
Japri sudah kembali ke kampung halaman. Japri dan Eneng membuat perjanjian jika mereka akan melaksanakan pernikahan setelah mereka memang cukup siap. Japri dan Eneng saling berbicara dari hati saat ditaman komplek perumahan salsa. Karena mereka tidak ingin pernikahan yang sesaat. Mereka memilih untuk saling memberi kesempatan mengumpulkan modal setelah menikah agar tidak merepotkan orangtua.
Pagi ini Minggu yang cerah. Kedatangan duo dokter sableng menemani salsa membuat suasana semakin semarak. Semenjak mengenal Eneng, Gama dan Airil lebih sering mengunjungi salsa. Cara mereka melepaskan lebat setelah seharian berkutat dengan aroma obat.
"Kalian gak pengen gitu maen ke mall atau taman bermain"
"Lagi mager kak. Pengen dirumah aja"
"Kamu gimana neng"
"Eneng mah kemana aja hayo. Asal kedua pangeran tampan Eneng ikut"
"Kami siap melayani tuan putri"
Airi berdiri dan membungkuk seperti memberi penghormatan kepada Eneng layaknya pengawal kerajaan.
"Asyekkk"
"Neng ada persediaan buah atau bahan buat barbeque gak"
"Non mau bikin salad buah atau rujakan"
"Enaknya apa"
"Rujakan aja gimana sal. Siang-siang makan rujak seger. Pedes asem manis"
"Bener kata Airil. Rujakan aja. Apalagi ada mangga mudanya. Juoss"
"Aa gama lagi ngidam kok pengen mangga muda"
"Iya kayaknya neng. Kamu mau gak tanggung jawab ke saya"
"Yuk kita ke KUA a' gama. Eneng siap banget"
"Neng kamu melukaiku jika menikah dengan gama. Hancur hatiku neng"
"Drama. Drama. Huh"
"Ya sudah kita menikah bertiga saja. Nanti malam pertamanya giliran"
"Gak asyik dong salah satu dapat bekasan. Gak bisa belah semangka"
"Terus mau barengan gitu. Jebol dong"
"Hahahaha. Langsung jadi pipa paralon neng"
"Iyuh gede banget dong"
"Kalian bertiga bisa gak ngomong wajar gitu. Lama-lama rusak bener otak gue gara-gara kalian bertiga"
"Nambah ilmu kali sal"
"Neng buruan bikin rujak. Biar waras otak kalian"
"Asyiap. Jadi pake mangga muda gak ini"
"Jadilah"
"Ya sana manjat dulu"
"Saya bisanya manjatin kamu neng"
"Eyak eyak. Kita panjat-panjatan dong"
"Stop. Gak usah pake mangga aja. Apa yang ada aja neng. Semakin ngawur aja kalian"
Eneng berlalu sambil memberi kecupan jauh kepada Gama dan Airil. Kedua dokter itu menerima kecupan saling berebut. Membuat salsa hanya memutar bola mata malas melihat kelakuan lebay sepupu dan temannya.
Eneng kembali dengan membawa buah-buahan yang siap disantap dengan sambal yang menggoda selera. Setelah meletakkan semua buah dan sambal.
"Mantap jiwa. Gasken gaesss"
"Eh sambil main tebak-tebakan yuk biar seru"
"Boleh-boleh"
"Siapa dulu yang mulai"
"Loe dulu aja ril"
"Oke. Pertinyiinyi. Apa yang ada diujung langit"
"Hmm emang langit punya ujung A'. Setau Eneng aa' aja yang punya ujung"
"Itu ujung yang beda Eneng. Hayo yang bisa nebak gue traktir makan siang sepuasnya"
Salsa dan Gama berfikir sambil memakan rujaknya. Sedangkan Eneng langsung menjawab asal.
"Langit itu tak berujung bagaikan hatiku padamu"
"Eceie. Salah neng"
"Gue nyerah ril"
"Dokter cerdas kita menyerah gaesss"
"Salsa juga gak tau"
"Udah nyerah semua kan. Jawabannya huruf t"
"Kok bisa"
"Ya kalian baca aja lagi tulisan langit. Ujung tulisannya apa"
"Huruf t"
"Benerkan gue"
"Oke. Kita kalah. Sekarang kamu neng"
"Sebutkan nama hewan yang hanya dua huruf"
"Ngasal kamu neng. Gak ada kali binatang dua huruf"
"Nyerah ni"
"Belum. Gue mikir dulu"
Eneng beesiul-siul bahagia melihat wajah bingung ketiga orang didepannya.
"Neng gue nyerah"
"Kita juga"
"Ealah masa gitu aja nyerah. Padahal gampang loh"
"Udah kasih tau aja apa jawabannya neng"
"Udang"
"Itu lima huruf Eneng"
"Ye. Itu cuma dua huruf akang gama"
"Gak ya. Ngarang kamu"
Mereka bertiga sama-sama melotot tak percaya dengan jawaban dari Eneng.
"Iya juga ya. Kenapa saya gak kepikiran ya"
"Sekarang kamu sa"
"Kecil di Jakarta besar di Aceh apakah itu"
"Gampang itu mah non"
"Apa coba"
"Huruf a"
"Kok loe tau sih neng"
"Jadi bener jawabannya itu sal"
"Iya kak"
"Hebat Eneng"
"Biasa aja kali"
"Sekarang kak gama"
"Oke. Yang bisa jawab. Mau jajan apa aja aku turuti"
"Gak seru mah aa gama"
"Gak seru gimana neng"
"Harusnya minta apa aja dituruti. Bukan minta jajan apa aja dituruti"
"Itu keenakan kamu neng. Pasti kalau kamu menang minta ke KUA kan"
"Hahaha tau aja sih aa Airil"
"Dah. Siap-siap ya. Pertanyaannya. Apa bedanya matahari sama bulan"
"Ck. Anak kecil pun tau kak apa bedanya. Satu keluar malam hari satu lagi siang hari"
"Salah"
"Matahari untuk semua orang. Kalau bukan cuma buat cewek"
"Salah. Tapi apa maksud jawaban kamu neng"
"Ya kalau matahari kan semua bisa menikmati. Kalau bukan cuma cewek yang ngerasain datang bulan. Emang para cowok pernah merasakan"
"Bisa aja kamu neng. Airil apa jawaban loe"
"Matahari untuk manusia. Bulan untuk serigala"
"Salah. Ada yang mau coba jawab lagi gak nih"
Ketiganya sama-sama menggeleng menyerah mencari jawaban.
"Oke kalian nyerah ya"
"Iya"
"Jawabannya adalah. Kalau di matahari sering ada diskonan. Di bulan kan gak ada. Malaka gak ada yang namanya bulan"
"Ealah korban diskonan toko"
"Biarin aja. Masalah buat loe. Lagian baju gue gak pernah protes kalau dia barang diskonan"
Mereka kembali menikmati sisa-sisa rujak diatas meja. Gama teringat sesuatu untuk disampaikan kepada ketiga makhluk dihadapannya.
"Oya gue hampir lupa. Mau ngasih kalian undangan ini"
Gama mengambil undangan dalam jaketnya. Berjumlah tiga buah dengan nama masing-masing orang didepannya. Mereka membuka undangan itu dan membacanya. Semua kaget setelah mengetahui isi undangan itu.
"Kalian harus datang ya. Wajib"
"Loe beneran ini"
"Begitulah"
"Kapan loe pacarannya gam. Kok tau-tau langsung tunangan"
"Gue gak pacaran. Gue ta'aruf"
"Daebak kakak gue. Pelan tapi nyata. Gue pasti datang. Ya gak neng"
Eneng diam tak menjawab. Dia terus menatap undangan pertunangan gama. Tiba-tiba..."
"Neng loe gapapa kan"
"Neng kamu kenapa"
"Huaaahhhh. Aa gama jahat. Apa yang kamu lakukan padaku itu jahat"
"Heh. Maaf ya neng. Mungkin kamu kaget dapat serangan dadakan ini"
"Kalau serangan dadakan diatas ranjang Eneng mah bahagia. Ini mah namanya sakit yang tak berdarah. Hancur hancurnya hatiku. Hancur hancurnya hatiku. Hatiku hancur"
"Santai neng kan masih ada saya. Nanti kita berangkat berdua ya"
"Beneran aa Airil gak bohong"
"Saya kan gak pernah bohong sama kamu"
"Beruntungnya punya cadangan"
"Ya udah gak usah nangis lagi. Nanti saya ikutan sedih"
Eneng langsung menepis tangan gama yang akan memegang bahunya.
"Eits kita bukan muhrim ya. Dan mulai saat ini loe gue end"
"Lah kemarin-kemarin kita bahkan rangkulan neng. Dan kamu senang-senang saja. Kok sekarang gak mau"
"Sekarang kita berbeda. Pak dokter sudah ada pemiliknya. Dan Eneng gak mau dekat-dekat dengan milik orang takut khilap. Jaga jarak lima meter kita"
"Ya elah neng. Gak usah gitu juga kali. Biasa saja. Kita kan tetap berteman seperti biasa"
"Maaf ya Eneng gak mau dicap pelakor. Mending sama yang singgel aja"
"Berarti beneran ini. Kita end"
"Ya. Loe gue end. Kecuali Eneng amsesia"
"Amnesia neng"
______
Markoneng datang gaessss...
Jangan lupa bahagia
Jempolnya digoyang yuk