Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Amazing



Perkembangan anak Eneng begitu pesat. Kini usia mereka sudah enam bulan. Mereka sangat aktif sekali. Bahkan sangat dekat dengan KunNo. Eneng sangat terbantu dengan adanya KunNo. Namun semakin lama. Semakin tampak jika si kembar juga memiliki sifat Eneng.


Almeer selalu bermain ke rumah Eneng bersama si kembar. Apalagi Almeer memiliki kebiasaan yang sama dengan double F. Yaitu kentut.


"Thian. Stoppp. Ampun. Gak kuat lagi gue. Kun bantuin"


Ono sudah berteriak meminta bantuan karena sudah teraniaya oleh Thian. Kun sendiri sedang menjaga Fathan. Memang sedikit lebih kalem dibandingkan Thian.


"Apa sih no. Berisik amat"


Kun melihat Ono sudah terbaring tak berdaya. Thian duduk diatas perut Ono dan meloncat-loncat kegirangan. Nampak celana Thian sudah basah.


"No. Ganti tuh popok Thian"


"Tahu gue kun. Dari tadi basah. Makanya dia loncat-loncat diatas badan gue. Biar gue bau ompol"


"Anak pintar"


"Teman kampret emang loe Kun. Tolongin Kun"


"Bentar. Gue taruh Fathan dulu"


Kun membawa Fathan dan menaruh disampingnya. Dan Kun mengbil Thian untuk digantikan popok. Namun Thian yang sangat gesit sangat susah diatasi Kun.


"Thian stop dong. Pake dulu popoknya. Gak lihat tuh keloloran kemana-mana. Malu Thian"


Thian terus merangkak cepat sambil terkikik mengganggu Kun. Berbeda dengan Thian. Fathan terlihat duduk dengan tenang sambil memegang mainannya. Ono mendekati Fathan.


"Fathan. Kenapa Thian gak kaya loe sih. Anteng gitu"


Fathan menatap Ono dengan wajah tak suka. Fathan melemparkan mainannya kearah muka Ono.


"Aduh. Dasar bocil nyebelin loe. Kayak kulkas"


Eneng datang membawa makanan si kembar. Eneng masih bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik karena bantuan KunNo. Menu makanan si kembar memang dibuat sendiri oleh Eneng.


"Dobel F. Makan yukk"


Mendengar kata makanan, Thian paling cepat bergerak. Bahkan masih belum menggunakan popoknya. Fathan menyusul dengan merangkak pelan.


"Thian. Kenapa gak pake popok. Sini mama pakekan"


Eneng mengambil popok yang dibawa oleh Kun. Kun berniat mengangkat Thian mendekati Eneng. Namun yang terjadi adalah..


"Thian. Kenapa malah mancur ke badan gue. Aduhhhh apes apes deh gue. Bau semua ini"


Thian ternyata buang air tepat dibaju Kun Kun. Eneng dan Ono tertawa. Ono merasa puas karena Kun juga mendapat hadiah spesial dari Thian.


"Thian sayang. Tidak baik ya pipis di badan kak Kun dan kak Ono"


"Hmmm"


Setelah berhasil memakaikan popok kepada Thian, Eneng mendudukkan keduanya dikursi khusus makan. Eneng duduk diantara keduanya.


"Makan yang banyak nak"


Thian lebih lahap dalam menyantap makanan, dibandingkan dengan Fathan. Sesekali Eneng harus menyuapi Fathan agar Fathan mau memakan makanannya.


"Nanti sore nenek emak datang sayang. Kalian suka kan"


Thian dan Fathan merespon dengan cara berbeda. Thian merespon dengan tertawa DNA bertepuk tangan. Sedangkan Fathan hanya diam saja.


Usai makan, biasanya si kembar akan tidur setelah diberi ASI. Dan saat itu dimanfaatkan oleh KunNo dan Eneng beristirahat.


Eneng berusaha menidurkan si kembar. Dan KunNo sudah kembali ke tempatnya. Fathan sudah lebih dulu terlelap. Sedangkan Thian masih saja bermain-main didalam kamar.


"Thian. Ayo bobok nak. Sudah siang. Tuh lihat Abang sudah bobok"


Thian hanya terus terkikik sambil merangkak mengelilingi kamarnya. Eneng mengejar Thian dengan melawan arah. Membuat Thian semakin tertawa karena dia merasa Eneng mengajaknya bermain.


"Thian. Yuk mainnya nanti lagi bobok dulu"


Thian masih saja tak mau diam. Akhirnya Eneng duduk diatas ranjang. Dia membuka kancing bajunya. Niatnya akan memompa ASI nya. Thian yang melihat sumber makanannya terbuka, langsung bergerak cepat mendekat. Thian sudah berbaring disamping Fathan dan menarik ujung baju eneng.


"Eh kamu masih kecil tau aja yang enak-enak. Anak siapa sih ini"


Thian tertawa karena Eneng menggelitikinya. Eneng memberikan ASI kepada Thian sambil ikut berbaring. Dan lama-kelamaan keduanya sama-sama terlelap.


"Anak ganteng. yuk saatnya jalan-jalan kita. Sini masuk stroller dulu"


"Mereka masuk kedalam stroller khusus untuk anak kembar. Eneng mendorong mereka keluar dari rumah. Si kembar sangat senang sambil menatap sekitarnya. Sore ini Eneng tidak mengajak mereka ke taman. Melainkan kerumah si kembar Almeer yang memang tidak jauh dari rumahnya. Eneng hendak mengantarkan semur jengkol untuk Almeer. Kebetulan hari ini Eneng memasak semur jengkol.


"Kita kerumah Abang Al dulu ya nak"


Eneng berjalan sambil bernyanyi kepada kedua putranya. Kebetulan mereka bertemu tetangga yang tinggal didepan rumah Eneng. Mereka bertemu didekat gerbang perumahan. Perempuan cantik nan ****.


"Teteh mau kemana"


"Oh Adis. Mau kerumah Almeer. Darimana"


"Dari mini market depan teh"


Adis melihat sikembar. Fathan hanya diam saja tanpa reaksi namun matanya masih saja menatap Adis. Sedangkan Thian sudah jingkrak-jingkrak mengulurkan tangannya minta digendong.


"Wah kamu senang sekali bertemu Tante sayang. Sini tante gendong"


Adis mengambil Thian. Dan menempelkan pada dadanya. Thian semakin kegirangan. Eneng yang melihat itu langsung geleng-geleng kepala.


"Tau saja loe tong tempat yang empuk"


Adis menaruh Thian. Dia ingin menggendong Fathan. Saat tangan Adis hendak melepas sabuk yang menahan perut Fathan, wajah Fathan berubah memerah. Berkeringat. Seperti akan biang hajat.


"Teh. Ini siapa namanya"


"Fathan"


"Oh ya Fathan. Kamu mau empup ya nak. Kok ngeden gitu mukanya"


Eneng melihat berubah wajah putra pertama itu. Dengan sedikit memicingkan matanya, Eneng langsung paham apa yang sedang terjadi pada Fathan.


"Dis. Loe mau gendong Fathan"


"Iya teh. Boleh kan. Dia ikut banget. Anteng beda sama yang satunya"


"Hmm. Boleh sih. Tapi kalau nanti dapat serangan mendadak jangan kaget ya"


"Emang beneran mau pup teh"


"Nggak. Dia udah pup kok"


"Oh. Ya sudah aman berarti"


Adis berhasil melepaskan sabuk pengaman Fathan. Perlahan tangannya merapat diantara perut dan dada Fathan. Fathan sempat menarik-narik tangan Adis agar tidak menyentuhnya. Namun gagal. Adis tetap mengangkatnya.


"Ah.. Anak tampan. Jangan kaku dong sayang. Tapi Tante gak akan jahatin kamu kok"


Tubuh Fathan berubah menjadi kaku. Adis berniat mencium pipi Fathan. Seperti saat tadi dia mencium Thian. Jika Thian dicium akan tertawa bahagia. Berbeda dengan Fathan. Raut wajahnya semakin memerah bukan hendak menangis namun...


Bruttttt bussssshhh


"Hah. Kamu kentut sayang. Ya ampun baunya"


Eneng tertawa saat melihat reaksi Fathan yang sangat berbeda dengan Thian jika berhadapan dengan wanita selain keluarga dekatnya. Adis mengembalikan Fathan kedalam strollernya.


"Teh itu kayaknya beneran mau pup deh. Bau banget"


"Nggak. Dia gak mau pup. Biasa dia gak boleh saja dipegang cewek seksi. Grogi dicium. Hahahaha"


"Masa sih teh"


"Gak percaya. Coba aja lagi"


Saat Adis akan mencoba menciumnya lagi, Fathan bukan kentut namun langsung menangis histeris.


"Amazing emang anak gue"


____


Udah kelihatan kan kayak siapa...


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk