
"No. The real anak Eneng ini no. Gak diragukan lagi"
"Iya Kun. Emang bener kata pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Emaknya tukang kentut. Anaknya pun sama"
"Masih bayi aja doyan kentut apalagi besarnya"
Brotttt
"Tuh kan. Tunggu satu menit lagi. Yang atu pasti nyaut"
Brettt
"Hmm. Kayak paduan suara aja"
Baby F setiap kali bergerak memang kentut. Dan itu terjadi setiap malam. KunNo yang menjaga mereka sampai heran. Karena keduanya memiliki sifat Eneng yang aneh ini.
KunNo benar-benar menjalankan tugas dengan baik. Mereka menjaga baby F dengan telaten. Jika bayi lain mungkin akan sawan jika ada setan disekitarnya. Namun kedua bayi itu sangat nyaman dengan keberadaan KunNo. Mungkin karena sedari dalam kandungan mereka sudah saling mengenal.
"Kun. Gue keluar cari angin bentar ya. Loe jagain mereka"
"Hem. Ntar gantian no"
Ono keluar dan duduk diatas pagar rumah Eneng. Beberapa petugas keamanan berlalu lalang menjaga keamanan komplek. Ono tak ingin mengganggu mereka. Tak lama terdengar suara panggilan Kun Kun. Ono kembali masuk kedalam rumah.
"Ada apa Kun"
"Tuh Fathan bangun. Nyariin loe. Tadi gue pegang gak mau"
"Oh. Oke"
Ono mendekat kan kepalanya disamping tubuh Fathan. Tak lama Fathan terdiam dan kembali terlelap. Setelah memastikan kembali tertidur, Ono beranjak menjauh"
"Lama-lama encok gue kun. Ngebungkuk melulu"
"Mau gimana lagi. Terima nasib loe no"
Jika si kembar ingin minum ASI, barulah KunNo membangunkan Eneng. Walaupun tanpa mereka bangunkan, secara otomatis Eneng akan bangun. Terkadang Eneng meminta Ono untuk menutupi telinga Airil agar tak mendengar suara tangis anak mereka. Karena Eneng tahu jika pekerjaan Airil juga tidak mudah.
"Neng. Gue gak berani nutup telinga pak bos"
"Kenapa no"
"Gue diancam gak dikasih gaji bulan ini neng. Kasianilah daku neng"
"Ya sudah. Lagian besok akang libur. Jadi gue gak akan khawatir dia kelelahan"
"Sweetnya Eneng. Jadi terhura gue"
"Biasa aja kali"
Eneng menyusui si kembar secara bergantian dengan dibantu kunkun. Ono memilih duduk didepan televisi sambil menikmati gaji dari Airil. Cemilan dan Es krim. Airil mendengar rengekan salah satu putranya, matanya langsung terbuka otomatis.
"Hmm. Anak papa bangun"
Dengan setengah sadar, Airil duduk ditepi ranjang. Karena belum sepenuhnya sadar, melihat salah satu putranya melayang-layang dihadapannya. Airil langsung bertepuk tangan gembira.
"Anak papa hebat bisa terbang gitu"
"Ya elah bos. Digendong kunkun ini mah"
Airil berjalan dan menghampiri putranya yang dia kira bisa terbang sendiri. Emak yang saat ini memang sedang berada dirumah Eneng, sedang terlelap dalam mimpinya.
"Sayang. Sudah lama mereka bangun"
"Belum kok. Akang tidur saja lagi"
"Gak ah. Mau nemenin kamu"
Airil mencoba mengamati sang putera sebelum dia memanggil namanya. Karena memang belum begitu biasa, Airil masih perlu mencari tanda perbedaan mereka.
"Ah Thian. Sini ikut papa. Biar Abang Fathan gantian minum"
Eneng menyerahkan Thian kepada Airil. Airil membawa putra kecilnya keluar kamar dan berjalan diarea ruang tengah. Melihat ada suara orang memakan keripik, Airil tahu pasti itu Ono.
"No. Sampah diberesin kalau habis makan"
Ono memberi tanda dengan memainkan lampu ruang televisi. Airil menggendong anaknya sambil berjalan-jalan agar sang putra kembali terlelap. Saat asyik menimang Thian. Seseorang keluar dari kamar tamu sambil menutup mata.
"Eh loe. Berhenti kagak. Gue udah bayar kenapa loe kagak nyanyi juga sih. Buruan nyanyi"
Airil terdiam begitu juga Ono. Mereka sama-sama melihat kearah emak. Yang ternyata sedang tidur sambil berjalan. Emak kembali mengigau tak jelas.
"Buruan nyanyi. Gatel pinggang gue pengen goyang ini. Cepetan"
"Ini Marylin Moonre kayaknya lagi nguber tukang orkes dangdut keliling"
Airil mengatakan apa yang difikirkan olehnya saat ini. Ono hanya berdehem membenarkan sambil tetap memakan camilannya. Emak tiba-tiba duduk disamping Ono. Ono tidak tahu jika akan terjadi bencana.
"Akhhh..."
"Aduh. Beginikah rasanya kerobohan truk tronton muatan gajah"
Emak menjatuhkan tubuhnya tepat di atas Ono yang sedang duduk santai. Ono berteriak meminta tolong. Dan sengaja memperdengarkan suaranya kepada Airil.
"Tolonggg Boss"
"Loe kenapa no"
"Kegencet gajah nyungsep bos. Tolong pindahin bos"
"Gepeng bos gepeng"
"Panggil Kun Kun no"
Ono langsung berteriak memanggil teman seperjuangannya itu. Tak lama kun muncul dan menertawakan Ono.
"Hahaha. Nikmat mana lagi yang kau dustakan Ono. Anget kan"
"Engap kali bukan anget. Tolong Kun. Tarikin"
"Bentar. Gue perlu penyesuaian dulu biar gak terjatuh"
Kun bersiap menarik emak. Saat tangan emak berhasil dipegang oleh Kun, tiba-tiba Kun mendapat serangan mendadak.
Bruttttt
"Makkkkk. Ampun deh. Muka gue dikentutin no"
Dari arah belakang terdengar sahutan yang juga sangat nyaring.
Brettt
Airil kaget mendengar suara kentut Thian yang sedang dalam dekapannya itu. Dan menghasilkan bau yang sama dengan neneknya.
"Nak. Kenapa kamu ikut-ikutan nenek. Hadehh. Kecil gini udah bau. Gimana gedenya"
Kun kembali ingin menolong Ono. Kun sudah menarik tangan emak dengan sekuat tenaga. Namun kembali serangan Nagasaki datang menghantamnya.
Brotttt
"Aduh kenapa gak loe sumpel dulu sih Kun. Sekarang gantian muka gue ini kena bom Hiroshima"
"Impas kan no. Gue tadi juga kena"
Dan serangan emak dibalas oleh Thian. Airil yang duduk memangku putranya langsung menepuk jidat. Kejadian itu kembali terulang hingga Airil memutuskan membawa Thian kembali ke kamar. Fikirnya, jika Thian jauh dari emak. Maka tidak akan menyahut serangan emak.
Dan duo makhluk sejati Eneng masih kewalahan dalam mengangkat tubuh emak. Karena terus saja menyerang.
"No. Gue nyerah. Capek dibom. Lelah gak sanggup lagi menariknya"
"Nasib gue gimana dong Kun. Masa ditindih gini. Kalau yang nindih gue Anjelina Jollie, bahagia banget. Lah ini Anjelina Jollie bukan malah gajah nyungsep. Gepeng Kun gue"
"Gapapalah no. Sabaran dulu bentaran. Paling bentar lagi emak bangun"
Sedangkan dikamar, tidak hanya Thian. Kini Fathan pun sedang saling menyerang dengan bom Nagasaki dan Hiroshima mereka. Suara yang benar-benar merdu.
"Nak. Semoga saat besar nanti, kebiasaan ini tidak ikut. Kan malu nak ganteng-ganteng kentutan"
"Hahaha. Biarkan saja pah. Lagian kentut itu pemberian yang kuasa. Kita mana bisa menolak"
"Ya setidaknya tau tempat lah. Biar gak begitu memalukan"
"Mereka akan belajar dengan sendirinya papa. Jangan takut"
"Hemm. Papa percaya itu nak. Kalian gak bobok lagi apa"
"Kalau ngantuk tidur saja dulu pah"
"Nggak ah. Mau begadang sama si kembar"
"Ya sudah kalau begitu"
"Oya lupa. Anak Devin sama Tisya sudah lahir sayang. Tadi dapat kabar dari Tante Jasmine"
"Oya. Cowok apa cewek"
"Cowok. Namanya Ghava Chiragh Alfatir"
"Hah. Arak. Masa anaknya dikasih nama minuman keras"
"Chiragh mama si kembar"
"Susah amat sih nyebutnya. Cirak cirak di dinding"
"Hahaha. Yakin kalau bang Devin tahu pasti ngamuk anaknya disamain sama cicak"
"Mau ngado apa kita"
"Mau apa sayang. Nanti biar aku yang beli"
"Hmmm. Sesuatu yang bermanfaat dan lain daripada yang lain"
"Pakaian. Mainan. Apa sayang"
"Hmm. ****** gambar pelangi. Joss"
"Hahhhh"
______
Maaf ya baru up....kemarin internet gangguan melulu. Kena sawan si KunNo...
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk