
"Neng enak bener ya hidup loe. Loe yang bunting laki loe yang mabuk"
"Kan buatnya bersama Mak. Jadi susahnya juga barengan dong"
"Terus loe ngarep besok pas brojol tuh bayi, laki loe yang mules loenya kagak. Gitu"
"Yoi Mak"
"Ngimpi loe"
Kini giliran emak yang menjaga Eneng. Seminggu yang lalu orangtua Airil yang datang. Namun karena Juna harus sekolah, mereka kembali ke kampung.
"Neng. Laki loe masih gak mau makan nasi"
"Kadang mau kok Mak. Kenapa emangnya"
"Coba loe tanya deh neng. Hari ini pengen makan apa gitu. Emak kasian punya nanti ganteng tapi kayak gak keurus gitu"
"Bentar. Eneng calling dulu"
"Gaya loe sok Inggris neng"
"Biarin"
Eneng mengambil ponselnya dan langsung menghubungi sang suami yang kebetulan sedang shif pagi. Karena tak ada jawaban. Eneng memutuskan mengirimkan pesan singkat saja. Karena Eneng tau jika Airil tidak mengangkat telepon darinya, dia sedang ada pasien.
"Lagi sibuk Mak. Tunggu dibalas dulu pesan Eneng"
"Oh oke"
"Mak mau masak apa"
"Kamu mau apa neng"
"Sayur asem aja Mak. Sama ikan asin"
"Seger neng. Tambah sambal terasi. Mantap jiwa"
"Jos Mak"
"Ya udah loe nonton tipi aja. Mak masak dulu"
"Okay"
Eneng duduk anteng sambil membawa satu toples keripik ditangannya. Semenjak hamil, ***** makan Eneng menggila. Namun anehnya tubuhnya biasa saja. Bahkan sekarang perutnya sudah terlihat sedikit menyembul. Mungkin karena anak kembar, walaupun baru berusia dua bulan perut Eneng sudah terlihat.
"Mak. Si akang mau gulai tunjang"
"Makanan apaan itu neng"
"Eneng juga gak tau Mak"
"Tunjangan emak tau neng"
"Kali aja itu Mak"
"Tunjangan hidup kali neng"
"Entahlah Mak. Eneng mau tanya dulu sama akang Mak"
"Okay. Mak balik dapur. Lagi goreng ikan asin"
"Mak baunya bikin ileran ini"
Eneng asyik berbalas pesan dengan sang suami. Hingga keributan kecil terjadi di dapur Eneng. Emak marah-marah sambil melempar tutup panci. Dan membawa kemoceng.
"Dasar clamitan. Udah jadi setan aja masih suka nyolong. Dosa loe udah banyak. Nambah dosa aja loe ya. Pocong bungkrik"
"Ampun Mak Ndut. Ampun. Ono laper mak Ndut"
"Berani loe ngatain gue Mak Ndut. Mau gue telan****i loe. Kain loe gue jadiin bendera. Mau loe"
"Gak Mak. Aduh. Eneng. Tolongin Ono"
Eneng berjalan dengan santainyaelihat emak mengejar si Ono. Yang dipagi menjelang siang keliyaran didapur Eneng.
"Berisik amat yak. Kenapa dapur gue kayak kapal pecah gini. Emang ada gempa tadi"
"Bukan gempa neng. Tuh gajah lari didapur loe"
"Ono. Loe berani ngatain emak gue. Hebat. Hebat salut gue. Mak si Ono ngatain emak gajah"
"Oo. Gitu ya. Loe berani ngatain gue lagi. Oke. Kita lihat bakal emak apain loe"
Eneng duduk santai melihat pertunjukan antar setan dan manusia yang sedang berantem. Bagi Eneng ini lebih mengasyikkan dibandingkan nonton sinetron azab.
"Neng. Rumah si Ono dimana"
"Tuh pohon mangga depan. Didahan dekat balkon Eneng Mak"
"Oh oke"
Emak sudah membawa gergaji besi. Dan akan menebang dahan tempat Ono bersemayam. Ono langsung meloncat lebih tinggi untuk mencegah emak menebang rumahnya.
"Ampun Mak. Jangan Mak"
"Sekarang loe minta ampun. Tadi loe ngejekin gue Ono"
"Khilap Mak khilap"
Emak berbalik arah kembali ke dapur. Si Ono tetap mengikuti emak ke dapur. Eneng hanya menghela nafas saja dan kembali menikmati keripiknya.
"Penonton kecewa. Gak seru mak tebang aja tadi harusnya mak"
"Awas loe neng"
"Neng. Jadinya apa yang mau dimakan air mancur"
"Ck. Gak sekalian air terjun Mak"
"Banjir. Makan apa neng"
"Gulai tunjang. Katanya tunjang itu kikil sapi Mak"
"Oh. Berati mau beli kan"
"Sepertinya begitu Mak"
Emak meneruskan memasak untuk Eneng. Sedangkan si Ono nangkring diatas buffet televisi.
