Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Dewa Yunani



Sudah tiga bulan Eneng berada di yayasan penyalur pekerja yang didaftarkan oleh Salsa. Salsa telah menikah dan dibawa ke Singapura. Rumah keluarga mereka di Jakarta disewakan. Bagi pekerja rumah salsa yang ingin ikut keluarga salsa atau salsa keluar negeri dipersilahkan. Hanya tiga orang yang mengikuti keluarga salsa. Hanya geulis dan Eneng yang memilih tinggal. Geulis dipinang sang kekasih bule kawe dan diboyong ke kota sang suami.


Eneng masih menanti penuh harap. Setiap ada yang mencari pengasuh, Eneng selalu tereliminasi. Dan Eneng tidak pernah patah semangat. Dia terus berdoa agar segera mendapatkan pekerjaan. Salsa selalu memantau perkembangan Eneng dari jauh. Bahkan salsa mengatakan akan menjemput Eneng jika sampai bulan depan belum memperoleh pekerjaan.


"Sabar ya neng. Kan gak cuma loe yang belum dapat kerjaan kita berdua juga"


"Kalian masih baru disini. Gue udah tiga bulan"


"Yang penting sama-sama berdoa ya neng. Segera mendapat pekerjaan dan bos yang baik"


"Aamiin"


Tak lama ibu pemilik yayasan memanggil mereka bertiga karena ada yang mencari pengasuh bayi. Dan lagi-lagi Eneng tereliminasi. Kini dia hanya berdua dengan teman barunya.


"Huh kapan ya giliran kita neng"


"Sabar ya. Kita istirahat saja dulu. Udah malam. Besok siapa tau ada yang memungut kita"


"Hahahaha dikira sampah apa ya"


"Iya sampah terhormat. Hahaha"


Eneng mengistirahatkan tubuhnya dalam ranjang kecil. Dia berusaha untuk terlelap setelah mendapatkan kabar dari Japri jika pembangunan rumah mereka sedikit tertunda bukan karena biaya, namun beberapa pegawainya sedang sakit. Eneng hanya bisa mendoakan agar semua segera kembali normal.


Pagi yang cerah selalu Eneng lalui dengan ceria dan harapan baru. Dia berharap akan ada yang menjadikannya pengasuh. Mungkin karena kulit coklatnya membuat para calon majikannya ragu memilihnya. Dan beberapa pencari pengasuh mengharuskan untuk bisa berbahasa Inggris. Eneng tak mau merepotkan Salsa. Karena selama dia belum mendapatkan kerja, salsa selalu mengiriminya uang sama seperti gajinya waktu bekerja.


"Ya Allah semoga hari ini ada yang mau mempekerjakan Eneng. Aamiin"


Doa yang selalu dia panjatkan jala duduk bersimpuh meminta ampunan. Satu minggu lagi bulan berganti. Eneng berharap sebelum waktu itu tiba sudah ada yang mengambilnya.


"Assalamualaikum. Neng"


"Waalaikumsalam. Ibu sudah datang"


"Iya neng. Hari ini akan ada lima orang calon pengasuh baru yang masuk yayasan neng"


"Wah makin rame dong Bu"


"Alhamdulillah neng. Semoga hari ini kamu segera dapat pekerjaan ya neng"


"Aamiin bu"


Eneng duduk didepan menemani sang pemilik yayasan. Kebetulan pemilik yayasan itu hidup seorang diri. Dia pernah menikah namun suaminya meninggal. Dan belum memiliki keturunan. Hingga saat ini dia belum mau menikah kembali. Walaupun usianya sudah tak muda lagi tapi ibu yayasan tetap ingin hidup sendiri.


"Selamat pagi"


"Pagi. Silahkan masuk"


"Terimakasih"


"Bapak dan ibu mau mencari pengasuh"


"Benar. Tapi kami mencari pengasuh untuk ayah kami yang sudah jompo. Apa bisa"


"Bisa pak. Ada kriteria khusus yang bapak inginkan untuk calon pengasuhnya"


"Yang pasti harus sabar. Dan bisa mengurusi selama dua puluh empat jam. Karena kami tinggal dirumah berbeda"


"Baik. Maaf apa ayah bapak memiliki riwayat penyakit atau sedang menjalani terapi khusus"


"Iya ayah saya sedang stroke saat ini. Dan tolong yang bisa memasak dan mencuci sekalian ya"


"Kalau permintaan seperti itu nanti akan ada biaya ekstra pak. Karena hampir seluruh pekerjaan dilakukan"


"Oh begitu. Apa tidak bisa dinego"


"Maaf bapak. Sebenarnya kami hanya menyediakan jasa pengasuh saja bukan sebagai asisten rumah tangga. Namun jika sang pengasuh mau dan mampu menjalankan pekerjaan yang bapak berikan, kami tidak keberatan. Namun tetap kami bebankan biaya ekstra"


"Wah kalau begitu saya harus ambil satu asisten dan satu pengasuh dong"


"Bisa seperti itu bapak"


"Bagiamana pak, bu"


"Maaf sepertinya saya tidak jadi mencari pengasuh. Saya akan mencari asisten saja Bu. Agar tidak dua kali keluar biaya"


"Oh baik tidak apa-apa pak"


"Kalau begitu kami permisi"


"Silahkan"


Sepasang suami istri itu telah keluar. Eneng langsung meluapkan kekesalannya yang sudah dia tahan.


"Ada ya bu orang kayak gitu. Masa untuk ayahnya sendiri pelit banget"


"Ya ada neng. Kan kamu baru saja ketemu"


"Ibu bisa saja"


Selama di panti Eneng bersikap wajar tidak memperlihatkan sifat aslinya. Dia menjadi anak sholehah. Apa ada yang ingat dengan dokter Airil dan dokter Gama. Setelah menikah dokter Gama pindah tugas di sebuah kota di daerah Jawa Tengah. Sedangkan dokter Airil menghilang setelah terakhir kali berlibur ke kampung Eneng. Terakhir kali dokter tampan itu bertemu Eneng saat pesta pernikahan Salsa. Mereka tetap kompak seperti biasa tak terlihat bermasalah. Namun setelah malam itu hanya sekali dokter Airil mengirim pesan kepada Eneng sore sebelum Eneng pergi ke yayasan.


Pesan itu hanya mengabarkan jika dokter Airil meneruskan pendidikan di luar negeri dan tak pasti kapan akan kembali. Karena jika dia mendapat pekerjaan disana, bisa jadi dia menetap. Bahkan Eneng menerima pesan itu lima menit sebelum pesawat yang membawa dokter tampan itu terbang.


"Assalamualaikum. Selamat sore Bu"


"Waalaikumsalam. Sore. Silahkan masuk pak"


"Terimakasih"


"Mau mencari pengasuh bapak"


"Iya benar bu. Untuk putra kembar saya"


"Berapa usia mereka pak"


"Mereka berusia empat bulan"


"Baik. Ada kriteria khusus"


"Hanya jika bisa beragama muslim dan taat ibadah. Yang pastinya amanah dalam menjaga putra saya"


"Baik pak. Saya akan memanggil beberapa pengasuh yang ada disini. Bapak bisa memilih sendiri dan menanyai mereka. Dan ini data pribadi mereka. Bapak bisa membacanya dahulu"


"Baik Bu"


Pria itu membaca data para pengasuh Yanga ada disana. Hanya bisa menurutnya. Namun hanya satu pengasuh yang menurutnya menarik. Karena bisa mengasuh putri pengusaha ternama hingga sembuh dalam waktu singkat. Namun tak ada info lainnya lagi.


"Ini mereka pak"


Pria itu menatap satu persatu calon pengasuh putranya. Benar apa yang dipikirannya setelah membaca data pribadi mereka.


"Apa ada yang ingin bapak tanyakan kepada mereka"


"Oh tidak. Saya sudah cukup paham dengan membaca data mereka Bu. Jadi bolehkah saya langsung memilih"


"Oh silahkan pak"


"Saya mau membawa yang bernama Eneng"


Eneng yang sedari tadi menunduk mendengar namanya dipanggil langsung mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya dia siapa yang menginginkan dirinya.


"Ya Allah dewa Yunani ada disini. Boleh pingsan gak"


_______


Hai up perlahan ya...othor belum begitu fit.


Gaess jaga kesehatan ya.. Jangan abaikan protokol yang berlaku. Istirahat cukup makan buah sayur dan minum air putih yang banyak gaesss


jangan lupa bahagia gaesss