
Menjelang siang Eneng dan geulis sudah sampai di Jakarta. Eneng yang baru pertama kali datang ke ibukota dibuat takjub. Mulutbya terus menganga melihat gedung-gedung bertingkat tinggi yang dilewatinya sepanjang jalan. Sedangkan geulis masih terlelap dalam tidurnya.
"Mang itu gedung kok tinggi banget yak. Gimana cara naiknya ya mang. Kok gak kelihatan tangganya"
"Itu namanya gedung pencakar langit neng"
"Hah pencakar langit. Masa sih mang"
"Iya beneran emang itu namanya"
Eneng yang duduk didekat pintu langsung melongokkan kepalanya menghadap langit sambil mencari sesuatu.
"Mana cekernya mang kok gak kelihatan"
"Ceker apaan neng"
"Ya itu tadi katanya pencakar langit. Tapi Eneng lihat keatas gak ada cekernya"
"Itu hanya istilah saja Oneng. Bukan arti uang yang sebenarnya"
"Ngomong apa seh mang Ucup nih. Makin gak dong Eneng mah"
"Huh. Oneng, kalau dikota besar kayak gini nyebut gedung-gedung tinggi banget kayak itu namanya pencakar langit. Bukan berarti ada ceker yang lagi garuk-garuk dilangit"
"Oalah gitu toh mang. Eneng pikir motip diatasi langit yang garis-garis itu hasil cakaran gedung-gedung ini itu mang"
"Huh. Karepmu neng"
Mang ucup kembali melihat kearah jalanan yang sudah mulai padat. Setelah dua puluh menit, Eneng dan geulis sudah sampai didepan rumah majikan geulis.
Eneng kembali terbengong melihat rumah majikan geulis yang sangat megah. Maklum dikampung tidak ada rumah yang seperti itu.
"Neng mungkin. Ntar ada nyamuk pingsan bau jigong loe"
"Hish teh geulis mah sukanya gitu. Teh gede bungur sih rumahnya. Ini mah istana. Serasa Eneng jadi Elsa di pilem projen itu teh"
"Uda mingkem loe neng. Ayo ikut gue masuk"
"Iya teh"
Eneng berjalan mengikuti geulis dari belakang sambil membawa tas berisi pakaiannya. Geulis masuk dari pintu belakang. Didapur sudah ada seorang pembantu yang sedang memasak.
"Pagi Mbak Tami"
"Eh Lis loe udah nyampe"
"Iya. Oya kenalin ini Eneng Mbk"
"Oh ini yang bakalan bantuin jaga non salsa"
"Iya mbak"
"Hai gue Tami. Semoga loe betah ya disini"
"Hai Mbk saya Eneng"
"Ya udah Mbk geulis mau ketemu nyonya dulu"
"Ya udah sono"
Geulis menuntun Eneng menemui majikannya. Eneng masih sibuk melihat seisi rumah yang memang baru pertama kali dia melihat rumah yang begitu mewahnya itu.
"Pagi nyonya"
"Pagi. Oh kamu sudah balik"
"Iya nyonya. Ini saya bawa teman saya yang nanti akan menjaga non salsa"
"Mana"
Geulis menarik lengan Eneng untuk maju menghadap majikannya. Perempuan dengan gaya pakaian wanita karir dan dandanan yang menawan.
"Pagi nyonya saya Eneng"
"Oh jadi kamu yang nanti akan menjaga anak saya"
"Iya nyonya"
"Kamu lulusan apa"
"Cuma sekolah dasar nyonya"
"Baca, nulis sama berhitung bisa kan"
"Bisa nyonya"
"Ya sudah kamu mulai bekerja sekarang. Nanti apa tugas kamu biar geulis yang jelaskan"
"Ya nyonya terimakasih"
"Kami permisi nyonya"
"Yah"
Geulis menggandeng Eneng menuju kamar yang nantinya akan ditempati olehnya selama bekerja disini.
"Neng ini kamar loe. Kamar gue disebelah kanan loe. Kamar mandi ada disebelah sana ya neng dekat tempat menyuci. Kita nyuci boleh pakai mesin cuci"
"Tapi ntar Eneng diajarin kan teh pake mesin cucinya"
"Iya ntar gue yang ngajarin. Dah sekarang loe taruh barang loe terus gue antar ke kamar non salsa"
"Ya teh"
Setelah menaruh barang geulis mengajak Eneng menemui salsa anak yang akan diasuhnya.
"Neng tugas loe cuma khusus buat jagain non salsa. Terus loe nanti jangan kaget lihat kondisi non salsa ya. Gue minta loe bisa sabar jagain ya. Loe adalah orang keempat yang menjadi pengasuhnya"
"Kenapa mereka gak betah semua teh"
"Iya. Mereka semua membuat kesalahan. Dan nyonya paling gak suka sama orang yang membuat kesalahan. Nyonya itu menginginkan semua serba sempurna"
"Gak ada manusia yang sempurna kali teh"
"Ya begitulah"
"Teh itu"
"Hust loe akan tau nanti"
Pelan-pelan geulis memegang lengan anak majikannya itu. Perlahan gadis cantik itu membuka matanya dan melihat geulis disampingnya tersenyum, tapi gadis itu hanya melengos.
"Non salsa. Ini Eneng yang nanti akan melayani non"
"Gue gak perlu kalian semua. Pergi sana. Biarkan gue mati aja"
"Non jangan seperti itu"
"Kalian pergi. Pergi. Gak usah sok peduli sama gue"
Eneng yang melihat itu malah menangis. Bahkan tangisnya teramat kencang. Sedangkan geulis hanya diam saja tanpa bisa berbuat sesuatu.
"Huaaahhhh sakit banget hati eneng. Masa baru aja datang udah diusir sih non. Eneng gak mau pulang sekarang neng. Ntar yang ada Eneng dikawinin sama si japri. Huaaahhhh"
"Lis dia kenapa"
"Gak tau non"
Eneng bahkan sekarang duduk dilantai seperti anak kecil yang sedang tantrum Eneng terus menangis.
"Non biarkan Eneng kerja disini. Biar emak Eneng bisa naik haji"
Salsa yang melihat itu langsung terbengong sendiri melihat kelakuan Eneng. Baru kali ini calon perawatannya itu.
"Lis dia waras kan"
"Waras buanget non. Cuma agak oleng aja dikit. Tapi hatinya baik non"
Eneng tidak mendengar apa yang geulis bicarakan pada salsa. Salsa yang melihat Eneng seperti anak kecil, lama-lama tertawa. Dan itu hari pertama semenjak geulis kerja di sana melihat nona mudanya tertawa.
"Hahaha loe lucu. Ya udah loe boleh jagain gue. Tapi kalau loe nyebelin gue pecat loe"
"Benarkah. Horeeee yes yessss. Jakartahhhh neng coming" (baca sesuai huruf ya)
"Coming kali neng"
"Apalah itu yang penting sama artinya non"
"Sesukamu lah neng"
Geulis merasa lega karena Eneng bisa bekerja di sana. Dengan melihat wajah ceria nona mudanya, geulis merasa Eneng adalah obat untuk sang anak majikan.
"Kalau gitu geulis mau kerja dulu dibawah. Neng loe gue tinggal gapapa kan"
"Iya gapapa teh"
"Permisi non"
"Ya lis. Makasih"
"Sama-sama non. Semoga betah dengan keolengan Eneng ya non"
"Sepertinya dia menarik Lis"
Geulis sudah pergi meninggalkan Eneng dan salsa didalam kamar. Eneng masih lihat hiasan dinding kamar salsa yang penuh dengan poster boyband. Dan juga Lee Minho.
"Ya Allah suami kuuuuuu ada disini"
Eneng langsung mencium foto Lee Minho secara brutal. Salsa yang melihat sambil terbaring tertawa terbahak.
"Sejak kapan dia jadi suami loe neng"
"Sejak Eneng sudah dibentuk didalam perut sama emak sama bapak"
"Emang loe kenal dia neng"
"Ya kenallah non. Dia tuh Aa' Minho"
"Gaul juga loe ya. Loe tau dia darimana. Bukannya loe tinggal sekampung sama geulis"
"Teh geulis kalau pulang kampung selalu ngadain nobar non. Yang diputer pilem babang Minho"
"Oalah pantesan geulis selalu minta copyan drakor"
"Maksudnya gimana non kok pake kopi segala"
"Ya dicopy neng"
"Diaduk sama kopi gitu non"
"Maksudnya disalin neng. Dipindahkan ke tempat lain"
"Oo jadi dituang gitu non"
"Aduh pusing neng"
"Terus gimana dong non"
"Kayaknya kenal loe hidup gue bakalan lebih hidup neng"
"Emang non sempet mati gitu. Terus sekarang hidup lagi gitu"
"Bangkit dari kubur neng"
"Wah benarkah. Non apanya susini"
"Gue sahabatnya"
"Huaaaah gila akohhh bisa kenalan sahabatnya susini"
"Loe kira gue kuntilanak gitu neng"
"Kuntilemak"
______
Jangan lupa bahagia yahhhhh
jempolnya digoyang yukkk