
Dua Minggu sudah keluarga Eneng tinggal dikota. Awalnya Jay membelikan rumah disaring area perumahan miliknya. Namun Eneng menolak. Dan Eneng memilih rumah yang berada dikampung belakang perumahan didekat rumah Rizky. Eneng ingin membayar rumah tersebut sistem kontrak. Namun Jay dan Aka menolak.
Kehidupan kampung dan kota jauh berbeda. Emak terbiasa bangun pagi dan berkebun. Tapi dikota dia tidak memiliki kebun. Beruntung dalam waktu satu Minggu sudah mengenal banyak tetangga. Titi juga disekolahkan didekat komplek tersebut.
"Mak Titi sekolah dulu"
"Iya. Langsung pulang jangan keluyuran"
"Siap Mak"
"Oya ti. Kamu bawa kunci cadangan. Emak hari ini mau ikut Mpok Rini kerja. Bosen emak dirumah nganggur terus"
"Ya Mak"
Titi berangkat bersama teman-teman sekampungnya. Mereka hanya berjalan kaki karena jarak sekolah mereka memang dekat. Emak bersiap untuk pergi bersama tetangganya. Sebenarnya Eneng melarang emak bekerja. Gajinya sudah lebih dari cukup untuk membiayai sekolah dan kehidupan mereka. Bahkan sekolah Titi dibayarkan oleh Arka. Beruntung Titi termasuk anak yang cerdas. Bantuan Arka terselip dalam beasiswa Titi.
"Emak Titi. Mak"
"Ya"
"Ayo berangkat sekarang saja keburu siang"
"Ya. Bentar gue kunci pintu dulu"
Setelah mengunci pintunya emak la bergegas pergi. Tetangga emak Eneng memang sebagian besar bekerja serabutan. Apapun itu asalkan halal. Apalagi hidup dikota tidak semudah yang dibayangkan. Ingin terus bertahan ya harus mau kerja keras.
"Mak nanti kita ke pasar dulu. Biasanya disana lumayan banyak kerjaan. Emak gapapa kan angkat barang belanjaan"
"Gapapa. Gue biasa angkat berat"
Mereka menunggu angkot didepan gang untuk menuju ke pasar. Dengan membawa tas belanjaan seadanya Rini dan emak Eneng siap berangkat berperang mencari recehan.
"Wah Rin. Rame bener pasarnya"
"Iya Mak. Ini kan pasar paling dekat sama komplek perumahan elite. Kebanyakan para pembantunya suka belanja kesini ketimbang sama tukang sayur keliling"
"Pantas. Rame banget"
"Yuk Mak. Kitabke kios tempat Rini kerja"
"Ya udah yuk"
Mereka berjalan menuju kios tempat biasa Rini bekerja sebagai tukang angkut barang. Rini mengenalkan Mak Eneng kepada majikannya. Tak lama beberapa pelanggan datang dan emak mulai bekerja.
"Gimana Mak masih kuat"
"Alhamdulillah masih. Loe gak usah khawatir Rin"
"Ya sudah. Rini antar barang ini dulu Mak ke mobil depan"
"Iya"
Emak kembali ke kios menunggu orderan berikutnya. Saat duduk santai, ada seorang pelanggan membutuhkan tenaga emak. Dengan penuh semangat emak mengangkut belanjaan mereka. Emak mengantarkan belanjaan tersebut hingga keparkiran luar pasar.
"Ini ongkosnya. Makasih"
"Sama-sama Bu"
Saat akan kembali kedalam pasar, otak ajib emak kambuh. Ada orkes keliling sedang melewati pasar. Emak langsung mengejar orkes tersebut.
Rini yang baru kembali kedalam pasar, menanyakan keberadaan emak. Rini cukup lega mendengar emak sedang mengantar belanjaan. Dua puluh menit berlalu emak masih belum juga pulang. Rini sudah mulai panik. Rini mengelilingi pasar mencari keberadaan emak. Menanyakan kepada sesama pengangkut barang. Semua tidak melihat.
Rini berjalan menuju parkiran. Bertanya kepada tukang parkir didalam pasar. Mereka juga tidak melihat. Rini sudah sangat takut. Apalagi emak masih baru dikota besar. Rini memutuskan menelpon eneng.
"Hallo neng"
"__"
"Sorry neng. Emak loe hilang dipasar"
Setelah menutup panggilannya, Rini kembali mencari keberadaan emak Eneng disekitar pasar.
.
.
Eneng yang sedang menyiapkan bahan makanan untuk makan siang, langsung berlari keluar rumah setelah mendengar kabar jika emaknya hilang dipasar. Bahkan pisau dapur masih dipegangnya. Jay yang melihat Eneng berlari membawa pisau langsung berteriak.
