Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Ealah...



"Ada apa kang. Ada pasien darurat kah"


"Nggak sayang. Cuma dokter Mela minta akang ke ruangannya lagi"


"Ya udah sana. Biar Eneng nunggu disini"


"Nggak sayang. Kalau ini ada hubungannya dengan kita berdua, harus kita berdua yang kesana. Akang gak mau ada rahasia diantara kita. Baik buruk kita lalui bersama sayang. Ayo kamu ikut"


"Tapi obatnya Eneng gimana kang"


"Bentar biar akang bilang keperawatnya, biar diantar keruangan akang saja"


Airil menemui salah satu perawat yang bertugas difarmasi rumah sakit.


"Sudah yuk sayang"


Airil menggenggam erat tangan Eneng. Khawatir dan gugup itu sangat Airil rasakan. Dia takut jika ada hal yang buruk mengenai kesehatan eneng.


"Sayang apapun yang kita dengar nanti, tetap disamping akang kita hadapi bersama"


Sambil tersenyum Eneng menjawab perkataan Airil dengan anggukan. Dia tau jika sang suami sangat khawatir dengan kondisinya saat ini. Genggaman Airil pun sedikit berbeda. Tiba didepan ruangan dokter Mela, rupanya sudah sepi. Airil mencoba mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum memutuskan mengetuk pintu dan masuk.


Huft


Tok tok tok


"Masuk"


"Dokter Mela"


"Oh dokter Airil. Masuk dok"


Saat melihat Airil menggandeng tangan Eneng, Dokter Mela sempat menunjukkan raut wajah kaget. Karena dia meminta agar tidak mengajak Eneng.


"Maaf dok. Saya tidak ingin ada rahasia diantara saya dan istri saya"


"Oh baiklah. Silahkan duduk"


Airil dan Eneng duduk berdampingan. Sedangkan dokter Mela sedang bingung memilih kata yang akan diucapkan.


"Apa ada kondisi bahaya dengan kesehatan istri saya dok"


"Hmm. Bukan. Ibu suci sehat. Memang saya menyarankan USG transvaginal untuk meyakinkan saja"


"Lalu ada masalah apa dok"


"Hmm. Gimana ya saya bingung mau ngomongnya. Gak enak sama istri dokter"


"Gapapa dok. Istri saya orangnya sangat pengertian kok"


Dokter Mela mencoba menimbang lagi, dia takut jika Eneng akan salah paham.


"Hmm. Begini dokter Airil dan ibu suci. Saya mau minta tolong sama dokter Airil"


"Apa ya dok"


"Keponakan saya kan sedang mengandung jalan tiga bulan. Hmm. Aduh beneran saya gak enak ini ngomongnya"


"Gapapa dok"


"Keponakan saya ngidam. Dan ngidamnya itu mmm. Anu. Dia minta dokter Airil nyuapin makan sama itu mm. Sama"


"Sama apa dok"


"Dibacain dongeng pas mau tidur malam"


Airil menatap Eneng meminta persetujuan sebelum memutuskan mau atau tidak.


"Gimana sayang menurut kamu"


"Aku penasaran deh kang. Kayak apa rasanya ngidam"


"Besok kamu juga akan merasakan sayang. Jadi boleh gak sayang ngikutin ngidamnya ponakan dokter Mela"


"Emang Akang kenal sama orangnya"


"Kenal sayang"


Dokter Mela merasa tak enak hati. Apakah Eneng belum pernah bertemu dengan keponakannya itu. Keponakan yang kepincut katampanan Airil. Namun selalu ditolak.


"Hmm. Apa dokter Airil belum pernah menceritakan tentang Nayla"


"Tidak pernah dok. Karena bagi kami itu hanya masa lalu. Dan yang ada dihadapan saya ini adalah masa depan saya hingga maut memisahkan. Untuk apa mengenang masa lalu"


"Oh begitu. Lega rasanya kalau memang begitu. Apa Bu Suci tidak keberatan dengan permintaan keponakan saya"


"Saya gapapa dok. Menolong orang itu berpahala dok"


Airil langsung menambahkan perkataan Eneng tadi sebelum dokter Mela berbicara kembali.


"Tapi saya akan membawa istri saya. Biar bagaimanapun Nayla juga sudah bersuami biar tidak ada fitnah"


"Oh. Ya itu lebih baik"


"Kapan dok"


"Malam ini bisa tidak dok"


Kembali Airil menatap Eneng meminta persetujuan.


"Gimana sayang"


"Akang capek gak. Kalau capek ya jangan"


"Gak. Asal ada kamu"


"Ya sudah Eneng mah ngikut aja"


"Ya sudah dokter Mela, nanti sore saya akan datang. Alamat rumah Nayla dimana ya dok"


"Masih sama dirumah orangtuanya"


"Saya sudah lupa. Bisa dishare saja"


"Oh ya. Sebentar"


"Sudah dok"


"Baik. Saya nanti langsung kesana saja. Ada lagi dok"


"Tidak ada dok"


"Kalau begitu kami permisi"


"Oh ya silahkan"


"Ealah kirain tadi tuh dokter Mela bakalan ngomong yang membuat hatiku sakit sayang. Ternyata disuruh nurutin ngidam anak oranglain"


"Nayla cantik gak kang"


"Biasa"


"Akang pernah dekat sama dia"


"Nggak"


"Oh gitu"


"Kamu cemburu sayang"


"Nggak"


"Kirain cemburu"


"Lah gimana mau cemburu. Nayla siapa aku gak tau. Ada hubungan apa juga gak tahu"


"Iya juga ya"


"Jangan bilang cinta lama belum kelar aja kang"


"Oh gak ada. Gak ada yang kayak gitu"


"Emang mantap akang ada berapa sih"


"Cuma satu. Itu yang ketemu ditoko mas"


"Oh si mbak janda clamitan itu"


"Hahaha. Kamu sayang. Asal aja ngasih nama"


"Bener kan. Jadi janda kok bangga. Malah ngejar masalalu lagi"


"Dah ah gak usah dibahas. Balik yuk"


"Akang udah selesai kerjanya"


"Udah"


Airil memang sudah tidak ada jam lagi. Dan Gama juga sudah datang. Airil memilih pulang bersama Eneng.


Malam hari sesuai janji Airil, Airil datang kerumah saudara dokter Mela. Rumah cukup sederhana. Airil memencet bel. Tak lama seorang wanita muda dengan dress sedikit seksi membukakan pintu.


"Kak Airil"


Nayla langsung memeluk tubuh Airil. Eneng yang berada disampingnya tersenyum tipis. Airil perlahan melepas pelukan Nayla. Karena dia takut kandungan Nayla akan bermasalah jika dia melepaskan pelukan Nayla dengan kasar.


"Maaf Nay. Gak baik seperti ini. Gak enak sama suami dan keluarga kamu"


"Aku gak punya suami kak. Santai saja"


Eneng mengerutkan keningnya mendengar ucapan Nayla. Airil memilih mundur dan merangkul pundak Eneng.


"Dia siapa kak"


"Kenalkan ini Suci istri saya"


"Hai. Saya suci"


Nayla merasa tak terima jika Airil sudah menikah langsung ingin menyerang Eneng dengan kata-kata.


"Heh pelakor. Pergi loe. Kak Airil ayah dari anak gue"


"Iyakah. Beneran gitu kang"


"Nggak sayang. Kamu tau aku gimana"


"Kak. Ini anak kamu kak. Masa kamu gak ngakuin"


"Gak usah ngaco kamu Nay"


Karena mendengar keributan, keluarga Nayla keluar. Dan Dokter Mela juga berada disana dengan wajah tertunduk malu. Dia tidak bermaksud menjebak Airil, namun dia bingung cara mengobati depresi keponakannya itu.


"Dokter Mela bisa dijelaskan ini semua"


"Baiklah. Dokter Airil dan Bu Suci bisa ikut saya"


Dokter Mela menjelaskan semua duduk masalah yang terjadi kepada Nayla. Airil cukup terkejut. Sebenarnya saat dirumah sakit tadi, Airil ingin menanyakan perihal pernikahan Nayla yang tak terdengar kabarnya.


"Jadi Nayla itu korban kebejatan kekasihnya. Dan sekarang lelaki itu masih dicari oleh kakak Nayla. Dan selama depresi hanya nama dokter Airil yang dia panggil"


"Nayla benar-benar hamil dok"


"Iya Nayla sungguh hamil. Tolong bantu kami setidaknya bujuk Nayla untuk rehabilitasi"


Eneng langsung menjawab perkataan dokter Mela sebelum Airil bertanya persetujuan darinya.


"Maaf dok. Saya tidak ijinkan suami saya terlibat masalah ini. Sebaiknya dokter mencari oranglain saja. Asal jangan suami saya. Saya bukan cemburu.m, hanya saja mencegah sesuatu yang tak diinginkan nantinya. Apalagi jika nanti saya setuju, mungkin bukan hanya membujuk kerumah sakit. Bisa jadi kalian akan meminta suami saya menikahi Nayla"


"Kami tidak akan seperti itu Bu Suci. Hanya sebatas membujuk untuk diperiksa"


"Saat ini dokter bisa berkata demikian. Tapi nanti saat sesuatu tak diinginkan benar terjadi, kalian pasti akan berkata kepada saya. Tolong pahami Nayla. Anaknya butuh ayah. Nayla juga butuh Airil untuk membantu penyembuhannya. Dan saya yang akan jadi korban keegoisan kalian. Maaf sekali lagi kami tidak bisa membantu. Ayo kang pulang"


"Maaf dokter. Saya setuju dengan istri saya. Kami permisi"


"Dok. Tolonglah"


"Maaf kami tidak bisa"


Tanpa memperdulikan teriakan Nayla, Airil dan Eneng pergi dari rumah itu. Airil sedikit penasaran dengan Eneng yang tiba-tiba bisa membaca pikiran orang"


"Sayang kok kamu tau niat buruk mereka"


"Dokter Mela gak salah kang. Cuma terpaksa. Aku tau karena ada yang ngasih tau"


"Siapa sayang"


"Si poci. Dia yang tinggal ditaman rumah Nayla"


"Hahhhh. Baik benar tuh setan"


"Iyalah kalau gak baik, Eneng lepasin. semua talinya"


_______


Dah dijawab kan......jangan khawatir Eneng itu anti pelakor dan tahan banting. Anti bully juga...


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk