Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Kembali Tertindas



Keynan sudah mengecek lokasi yang akan direnovasi. Bahkan Jay dan Airil juga sudah mendapatkan rincian perkiraan biaya. Untuk sementara, para siswa akan belajar menggunakan kelas yang masih layak. Dan pembongkaran juga sudah dimulai. Keynan tinggal dikampung Eneng bersama anak buahnya.


Jay beserta cucunya kembali ke kota bersama keluarga Eneng. Lusa mereka harus kembali ke sekolah. Namun mereka berjanji akan datang lagi nanti walaupun bukan libur sekolah. DN orang yang paling bahagia saat mengantar kepulangan Eneng adalah emak. Karena Eneng pulang dengan meninggalkan rombongan pria muda tampan dirumahnya.


"Mak. Jaga kesehatan. Eneng akan pulang lagi nanti. Syukur-syukur emak sudah sadar dan mau ikut kami"


"Loe gak usah khawatir neng. Emak pasti sehat terus sekarang. Apalagi ditemani akang ganteng"


"Hadeh. Ini mah gak cuma sehat. Terlalu waras"


"Iyalah. Mau tidur lihat yang bening. Bangun tidur lihat yang bening. Sehat mata emak neng. Jiwa emak pun juga sehat. Apalagi ada yang mau jadi bapak kamu. Bahagianya emak. Nikmat mana lagi yang kau dustakan neng"


"Emak nikmat. Mereka engap"


"Dasar anak sontoloyo. Emaknya bahagia kok gak seneng"


Eneng tak menanggapi emaknya. Dia masih berkemas memasukkan barang-barang kedalam bagasi mobil. Beberapa teman si kembar sudah berada diteras depan untuk mengantar kepulangan mereka. Si kembar Dean hanya memandang mereka semua dari tepi pintu. Si kembar Dean memang tidak mudah bergaul. Berbeda dengan saudaranya yang lain.


"Thian. Mereka siapa"


"Mereka. Abang kami"


"Kembar juga"


"Iya"


"Saudara loe banyak yang kembar"


"Iya. Kenapa emang"


"Bikin pusing susah bedakan"


"Asal kalian tau ya. Abang dari mereka berdua kembar. Tapi kembarannya cewek. Terus ayah mereka berdua kembar. Mantap kan. Rame"


"Pusing kalau gue. Gak bisa bedakan"


Teman Thian menjawab saling sahut menyahut. Karena dikampung Eneng tidak ada orang yang terlahir kembar. Bagi mereka melihat orang kembar seperti fenomena.


"Gaess. Kita pamit ya. Tolong jagain Oma kita. Kita janji akan main kesini lagi nanti"


"Beneran ya. Kami tunggu. Sebenarnya, kami semua berharap kalian berdua tinggal disini"


"Maaf tidak bisa. Kami sudah sekolah disana"


Mereka saling berpelukan. Bahkan sebelum berangkat, mereka sempat berfoto bersama. Si kembar Dean meminta ijin untuk satu mobil dengan duo F. Namun Almeer melarangnya. Karena bisa dipastikan akan ada huru hara jika keempatnya bersatu.


Kini mereka sudah dalam perjalanan. Fathan teringat pembicaraan mereka dengan sang Oma mengenai Dzaky. Fathan pun menanyakan kabar sang Abang kepada papanya.


"Pah. Boleh Abang tanya"


"Apa bang"


"Kemarin Oma tanya kabar Abang Dzaky. Kami juga sudah lama tidak mendengar kabar Abang"


Eneng dan Airil saling beradu pandang. Mereka sedang memikirkan cara untuk memberi jawaban kepada kedua putranya itu.


"Abang Dzaky sehat. Nanti kita cari waktu untuk mengunjungi Abang disana"


"Baik papa. Kami benar-benar merindukan Abang"


"Iya dek. Kami pun sama"


Perjalanan kembali senyap. Fathan tenang dengan headset ditelinganya. Thian pun hanya melihat pemandangan sambil memakan camilan ditangannya. Airil menjadi canggung setelah pembicaraan mengenai Dzaky. Eneng pun hanya bisa terdiam.


Tak ada suara celotehan dari Thian. Bahkan duo KunNo yang biasanya membuat keributan, juga hanya terdiam. Perjalanan terasa lebih lama karena kesunyian. Airil mencoba memecah kesunyian.


"Adek, mau makan dulu gak"


"Belum lapar pah"


"Atau mampir ke suatu tempat dulu sebelum kita sampai rumah"


"Nggak pah"


"Anak papa kenapa badmood"


"Gak badmood pah"


"Terus"


"Pengen cepat sampai rumah saja. Lagi kesel sama dua makhluk dibelakang nih"


"Kenapa mereka"


"Makan gaji buta. Gak jagain kita malah kluyuran sendiri"


Eneng menoleh ke kursi paling belakang tempat dimana KunNo berada. KunNo hanya bisa cemberut mendengar Thian mengadu kepada kedua orangtuanya.


"Jadi kalian gak jagain anak gue"


"Ampun neng. Ini gara-gara si Kun"


"Kok gue. Kan loe juga No"


"Kalian berdua salah. Tunggu hukuman dari gue"


"Ya elah gak anak gak emak, langsung ngasih hukuman"


"Gak suka kalian"


"Suka. Suka banget malah"


KunNo hanya bisa tersenyum kecut. Nasibnya entah akan seperti apa jika Eneng yang akan menghukum mereka. Pasrah itu yang bisa mereka lakukan saat ini.


Mereka sudah sampai dirumah. Fathan masih terlelap. Thian langsung mengangkat tubuh kakak kembarnya dan membawanya masuk kedalam rumah. Airil yang melihat kasih sayang keduanya, sangat bahagia.


"Dek. Kuat"


"Iya pah. Sudah biasa"


Eneng meminta KunNo membantu Airil membawa barang-barang mereka kedalam rumah.


"KunNo bantuan kang Airil bawa barang-barang anak-anak masuk"


"Syiap neng"


"Wah baru pulang pak Airil"


"Ah iya pak Agus"


KunNo dengan santainya menarik koper si kembar bahkan mereka gunakan untuk bermain. Ono duduk diatas koper dan Kunti menariknya.


"Asyikkk terus Kun"


"Gantian dong no"


"Ya sudah sini"


Mereka bertukar posisi dan Ono menarik Kunti dengan sangat kencang hingga luar pagar rumah Airil.


"Huahhhh. Horeee. Asyikkk"


Airil mendengar suara gesekan roda koper dengan aspal didepan rumahnya, langsung menoleh sesaat dan hanya berdecak pelan. Dia kembali menurunkan barang-barang lainnya. Airil dengan santai masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan kelakuan duo transparan yang masih bermain.


"Onoooo. Kencenginnnn lagi"


Tetangga Airil yang sedari tadi memperhatikan keanehan didepan rumah Airil, langsung menampakkan wajah memucat. Ditambah koper itu masih mondar-mandir dihadapan mereka.


Prang


Suara gelas jatuh terdengar jelas. Minat duo transparan berhenti melihat kearah rumah tetangga Airil. Eneng dan Airil yang kebetulan sedang didepan juga melihat kearah rumah pak Agus. Dan teriakan kencang terdengar dari suara istri pak Agus.


"Setannnnn"


Mereka tidak bisa bergerak. Badan menggigil semuanya. Eneng berlari keluar dan baru menyadari jika KunNo bermain koper hingga ke jalanan yang tampak sunyi. Eneng berjalan mendekati kearah KunNo. Berkata sambil berbisik.


"Kalian. Awasnya kalau sampai mereka jantungan"


"Ampun neng. Kita keasyikan tadi"


Eneng berjalan kearah rumah pak Agus dan menjelaskan apa yang mereka lihat tidaklah seperti yang mereka pikirkan. Beruntung saat keluar Eneng membawa remote pendingin ruangan. Tak lupa meminta bantuan KunNo.


"Pak Agus dan Bu Agus kenapa"


"Se. Se. Setannnnn"


"Mana ada setan pak. Gak ada"


"Ko. Ko per jalan sendiri"


"Oh itu. Itu jalan sendiri karena digerakkan pake remote pak. Ini tadi saya gerakkan. Tapi ternyata sensornya eror. Bukannya masuk kerumah malah menjauh. Jadi saya keluar buat periksa"


"Hah. Masa ada yang seperti itu"


"Ada. Ini saya tunjukkan"


Eneng memberi kode kepada KunNo untuk membantunya menunjukkan jika koper itu dia berjaln karena remote. Demi kelangsungan hidup bertetangga, Eneng terpaksa melakukan itu.


"Ini saya pencet tanda untuk jalan maju kearah pagar rumah saya ya Pak, Bu"


Eneng memencet tombol asal. Dan KunNo mendengar suara arahan dari Eneng langsung menjalankan koper itu perlahan.


"Kan maju pak"


"Masa ada yang seperti itu. Kok saya baru tahu ya"


"Ini edisi khusus pak. Cuma anak saya yang punya"


"Beli dimana Bu"


"Ini kiriman dari luar negeri"


"Waduh susah kalau gitu"


"Sudah jelas bukan setan ya pak. Jadi bapak sama ibu tidak perlu takut"


"Tuh kan tadi bapak bilang apa Bu. Setan itu gak ada"


"Lah bapak yang takut pertama kali. Tuh buktinya bapak ngompol di celana"


Eneg melihat perdebatan sepasang suami istri dihadapannya dan juga melihat jika memang celana pak Agus sudah basah. Eneng menahan tawanya. Dan memilih pamit pulang.


"Kalau begitu saya pamit dulu pak. Maaf sekali lagi"


"Ya Bu Eneng. Kami juga minta maaf sudah membuat ibu Eneng harus repot-repot datang kemari"


"Oh tidak apa pak"


Eneng berjalan keluar sambil menahan tawanya. Dan menarik koper Fathan kedalam rumah. Tak lupa Eneng mencubit lengan KunNo.


"Awas ya kalian"


"Ampun neng. Sengaja kita. Habis asyik"


"Asyik pala loe peyang"


"Hihihi"


"Gak usah ketawa. Ada yang dengar malah heboh. Untung mereka bisa gue bohongin. Kalau gak. Bisa heboh besok seisi komplek"


"Tapi mereka bisa percaya gitu aja sama loe neng. Emang ilmu perkadalan loe nomor Wahid"


"Kampret emang kalian. Kalau bukan karena ulah kalian, gak akan gini kan. Pokoknya dosa gue kalian yang tanggung"


"Bisa gitu"


"Harus bisa"


"Nasib. Udah jadi arwah pun harus nanggung dosa orang idul"


"Terima nasib saja No"


______


Maaf lama gaess. banyak kerjaan.


Jangan lupa bahagia


jempol digoyang yuk