
Japri sudah berkali-kali mondar-mandir didalam rumahnya. Sang ayah yang melihat putra semata wayangnya itu gelisah sejak beberapa bulan lalu, mulai ikut khawatir. Japri gelisah karena tidak bisa mengetahui kabar Eneng. Setiap dia bertanya kepada calon mertuanya, selalu dijawab Eneng baik-baik saja. Eneng juga tak pernah memberikan kabar kepada japri.
"Jap mending loe susulin si Eneng. Daripada lantai rumah ini makin tipis gara-gara loe setrika tiap hari"
"Tapi japri gak tau alamatnya Yah"
"Yaelah jap. Loe kebanyakan gaul sama bebek jadi oon. Loe kan bisa tanya sama bapaknya geulis. Eneng kan satu tempat kerja sama geulis"
"Oiya lupa japri. Ya udah japri ketempat teh geulis dulu"
Japri langsung mengayuh sepedanya dengan kecepatan diatas seratus kilometer perjam. Jarak untuk kerumah geulis memang penuh perjuangan. Melewati perbukitan. Lembah yang luas. Berasa kayak ninja Hatori saja si japri.
Japri langsung menaruh sepedanya dibawah pohon dan masuk ke halaman rumah geulis. Beruntung emak geulis sedang didepan rumah. Japri langsung menyampaikannya maksudnya. Emak geulis masuk kerumah untuk menuliskan alamat rumah majikan geulis dan Eneng. Japri sangat senang akhirnya bisa mencari keberadaan Eneng.
"Gimana dapat loe alamatnya jap"
"Dapat yah"
"Terus kapan loe mau nyusulin Eneng"
"Besok subuh. Tadi japri ketemu mang Ubed katanya besok mau ke kota nganterin dagangan. Japri bisa numpang katanya"
"Ya sudah sana siap-siap loe. Jangan lupa pamitan tuh sama Maria Mecedel"
"Iya nanti japri pamitan sama Kendil jennar"
Japri masuk kedalam kamarnya mengemasi beberapa pakaiannya. Dia hanya akan memastikan tentang hubungannya dengan eneng. Japri juga tak berniat menetap di ibukota. Dia lebih suka berada di kampung. Usai berbenah, japri langsung pergi kerumah emak Eneng untuk berpamitan. Emak eneng menitipkan beberapa makanan dan hasil bumi untuk Eneng nanti. Selanjutnya japri berpamitan kepada kendil jennar.
"Assalamualaikum Mak"
"Waalaikumsalam. Loe tumben mau Maghrib kesini jap"
"Iya Mak. Japri mau pamitan. Besok subuh japri mau nyusulin Eneng ke kota"
"Loe tega sama emak jap. Ninggalin emak disini"
"Japri cuma bentar kok Mak. Stelah urusan japri sama Eneng selesai, japri langsung pulang"
"Awas loe gagak balik kesini. Emak sunat sampe habis"
"Iya Mak iya. Japri bakalan balik kesini. Emak baik-baik dirumah. Jangan kebanyakan main kuda-kudaan sama mang Kodir. Entar pinggang patah"
"Kampret emang loe jap. Dah sono balik. Loe gak mau digondol wewekan, sono sebelum adzan Maghrib"
"Wewe gak akan gondol japri Mak"
"Iya wewenya takut sawan kalau gondol loe jap"
"Japri pamit ya Mak. Assalamualaikum"
"Ya. Waalaikumsalam. Salam buat markoneng ya jap"
"Ya Mak"
Japri kembali mengayuh sepedanya. Dia harus bergegas pulang. Japri tidak ingin terlambat bangun. Dia akan tidur lebih awal.
Di ibukota Eneng sedang sibuk melayani para tamu majikannya. Acara syukuran salsa diganti malam hari. Dan kebetulan besok weekend, para saudara menginap dan melanjutkan dengan acara barbeque.
"Neng. Sosisnya masih gak"
"Sosis yang mana dok"
"Sosis yang dibakar neng. Saya mau satu dong"
"Ih dokter gama mah udah punya sosis masa mau makan sosis"
"Wah yang itu mah spesial neng. Jangan samain sama buatan pabrik. Hahaha"
Salsa yang mendengar pembicaraan sepupunya dan eneng hanya bisa geleng-geleng saja.
"Salsa gak nyangka pak dokter kita yang terkenal judes dan pelit omongan bisa gesrek juga ya"
"Kan tergantung sikon sa. Kakak kan ketularan Eneng haha"
"Ih pak dokter emang Eneng virus"
"Emang neng"
"Ih nyebelin deh. Jadi pengen halalin"
"Besok nunggu pak penghulunya khilap ya neng hahaha"
"Keburu Eneng yang khilap duluan sama pak dokter"
Dari arah pintu terdengar suara seseorang yang baru saja ikut bergabung.
"Wah seru nih. Saya ketinggalan gak"
"Wah pangeran Eneng datang"
"Pangeran kan berkuda neng. Airil mana pake kuda"
"Tapi kan bisa diajak kuda-kudaan ya gak A'"
Salsa yang melihat dokter Airil datang hanya bisa menghela nafasnya. Karena bisa dipastikan Eneng akan semakin oleng dengan kemesumannya.
"Dah ancur ancur dunia kalau kalian bertiga barengan. Gue yang polos jadi ikutan"
"Ah non kan pake baju gak poloslah"
"Aduh neng. Lelah saya"
"Jangan dong non. Kan baru mau beraksi"
Beruntung komplotan Eneng dan salsa berada ditempat yang berbeda dengan para saudaranya yang sudah berumur. Karena hampir semua keluarga orangtua salsa berada di luar negeri bahkan anak-anak mereka juga berada disana. Membuat salsa paling muda didalam acara tersebut.
Airil mengeluarkan dua kotak coklat berukuran besar. Satu dia berikan kepada salsa dan satu lagi untuk Eneng.
"Ini buat kalian berdua. Itu oleh-oleh dari sepupu saya"
"Wah makasih dokter Airil"
"Panggil kak saja sal. Kita kan berteman"
Sedangkan Eneng masih membolak-balik kotak berwarna merah jambu itu. Gama yang melihat Eneng seperti tak yakin dengan hadiah yang diberikan oleh Airil, dia mencoba bertanya. Sebuah rahasia pun terbongkar.
"Kenapa neng. Gak suka sama hadiahnya Airil"
"Suka"
"Terus kenapa muka kamu kayak gak suka gitu neng"
Eneng langsung bertanya kepada sang pemberi hadiah.
"Aa'. Gak niat buat bales Eneng kan"
"Bales gimana neng"
"Ini gak sama kayak yang tadi siang kan"
Airil langsung menepuk jidatnya. Dia teringat kejadian siang tadi saat bertemu dan menemani Eneng berbelanja di mini market depan komplek. Gama dan salsa mulai kepo mendengar perkataan Eneng kepada Airil.
"Ada apa dengan kalian tadi siang. Kok saya penasaran"
"Iya salsa juga penasaran. Loe ada apa sama kak Airil neng"
"Kepo"
"Ayolah neng. Jangan bikin gue penasaran dong. Jangan bilang kalian kencan"
"Emang. Kencan di mini market"
"Seriusan ril"
Huft
Airil menghela nafasnya dan berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi siang tadi di mini market. Airil menceritakan saat Eneng mencari orang bernama pramuniaga dan karena hal itu membuat Airil membantu Eneng berbelanja. Saat Airil akan menceritakan poin penting yang bersangkutan langsung dengan kotak warna merah jambu tadi. Airil menceritakan secara detail. Salsa dan Gama tertawa terbahak-bahak sampai kram perut mereka.
."Neng neng. Untung belum loe makan tuh permen"
"Tadinya mau Eneng cobain non. Karena penasaran kok harganya mihil cuka sekotak kecil aja. Untung gak jadi"
"Kenapa gak jadi neng"
.
"Ya gak asik lah dok. Masa cuma ngerasain sarungnya aja tanpa isinya. Kayak makan plastik dong gak ada seninya. Gak sesuai pentunjuk pemakaian dong"
"Hahaha. Bener juga kamu neng. Jujur neng. Kamu langsung penasaran kan sebenarnya habis Airil jelasin"
"Huh banget dok. Mau bayangin kok ya gak nyampe"
"Makanya jangan dibayangin. Besok langsung dipraktekkan neng sama suami kamu biar kamu bisa langsung lihat bentuk sarungnya"
"Tadinya Eneng pengen dokter Airil yang praktekkan. Kan lumayan bisa buat latihan"
"Appaaaaa"
"Beneran itu ril"
"Iya gam"
"Eneng padahal udah bilang ke dokter Airil. Kalau mau praktek pake sarungnya neng janji bakalan nikahin dokter Airil sebagai ganti ruginya karena Eneng telah menodainya"
"Wes angel tenan angel"
________
Markoneng muncul gaesss... makasih ya udah setia sama markoneng
jangan lupa bahagia
jempolnya digoyang yuk