Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Ajudan Eneng



"Sayang. Hari ini akang masuk malam. Kamu gapapa sendirian"


"Biasanya juga gitu kan kang"


"Tapi itu kamu yang sedang tidak hamil. Ini perut udah kayak drum"


"Perbuatan siapa coba"


"Perbuatan akang lah. Mau siapa lagi"


"Maunya Lee Minho"


"Halunya tinggi banget yak"


"Tapi sebelum akang berangkat seperti biasa ya"


"Oke. Mau ikut apa akang sendiri yang beli"


"Ikuttttt"


"Yuk. Tapi ganti baju dulu"


"Gerah kang"


"Enak aja pamer aurat. Cuma untuk akang. Ganti baju apa gak usah ikut"


"Iya. Ganti baju. Bantuin"


"Yuk"


Usia kandungan Eneng sudah tujuh bulan. Perutnya semakin nampak. Dan lebih besar dari wanita hamil umumnya. Hanya saja, badan Eneng masih tidak terlihat gemuk. Memang benar perkataan Arash. Seperti orang cacingan.


"Yuk berangkat"


"Iya sayang. Hati-hati jalannya"


Airil merangkul pundak Eneng dengan penuh sayang. Menuntunnya perlahan menuju mobil. Semenjak hamil Eneng selalu meminta disediakan camilan ekstra jika Airil masuk malam hari.


Mereka menuju supermarket tak jauh dari kompleks. Airil menemani Eneng memilih makanan dan sesekali memberitahu jika memang ada makanan yang tak sehat untuk Eneng dan calon anak mereka.


"Beli buah ya"


"Oke"


Mereka berkeliling didalam supermarket. Berbagai macam camilan, buah dan sayur sudah berada didalam troly. Kini mereka sedang berada diarea lauk pauk segar.


"Mau beli lauk tidak sayang"


"Beli juga gapapa kang. Buat persediaan"


"Mau apa sayang"


"Apa aja"


Airil sedang asyik memilih ikan dan daging. Eneng melihat ada kursi didekat stan daging, Eneng memilih duduk sejenak. Eneng melihat ada dua orang perempuan berusaha mendekati Airil.


"Maaf kak. Bis minta tolong"


"Ya"


"Saya bingung kak membedakan daging yang kualitas bagus atau bukan"


"Saya gak tau mbak. Silahkan tanya pegawainya saja"


Airil tetap cuek. Kedua wanita itu tetap pantang menyerah. Eneng hanya tersenyum saja melihat sang suami diikuti dua wanita yang nampaknya memang bukan anak remaja.


"Kak. Menurut kakak ini daging ayamnya segar gak ya"


Airil masih tidak menggubris perkataan kedua wanita tersebut. Eneng yang sudah tidak merasa lelah lagi, berdiri menghampiri sang suami.


"Bagaimana kak. Ini ayamnya segar gak ya"


"Ehem. Mbak jelas itu ayam tidak segar karena sudah disembelih. Kalau mau ayam segar silahkan ke peternaknya langsung. Dijamin masih fresh. Kalau yang ini daging ayam segar. Bukan ayam segar"


Eneng menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan untuk Airil, sambil merangkul lengan Airil.


"Yuk kang pindah. Banyak lalat ijo disini"


"Kok lalat ijo sayang. Akang bau dong"


"Bau ketampanan akang membuat mereka berkerumun. Jaga jarak aman mbak. Banyak virus"


Airil mencium puncak kepala eneng dan menggandengnya meninggalkan dua wanita yang kesal karena dikatakan lalat ijo oleh Eneng.


"Masih ada yang mau dibeli lagi nyonya Prasaja"


"Hmmm. Es cream"


"Bukannya masih dirumah"


"Tinggal dikit kang. Nanti kalau Ono sama kunkun minta habis"


"Oke. Beli yang biasanya saja kan"


"Heem"


Mereka sudah berada dikasir untuk membayar belanjaan mereka hari ini. Airil sudah kembali sedikit normal untuk selera makanannya. Sudah bisa memakan nasi seperti biasanya. Walaupun terkadang Airil masih ngidam memakan sesuatu.


"Beres. Tinggal istirahat"


"Akang tidur saja dulu"


"Kamu gak nemenin akang"


"Eneng mau makan rujak dulu"


"Ya sudah ayo akang temani"


"Katanya mau tidur dulu"


"Gak mau kalau gak ditemani. Akang tidur diruang tengah aja"


"Ya udah yuk"


Setelah membereskan semua belanjaan mereka, Airil membawakan satu cup rujak yang mereka beli saat belanja tadi beserta air minum.


"Nih rujaknya sayang"


"Makasih papa"


Airil merebahkan tubuhnya dibelakang tubuh Eneng. Tangannya dilingkarkan diperut Eneng. Kedua calon baby kembar mereka langsung bergerak. Airil selalu bahagia jika kedua bebynya merespon kehadirannya.


Walaupun berasa nyeri, Eneng tetap menikmati tendangan kedua baby kembarnya. Dan masih santai memakan rujaknya.