"Neng. Loe brojolan kapan neng"
"Tujuh bulan lagi Mak. Kenapa emang"
"Kalau habis empat bulanan loe, akad nikah Titi gimana neng"
"Neng. Boleh gak sawah yang sepetak dekat kolam ikan emak jual"
"Buat apa Mak"
"Gak mungkin kan adek loe nikah emak gak keluar biaya. Walaupun sedikit neng. Itu tanggungan emak. Waktu loe nikah, emak gak keluar duit sama sekali. Semua keluarga tuan Arka sama tuan Jay yang nanggung. Uang emak mereka kembalikan beruba sawah"
"Mak. Gak usah mikir aneh-aneh. Masalah Titi sudah Eneng omongin sama akang. Dan kami sudah ada tabungan untuk Titi"
"Jangan neng. Kalian butuh biaya melahirkan nanti. Buat tabungan si kembar saja neng. Tapi neng, kalau emak bayarin buaya nikahan Titi. Kamu gak marah kan"
"Sama sekali nggak Mak. Sudah nanti kita bahas lagi sama akang. Sama Japri juga. Titi juga maunya nikah kayak apa, kita perlu bicara"
"Iya neng. Ya sudah yuk makan dulu. Kasian cucu emak"
"Ya mak"
Emak memang meninggalkan dapur untuk berbicara dengan Eneng diruang tengah. Kini mereka kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan. Mereka menikmati makan siang dengan nikmat.
Sore menjelang Airil sudah pulang dari rumah sakit. Dia membawa makanan untuk makan malam. Karena malam ini Airil ingin sekali makan gulai tunjang.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Eh mantu emak yang paling tampan udah pulang"
"Eh emak semlehoi lagi apa Mak"
"Nyantai aja. Bawa apa ril"
"Nasi Padang Mak"
"Wuah mantab"
"Eneng mana Mak"
"Tadi bilang mau mandi. Palingan berendam dia kayak si Mira"
"Ya udah Airil ke kamar dulu Mak"
"Ya. Ini emak pindah mangkok aja ya ril"
"Ya Mak"
Airil masuk ke dalam kamarnya. Dan memang Eneng masih asyik berendam didalam bathup. Airil menyusul untuk mengingatkan agar Eneng jangan terlalu lama berendam.
"Sayang. Sudah yuk berendamnya nanti masuk angin"
"Eh akang sudah pulang"
"Iya. Sudah yuk berendamnya"
"Iya kang"
Airil membantu Eneng keluar dari bathup. Namun itu membuat Airil panas dingin sendiri. Dan dia masih harus menahannya hingga kandungan Eneng berusia empat bulan.
"Ahhhh. Ini menyiksa sayang"
"Kenapa kang"
"Bisa dilihat tak bisa disentuh"
"Eneng punya sesuatu buat akang"
"Apa sayang"
"Yuk ke kamar saja"
Setelah memakai bathrobenya, Eneng dituntun Airil ke kamar. Saat Airil hendak meredakan rasa panas ditubuhnya, Eneng langsung menarik Airil. Dan dia mulai mempraktekkan apa yang dia dapat di Mbah gulgul.
Airil kaget dengan apa yang istrinya lakukan. Dia tak mengira Eneng bisa melakukan hal itu. Setelah hawa panas Airil mereda, Eneng membersihkan dirinya.
"Baby. Kamu luar biasa sayang. Tambah cinta akang sama kamu"
Airil memeluk Eneng dari belakang. Saat Eneng sedang menggosok gigi. Karena semenjak hamil gigi Eneng sering sakit. Dan dokter menyarankan agar Eneng menggosok gigi saja agar tidak mengkonsumsi obat yang nantinya bisa berefek kepada sang calon buah hati.
Emak yang merasa sangat lapar, kesal karena eneng dan Airil tak kunjung keluar kamar. Emak sudah sangat lapar. Apalagi melihat lauk enka melambai-lambai minta disantap. Emak pun berteriak dari lantai bawah.
"Air mancur. Eneng. Kalian jangan bikin. adonan lagi loh. Ayo buruan makan. Emak lapar"
"Duh gusti. Ada Tarzan dirumah Eneng"
Eneng sudah berjalan turun bersama Airil. Sambil menutup telinga, karena teriakan emak memang amazing.
"Bukan Tarzan sayang. Tarzan kan cowok. Ini kan cewek. Jadinya Tarzin"
"Saudaranya terasi ya kang"
"Bau asin dong"
"Enak aja bau asin. Emak selalu wangi"
"Wangi kuburan"
"Loe doain emak cepetan meninggal neng"
"Nggak ya Mak. Emak itu bakalan panjang umur. Selalu sehat dan semlehoi"
Emak yang sedari tadi sudah ngiler ingin mengambil kikil sapi, langsung mencomotnya dan memindahkan sepotong kepiringnya. Airil langsung menangis melihat gulai tunjang yang sangat diinginkannya diambil emak walaupun itu hanya sepotong.
"Huahhhhhh. Emak jahat itu punya Airil. Balikin pokoknya balikin"
Emak yang sudah membuka mulutnya dan siap menyantap gulainya, langsung meletakkan sendoknya.
"Eh air mancur. Itu masih banyak. Emak icipin sepotong aja ya"
"Gak boleh"
"Pelit amat kamu"
"Pokoknya balikin. Gak boleh dimakan"
Emak mencoba mencari bantuan Eneng yang asyik menyantap ayam goreng. Namun entah mengapa Eneng juga ikut menangis saat tau makanan Airil hendak dimakan emaknya. Emak pun langsung dlosor karena pusing.
"Gusti. Satu ibu ngidam aja pusing. Ini ditambah bapak ngidam"
_______
Maaf ya baru nongol. Kemarin internet nge down terus...bikin mood ancur
Jangan lupa bahagia gaesss.
. Jempolnya digoyang yuk