
"Astaghfirullah. Ya Allah. Fathiannnnnn"
Eneng berteriak sekencang mungkin. Walaupun Thian tidak mungkin mendengar teriakan Eneng karena masih dikampung. Eneng teringat jika Thian memintanya untuk memberi makan hasil eksperimen si kembar digudang belakang. Namun Eneng tak tau apa hewan itu. Karena Thian selalu membawa binatang yang berbeda setiap harinya.
Airil yang masih berada dirumah langsung berlari ke belakang. Airil takut terjadi sesuatu dengan Eneng.
"Ada sayang"
"Lihat ulah anakmu itu kang"
Eneng menunjuk kearah pintu gudang agar aiirl memeriksanya sendiri. Airil tanpa curiga langsung membuka pintu gudang. Reaksinya pun sama dengan Eneng.
"Allahuakbar"
Duar
Airil menutup pintu gudang dengan sekencang mungkin karena kaget dengan apa yang ada didalam gudang tempat dimana sikembar bereksperimen.
"Itu tadi semua kerjaan si kembar mah"
"Siapa lagi kang. Cuma mereka berdua yang menggunakan ruangan ini kan"
"Terus sebanyak itu mah"
"Iya. Seperti yang papa lihat"
Airil berjalan mondar sambil berkacak pinggang. Sedangkan Eneng memijit pelipisnya melihat ulah kedua putranya itu.
"Telpon mereka pah"
"Iya mah"
Eneng mencari cara untuk memusnahkan semua hasil eksperimen si kembar. Karena setiap pintu dibuka semua akan meloncat-loncat. Airil menghubungi si kembar namun tak ada satupun mengangkat panggilan. Bahkan emak pun sama.
"Sayang. Gak ada yang jawab ini. Emak juga"
"Dasar bocah sableng. Awas ya kalau pulang"
Eneng sudah bertekad akan membasmi semua yang ada didalam gudang tersebut. Bahkan Eneng menyiapkan karung kosong untuk mengemasnya. Airil menatap istrinya sedang sibuk menyiapkan alat perang.
"Kamu yakin sayang"
"Yakin kang"
"Perlu panggil bantuan"
"Gak usah. Aku bisa sendiri. Akang jaga pintu saja takut ada yang kabur"
"Ah. Oke"
Eneng sudah siap masuk kembali kedalam gudang. Dengan peralatan perang yang lengkap. Airil menjaga pintu depan juga membawa tongkat untuk berjaga.
Sedangkan dikampung kedua tersangka sedang mengikuti emak berjualan ikan. Fathan hanya sebagai penonton. Dia jenuh dirumah dan akhirnya memutuskan untuk ikut adik dan Omanya ke pasar berjualan ikan dan sayuran. Dengan Thian sebagai pion utama. Suara teriakan merdunya mengundang banyak pelanggan.
"Ayo ibu-ibu cantik dibeli ikan hasil Empang sendiri. Terjamin makanannya bergizi dan selalu bersih. Karena mereka selalu mandi. Ayo dibeli murah saja ibu-ibu. Dijamin tidak akan mengecewakan ibu-ibu. Ada ikan berkumis loh Bu ibu. Atau mau ikan perawan juga ada"
Emak bagian menerima uang dan mengemas barang. Fathan duduk dibelakang agar tidak ada yang bisa mendekati dirinya. Apalagi para ibu-ibu disana sering mencoba mencolek-colek Thian. Saat mereka akan mencolek Fathan, Thian akan menghalanginya. Karena akan terjadi bencana jika Fathan sampai tersentuh tangan wanita.
"Wah emak. Ajudannya ganteng bener"
"Ini cucu-cucu gue dari kota"
"Wah kembar ya Mak. Ganteng semua"
"Jelaslah turunan gue gak akan ada yang jelek"
"Boleh dong Mak satu buat calon mantu"
"Enak aja"
"Jangan pelit dong Mak. Biar anak gue perbaikan keturunan gitu"
"Heh Zubaedah. Kasian cucu gue dapat anak loe si Nunik itu"
"Kok gitu Mak"
"Nunik itu udah pendek. Kulitnya udah kayak kecap manis"
"Mak ih gitu. Makanya gue minta satu buat calon mantu buat perbaikan keturunan"
"Yang ada kalau jadi sama anak loe, cicit gue totol-totol item putih. Loe mau beli kagak. Buruan kasian yang lain"
"Beli ikan berkumis sekilo"
"Oke. Loe tunggu dulu"
Setelah memberikan ikan yang dipesannya, zubaedah membayar sambil mencolek pipi Thian. Thian hanya tersenyum saja. Mereka menjual banyak hari ini. Semua Ikan yang dibawanya habis begitu juga sayuran.
"Yuk balik. Lele sama Nila udah habis. Sayuran juga habis"
"Yuk Oma"
Fathan dan Thian membantu membereskan barang bawaan mereka. Tiba-tiba dari belakang datang seorang ibu muda yang memeluk tubuh Fathan.
"Kasep bener sih. Jadi gumush"
Thian langsung panik dan berusaha melepaskan pelukan tangan wanita tersebut dari perut Fathan. Jangan ditanya seperti apa wajah memerah Fathan. Fathan menahan sesuatu agar tidak terjadi bahaya.
"Teh. Maaf ya Abang saya gak bisa dipegang sembarangan. Bisa bahaya"
"Maaf teh. Kami mau pulang"
"Yah kok cepat banget sih. Sini main dulu temani teteh"
Emak yang mulai kesal, akhirnya meminta Fathan untuk tidak menahannya lagi. Agar perempuan itu juga segera pergi.
"Jangan ditahan. Losss in aja. Basmi perusuh bang"
"Gapapa Oma"
"Gapapa. Sok lepaskann bebanmu bang"
"Oke"
Bruttttt bussssshhh
"Huh lega"
Aroma semerbak sudah menyebar diarea itu. Thian dan emak terkikik geli. Dan perempuan tadi mulai tak nyaman dengan baunya.
"Eh siapa tadi kentut"
"Gak ada teh"
"Ini bau banget. Ya ampun mual gue. Huekkkk"
Perempuan itu akhirnya pergi meninggalkan si kembar dan emak. Mereka terbahak setelah wanita itu pergi menjauh.
"Buahahahahaha. Rasain gas beracun cucu tampan gue"
"Hahaha. Pingsan sudah tuh"
"Lagian Oma heran sama loe than. Ganteng-ganteng doyan kentut. Bau banget lagi. Ngidam apa mama kalian dulu"
"Oma tanya mama sendiri. Fathan gak tau. Yuk pulang"
"Iya oma. Thian lapar"
"Ya sudah. Kita makan mie ayam dulu mau gak"
"Mauuu"
Mereka bergegas keluar pasar dan menuju kewarung mie ayam yang berada didekat rumah emak. Warung milik sahabat Eneng Ais. Dijalan emak bak ratu yang dikawal oleh dua pangeran tampan. Banyak mata tak bisa lepas memandang si kembar.
Tiba diwarung mie ayam, mereka langsung memesan. Dan kebetulan Ais juga berada disana. Ais memutuskan kembali ke kampung dan meneruskan usaha bapaknya setelah bapaknya tiada.
"Beli"
"Iya. Duduk dulu"
Ais keluar untuk membantu sang suami. Ais kaget melihat emaklah yang menjadi pembelinya. Ais juga kaget melihat si kembar karena memang selama ini dia belum pernah melihat wajah anak Eneng.
"Emak. Tumben mampir"
"Ini cucu-cucu tampan emak kelaparan. Dan emak belum masak tadi. Ya udah beli mie ayam aja"
"Mereka ini, anak Eneng Mak"
"Iya. Anak markoneng. Kenapa ganteng kan"
"Gak nyangka Ais Mak. Anak Eneng bisa sebening ini"
"Semua gak percaya kan. Tapi emang faktanya gitu"
"Hai. Kenalin nama teteh Ais. Sahabat kecil mama kalian. Siapa nama kalian"
"Hai teteh. Nama saya Fathian dan ini Abang saya Fathan"
"Wah namanya bagus banget"
Sebelum pembicaraan mereka berlanjut, ponsel Thian bergetar. Sedari berangkat kepasar ponsel keduanya hanya berada di tas dan tanpa diberi nada. Sehingga membuat mereka tidak mengetahui jika kedua orangtua mereka menghubungi.
"Assalamualaikum mah"
"Waalaikumsalam. Dasar anak sontoloyo. Apa maksud ini semua adik. Kamu pikir rumah ini penangkaran kodok apa hah. Satu gudang penuh kodok"
"Sudah jadi kodok mah"
"Maksud kamu mama bohong"
Thian meloncat kesenangan mendengar berita dari sang mama. Dan memberitahukan kepada Fathan eksperimen mereka berhasil.
"Abang eksperimen kita berhasil. Bisa jualan sweki kita bang"
Fathan Tidka menjawab. Namun Eneng yang masih kesal langsung berteriak.
"Gak ada sweki yang ada sueki. Kodok-kodok kalian udah jadi bangkai. Mama karungin mau mama buang"
"Yang mama lakukan itu jahat"
_________
Hai...i'm back...maaf baru sempat jaringan disini agak jelek hari ini..
Jangan lupa jempolnya gaesss
Jangan lupa bahagia