"Mah. Besok lusa jadwal kontrol si kembar kan"


"Iya. Kenapa memangnya"


"Nanti biar papa yang ambil antrian. Dan semoga besok kita bisa tau si kembar punya monas atau gak"


"Maunya satu monas satu dorayaki. Biar sekali aja lahirin langsung dapat dua"


"Emang kamu gak mau punya anak lagi setelah si kembar sayang"


"Mau sih. Tapi kita kan gak tau kang. Nanti diaksih lagi apa nggak"


"Yang penting kita tetap berusaha dan berdoa"


"Heem. Dah sana bobok. Biar nanti malam gak ngantuk"


"Hem"


Perlahan Airil mulai mengantuk. Eneng masih asyik dengan rujaknya. Namun karena hormon ibu hamil, usia menghabiskan rujaknya Eneng pun mengantuk.


Tak terasa malam menjelang. Airil sudah berangkat bekerja. Setiap Airil mendapat shift malam, Ono dan Kun kun akan menemani Eneng. Akhir-akhir ini komplek perumahan Airil sedang marak maling.


"Neng bagi keripik"


"Ambil sendiri"


"Kun bantuin"


"Hmm"


Mereka sedang asyik menonton film drama China, tiba-tiba pagar Eneng berbunyi. Eneng mencoba memberitahu Ono tentang suara yang tadi didengarnya.


"No. Suara apa tadi"


"Apaan gak dengar gue neng"


Kembali terdengar suara pagar. Dan tak lama ada derap langkah kaki terdengar dipekarangan rumah Eneng. Ono dan Kun Kun mulai menyadari kehadiran orang lain.


"Kun loe dengar gak"


"Iya no"


"Kalian udah dengar sekarang"


"Hem. Loe tenang aja neng. Ada kita disini"


"Bener kata kun kun. Loe duduk disini aja atau mau masuk kamar neng"


"Gue lelah Kun. Mau tiduran aja"


"Ya udah yuk gue antarin"


Kunkun membantu Eneng masuk ke kamar. Lampu seluruh rumah sudah dimatikan. Ono sudah bersiap ingin mengerjai para maling yang mencoba mengganggu Eneng.


"No. Ayo kita bergerak"


"Ayo Kun"


Ono sengaja mengganggu dari dalam rumah. Kunkun keluar memastikan ada berapa jumlah orang disana. Dan apakah membawa benda berbahaya yang akan mengancam keselamatan Eneng. Setelah semua pasti, kunkun beraksi.


"Loe berdua masuk dari pintu belakang. Dan gue dari depan sama Simon"


"Jon. Loe yakin rumah ini gak ada orang lain selain perempuan bunting"


"Yakin gue. Gue udah memantau rumah ini selama satu bulan"


"Ya sudah ayo beraksi"


"Kalau ketahuan. Habisi saja"


"Oke bos"


Ono yang mendengar pembicaraan para maling disamping rumah Eneng, menjadi kesal.


"Berani kalian mengusik eneng. Lihat apa yang akan gue lakuin ke kalian"


Salah seorang maling mencoba mencongkel pintu belakang Eneng. Ono sudah bersiap berdiri dibelakang pintu yang sedang mereka congkel.


Cekrek


Mata Ono sudah memancarkan kemarahan. Ada suara erangan dari Ono. Dua maling yang langsung menatap Ono, seketika gemetar tubuhnya, namun tak bisa berteriak.


"Pergiii kaliannn"


Mereka hanya bisa berdiri tanpa bisa bergerak sama sekali. Sedangkan kunkun mengerjai dua orang lainnya diruang depan. Mereka selalu gagal mencongkel pintu depan rumah Eneng.


"Loe gimana sih rud. Nyongkel pintu saja lama banget"


"Meleset terus ini"


"Sini biar gue saja. Minggir loe"


Sang bos maling hendak mencongkel pintu rumah Eneng. Namun kembali gagal karena ulah kunkun. Disaat mereka sedang kesal, kunkun menampakkan dirinya.


"Bos. Bo bos. Kun kun Kunti bos"


"Apaan sih rud"


"Kun kun kun ti"


Sang bos maling menoleh kearah dimana Rudi menunjuk. Dia yang tak pernah percaya dengan adanya makhluk halus, mencoba memukul Kunti.


"Dia itu manusia bukan setan"


Bukannya mengenai si kunti, namun mengenai dirinya sendiri. Itu terjadi berkali-kali. Hingga tanpa sadar wajah sang bos maling penuh luka lebam karena ulahnya sendiri. Sedangkan satu anak buahnya sudah pingsan.


Dua maling yang berhadapan dengan Ono juga sudah pingsan. Kunti dan Ono langsung mengikat keempatnya ditiang depan gerbang rumah Eneng. Tak lupa kedua ajudan Eneng itu menuliskan kata-kata indah yang mereka tempelkan pada dada mereka.


"Cukup kau mencuri hatiku jangan hartaku. Karena itu sungguh menyakitkan"


______


Gaji ajudan Eneng berapa ya....


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk