
Satu minggu setelah acara pertunangan gama, Eneng meminta ijin untuk pulang kampung sebentar menjeguk emaknya. Karena sudah satu tahun dia bekerja menjadi perawat Salsa. Kedua orangtua Salsa mengijinkan. Namun Eneng hanya dibolehkan empat hari saja dikampun. Eneng tidak masalah berapa lama waktu yang diberikan asalkan sudah melihat emak dan adeknya sudah sangat membahagiakannya.
Salsa menemani Eneng pergi ke mall membelikan oleh-oleh untuk sang adik dan emaknya. Salsa juga membelikan oleh-oleh titipan dari kedua orangtuanya. Hari ini Panji ikut mengantar salsa dan Eneng pergi berbelanja. Bahkan Panji meminta ijin kepada Eneng dan orangtua salsa untuk ikut mengantar Eneng pulang. Karena salsa ingin liburan dikampung Eneng.
"Non. Eneng mau nyariin baju buat si Titi dulu"
"Ya udah yuk ke toko pakaian anak-anak"
"Ya non"
Mereka berjalan memasuki salah satu toko pakaian yang Eneng mau. Salsa membantu memilihkan pakaian untuk adik Eneng. Beberapa salsa yang membelikan. Panji juga membelikan peralatan sekolah untuk adik Eneng.
"Sudah cukup neng. Mas Panji makasih ya hadiahnya"
"Iya neng. Saya juga makasih udah mengembalikan salsa seperti dulu. Dan makasih sudah jagain salsa neng"
"Itu sudah tugas eneng mas"
"Neng loe gak beliin baju buat emak loe"
"Beliin lah non. Kalau gak bisa-bisa Eneng diceramahi sampai besok subuh belum lagi dikutuk jadi anak gayung"
"Hahahaha. Setau gue nenek gayung neng"
"Eneng kan masih muda dan imut. Jadi anak gayung lah non"
"Imut apanya. Amit-amit bener neng. Hahaha"
Mereka berjalan mencari toko pakaian untuk dewasa. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Airil yang sedang memilih pakaian toko yang Eneng datangi. Eneng belum melihat adanya Airil. Namun Airil sudah melihatnya. Eneng mencari pakaian yang cocok untuk emak Eneng. Eneng juga membeli beberapa pakaian untuk dirinya dan japri serta ayah japri.
"Non ini bagus gak buat japri"
"Hem. Warnanya gak bagus neng. Terlalu jreng banget"
"Kan biar kelihatan jelas non kalau dari jauh"
"Hus. Gak boleh gitu neng. Pilih warna soft aja biar keren"
"Siapa japri beib"
"Tunangan Eneng beib"
"Hah. Jadi loe udah laku neng"
"Ya iyalah"
"Gagal dong gue jodohin loe sama supir gue"
"Maksud kamu mas Komar beib"
"Iya. Kan beberapa kali mas Komar lihat Eneng waktu ngantar aku kerumah kamu beib. Katanya naksir. Eh gak taunya udah berlebel si Eneng"
"Mas Panji bisa gak kalau nyariin jodoh tuh yang bagusan dikit. Masa sama si Kokom"
"Komar eneng"
"Apalah itu. Muka sebelas dua belas sama artis tukang kawin. Padahal muka pas-pasan. Eh bukan malah gak pas mukanya. Kurang banget"
"Maksud loe Kuwil"
"Nah tuh tau"
"Hahaha. Iya loe bener emang muka mas Komar mirip dia tapi sifatnya gak deh"
"Ogah. Bagusan japri kemana-mana dibanding sama Kokom"
Airil ikut bergabung dengan mereka dan menyahut perkataan eneng.
"Kalau sama saya gimana neng"
Eneng menoleh dan langsung memeluk lengan Airil seperti biasanya. Dan Airil langsung tertawa.
"Kalau yang ini mah gak pernah tertandingi selalu nomor satu. Kokom sama japri mah kalah"
"Gama"
"Jangan lagi meneyebut namanya. Sudah berlabel dia. Nanti Eneng takut khilap. Dosa ganggu punya orang"
"Hahaha"
Panji dan salsa hanya memutar mata malas mendengar celotehan Eneng dan Airil.
"Kak Airil gak nugas apa kok ngelayap di mall"
"Baru pulang nugas ini sal. Kalian tumben belanja banyak banget ini"
"Iya nyari oleh-oleh buat keluarganya Eneng"
"Emang Eneng mau mudik"
"Iya akang. Eneng mau mudik besok subuh"
"Naik apa neng"
"Diantar non salsa sama mas Panji kok. Mereka mau sekalian liburan"
"Emang kamu lama dikampung neng"
"Nggak cuma tiga empat hari saja kang. Kenapa takut kangen ya"
"Iya akang takut kangen sama Eneng"
"Ahhh akang"
"Lebay lebay"
"Sirik ajah sih mas Panji"
"Ikut aja kak kalau gak sibuk. Biar rame"
"Bener juga usulan loe sal. Bentar saya lihat jadwal dulu. Kalau dadakan libur emang gak bisa. Seingat gue, ada cuti pengganti yang gak jadi saya ambil waktu itu"
Airil membuka ponselnya untuk melihat jadwal. Dan memang besok dia libur kerja sedangkan dua hari berikutnya adalah cuti penggantinya.
"Tapi saya cuma free tiga hari aja gimana"
"Gak masalah. Gimana neng"
"Eneng mah hayu aja"
"Berangkat jam berapa besok pagi"
"Habis subuh kak. Biar gak terlalu siang sampai kampung Eneng"
"Oke ntar gue kerumah loe sejam sebelum subuh ya sa. Pake satu mobil apa dua"
"Gak usah aja sa. Kan ada gue sama Panji. Bisa gantian"
"Iya bener tuh beib"
"Ya sudah sepakat ya. Kita berangkat habis subuh ya"
"Oke"
Mereka menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka. Setelah membeli pakaian, mereka menuju ke toko kue. Dan membeli beberapa cemilan untuk teman diperjalanan mereka. Hari semakin sore, mereka memutuskan untuk pulang. Beristirahat agar esok lebih fresh. Eneng sudah mengemasi semua barang bawaannya.
Seperti janji Airil, setengah jam sebelum adzan subuh, Airil sudah sampai. Airil mengirim pesan kepada salsa memberitahukan jika dia sudah didepan rumahnya. Salsa langsung turun untuk membuka pagar agar mobil Airil bisa masuk. Panji juga sudah sampai, dia diantar oleh sopir keluarganya menggunakan motor. Karena memang rumah Panji masih satu kompleks dengan salsa hanya berbeda blok saja.
"Kalian cepat juga. Masuk dulu. Sambil nunggu subuh"
"Mobil gue parkir didepan apa dalam sa"
"Masukin garasi aja kak. Masih kosong kan$
"Oke gue parkir dulu"
Airil memakirkan mobilnya didalam garasi. Panji menunggu Airil diteras. Mereka masuk beriringan. Salsa meminta mereka menunggu diruang tamu. Tak lama adzan subuh berkumandang. Airil dan Panji melaksanakan kewajibannya sebagai umat diruangan khusus yang ada dirumah salsa. Usai menunaikan ibadah, mereka sarapan sebentar lalu berangkat. Perjalanan menuju rumah Eneng begitu menyenangkan. Mereka saling bercanda.
Karena jalanan masih sepi, waktu tempuh mereka jadi lebih singkat. Eneng biasanya butuh dua jam untuk sampai ke kampung. Namun karena menggunakanobil pribadi dan skill Airil yang seperti pembalap profesional, mereka sampai di kampung Eneng dalam waktu satu setengah jam saja. Mereka disambut pemandangan indah dengan hamparan sawah hijau. Udara segar membuat mereka memilih membuka kaca mobil dan mematikan pendingin mobil.
"Neng desa kamu seger banget. Bikin betah"
"Iya bener kata kak Airil. Lumayan bisa menghilangkan kepenatan diibukota"
"Masih jauh gak rumah kamu neng"
"Nggak kang. Nanti ada warung disebalah kanan jalan, kita langsung belok kanan kang. Lurus aja nanti kalau udah lewati pohon kelapa banyak banget kita sudah hampir sampai"
"Oke"
Para penduduk kampung yang sudah beraktivitas di sawah ataupun ke pasar, melihat mobil mewah melintas membuat mereka Fokus melihat mobil tersebut. Saat mereka melihat jika salah satu penumpangnya adalah Eneng, kehebohan terjadi. Mereka mengikuti mobil tersebut dari belakang.
Kehebohan lebih parah terjadi saat Eneng sudah tiba didepan rumahnya.
"Assalamualaikum Mak. Eneng pulang makkkk"
Emak yang mendengar suara yang sangat dia kenali langsung berlari sambil membawa centong nasi karena baru menanak nasi.
"Emakkkkk"
Eneng terus berteriak. Membuat Airil tertawa melihat tingkah Eneng. Emak yang melihat anak perempuannya pulang langsung berlari. Eneng merentangkan tangannya memeinta pelukan.
"Eneng"
"Emak"
Tuk tuk
"Aduh sakit Mak kenapa dipukul pake centong"
"Dasar anak sableng. Kenapa baru pulang sekarang. Sudah lupa sama emak sama Titi"
"Enggak Mak. Aduh sakit Mak. Eneng sibuk Mak"
"Alasan saja. Dasar turunan nenek gayung"
Salsa, Panji dan Airil menertawakan Eneng yang di kejar-kejar emaknya dipukuli menggunakan centong. Emak baru berhenti karena melihat pemandangan menyilaukan mata.
"Neng loe bawa pangeran kok gak bilang sih. Emak kan belum dandan ini"
"Makanya jangan langsung mukulin anaknya. Malu kan sekarang"
"Eneng mah suka gitu. Emak kan kangen sama kamu"
"Heleh giliran ada yang bening. Si Mak lampir berubah jadi putri duyung"
"Enak aja Mak lampir. Emak itu kan emang princis"
"Buncis kali Mak"
Emak berjalan mendekat kearah salsa, panji dan Airil. Dengan gaya bak putri yang anggun. Eneng hanya menghela nafas malas.
"Mak kenalin ini non salsa anak majikan Eneng. Sebelahnya mas Panji calon suami non salsa"
"Woalah juragannya Eneng to. Terimakasih ya non sudah nerima Eneng kerja. Maapin kalau eneng kebanyakan oleng sama khilap. Apalagi lihat yang bening-bening gini"
"Hilih kayak dirinya saja tidak"
"Iya Mak. Eneng sudah seperti keluarga salsa. Jadi gak usah takut dan khawatir lagi ya Mak"
Emak menatap kearah Airil yang tersenyum sambil menumpahkan gula satu truk tronton saking manisnya. Belum sempat Eneng mengenalkan siapa Airil, emak langsung mengklaim siapa Airil.
"Neng loe emang anak paling sholehah. Paling berbakti. Makasih ya nak oleh-olehnya emak suka"
Karena belum merasa memberikan oleh-oleh Eneng sempat bingung.
"Oleh-oleh apa mak. Eneng belum ngasih apa-apa kok"
"Loe kan udah ngasih neng. Ini calon bapak buat loe kan neng. Emak suka emak suka"
"Appaaaaa calon bapak"
"Iya. Akang ini calon suami buat emak kan neng. Emang pinter kamu nyari bapak baru. Ayo kang ke KUA mumpung masih pagi belum antri"
Salsa, Panji dan Airil hanya bisa melongo. Ternyata emak dan anak gak jauh beda.
"Emak dia pantesan buat Eneng bukan emak"
"Loe udah ada japri gak usah maruk. Ini cocoknya sama emak"
"Sadar umur Mak"
"Emak masih dua puluh lima tahun neng"
"Lebihnya tiga puluh tahun Mak. Udah jangan ganggu yang ini. ini punya Eneng"
"O tidak bisa. Yang muda ngalah sama yang tua. Yuk kang ganteng kita halalin dulu. Biar cepat hokya hokye"
"Ancur dunia ancur"
_______
Tau kan sekarang Eneng nurun siapa
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempolnya digoyang yuk