
Oek oek oekk
"No. Bayi no. Bayi"
"Iya Mak itu bayi nangis"
"Bayinya brojol no. Brojol"
"Iya Mak iya. Lepasin dulu ikatan kepala Ono Mak. Pusing ini emak tarik-tarik terus. Kun tolong"
"Ogah. Makanya gue jauhan berdirinya"
"Mak stop. Dilihatin orang tuh. Dikira emak gila"
Emak menghempaskan kepala Ono yang sedari tadi dia tarik-tarik kearah tembok.
"Untung Ono udah gak bernyawa. Gimana kalau Ono masih hidup. Udah koid"
"Berisik"
Setelah delapan jam lamanya, akhirnya baby twin terlahir juga. Orangtua Airil masih dalam perjalanan. Dan emak menunggu proses persalinan Eneng dengan ditemani duo KunNo. Setiap Eneng mengejan, emak ikut mengejan. Membuat duo KunNo pusing. Karena bom asap emak tak pernah berhenti.
"Kun. Cucu emak cowok apa cewek ya"
"Mene ketehek Mak"
"Kok gitu Kun. Mau dipecat jadi ajudan eneng"
"Mak. Dari tadi kita kan nemani emak diluar"
"Ck. Gak inisiatif cari tau"
"Gak boleh ngintip Mak. Ntar bintitan"
Emak tidak bisa duduk dengan tenang. Terus saja mondar mandir seperti setrikaan. KunNo yang melihat hanya diam saja. Disaat emak sedang bertugas menyetrika lantai rumah sakit, Airil keluar dengan keadaan yang kacau. Kemejanya sudah tak berbentuk lagi. Sepertinya pertarungan Eneng benar-benar penuh perjuangan.
"Mak"
"Air mancur. Loe mantu gue si air mancur kan"
"Iya Mak masih mancur kok gak landai"
"Oh syukurlah. Mana. Mana cucu emak"
"Baru diobservasi bentar Mak. Nanti kalau udah boleh pindah kamar, bisa dijenguk"
"Emak penasaran air mancur. Emak boleh masuk"
"Boleh Mak. Eneng nyariin emak"
Emak masuk masih diikuti Airil. Eneng sudah selesai dibersihkan. Kini dia sedang melakukan IMD. Proses awal bagi bayi yang baru dilahirkan. Eneng sedang memangku salah satu bayinya. Dan satu lagi masih berada didalam box.
"Neng"
"Makkk"
"Huahhhhhh. Eneng punya anak. Ya Allah. Kayaknya baru kemarin emak lahirin loe neng. Gantiin popok loe. Sekarang loe udah gendong anak aja neng. Emak tambah tua. Huahhhhhh"
Airil dan Eneng saling menatap. Melihat emak menangis begitu kencangnya. Bahkan KunNo ikut melongo.
"Mak. Malah kenapa nangis. Malu sama cucunya yang anteng"
"Mak gak rela dipanggil nenek. Maunya kakak"
"Huh kirain kenapa. Ya udah nanti mereka biar manggil emak aja gimana"
"Ntar dikira mereka anak emak"
"Terus mau dipanggil apa dong"
"Oma aja"
"Ya elah kan sama aja. Tuanya"
"Kamu ngomong apa neng"
"Gak ngomong apa-apa Mak"
"Itu kenapa cuma satu yang nyusu. Satunya gak neng"
"Gak bisa naruhnya Mak"
"Sini emak bantuin. Biar adil dan imbang. Susuin barengan. Kalau gak entar bapaknya yang nyusu"
"Eh emak pinter banget deh"
"Ingat loe air mancur. Puasa loe sampai empat bulan"
"Lama amat Mak. Setau Airil cuma empat puluh hari"
"Itukan setau loe air mancur bukan emak"
"Yah. Di iyain ajalah"
Emak membantu Eneng mengambil bayi satu lagi dan menaruh dipangkuan Eneng. Emak juga membantu agar bayi itu bisa menyusu dengan benar. Orangtua Airil mengabari jika mereka sudah berada di depan rumah sakit. Airil keluar untuk menjemput mereka.
"Neng. Loe nanti bakalan cari pengasuh gak"
"Sementara enggak Mak. Kenapa memangnya"
"Ngurus anak itu susah-susah gampang neng. Walaupun loe pernah mengasuh anak orang lain. Belum tentu loe bisa ngasih mereka sendiri"
"Iya Mak. Nanti lihat kedepannya gimana Mak. Sementara memang Eneng mau asuh sendiri"
"Iya Mak juga setuju. Tapi jangan terlalu memaksa ya neng. Bukan cuma mereka yang butuh perhatian tapi bapaknya juga"
"Iya Mak"
Eneng memperhatikan kedua putranya itu. Begitu mirip dengan Airil. Bahkan mereka sangat identik. Eneng masih belum bisa membedakan mana yang anak pertama dan yang kedua.
