Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Pengen Nikah



"Neng besok loe jadi pagar ayu gue sama si japri"


"Kenapa harus japri sih Ais. Gak ada gitu yang kerenan dikit"


"Stok perjaka dikampung kita menipis Eneng. Semua udah pada kawin. Tinggal japri yang masih belum mau tuh kawin"


"Ais loe yakin mau ninggalin gue sendirian"


"Mau gimana lagi. Mumpung ada yang mau sama gue neng"


"Terus gue gimana dong sendirian"


"Loe kalau gak mau sendirian ya kawinaja ma japri"


"Ogah Ais. Berarti loe langsung diboyong laki loe habis pesta Ais"


"Iya neng. Laki gue langsung ngajak gue tinggal dikampung dia"


"Yah jauh dong kita nanti Ais"


"Loe bisa main ketempat gue neng"


"Gak ada duitnya is"


"Hahaha. Ntar kalau laki gue libur kerja gue bakalan main sini jengukin loe sama japri"


"Janji ya"


"Iya"


Mereka saling berpelukan. Ais dilamar oleh anak seorang juragan beras dari luar kota. Mereka saling mengenal karena kedua orangtua mereka adalah teman lama.


Eneng yang baru pulang dari rumah Ais membantu persiapan pernikahan sahabatnya,nampak lesu. Emak dan Titi tau jika eneng merasa akan kehilangan sahabatnya.


"Loe kenapa neng. Muka dilipat gitu"


"Gapapa Mak. Lupa neng setrika tadi wajah Eneng"


Eneng berjalan masuk kedalam rumah. Dia lalu mengambil handuk dan bergegas pergi ke kamar mandi dibelakang rumah. Surti dan emak sedang berbicara di teras depan.


"Mak kasihan deh sama teteh"


"Kenapa ti"


"Sedih tinggal merit teh Ais"


"Terus kita harus apa"


"Titi punya ide Mak"


"Apaan ti"


"Kita cariin jodoh aja buat teteh biar gak sedih"


"Emang siapa calon kandidat buat teteh"


"Japri aja Mak"


"Gak. Gak emak gak setuju. Ntar Eneng cuma dikasih makan nasi sama telur bebek terus. Lagian emak gak suka punya menantu satu kampung ti"


"Kenapa gak mau satu kampung Mak"


"Kalau pesta ditempat lakinya gak bisa naik bis"


"Iya juga ya mak. Terus siapa dong"


"Lebih baik nanti kita tanya dulu ke teteh kriteria pria idaman teteh kayak apa"


"Boleh juga tuh Mak. Jadi kita bisa punya reperensi buat nyariin jodoh teteh"


Mereka kembali terdiam dan sibuk dengan ponsel masing-masing. Emak sedang asyik selpi untuk mengganti poto propil efbe nya. Sedangkan Titi sedang mencari info terbaru idolanya si babang tamvan yang sedang piral.


Eneng yang selesai mandi sedang menonton acara televisi. Emak dan Titi mendekat dan duduk disamping Eneng yang sedang melihat acara eptipi hidayah.


"Neng"


"Hmmm"


"Loe gak ada kepikiran gitu nikah kayak ais"


"Ya pengen mak, tapi jodoh Eneng masih sibuk shooting"


"Siapa emangnya jodoh loe"


"Liminho"


"Ealah dia aja gak kenal loe neng"


"Biarin aja yang penting Eneng kenal"


"Teh. Kriteria cowok idaman teteh kayak apa sih"


"Kriteria ya. Mmmm"


Eneng memegang dagunya dan berfikir mengenai kriteria idamannya sebagai calon pendampingnya nanti.


"Teteh pengennya, tinggi, putih, mapan, harta gak habis tujuh turunan"


"Matre loe neng"


"Eleh kayak emak enggak aja"


"Terus usianya ada batasan gak teh"


"Gak usah pake batasan ti. Karena kita gak tau jodoh kita nantinya"


"Okeh"


"Loe kenapa nanyain kayak gituan ti"


"Titi mau bantu teteh nyari jodoh"


"Oh silahkan aja"


Eneng memang sedang tidak semangat untuk membantah perkataan sang adik. Karena hatinya masih sedih akan ditinggal Ais menikah .


Pagi ini sebelum membantu persiapan pernikahan Ais, Eneng pergi ke rumah kendil jennar untuk membantu menjual hasil kebonnya.


"Mak Eneng berangkat ya. Doain Eneng biar laris semuanya"


"Iya neng. Maaf emak gak bisa bantuin"


"Gapapa emak"


Eneng berangkat mengayuh sepedanya dan mulai berteriak menawarkan dagangannya. Eneng biasa seperti itu jika tidak membawa kendil jennar bersama dengan dirinya.


"Cabe cabeannya. Murah tapi gak murahan loh"


"Ikan lakinya juga ada ibu-ibu"


"Ikan cantik juga ada loh. Seger semua. Sesegar embun pagi hari. Ihirrrr"


Eneng berhenti di dekat pengkolan ojek. Disana ibu-ibu sudah berkumpul mengerumuni Eneng. Bahkan sesekali para tukang ojek menggoda Eneng.


"Neng ikan cantiknya berapa per ekor"


"Dua puluh ribu aja teh tapi gak bonus gincu ya"


"Loe bisa aja sih neng. Gue mau seekor"


Eneng melanjutkan melayani pembeli lainnya. Bu Romlah yang baru saja datang langsung ikut membaur.


"Eh Bu Romlah mau belanja apa. Seger-seger nih Bu"


"Loe gak bawa terong neng"


"Ck Bu Romlah kan dirumah punya terong burik gede lagi"


"Hush kamu jangan buka rahasia dapur gue dong neng"


Para ibu-ibu yang sedang ikut belanja ikut kepo. Bu Romlah hanya bisa cengar-cengir saja menanggapi pertanyaan para ibu-ibu.


Jualan Eneng sudah ludes terjual tanpa harus pergi ke pasar. Setelah mendapat upah dari kendil jennar, Eneng bergegas untuk pulang. Sampai didepan rumahnya, Eneng melihat sang emak mondar-mandir.


"Emak kenapa. Lagi nyetrika teras apa"


"Hish ni bocah ditungguin lama banget"


"Kenapa Mak"


"Ada yang mau ngelamar loe neng"


"Beneran mak"


"Iya. Orangnya datang besok"


"Siapa emangnya Mak"


"Mak gak tau"


"Gak tau gimana sih Mak"


"Tadi Titi yang bilang ada yang mau ngelamar loe besok. Orangnya siapa emak gak tau"


"Ya udah nanti tunggu Titi balik aja. Yang penting Eneng kawin Mak"


"Iya neng"


Eneng kembali ceria. Bahkan dari sejak masuk kamar mandi dan sekarang masak, Eneng terus bernyanyi.


"Kawin kawin minggu depan eneng kawin. Kawin tidur ada yang nemenin. Kawin kawin status di ktp jadi kawin. Kawin"


"Kowan kawin. Nikah dulu baru kawin neng"


"Sama aja kali mak. Ujung-ujungnya juga kawin"


"Emang kamu mau kawin sama siapa neng"


"Kata emak tadi ada yang mau lamar Eneng"


"Oiya lupa emak"


"Titi Uda pulang belum Mak"


"Uda nih bocah lagi nonton orgen tunggal di tipi"


Eneng langsung mendatangi sang adik. Menanyakan perihal pria yang akan melamarnya besok.


"Ti, siapa yang mau lamar teteh"


"Oh itu. Itulah teh juragan jengkol kampung sebelah".


"Siapa ti. Kok teteh gak tau"


"Mang kosep"


"Watttt ar yu sur"


"Yes am sur"


"Tapi dia kan udah tuir banget ti"


"Lah teteh kemarin kan ngomong gak ada batasan usia. Lah mumpung ada yang mau loh teh"


"Tapi ya jangan setuir itu Titi"


"Tapi kalau menurut emak gak masalah neng"


"Gak masalah gimana sih Mak"


"Coba loe bayangin neng. Mang kosep itu kaya. Tanah dimana-mana. Duit gak ada habisnya. Lumayan kan loe dapat warisan"


"Iya tapi Eneng bakalan sedih Mak"


"Kenapa emangnya"


"Malam pertama Eneng cuma lihat terong loyo mak. Mana udah kusut. Ibarat terong habis dibakar Mak"


"Alah gapapa itu gak usah jadi masalah. Malahan loe bisa untung gede"


"Untung gimana coba"


"Dia Uda tua kan, tinggal loe ajak ke lantai atas rumahnya, terus loe tendang noh dari atas. Jati loud, loe dapat warisan masih perawan lagi. Gimana"


"Brillian Mak gue ini. Habis tuh Eneng masuk hotel prodeo"


"Eh enak tuh teh nginep hotel"


"Iya loh neng. Enak tidur di hotel noh. Besok emak diajak ya"


"Wes angel angel"


________


Jangan lupa bahagia.....


jempolnya ya gaeasss