelus si Bobby gak ada yang aneh gitu"
"Ya aneh Mak"
"Apa anehnya"
"Gak keras-keras. Malah licin banget"
"Terus sama gak Bobby sama Otong"
"Ih emak kepo"
"Ayolah neng. Gede mana"
"Rahasia. Ntar bahaya buat emak"
"Pelit loe ah"
Eneng sedang membereskan kursi yang telah patah. Sedangkan emak duduk santai sambil menonton acara televisi. Terdengar suara teriakan emak. Membuat Eneng yang sedang memotong buah berlari membawa pisaunya. Begitu juga duo F. Berlari dari halaman belakang.
"Akhhh"
"Ada apa sih Mak"
"Oma kenapa"
"Lihat neng. Ada konser BTS. Wah seksi banget. Emak mau yang kayak gitu satu"
Duo F menepuk jidatnya. Mereka melihat mama dan Omanya sangat bersemangat melihat siaran ulang konser boyband penomenal itu. Setiap ada adegan seksi emak dan Eneng berteriak sekencang mungkin. Mereka ikut berjoget. Duo F pun sama mereka berjoged ria.
"Akhhh. Seksi banget Mak"
"Hoo. Emak mau suami itu"
"Mak yang itu ganteng banget. Aduh boleh gak sih dibungkus"
Thian menjawab semua pertanyaan kedua wanita yang paling mereka cintai itu.
"Hadeh. Mereka itu usianya sama kayak bang Al. Bahkan yang Oma mau masih dibawah bang Al dua tahun. Masa opa kita gak jauh sama kita"
"Eh gapapa. Daun muda lebih segar"
"Hadeh. Virus Jungkook"
Mereka melanjutkan melihat konser sambil bernyanyi dan berjoged. Emak kembali membuat rusuh. Karena berjoged diatas sofa.
"Aduh emak. Ambles sofa Eneng"
"Sofa murahan dong"
"Bukan sofa murahan. Tapi beban emak tak terkalahkan. Rugi bandar ini mah"
______
Maaf ya kemarin keasyikan nonton Jungkook dan V yang sekseh...Emak aja ngilerππππ
Emak bonusin hasil nonton konser online kemarin gaess. JK and V
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk