
"Dek. KunNo kemana sih. Dari datang sampai sekarang gak nongol. Udah hampir lima hari kita disini loh"
"Gak tau juga bang. Kemarin sih mereka sempat ketemu gue, cuma bilang kalau mau jalan-jalan"
"Huh. Bisa liburan juga mereka"
"Biarlah bang. Kasian mereka jarang dapat hiburan"
"Hem. Bener juga"
Si kembar sedang rebahan santai menonton televisi. Setelah kejadian emak nyangkut dikursi dua hari yang lalu, hampir semua kursi kecil didalam rumah emak disingkirkan dan diganti sofa empuk yang luas.
Dug dug
Bugh bugh
"Haduh sepertinya kita salah ngasih ide deh bang"
"Abang rasa seperti itu"
"Berdoa saja rumah ini tidak roboh"
Hoaaaa
Hiyaaaa
"Asyekkk"
Emak berteriak sekencang mungkin dari ruang makan yang saat ini sudah beralih fungsi menjadi ruang zumba emak. Bermodal video yutib, emak berzumba ria. Emak ingin sekali menurunkan berat badan.
"Hiyaaaa"
"Bang Oma itu zumba apa pencak silat sih"
"Huh. Kombinasi kali"
Gubrak
"Aduh. Tolong Oma Thian. Pathan"
"Aduh bang roboh sudah"
"Tolong gaesss. Emak gak bisa bangun"
"Genting ini dek"
Double F berlari melihat Oma kesayangan mereka. Mereka terbengong melihat emak nyangkut dan dikolong meja.
"Oma itu zumba apa petak umpet sih"
"Berisik loe pathan. Bantuin oma buruan"
"Haduh. Berat sudah berat"
Fathan dan Thian menarik emak dari bawah kolong meja makan. Namun usaha mereka hanya menghabiskan nafas dan tenaga.
"Aduh Oma. Kita nyerah. Dah dipotong aja kaki mejanya"
"Iya benar kata adek Oma. Setiap kita tarik, mejanya ikut. Capek Oma"
"Ini meja mahal. Kayu jati asli. Sayang kalau dipotong"
"Nanti papa ganti. Daripada Oma nyangkut dibawah situ terus. Emang Oma mau tidur dibawah kolong meja"
"Ya nggaklah"
"Ya udah. Kita potong saja kaki mejanya"
"Ya sudah. Tapi siapa yang akan motong"
"Ya kitalah Oma"
"Perasaan Oma mengatakan. Kalian tak meyakinkan"
"Gak usah kebawa perasaan Oma. Entar malah baper loh"
"Dasar tengil. Buruan potong. Engap Oma tengkurap gini terus"
"Sebenarnya posisi Oma ini keren loh. Kayak Dugong terdampar di daratan"
"Apa itu Dugong"
"Duyung laut Oma"
"Cantik dong"
"Banget. Seksi lagi. Hahaha"
"Udah buruan cari gergaji Thian"
"Oke Oma"
Thian berjalan menuju gudang peralatan pernah emak dibelakang. Mencari gergaji yang bisa digunakan memotong kaki meja. Setelah mendapat gergaji, Thian membawa kembali ke ruang makan dan bersiap memotong kaki meja.
"Sudah siap Oma"
"Pelan-pelan jangan sampai Oma yang kalian potong"
"Gak usah khawatir Oma. Paling juga nyenggol dikit"
"Pasrah ajalah"
"Siap Oma. Thian mulai ya"
Thian mulai menggergaji kaki kursi itu. Emak hanya bisa berdoa dan memejamkan mata agar tubuhnya tidak tersentuh oleh gergaji Thian.
"Selesai Oma"
"Hah. Udah selesai"
"Sudah. Sekarang Oma bisa keluar sendiri"
Emak berusaha keluar dengan menarik tubuhnya perlahan. Fathan dan Thian yang melihat emak bukan menolong malah membuat video untuk dikirim ke Eneng.
"Bang kok kayak ulet daun kekenyangan ya bang"
"Hoo dek. Ulet keket"
Emak yang mendengar kedua cucunya sedang mengolok dirinya hanya bisa menghela nafas saja.
"Dasar generasi Eneng"
Emak sudah berhasil keluar dari kolong meja dan sedang duduk meratapi nasibnya.
"Oma. Kok bisa nyangkut gimana ceritanya"
"Tadi itu ada gerakan yang harus pus ap. Karena kaki oma gak muat jadi oma masukin kedalam kolong meja"
"Bentar deh Oma. Bukannya tadi Thian bukain pidio zumba ya. Kok ada push up segala"
"Lah tadi itu kan ada iklan. Yang warna oranye. Terus yang ngiklanin si tuyul arona. Kan Oma gak mau lihat wajahnya. Ya udah emak pencet yang guru senamnya cowok macho. Huh ototnya"
"Hadeh. Baru liat otot dikit oleng Oma"
"Dahlah. Oma mau mandi dulu. Keringat lagi"
"Okey"
Emak berjalan menuju kamar mandi untukando kembali karena gerah. Si kembar menghubungi papanya untuk memesankan meja makan yang sama persis dengan yang dimiliki emak.