"Neng mau nyembelih apa"
"Emak"
"Astaghfirullah neng. Sadar neng"
Jay langsung berlari mengejar Eneng. Didepan rumah bertemu dengan Arka yang baru kembali dari luar bersama Melany.
"Tengil mau kemana"
"Eneng mau kemana bawa pisau"
"Nyembelih emak katanya"
"Innalillahi"
Arka langsung keluar mobil dan ikut mengejar Eneng. Melany langsung menelpon Airil agar datang menenangkan Eneng.
"Ada apa ini. Kenapa Eneng nekad seperti itu. Tidak biasanya Eneng seperti itu"
Melany lebih memilih pulang kerumah dan menunggu kabar disana. Jay dan Arka terus mengejar Eneng. Eneng masih saja mengacungkan pisaunya membuat semua orang yang melihat ketakutan untuk mendekat. Dipertigaan jalan menuju pasar, Airil melihat Jay dan Arka. Dia langsung memarkirkan mobilnya dan Ikut mengejar Eneng.
"Om. Mana Eneng"
"Itu calon bini kamu maun nyembelih emaknya katanya"
"Hah"
Mereka terus mengejar Eneng. Bahkan Arka yang sudah berusia sedikit lanjut pun lupa jika dia sebenarnya tak sanggup berlari jauh. Mereka berhenti kala melihat Eneng sedang diam mematung didepan kerumunan keramaian tak jauh dari pertigaan.
"Mumpung Eneng berhenti. Ayo kita ambil pisaunya. Sadarkan dia. Jangan-jangan kesurupan tadi"
"Bener kamu Jay. Ayo pelan-pelan saja dekatinya"
Ketiga pria tampan itu mendekati Eneng perlahan dari belakang. Airil pelan-pelan mengambil pisau ditangan Eneng. Jay mencoba menyadarkan Eneng yang masih berdiri tegap melihat kearah depan. Arka mengikuti arah pandang Eneng.
"Ya Allah gusti"
Pekikan Arka membuat Jay dan Airil melihat kearah yang sama.
"Ancur dah ancur"
"Amazing"
Berbeda dengan ketiga lelaki tadi. Eneng berjalan pelan mendekati kearah kerumunan orang yang ternyata sedang menyaksikan pertunjukan orkes dangdut keliling. Jay dan Arka masih berdiri ditempat yang sama. Sedangkan Airil mengikuti Eneng dari belakang. Takut terjadi sesuatu karena Eneng masih tak mau merespon panggilannya. Tiba-tiba...
Hoo (Hoo)-hoo (hoo)-hoo (hoo)
Hoo (Hoo)-hoo (hoo)-hoo (hoo)
Hoo (Hoo)-hoo (hoo)-hoo (hoo)
Iwak peyek (iwak peyek), iwak peyek (iwak peyek)
Iwak peyek nasi jagung
Sampek tuek (sampek tuek), sampek nenek (sampek nenek)
Eneng tetap disanjung
Eneng merebut mikrofon yang dipegang emak dan langsung bernyanyi. Bahkan emak melepaskan cepolan pada rambutnya yang panjang. Dan berjoged ala penyanyi aslinya menjadikan paha Eneng sebagai tumpuan kakinya. Emak berjoged ngebor dan patah-patah diikuti Eneng.
Goyangan emak tadilah yang membuat Arka dan Jay shock. Dan sekarang ditambah sang anak yang ikut menggila. Airil hanya bisa melotot dan menggeleng kepalanya. Sedangkan Jay dan Arka pura-pura tak mengenal mereka saat ada yang bertanya.
"Itu yang nyanyi siapa sih. Jogednya asik banget. Kenal gak pak"
"Maaf saya orang baru disini jadi tidak kenal. Permisi"
Jay dan Arka dengan gaya cool meninggalkan tempat tersebut dan memilih pulang. Nanti Eneng akan menghadapi mereka dirumah. Pertunjukan orkes tersebut akan berpindah tempat. Emak ngotot ingin ikut tapi Eneng melarangnya
"Emak mau ikut neng. Asyik kan bisa goyang-goyang"
"Nanti goyang dirumah Mak. Kalau ikut itu gak tau kapan baliknya Mak"
"Ah gak asyik kamu neng. Emak kan bosen"
"Emak lebih gak asyik. Goyang sendirian gak ngajakin Eneng"
Airil yang melihat itu langsung mencoba menenangkan keduanya.
"Sudah ayo kita pulang. Nanti Airil belikan alat buat konser dirumah. Gimana mau gak Mak"
"Ah emang si kasep mah pengertian banget. Jangan panggil Mak dong. Ayang embeb gitu. Kan kamu calon bapaknya Eneng"
"Ini mah judulnya. Emak ngembat calon suamiku"
______
Udah dua loh ya.....
Jangan lupa bahagia gaesss
Jangan lupa jempolnya digoyang yuk