"Udah punya nama belum neng"
"Papanya sudah nyiapin nama Mak"
"Rahasia"
"Kalau belum punya nama. Mak mau usul"
"Usul apa Mak"
"Solikun sama Solikin. Nanti panggilannya Kun sama Kin. Keren kan"
"Nggak"
"Ah gak asyik loe neng"
"Mak. Ntar kalau manggil Kun Kun. Yang keluar kun lainnya Mak"
"Iya juga ya. Lupa emak kalau loe punya bodyguard Kun"
Orangtua Airil sedang menemani Airil untuk membayar kamar yang akan Eneng pakai. Airil mengambil kamar VVIP. Dia ingin kenyamanan bagi istri dan kedua jagoannya.
"Ril. Dimana Eneng"
"Masih diruang bersalin Bu. Nunggu tiga jam baru bisa dipindahkan kamar"
"Kenapa harus menunggu selama itu ril. Apa ada masalah saat melahirkan tadi"
"Tidak bu. Kita hanya berjaga-jaga jika terjadi masalah pasca melahirkan, bisa langsung ditangani"
"Oh gitu. Semoga semua tetap sehat"
"Aamiin Bu. Yuk Bu kita ke tempat cucu ibu"
Airil membawa kedua orangtuanya dan Juna melihat Eneng dan kedua putranya. Juna begitu antusias mendapatkan saudara baru. Selama ini dia hanya sendirian bersama kakek neneknya. Airil pernah ingin membawa Juna bersama dengan dirinya dan Eneng. Namun Juna memilih bersama kedua kakek neneknya.
Orangtua Airil memilih menunggu dikamar yang akan Eneng tempati nanti. Sedangkan emak masih menemani Eneng.
Tiga jam telah berlalu, eneng sudah dipindahkan ke ruang rawat. Betapa bahagianya kedua keluarga tersebut. Airil juga sudah memberi kabar kepada keluarga Malik tentang kelahiran putranya.
"Ini siapa namanya ril"
"Hm. Sebenarnya mau Airil kasih tau nanti saat aqiqah mereka pak. Tapi tadi kata Eneng kelamaan"
"Udah gapapa kasih tau sekarang aja. Daripada nanti kita asal panggil"
"Yang pertama namanya Fathan Rayyan Prasaja. Yang kedua namanya Fathian Reyhan Prasaja"
"Nama yang indah. Fathan dan Thian. Semoga kelak kalian menjadi anak yang Sholeh dan selalu taat pada sang pencipta. Aamiin"
"Aamiin"
"Papa. Ini adik Juna"
"Iya sayang. Juna sekarang sudah menjadi kakak. Harus sayang sama adiknya ya"
"Pasti. Mereka tampan semua. Papa mana yang namanya Fathan. Juna bingung"
"Hmm. Tanya mama saja ya. Papa masih bingung cara bedakan mereka"
"Ma. Fathan yang mana"
"Fathan yang ujung telinga kanannya ada titik hitamnya kak"
Bukan hanya Juna, Airil pun ikut mengamati sang putra agar bisa membedakan mereka. Kebahagiaan terus terpancar dari sepasang orangtua baru itu. Dan juga keluarga mereka. Sore hari, keluarga Malik datang menjenguk anak Eneng.
Kamar rawat Eneng menjadi sangat ramai dengan kedatangan keluarga Malik. Melihat kedua putra Eneng begitu tampan, Jay langsung berkomentar.
"Gak yakin ini anak Eneng"
"Terus mau anak siapa tuan. Jelas Eneng yang bunting dan lahirin kok"
"Mereka tampan sekali Eneng. Persis bapaknya"
"Beruntung persis bapaknya sayang. Coba kalau kayak Eneng. Gak kebayang"
"Daddy Arash suka banget ya menghina Eneng. Padahal Eneng juga cantik loh"
"Hmmm. Ke geeran tuh dibilang cantik"
"Biasa aja"
"Neng. Kalau kamu butuh pengasuh buat jaga mereka, nanti saya carikan"
"Gak usah non Jasmine. Eneng sudah punya pengasuh si kembar kok"
"Oya. Wah Airil memang suami idaman. Langsung dicarikan pengasuh"
Airil yang merasa belum mencarikan pengasuh untuk kedua putra kembarnya, langsung tersenyum canggung. Dia berbisik kepada istrinya.
"Memangnya siapa pengasuh si kembar"
"KunNo"
"Hah KunNo sayang"
"Hemm. Pengasuh sekaligus bodyguard"
"Amazing. Tapi kok perasaanku gak tenang. Kalau mereka yang ngasuh"
Sedangkan si KunNo yang juga ada disana, merasa antara senang dan juga apes. Mungkin senang karena bisa merawat si kembar. Apesnya, jika mereka bersifat seperti emaknya.
"No. Selamat datang di dunia baru"
"Kun. Ayo berjuang"
"Semangat"
_______
Om Tante...kita sudah brojol...hadiahnya jangan lupa ya Om Tante ..
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk