Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Japri Datang



Japri diantar oleh tetangganya hingga kedepan komplek perumahan dimana Eneng kerja. Sekuriti dikomplek tidak mengijinkan japri masuk sebelum mendapat konfirmasi dari tuan rumah yang akan didatangi. Salah satu sekuriti menghubungi kediaman keluarga salsa untuk menanyakan tentang Eneng.


"Akang duduk dulu, tunggu kami harus konfirmasi dulu kerumah majikan Eneng"


"Ya pak"


Japri menunggu sambil duduk di kursi. Tak lama security yang menghubungi kediaman keluarga salsa mempersilahkan japri masuk. Dia juga diarahkan menuju jalan rumah salsa.


"Wah jap, si Eneng kerja sama orang kaya ini mah. Lihat aja rumahnya gede banget"


"Iya mang"


Mereka sudah berhenti didepan rumah salsa. Japri keluar diikuti oleh mamangnya. Karena pintu pagar tak dikunci, japri masuk kedalam. Salah satu pekerja dirumah salsa menghampiri japri.


"Nyari siapa kang"


"Assalamualaikum Bu. Mau tanya apa disini ada pekerja yang bernama geulis dan Eneng"


"Waalaikumsalam. Ada kang. Akang siapa"


"Saya calon suami Eneng Bu"


"Appaaaaa. Masa sih ada yang mau sama Eneng. Akang ngaco kan"


"Serius bu. Saya gak bohong"


"Gak bisa diterima dengan akal sehat ini"


"Jadi benar Eneng kerja disini Bu"


"Iya kang. Sebentar saya panggilkan. Akang tunggu disini dulu ya"


"Ya Bu. Makasih"


Pembantu salsa berjalan melalui pintu samping untuk memanggil Eneng. Dia berjalan sambil mengungkapkan rasa ketidak percayaannya.


"Masa sih ada orang semanis ganteng itu mau sama Eneng"


"Udah sowak kali ya penglihatannya"


Pembantu salsa mencari Eneng ditaman belakang, karena sedang menemani salsa dan kedua dokter tampan bermain halma.


"Permisi non"


"Ya Bu Sumi ada apa"


"Ada tamu nyariin Eneng non"


"Siapa bi"


"Cowok ganteng. Katanya tunangan kamu neng"


Salsa dan kedua dokter tampan kompak kaget.


"Appaaaaa. Tunangan"


"Bibi gak salah dengar"


"Nggak non. Bibi aja gak percaya ada yang mau sama Eneng non"


"Eh jangan gitu dong. Gini-gini Eneng mah laku"


"Gam loe penasaran gak"


"Banget"


"Gaesss Eneng kedepan dulu ya. Siapa tau pangeran Arab ngelamar eneng. Bay bay"


Eneng berjalan bak seorang model. Duo dokter tampan dan salsa yang penasaran mengikuti eneng dibelakangnya. Japri duduk diteras depan sambil memainkan tali tas ranselnya. Eneng yang sangat hafal dengan lekuk tubuh japri, langsung saja memanggilnya. Saat japri menengok tiga pengikut Eneng sangat shock.


"Japri"


"Eneng. Akhirnya aku ketemu kamu"


"Kok gak bilang mau kesini"


"Gimana mau bilang. Kamu gak pernah nelpon aku. Cuma nelpon ke emak. Kamu udah lupa sama aku neng. Ingat kita udah tunangan neng"


"Ya sorry disini aku kebanyakan khilapnya daripada sadarnya jap"


"Kebiasaan. Lihat yang bening dikit yang lama dilupain. Inget loe masih harus tanggung jawab ke aku loh neng"


"Iya inget. Santai aja"


Salsa dan kedua dokter tampan berbisik dibelakang Eneng dan japri.


"Gaesss kalian sepemikiran sama gue gak sih"


"Sepertinya begitu"


"Gila walaupun kulitnya gelap, tunangan Eneng lumayan juga"


"Kok bisa cowok kayak dia mau sama markoneng ya. Walaupun Eneng itu manis tapi apa gak ada stok cewek yang lebih waras gitu"


"Hush gak boleh suudzon dulu kak. Kita kan gak tau dibalik cerita mereka"


"Kalau dibalik baju mereka loe tau gak sal"


"Salsa masih polos kak Airil jangan dicemari seperti Eneng"


"Heleh sok polos"


"Stop kalian malah debat sendiri. Gue kok jadi kepo ya sama kisah dibalik pertunangan Eneng"


"Terus loe mau apa gam"


"Detetive Conan mau beraksi gaesss"


"Hadeh gue juga ikutan kepo gam. Yuk samperin"


Mereka bertiga mendekat kearah japri dan Eneng. Eneng dirangkul oleh dokter airil, membuat japri manyun.


"Ehem. Eneng jadi kamu selingkuh dari saya"


"Ck. Gaklah Aa' mana mungkin Eneng selingkuh. Walaupun selingkuh itu indah. Tapi eneng gak suka kayak gitu"


"Terus sukanya kayak gimana neng"


"Embat aja langsung didepannya. Kalau selingkuh kan dibelakang A'"


"Ini siapa neng"


"Oya non kenalin ini japri teman kecil eneng sekaligus calon suami Eneng dikampung"


"Dikampung. Maksudnya gimana"


"Ya kalau dikampung dia calon suami saya non. Disini kan ada akang gama dan akang Airil"


"Jadi kita cadangan neng"


"Ban serep kali neng ada dua langsung"


"Bisa jadi. Kalau yang disana gembos masih ada serep disini yang keras"


"Apanya yang keras neng"


"Maunya apa A'. Eneng mah mau mana aja ayo ajalah"


"Yang berotot-otot dong A'"


"Asyeek. Digoyang enak ya neng"


"Pastinya. Uh ah uh ah"


Japri diajak masuk karena hari sudah sore. Kedua dokter tampan yang masih kepo, terpaksa pamit pulang. Tapi mereka berdua sudah bertekad mencari tahu kisah pertunangan Eneng. Japri malam ini akan tidur dikamar eneng sedangkan Eneng tidur bersama geulis. Geulis sama kagetnya dengan kedatangan japri.


Karena kedua orangtua salsa masih berada di luar negeri, salsa tidak diijinkan keluar rumah. Sedangkan Panji juga sedang diluar kota membantu papanya diperusahaan milik keluarganya. Panji berangkat setelah menemani salsa memeriksakan diri pagi siang tadi.


Pagi hari seperti biasa para maid termasuk Eneng sudah bangun. Japri yang memang terbiasa bangun subuh, dia juga sudah bangun dan membersihkan halaman rumah salsa tanpa ada yang meminta. Karena memang salsa tidak memiliki tukang kebun. Eneng membiarkan japri melakukan pekerjaan itu.


"Pagi non salsa"


"Pagi neng. Tunangan loe kemana neng"


"Tuh lagi nyapu halaman"


"Loe yang nyuruh neng"


"Gak kok non. Dia emang tangannya suka gatel kalau gak kerja"


"Kebalikan loe ya neng"


"Kebalikan gimana non"


"Kalau tunangan loe gatel kalau gak kerja. Nah loe gatel kalau ada cowok bening"


"Wah itu mah anugerah yang tak boleh ditolak non"


"Maunya loe itu mah"


Ting tong


Ting tong


"Siapa pagi gini bertamu"


"Palingan orang numpang sarapan non. Gak mungkin kan minta sumbangan pagi bener"


""Masa sih neng. Niat banget dong numpang sarapannya"


Bunyi bel terus terdengar tanpa jeda. Membuat salsa dan Eneng jengkel. Mereka berdua berjalan membukakan pintu untuk tamu kepagian. Saat pintu telah terbuka teriakan kompak duo dokter somplak terdengar.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Kirain salsa tadi orang nyari sumbangan"


"Enak aja. Ganteng gini dibilang nyari sumbangan"


"Palingan numpang brikfes non"


"Ah pinter sekali kamu neng"


"Bolehkan bolehkan"


"Katanya dokter bonafit makan masih numpang"


"Gak boleh pelit-pelit. Nanti kuburannya sempit loh non"


"Nah tuh Eneng aja tau. Mau kejepit kuburan kamu sa"


"Kalian doain salsa koid"


"Nggaklah. Oya neng tunangan kamu kok gak kelihatan"


"Ada lagi nyiramin tanaman"


"Ajakin sini sarapan bareng kita"


"Nanti aja sarapan bareng neng dibelakang dok"


"Gak usah kita makan bareng disini aja neng. Gue juga pengen kenal sama tunangan loe"


"Okelah kalau kalian maksa"


Eneng berjalan kebelakang memanggil japri. Japri bergegas membersihkan diri dan mengikuti Eneng kedalam untuk sarapan bersama.


"Selamat pagi semua"


"Pagi. Sini bro duduk. Sante aja gak usah sungkan"


"Ya pak"


"Jangan panggil pak juga kali. Saya masih muda. Panggil mas atau akang aja"


"Baik kang"


"Ya sudah kita makan dulu nanti lanjut ngobrol"


Mereka menikmati sarapannya. Japri sedikit canggung makan bersama salsa dan duo dokter sableng. Mereka tampak keren dengan kemeja yang dilipat sampai siku. Usai sarapan mereka beraksi mencari tahu tentang kisah pertunangan Eneng dan japri.


"Kalian sudah lama tunangan"


"Satu tahun"


"Wah lama juga. Kok belum merried sampai sekarang"


"Eneng kerja disini. Jadi belum jadi nikah"


"Oh gitu. Kalian pacaran udah lama"


"Kami gak pernah pacaran. Bahkan kami saja gak kepikiran untuk menjadi pasangan"


"Loh kok bisa kalian tunangan sekarang"


"Karena japri minta Eneng tanggung jawab"


"Tanggung jawab. Maksudnya gimana. Kok saya malah bingung ya. Biasanya yang minta tanggung jawab tuh perempuan karena midun. Lah ini kok japri"


"Jadi..."


Eneng menceritakan detailnya tanpa mengurangi apapun. Mereka bertiga yang mendengar akar masalahnya langsung tertawa. hingga kram perut.


"Neng loe beruntung banget ya bisa merawanin japri"


"Ye bukan Eneng yang rasain ya. Tapi bebek dia yang nyosor gak mau lepas. Keenakan kali"


"Hahaha. Loe dapat belasan bebek dong neng"


"Hush gak rela Eneng dapat bekasan bebek"


"Terus kamu mau bales dendam gitu sama si bebek"


"Gaklah. Bebeknya mah Eneng masak enak. Tapi kan masih membekas"


"Terus maunya kamu gimana neng"


"Kata orang darah dibalas darah. Nah nyosor ya dibalas nyosor"


"Tadi kata kamu gak mau bales bebek. Kok sekarang mau nyosor"


"Bukan bebeknya yang Eneng sosor tapi timunnya japri"


Uhuk


Duo dokter sableng dan salsa tersedak bersama mendengar perkataan Eneng.


______


Eneng kemarin semedi gaesss.. Nanti kalau sempet didouble deh


Jempolnya digoyang yuk gaesss


Jangan lupa bahagia