"Assalamualaikum pah"
"Waalaikumsalam. Ada apa bang. Sehat kan disana. Masih betah apa nyerah bang"
"Kami masih betah pah. Santai saja"
"Terus ada apa video call malam-malam. Tumben"
"Papa lagi kerja"
"Iya. Papa masuk malam"
"Hmm. Pah kirimkan meja makan dari kayu jati buat Oma. Yang sama persis dengan punya Oma"
"Nanti Thian kirim video untuk papa. Dan papa akan paham maksud Fathan"
"Oke. Oh ya bang. Mana adikmu. Kok gak kelihatan jidatnya"
"Tuh lagi ngitung nyamuk"
"Ish. Siapa juga yang hitung nyamuk. Yang ada bentol semua nih"
Thian memperlihatkan tangannya yang memerah karena gigitan nyamuk. Malam ini begitu banyak nyamuk tak seperti biasanya.
"Gak pake lotion dek"
"Kan alergi lotion pah"
"Nyalain obat nyamuk"
"Nyamuknya kan gak sakit pah. Masa diobatin"
"Kan mencegah lebih baik daripada mengobati dek. Jadi diobati dulu biar gak sakit"
"Benar juga ya. Oke deh. Adik nyalain obat nyamuk"
Airil tersenyum melihat tingkah putranya itu. Mereka hanya berbicara sebentar saja dan menutup panggilan video tersebut.
"Pah udah dulu ya. Kita mau tidur. Jangan lupa pesanin meja kayak punya Oma"
"Iya. Selamat istirahat jagoan-jagoan papa. Cepat minta dijemput dong. Papa udah kangen nih"
"Nantilah pah. Kan janjinya satu Minggu"
"Iya deh. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Salam kangen buat mama ya pah"
"Iya"
Thian langsung mengirim video Oma mereka yang kecelakaan masuk kedalam kolong meja. Bahkan juga ada suara percakapan si kembar dan emak. Airil melihat video kiriman dari Thian langsung tertawa. Gama yang juga sedang berada dirumah sakit penasaran dengan sahabatnya itu.
"Low kenapa sih ril. Ketawa sendiri"
"Nih lihat. Kiriman anak gue"
Gama pun ikut tertawa bahkan dia sampai memegang perutnya karena tertawa.
"Ya Allah ril. Sumpah hidup loe jadi lebih hidup ya sejak merried sama Eneng terus punya si kembar"
"Iya bener banget gam. Gue saja gak pernah nyangka kalau hidup gue bakalan lebih berwarna seperti ini setelah merried sama Eneng"
"Gak sia-sia ya loe jomblo bertahun-tahun ril. Hahaha"
"Iya bener tuh gan. Hahahaha"
Kembali dengan si kembar yang harusnya sudah tertidur lelap namun terganggu oleh suara tangisan seseorang. Dan itu bukan manusia namun sejenis KunNo penunggu pohon petai.
"Loe berisik amat sih. Pergi sana. Gue mau tidur"
"Loe gak takut sama gue"
"Kagak. Ngapain takut"
"Emang muka gue gak nyeremin apa"
"Nggak. Lebih serem muka Oma kalau lagi marah"
"Tapi gue setan paling nakutin disini"
"Kata siapa"
"Kata orang-orang yang pernah lihat gue"
"Oh. Yang penting bukan kata gue"
Hoammm
Thian kembali menguap karena sudah sangat mengantuk. Fathan tadi hanya keluar sebentar. Setelah tahu jika itu ulah setan pohon petai, Fathan Kemabli tidur.
"Pergi sono gue ngantuk"
"Tapi ini rumah gue"
"Ya udah. Tapi jangan berisik. Gue mau tidur"
"Tidur aja sono. Emang gue pikirin"
Thian langsung kembali ke kamar untuk melanjutkan bermimpi. Tak lama setan pohon petai malah terkikik kencang. Thian dan Fatah. makin kesal.
"Wow ngajakin telur nih setan"
Thian mengambil gergaji yang masih berada diruang makan. Dengan kesal Thian kembali mendekati setan petai itu.
"Gue udah bilang loe surug diem. Tapi loe ngeyel ya. Lihat gue bawa apa"
"Heh. Suka-suka gue dong. Mulut-mulut gue. Gak takut gue sama ancaman loe"
"Wow nantangin dia. Oke lihat ya"
Thian mengambil kursi dan berdiri dibawah dahan tempat dikunti pohon petai nangkring. Thian mulai menggergaji dahan itu. Si setan petai mulai panik.
"Woy kok digorok sih"
"Biar loe minggat dari sini"
"Jangan dong. Gue udah pewe nih"
"Gak. Gue mau potong dahan ini"
"Oke gue gak akan ganggu loe lagi. Tapi jangan ditebang ya"
"Oke. Awas loe ulangi lagi. Gue botakin kepala loe"
"Lah tuyul dong. Kan gue Kunti"
"Kundul. Kunti gundul"
"Kampret emang loe ya. Siapa sih loe"
"Gue anak mama Eneng kenapa emangnya"
"Apa anak Eneng"
"Iya kenapa emangnya"
"Hehehe. Maafin gue ya tong. Kita damai. Piss. Damai itu kan indah"
"Damai. Damai. Tadi saja ngajak gelud loe"
"Hmmm. Kalau sama anak Eneng mah gue nyerah. Kapok gue"
"Kenapa. Loe pernah diapain sama mama"
"Huh. Gue gangguin dia. Eh malah besoknya rumah gue dibikin bonsai dah gitu malamnya gue disiram pake cat warna pink. Jadilah baju dan rambut gue jadi pink. Masa Kunti pink warnanya"
"Gaul itu. Mama emang keren"
"Keren pala loe petak tong. Kita damai ya oke. Janji gak gangguin lagi deh"
"Oke masa percobaan. Kalau melanggar gue botakin beneran"
"Oke. Deal"
_______
Kunti salah sasaran loe....
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk
_____