Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Setan Takut Setan



Dua bulan meneguk indahnya madu pengantin baru, banyak hal baru juga yang Eneng ketahui tentang suaminya. Sungguh menakjubkan. Dirinya saja sudah sangat ajaib dan kini memiliki suami lebih sekedar ajaib.


Kebiasaan masing-masing mulai terkuak satu persatu. Seperti beberapa hari yang lalu. Tak hentinya Eneng tertawa melihat Airil mengigau sambil memperagakan ilmu kungfu. Bahkan dengan sengaja Eneng mengabadikan momen itu dalam bentuk video.


Dan malam tadi ketika Airil pulang dari rumah sakit, Airil yang mulai terbiasa memanggil Eneng walaupun sudah terlelap selalu mendapatkan balasan fantastik.


"Sayang aku pulang"


Brutt


Airil teekikik dan tetap merebahkan tubuhnya sambil memeluk Eneng. Eneng yang mulai bisa merasakan kehadiran oranglain disampingnya, langsung merespon dengan membalikkan badannya.


"Udah pulang kang"


"Iya sayang"


"Sudah makan"


"Sudah tadi dengan Gama"


"Hmm. Bobok lagi yuk. Ngantuk"


"Yuk. Akang juga lelah"


Mereka terlelap sambil berpelukan. Hingga adzan subuh menyambut, seperti biasa Eneng akan bangun terlebih dahulu. Membersihkan diri dan bersiap untuk melaksanakan tugas seorang hamba. Namun sebelumnya dia membangunkan Airil terlebih dahulu.


Setelah subuh, Airil memilih melanjutkan mimpinya. Karena terlalu lelah. Dan hari ini dia akan masuk shift malam yang berarti akan pulang besok pagi. Eneng sudah terbiasa dengan jadwal kerja Airil. Yang terkadang akan mendapat panggilan dadakan dari rumah sakit.


Seleksi masak, Eneng langsung berangkat kerumah Jay menggunakan sepeda motor. Eneng hanya bekerja hingga siang hari saja. Sebenarnya Jasmine dan Melany sudah melarang Eneng bekerja. Namun selain karena hutang budi, Eneng juga merasa kesepian jika dirumah sendiri. Terkadang jika Airil shift malam, Eneng akan menginap dirumah Jay.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Sudah pulang sayang"


"Loh akang kok bangun gak nelpon Eneng"


"Ya gapapa. Kan kamu juga lagi kerja"


"Sudah makan kang"


"Sudah sayang"


"Ya sudah Eneng ke belakang dulu jatuh sayuran"


"Oke beib"


Eneng memang selalu pulang sudah dengan membawa sayuran yang dia beli saat dirumah Jay. Agar tidak ribet jika dia lupa ke pasar. Selesai membereskan belanjaan, Eneng kembali keruang tengah menemani Airil menonton acara televisi.


"Sayang nanti malam mau diantar kerumah om Jay"


"Gak usah kang. Dirumah saja"


"Yakin gapapa"


"Gak papa kang"


"Hmm. Itu sayang"


"Apa kang"


"Gak jadi deh. Lupa hehehe"


"Belum ubanan udah pikun kang"


"Gak usah ngeledek deh"


Airil bermanja-manja dengan Eneng. Sudah dua bulan menikah memang masih belum ada kabar bahagia dari Eneng. Namun itu tidak masalah bagi Airil. Mereka juga masih sangat baru menjadi pasangan pengantin. Apalagi waktu bersama mereka memang sangat sedikit.


"Yang. Ibu minta kita liburan ke kampung"


"Kapan akang libur"


"Belum tahu neng. Jadwal lumayan padat ini. Tapi akang udah rencana ambil cuti"


"Ya gapapa kang. Eneng manut saja"


"Nanti om Jay gapapa kalau kamu cuti agak lama"


"Gak masalah mereka. Lagian Mereka memang meminta Eneng untuk tidak usah bekerja lagi. Tapi Eneng pasti kesepian kang kalau dirumah sendiri"


"Iya gapapa kok sayang. Asal kamu bahagia saja"


"Makasih kang"


"Ah gak asyik makasih ya gak ikhlas"


"Terus harus gimana dong"


"Sun dong. Udah halal loh ini. Masa dianggurin"


"Tapi malu"


"Heleh sok malu. Biasanya juga kayak soang. Nyosor melulu"


"Lah kan itu akang"


"Oh mau nyangkal ya. Oke kita buktikan. Ingat akang ada rekamannya loh ya sayang"


Eneng baru teringat kejadian yang sangat memalukan baginya. Mungkin Airil pun malu namun masih bisa bersikap biasa. Pagi itu Airil mendapat panggilan rapat dadakan melalui conference. Karena sedang menangani seorang pasien dengan kondisi istimewa. Dan beberapa dokter yang bekerja sama dengan dirinya berasal dari luar negeri, waktu mereka juga padat. Maka dilakukan meeting secara online.


Eneng yang tak tahu jika sang suami sedang meeting, tiba-tiba duduk dipangkuan Airil dan mencium bibir Airil. Karena kaget, Airil tidak sempat menutup layar laptop dihadapannya. Terdengar sorakan dari rekan-rekan Airil. Sedangkan Eneng yang sudah teramat malu langsung berlari masuk kamar.


"Itu kan kecelakaan kang. Lagian akang juga gak ngomong kalau lagi rapat"


"Haha. Gapapa sayang. Yuk yang mumpung belum sore"


"Kemana kang"


"Main kuda lumping lah"


"Ahhhh akang"


"Ahhh Eneng. Ayolah"


"Yuk yuk yuk"


Mereka pun masuk kedalam kamar untuk melaksanakan pertunjukan kuda lumping disiang yang panas dan semakin panas saja. Dan berakhir dengan tidur siang.


Sore pun menjelang. Airil sudah bersiap untuk berangkat kerja. Kembaki Airil bertanya kepada Eneng. Tetap tinggal dirumah atau menginap dikediaman Malik. Eneng tetap memilih tinggal dirumah. Setelah berpamitan Airil pun berangkat. Dan eneng masuk kedalam rumah. Membersihkan rumah yang tak begitu kotor. Seperti biasa Eneng akan duduk santai diteras sambil menunggu tukang bakso melintas.


Tetangga Eneng yang melintas didepan rumahnya, mampir sekedar bergosip ria. Eneng memang sudah banyak mengenal tetangga kompleksnya.


"Iya. Suami masuk malam Bu"


"Pulang besok pagi dong"


"Iya bu"


"Gak takut sendirian dirumah Bu. Apalagi sebelah rumah baru saja ada yang meninggal"


"Kenapa harus takut Bu. Lagian orang sudah meninggal gak akan bangkit lagi kan"


"Ya gak gitu Bu Suci. Apa Bu Suci gak dengar berita akhir-akhir ini"


"Berita apa Bu Berta"


"Kan yang meninggal kemarin arwahnya gentayangan Bu Suci. Hii serem. Udah banyak yang didatangi loh"


"Masa sih Bu Berta. Saya kok baru dengar"


"Ih gak percaya amat sih Bu Suci. Eh bentar lagi Maghrib. Saya mau pulang dulu. Takut ketemu hantu. Hii. Assalamualaikum Bu"


"Waalaikumsalam"


Eneng mengabaikan perkataan Bu Bertha tetangga depan rumahnya. Memang tiga hari yang lalu salah satu penghuni rumah samping kanan Eneng ada yang meninggal karena bunuh diri. Dan baru sekarang Eneng mendengar rumor setan bergentayangan.


"Huh. Manusia kok takut setan"


Eneng masuk untuk melaksanakan ibadah kepada yang maha pencipta. Usai melaksanakan ibadah, seperti biasa Airil akan menghubungi Eneng. Sambil menikmati bakso yang dibelinya tadi, Eneng sedang asyik bercanda dengan sang suami.


"Eh kang kata Bu Berta ada setan gentayangan"


"Kamu sudah dengar sayang"


"Akang tahu"


"Iya. Dan siang tadi akang mau ngomongin itum Tapi takutnya malah kamu nanti gak berani tidur sendiri sayang"


"Yaelah kang cuma gosip saja percaya"


"Masalahnya kemarin waktu pulang malam, Akang ketemu setan itu neng. Dia nangkring dipos depan"


"Iyakah. Tapi akang gapapa kan"


"Untung kamu sudah sering ngasih tau akang tips ketemu hantu. Jadi gak masalah"


Sedang asyik mengobrol, pintu rumah Eneng diketuk-ketuk lumayan kencang.


"Kang tumben siapa bertamu malam-malam gini"


"Pagar gak kamu gembok sayang"


"Udah kok"


"Lah kok masih bisa masuk ngetuk pintu"


"Coba aku lihat dulu kang"


"Hati-hati sayang. Jangan matikan ponsel kamu sayang"


"Iya kang"


Eneng berjalan mengintip lewat lubang kunci. Kalau lewat jendela itu sudah biasa. Eneng bisa melihat sesuatu yang berniat mengerjainya.


"Siapa sayang"


"Setan clamitan. Bentar Eneng atasi"


Eneng sengaja masuk ke kamar berganti pakaian dan memakai masker dua warna hitam dan putih. Rambut panjangnya diurai berantakan. Matanya menggunakan softlens. Tak lupa lampu senter


"Perfect"


Suara gedoran masih terus terdengar. Bahkan kaca juga ikut dia gedor-gedor. Eneng berjalan untuk membuka pintu. Tak lupa mematikan lampu depan.


Ceklek


Setan dihadapan Eneng belum berbalik badan. Eneng sudah siap dengan menyorotkan lampu kearah wajahnya. Saat setan itu berbalik.


"Setannnnn"


"Lah dianya aja setan Maslah teriak setan. Gimana sih gak profesional banget"


Namun sayang aksi Eneng dilihat oleh beberapa warga komplek yang sedang melintas. Eneng lupa sedang berperan menjadi Mak kunkun. Dengan santai Eneng melambaikan tangan dan menyapa.


"Wah Bu Lilis darimana. Mampir Bu"


"Seeeee"


Bugh


"Kok pingsan. Aduh mana gendut lagi. Gimana ngangkatnya"


Eneng menunggu warga lain lewat untuk meminta tolong. Bukannya menolong para warga berlarian dan ada juga yang kembali pingsan.


"Ini warga kenapa sih. Gak solider banget"


"Ihihihi. Neng loe ngambil lahan gue"


"Lahan apa sih Kun"


"Loe gak nyadar lagi pakai gaya apa. Pantes gue sepi orderan loe ambil lapak gue"


"Astaghfirullah. Lupa Kun. Beneran. Tadi gue mau nemuin tuh setan melet eh lupa belum ganti baju"


"Dah sono ganti baju. Banyak yang pingsan nih"


"Iya"


"Dasar manusia ajib. Setan aja sampai kabur lihat loe pake baju setan"


"Setannya aja penakut Kun"


"Berani bunuh diri gak berani terima kenyataan dia neng"


"Betul betul betul. Kenyataannya dia adalah setan"


___________


Jangan lupa bahagia gaesss


Jangan lupa jempolnya gaesss