
Japri sampai di Jakarta pukul sebelas siang. Dia tidak langsung diantar kerumah dimana Eneng bekerja. Karena hanya menumpang tetangganya, japri harus ikut pergi kepasar mengantarkan barang dagangan pesanan pedagang disana.
Sama dengan Eneng, japri juga takjub dengan kemegahan ibukota. Namun dia hanya menampakkan wajah biasa saja. Banyak kendaraan berlalu lalang membuat jalanan semakin macet.
"Jap. Loe gue antar habis nganterin pesenan beras dulu ya"
"Iya gapapa mang. Sekalian japri jalan-jalan. Kapan lagi japri bisa main ke kota mang"
"Iya manfaatin waktu loe disini. Oya loe mau nginep apa langsung balik"
"Belum tau mang"
"Kalau loe mau langsung balik, ntar gue tungguin sampai urusan loe selesai. Tapi kalau loe mau nginep. Loe nungguin mamang tiga hari lagi ke kota. Biar bisa barengan pulangnya"
"Ya mang. Mungkin japri disini dulu"
"Kangen loe sama markoneng"
"Apa sih mang. Gak gitu juga kok"
"Alah gak usah malu jap. Mamang pernah ngerasain juga kok. Kangen sama orang yang mamang sayangi"
Japri hanya memalingkan wajahnya menatap jalanan dari balik kaca. Ada semburat senyum diwajah pemuda yang memiliki lesung pipit itu. Kulit japri memang sedikit gelap karena dia memang bekerja dilapangan sebagai pengantin bebek dan sekarang ditambah mengambil pekerjaan Eneng menemani Kendil jennar berjualan.
Jika japri mau melakukan perawatan, Afgan pun lewat. Japri juga memiliki tubuh sedikit bherisi dengan tinggi yang menjulang berbeda dengan teman-teman sekampungnya. Sebenarnya banyak yang mengidolakan japri, kecuali Eneng tentunya.
Disaat japri sedang menikmati perjalanan dadakannya di ibukota, Eneng menemani salsa dirumah sakit untuk pemeriksaan terakhir. Kali ini Panji juga ikut bersama mereka. Seperti biasa jika sudah bertemu duo dokter tampan yang ada pastinya ambyar. Namun kali ini agak berbeda, karena ada satu dokter wanita yang menaruh hati pada dokter Airil, ikut dalam pemeriksaan salsa. Airil tau jika dokter baru itu ada hati untuknya tapi dia tidak begitu suka dengan dokter itu walaupun cantik namun tetap tak bisa menarik hati Airil.
Airil bersyukur Eneng ikut datang. Dia bahkan bersikap seperti biasa jika bersama Eneng. Gama pun juga. Membuat dokter wanita itu panas. Apalagi status Eneng hanyalah seorang perawat.
"Selamat siang kak"
"Salsa. Kamu diantar siapa"
"Panji kak"
"Dan Eneng juga Aa. Wah pangeran ku ada disini. Eneng kangen"
"Ah Eneng. Saya juga kangen sama kamu"
Eneng merentangkan tangannya ingin memeluk Airil. Airil pun sama saat jarak mereka tinggal beberapa senti lagi Eneng berbalik memeluk Salsa dan Airil memeluk Gama.
"Belum muhrim pangeran ku. Takut gak kuat Eneng kalau beneran kita pelukan. Jantung ini serasa ingin dugem"
"Hahaha. Tunggu pak penghulu kosong Eneng. Kita ke KUA"
"Ngapain A'"
"Kita jalan-jalan dikantornya. Lihat orang nikahan"
"Boleh-boleh sekalian eneng halalin Aa'"
"Asyiap"
Panji yang sudah tau seperti apa Eneng hanya ikut tertawa saja. Eneng bergelayut manja di lengan Airil. Dan gama seolah iri.
"Neng kamu tuh kenalnya sama saya duluan loh. Kenapa lengketnya sama Airil sih. Saya kan iri"
"Utuk utuk. Sini sini tangan Eneng. masih nganggur satu nih. Kasian jomplang"
Gama mengapit lengan sebelah kanan Eneng dan Airil sebelah kiri. Dokter cantik didalam ruangan itu serasa hanya hiasan. Tak ada seorangpun yang peduli dengan kehadirannya.
"Non salsa. Eneng berasa jadi putri diapit dua pangeran tampan. Emak jantung Eneng copot"
Eneng memeragakan gerakan jantung copot dengan melepas kaitan tangannya yang berada dilengan Airil. Dan Airil membalasnya seolah dia menangkap jantung Eneng.
"Hap. Jantung kamu akan aman. Karena aku menyatukannya dengan jantungku neng"
"Eyak eyak"
Gama menyahuti kesablengan keduanya. Salsa dan Panji hanya tertawa saja. Karena kesal, dokter cantik itu mencoba mencari perhatian kepada kedua dokter tampan disana.
"Maaf dok kapan pemeriksaannya akan dimulai"
"Oh iya ini sebentar lagi dimulai. Anda bisa persiapkan tempatnya dokter"
Dokter itu menatap Eneng dengan sinis. Bukan Eneng namanya kalau langsung kalah dengan tatapan intimidasi dari dokter tersebut. Eneng duduk di kursi kebesaran milik gama. Hal itu sudah biasa dilakukan Eneng jika berada di ruangan Gama.
"Yuk sa. Kakak periksa dulu"
"Ya kak"
Panji membantu salsa untuk duduk diatas ranjang rumah sakit. Airil dan Gama melakukan pemeriksaan terakhir terhadap salsa. Salsa memang sudah bisa berjalan normal, namun pemeriksaan tetap dilakukan karena mereka takut akan terjadi sesuatu terhadap salsa. Eneng bahkan memakai stetoskop milik gama. Hanya saja snellinya tidak gama lepas. Dokter perempuan itu mencoba mencoba memberikan perhatian kepada Airil dengan mengambilkan tisu untuk menghapus keringat yang tak nampak.
Eneng langsung berkomentar sebagai alasan tatapan tak bersahabat dokter muda tadi.
"Eh Juminem emang Aa Airil keringatanau loe lap jidatnya"
Dokter itu salah tingkah mendengar ucapan Eneng. Namun dia mencoba berkelit agar bisa menutupi rasa malunya itu.
"Hmm. Memang udara sedikit panas hari ini. Dan dokter Airil sedikit berkeringat"
Airil yang merasa dirinya sama sekali tak berkeringat langsung mencoba mengusap dahinya. Namun tak menemukan jejak apapun.
"Dasar juminten. Ini ruangan berase ya. Mana mungkin kepanasan. Eneng aja kedinginan kok dari tadi. Kalau loe bilang loe kepanasan, Wah loe kudu periksa dulu. Jangan-jangan ada yang salah sama indera perasa loe. Kan kasian loe ntar gak bisa ngerasain yang enak-enak"
"Maksud kamu apa ya"
"Gak ada. Kakak dokter yang cantik. Kalau suka sama orang juga harus pakai logika. Lagian yang disukai aja gak suka kok ngeyel. Gak lakunya"
Gama dan Airil menahan tawanya. Batu kali ini ada yang berani dengan dokter Calista. Dokter judes banyak yang tak begitu suka dengan sikapnya. Calista yang merasa direndahkan langsung meladeni omongan Eneng.
"Asal kamu tau ya. Walaupun Airil tidak menyukai saya saat ini, nanti pasti dia akan menyukai saya. Karena saya tau seperti apa tipe idaman airil"
"Au au takut. Pangeran ku awas loh tipe-tipe kayak gini biasanya tipe-tipe perdukunan"
"Maksudnya neng"
"Cinta ditolak santet bertindak. Beda sama Eneng. Cinta ditolak stok masih banyak"
"Sialan kamu. Kamu berani melawan saya"
"Kenapa harus takut. Emang situ tuhan harus saya takutin. Yang ada Eneng musrik"
"Mau kamu apa sih. Saya dari tadi tidak menggangu anda ya. Malah anda yang mengganggu kami. Anda bukan pasien tidak berhak ikut masuk"
"Ye dia gak tau. Saya ini pasien"
"Pasien kejiwaan"
"Gak percaya dia. Saya ini pasien cinta dokter gama dan dokter airil. Ya kan Aa'"
"Yuhu"
"Tuh kan. Jadi saya bisa bebas keluar masuk"
Karena gama kesal dengan dokter baru itu, dia lebih memilih menggoda Eneng.
"Keluar masuk mana nen"
"Hatimu dokter tampan"
"Kirain keluar masuk yang lainnya"
"Wah itu mah Eneng mau banget. Yuk bertiga Eneng mah suka banget"
"Uh ah dong neng"
"Ahhhh banget"
"Dasar trio sableng"
_________
Hai Eneng datang gaesss...Maaf ya japri nyampenya lama bingit...
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempolnya digoyang yuk. Senin nih sedekah vote dong