
"Mah pernikahan anak pak Badar kapan"
"Sabtu besok pah"
"Jadi didepan rumah atau nyewa gedung sih"
"Didepan rumah katanya pah. Biar gak ribet"
"Oh gitu. Mama sudah siapin baju belum"
"Belum pah. Pakai baju lama aja gimana"
"Apa masih muat. Gak lihat perut papa kayak orang hamil tiga bulan"
"Hah. Anak siapa itu kang"
"Gak tau. Tiba-tiba isi gini"
"Harus ada yang tangguh jawab itu kang"
"Kamu saja yang tanggung jawab neng. Hahahaha"
Airil dan Eneng sedang membahas tentang undangan pernikahan anak tetangga kompleksnya. Airil sudah sering mengeluh jika sekarang perutnya nampak lebih buncit. Dan pakaiannya pun mulai sesak.
Si kembar baru saja pulang dari pemotretan. Hari ini mereka harus bekerja sepulang sekolah. Jadwal mereka semakin padat. Terkadang mereka memprotes Airil dengan jadwal yang tak terhentikan itu.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Cucu Oma sudah pulang"
"Kayak belum deh Oma"
"Lah terus kalian siapa"
"Setan depan rumah"
"Hus ngawur. Dah yuk makan"
"Mantap. Pas lapar diajak makan"
"Oma emang the best"
Fathan dan Fathian pulang menjelang Isya'. Mereka segera membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam bersama dengan keluarga. Eneng dan emak sibuk menyiapkan makan malam.
"Neng. Emak besok ikut kondangan ya"
"Kayak anak kecil aja sih Mak"
"Emak pengen lihat orkesnya"
"Gak. Gak. Bisa hancur pesta orang Mak"
"Gak. Kali ini emak anteng. Cuma mau lihat"
"Gak yakin Eneng"
Airil yang baru saja ikut bergabung dengan emak dan Eneng, mendengarkan percakapan mereka. Dan emak langsung merengek pada Airil.
"Air mancur. Emak besok ikut kondangan ya"
"Emak dapat undangan"
"Nggak. Tapi emak mau ikut"
"Ya gak bisa dong Mak. Kan undangan cuma buat dua orang. Kalau emak ikut itungannya lima orang ntar"
Pletak
"Dasar mantu sontoloyo"
Emak memukul kepala Airil dengan centong nasi.
"Sakit Mak. Berharga loh ini Mak"
"Pokoknya emak ikut besok"
"Entar emak malah konser disana. Rusak lagi panggung orang"
"Gak bener gak kok"
"Airil gak yakin"
"Suer deh gak nakal"
"Airil tes"
"Boleh"
Duo F juga sudah turun dan mendengarkan perdebatan papa dan Omanya. Airil memberi kode kepada Thian untuk ikut bersekongkol dengan sang papa. Thian mengeluarkan ponselnya dan mencari pemutar musik. Dan memilih satu lagu dari playlist miliknya.
Musik mulai terdengar. Emak masih cuek. Alunan musik makin menggoda. Bahkan Thian dan Fathan sudah memancing dengan berjoged ria. Airil tak kalah asyik. Dia memukul meja makan menggunakan sendok dan garpu membentuk nada yang menggoda. Sedangkan Eneng asyik menikmati makan malamnya.
Emak mulai tak tenang. Bola matanya sudah memutar kekanan kekiri. Thian dan Fathan menyanyikan lagu semakin semangat.
Kowe mbelok ngiwo nengen tanpo nguwasne mburi
Tak tabrak kowe loro iki salahe sopo
Yen kowe wes ra tresno ngomongo jo trus lungo
Awas nemoni apes lemah teles gusti sing bakal mbales
Hokya hokye....
Emak mulai menggoyangkan kakinya perlahan. Airil dan duo F mulai mengeluarkan senyumannya licik mereka. Emak mencoba hasrat ingin bergoyangnya hingga berteriak dengan suara anehnya.
"Huahhhhhh. Huhhhh"
"Brrrrrrr. Hoahhhhhh. Jossss"
Eneng yang melihat emaknya berteriak-teriak aneh, mulai menjadi kompor berkerak.
"Goyang Mak. Enak Mak. Asyekkk"
"Berisik loe. Emak bisa. Emak gak goyang. Brrrrrrr"
"Daripada teriak gak jelas gitu. Losss in aja"
Pertahanan emak tak bertahan lama. Dia pun mengikuti duo F bergoyang dan paling heboh. Mereka akhirnya bisa makan malam dengan tenang tanpa rengekan emak. Karena emak kalah taruhan dan tidak bisa ikut ke kondangan. Emak makan sambil cemberut. Namun tak ada yang memperdulikan. Mereka tahu usaha ini tetap akan gagal. Emak pasti akan datang keacara tersebut dengan caranya sendiri.
Hari kondangan pun tiba. Sehari sebelumnya Eneng membeli pakaian couple dengan Airil. Eneng pun tak lupa membelikan satu stel untuk emak. Emak bahkan sudah heboh sedari pagi. Emak membalurkan lulur diseluruh tubuhnya. Emak tak lupa memakai masker diwajahnya.
"Oma tumben maskeran siang-siang gini mah"
"Kok bisa"
"Hmm. Oma tadi pakai lulur. Terus berendam dalam air penuh aroma terapi sama mawar"
"Hah. Seriusan mah"
"Heem"
"Siapa yang nikah siapa yang heboh"
"Makanya itu bang"
Emak yang sudah selesai membersihkan masker diwajahnya berjalan mendekati anak dan cucunya.
"Mana Thian. Kok gak kelihatan"
"Lagi main sama Bobby kayaknya"
"Oh. Udah punya ular sendiri masih mainan ular lainnya"
Eneng tak merespon. Fathan pun sama dia memilih fokus pada siaran televisi dihadapannya.
"Neng bantuin emak"
"Apa"
"Pakaikan kutek dikuku emak. Sama roll on rambut emak"
"Mak. Emang emak yang mau nikah apa. Heboh banget"
"Walaupun tamu. Tetap harus cetar membahana"
"Ini pengantinnya kalah sama tamunya"
"Udah sini bantuin emak"
"Warna hitam Mak kuteknya"
"Masa item. Pink dong. Kan kebayak emak warna pink"
"Heh. Kayak salah kasih warna deh"
"Gak usah dumelan. Buruan. Masih catokin rbut emak juga loh neng"
"Siap bos"
Eneng mendadani emak cukup lama. Bahkan Airil langsung geleng-geleng melihat emak. Benar-benar tak mau kalah dengan sang pengantin. Setelah Eneng selesai bersiap. Mereka berangkat bersama dengan berjalan kaki. Karena rumah sang empunya hajat hanya berbeda tiga rumah saja.
Acara sangat meriah. Para tamu undangan hampir semua membawa mobil. Airil membawa masuk dua wanita istimewa didalam hidupnya kedalam rumah sang pengantin. Musik hiburan sudah mulai. Mereka menikmati hidangan dan musik. Emak masih cukup aman. Airil dan Eneng juga merasa tenang.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kerumah orang-orang yang sedang mengantri untuk memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru tersebut.
"Tolong ada yang pingsan"
Beberapa orang berkerumun. Seorang wanita muda cukup cantik pingsan didekat panggung pengantin.
"Haduh jangan-jangan ini mantannya si pengantin pria"
"Bisa jadi. Kalau gak kuat jangan datang mbak. Pingsan kan"
"Apa jangan-jangan lagi hamil. Agak buncit tuh perutnya"
Keluarga pemilik acara mulai mendekat dan sang pengantin wanita meminta tolong untuk dicarikan minyak angin.
"Tolong carikan minyak angin"
Mereka masih mencoba menyadarkan wanita itu. Datang lagi seorang wanita lain yang mengenali wanita yang sedang pingsan.
"Loh ini kan Mirna"
"Mbak kenal"
"Iya. Saya temannya. Kok bisa pingsan gini"
"Mungkin mantan sang pengantin pria mbak"
"Memang siapa pengantin prianya"
"Leo"
"Leo mbak"
"Leo siapa Bu. Bukan Leonard Handoko kan"
"Ya bukan mbak. Namanya Julio Rahardian. Panggilannya Leo"
"Wow salah alamat dong"
"Maksudnya gimana mbak"
Tiba-tiba wanita yang tadi pingsan langsung terbangun dan pergi sambil menggerutu.
"Ngomong dong dari tadi. Gue kira ini Leo mantan gue. Capek tau pura-pura pingsan"
Semua tamu melongo mendengar perkataan wanita tersebut. Bahkan temannya langsung tertawa terbahak-bahak.
"Makanya move on. Kasian salah alamat gaess"
Para tamu undangan ikut tertawa mendengar ucapan teman wanita tadi. Eneng dan Airil yang sedari tadi ikut memperhatikan drama dadakan. tadi lupa mengawasi emak. Dan terjadi lagi...
"Ya Allah kang"
"Hancurkan acara orang. Emak lophe yu pull deh"
Sedangkan emak sedang berteriak minta tolong. Beberapa orang sedang menolong emak yang terjebak ditengah panggung yang jebol. Karena emak naik keatas panggung untuk berjoged dan bernyanyi. Emak melompat-lompat mengikuti musik. Memang panggung tidak tinggi namun bisa ambles karena emak.
"Air mancur kaki emak kejepit"
"Gak kenal saya. Gak kenal"
"Dasar mantu durhakim loe ya. Tolonggg emak air mancur"
_______
Kayaknya bukan emak kalau gak merusuh
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk