
"Dzaky. Ikut ayah yuk ke kota. Kita tinggal disana"
"Gak mau. Dzaky mau sama ibu Titi saja disini"
"Tapi ayah disana sendirian. Kalau ada Dzaky, ayah ada teman"
"Oke Dzaky mau. Tapi ibu Titi ikut"
"Hmm. Belum bisa sayang. Nanti nini siapa yang jagain"
"Ya diajak"
Japri menghela nafas sambil tersenyum kepada putra semata wayangnya. Sudah ketiga kalinya Japri membujuk Dzaky untuk ikut ke kota. Disana Japri sangat kesepian. Namun Dzaky selalu meminta agar Titi diajak. Dzaky memanggil Titi dengan sebutan ibu. Dzaky sudah menganggap Titi adalah ibu kandungnya.
"Hem. Begini saja. Ibu Titi ikut tapi ibu nginap dirumah uwak Airil"
"Gak mau. Ibu bobok sama ayah sama Dzaky"
Japri dan Titi saling menatap. Dan sama-sama tersenyum. Mereka sudah terbiasa dengan sikap Dzaky yang seperti itu. Emak yang mendengar cucunya merajuk, langsung menengahi.
"Dzaky ingin bobok bareng ayah dan ibu"
"Iya Nini"
"Ya sudah. Nanti kalian nginap saja dirumah Uwak"
"Tapi Japri gak enak sama kang Airil Mak"
"Udah gak usah gitu. Airil gak apa-apa kok. Dia sudah menganggap kamu saudara sendiri. Bahkan Dzaky dianggap sebagai anaknya kan"
"Iya Mak"
"Sudahlah daripada Dzaky sedih. Mending kalian nginap dirumah Eneng saja"
"Ya sudah nanti Titi telpon teteh. Bilang mau nginap sana"
"Ya sudah sana kamu telpon dulu ti"
"Ya Mak"
.
.
Sedangkan orang yang hendak ditelpon oleh Titi sedang asyik mengerjai poci baru. Kebetulan malam ini Airil masuk malam dan akan pulang besok pagi. Tiba-tiba saja ada setan datang gangguin Eneng. Namun sayang tuh setan salah sasaran.
"Loe lambat banget sih ci"
"Sabar napa. Tau gue diikat semua gini loe suruh ngepel. Mana banyak lagi"
"Siapa tadi yang ngotiri pake tanah liat"
"Huh. Niatnya nakutin eh malah dibully. Yang salah gue apa nih orang sih"
Si poci ngepel sambil menggerutu pelan. Namun Eneng masih bisa mendengar.
"Makanya jangan songong jadi poci baru dua bulan udah bikin rusuh"
"Namanya juga usaha"
"Udah buruan loe pel semua tuh. Sampai bersih. Awas kalau gak bersih. Gue lepasin satu-satu tali loe"
"Sadiss"
"Makanya jangan bikin rusuh dirumah gue"
"Iya maaf. Gak lagi lagi kesini gue"
Eneng duduk santai sambil menonton acara televisi. Sedangkan si poci masih sibuk membersihkan lantai. Sambil menggerutu.
"Loe koid kenapa ci"
"Ditabrak anak tetangga gue"
"Emang loe gak bisa minggir gitu pas tuh mobil lewat"
"Gue gak tau kalau tuh mobil mau nabrak gue. Kalau gue tau, gue gak bakalan keluar rumah"
"Gue tanya. Kenapa loe gak minggir. Kenapa jawabannya lain"
"Gue udah minggir. Tetap saja tuh mobil nyosor"
"Loe koid langsung ditempat ci"
"Kagak. Gue sempat dibawa kerumah sakit"
"Oh jadi loe koid di rumah sakit"
"Kagak"
"Lah terus"
"Gue koid didalam mobil ambulance. Belum sempat masuk rumah sakit"
"Oh. Gitu toh. Ngomong kek dari tadi"
"Situ tanya apa, ya gue jawab aja. Kok malah ngomel"
"Terus loe tau siapa yang nabrak loe ci"
"Jangan tanyakan itu. Plis jangan"
"Kenapa emangnya"
"Terlalu sakit untuk diingat dan dikenang"
"Gak mau. Ntar loe ketawa"
"Gak akan. Masa cerita sedih gue ketawa"
"Janji"
"Nggak sih"
"Tuh kan"
"Mau cerita gak sih ci"
"Asal loe gak ketawa"
"Hmm. Buruan"
"Jadi kan. Gue lagi berdiri disamping rumah. Tiba-tiba anak tetangga gue lagi mainan disamping rumah gue. Tiba-tiba dia oleng terus becak mini yang dibawa dia nabrak gue"
"Ditabrak becak aja bisa koid. Hebat bener"
"Masalahnya dia nabrak gue didekat rumah yang baru dibangun. Gue nabrak tiang yang yang setengah jadi. Tuh tiang nimpa kepala gue. Ya koid lah"
"Oo seperti itu"
"Hmm"
"Kenapa muka loe sedih ci"
"Gue koid masih punya utang"
"Berapa"
"Cuma dikit sih gak banyak"
"Iya berapa utangnya. Nanti gue tolongin bayar kalau banyak. Tapi loe utang apaan"
"Utang segitiga bermuda. Masih lima puluh ribu"
"Masa segitu keluarga loe gak bayarin"
"Bayarin seh. Tapi ya gitu deh"
"Gak jelas loe ci. Oya nama loe siapa"
"Mario"
"Wuih keren bener nama loe"
"Hmm. Mariono maksud gue"
"Kampret loe ci. Sok keren taunya Mariono. Gak Ono aja panggilan loe"
"Ih sirik aja loe. Daripada loe nama Suci panggilan markoneng. Jauh jauh jauhhhh banget"
"Membumi nama gue ci. Eh loe ngapain dlosoran gitu"
"Lelah neng. Ngaso dulu"
"Eh gak ada. Cepat bersihin. Atau gue beneran gunting tali loe"
"Iyaa"
Si poci kembali beraski melompat ke kanan dan kekiri sambil mengepel lantai. Ponsel Eneng berdering. Titi benar-benar menghubungi Eneng. Meminta ijin untuk menginap disana selama beberapa hari. Eneng tidak masalah, apalagi ada Dzaky juga akan datang. Tapi Eneng tetap akan meminta ijin Airil dulu.
"Neng. Gue udah selesai. Gue pergi"
Si poci berteriak kencang sebelum ngacir dari rumah Eneng. Eneng langsung keluar memastikan hasil kerja si poci.
"Dasar poci sontoloyo. Ini kenapa makin amburadul. Kampret emang loe si Ono. Gue sumpahin nyungsep loe Ono"
Apa yang dikatakan Eneng benar terjadi. Si poci Ono nyungsep di selokan depan rumah Eneng.
"Eneng tolongin gue. Huahhhhhh"
Eneng keluar melihat si Ono. Bukan ditolong Eneng malah tertawa ngakak. Posisi kepala si Ono nyungsep kedalam selokan dan kakinya menjulang keatas.
Disaat sinpoci menderita dan Eneng tertawa, Japri mencoba berbicara serius kepada emak dan Titi.
"Mak sebelumnya Japri minta maaf. Japri gak ada maksud jelek kepada keluarga emak. Tapi memang hanya Titi yang Japri percaya merawat Dzaky. Dan Dzaky juga menganggap hanya Titi ibunya. Dzaky masih butuh sosok Titi Mak. Dan Japri gak tega misahin mereka. Jadi Japri meminta ijin dan restu dari emak untuk meminang Titi menjadi istri dan ibu bagi Dzaky"
Emak dan Titi saling pandang. Memang japri sudah sangat berubah. Dan Dzaky hanya mau menerima Titi sebagai ibu. Setiap Japri ingin menghabiskan waktu dengan Dzaky, Dzaky tak pernah mau jika Titi tidak ikut.
"Jap. Kalau emak semua terserah Titi. Kan bukan emak yang akan menjalani nantinya. Seperti apa keputusan Titi, kamu tetap hormati ya jap. Jangan memaksa"
"Iya mak"
Japri beralih menatap Titi yang menunduk. Dia kembali mengutarakan keinginannya.
"Bagaimana ti. Apa kamu mau jadi ibu sambung Dzaky. Ya walaupun selama ini memang kamu sudah menjadi ibunya. Tapi kali ini aku ingin kamu menjadi istriku juga. Agar kita bisa merawat Dzaky bersama"
"Hmm. Kang. Boleh Titi meminta waktu. Titi akan setuju jika emak dan teteh merestui kang. Karena hanya mereka yang Titi miliki. Tanpa restu mereka, Titi tidak akan tenang"
"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan menunggu restu dari Eneng"
______
Akankah mereka direstui Oneng....
Jangan lupa bahagia gaesss
Jangan lupa jempolnya digoyang yuk