
Hari yang dinanti Eneng dan Airil telah tiba. Hari Minggu pagi mereka akan melaksanakan lamaran dan pertunangan. Jay meminta acara lamaran diadakan dikediamannya saja yang memiliki halaman luas. Karena penduduk kampung belakang kompleks akan hadir. Serta tamu istimewa. Kendil Jennar dan suaminya Wiro sableng eh mang Kodir.
Bahkan tamu istimewa tersebut dijemput oleh supir keluarga Malik. Seluruh keluarga besar Airil juga sudah berada di ibukota sejak tiga hari yang lalu. Jay dan Arka memberikan yang terbaik untuk acara Eneng. Tak lupa geng junior somplak juga hadir.
Malam ini Eneng tidak bisa memejamkan mata. Berguling diatas kasur sambil terus berfikir hal-hal yang tak seharusnya difikirkan. Karena merasa jenuh, Eneng memutuskan ketaman belakang mencari udara segar. Suasana sangatlah sepi, karena sudah hampir tengah malam. Eneng duduk sendiri dibawah pohon mangga.
"Cuit cuit. Ciwik"
Eneng melongo keatas pohon mangga. Sesosok makhluk menyebalkan sedang duduk disana.
"Apa sih Cong. Gak ada kerjaan apa manggil-manggil gue"
"Loe kenapa kok sedih"
"Gue gak sedih Cong. Cuma takut"
"Ihihihi. Oneng kok bisa takut. Ajaib dong"
"Gak usah ketawa. Gue kan manusia biasa Cong"
"Emang loe takut apa sih neng. Sama bangsa gue aja gak takut. Yang ada malah bangsa kami takut ketemu loe"
"Gue mau dilamar"
Gubrak
Si pocong jatuh dari dahan pohon mangga mendengar Eneng akan dilamar orang.
"Ya elah Cong. Udah jadi setan juga masih bisa jatuh. Emang loe gak punya ilmu melayang ap"
"Kaget gue neng. Ini berita spektakuler. Ada yang mau sama loe"
"Huh. Ya jelaslah. Emang loe udah jadi setan aja masih jones"
"Ck. Gak usah ngejek. Sekarang loe cerita sama gue loe takut apaan"
"Gue takut nanti pas malam pertama"
"Ihihihi. Hihihi. Malam pertama loe gak akan ajib kan. Kalau loe serangan jantung gimana neng"
"Loe ngetawain gue lagi. Gue lepas tali loe"
"Ampun neng. Gak lucu aja gue loncat-loncat gak pakai kain"
"Makanya diam. Sana cari mangsa gak usah gangguin gue"
"Ealah. Cuma dirumah ini setan gak dihargai. Diusir dan dihina"
"Sono pergi. Kalau gak besok pagi pohon ini gue tebang"
"Iya iya. Gue pindah"
Eneng masih diam dibawah pohon. Lama kelamaan dia akhirnya mengantuk dan kembali kedalam kamar. Eneng bisa juga tidur setelah bertemu si mas ocong.
Pagi hari rumah Jay sudah ramai kedatangan seseorang yang membuat heboh seisi rumah. Eneng yang baru bangun hanya bisa menghela nafas saja.
"Ya Allah. Bentah banget gue disini. Apalagi dilayani para pangeran tampan"
"Mak sarapan dulu yuk. Terus istirahat"
"Aduh bebeb jangan panggil emak dong. Panggil ayang embeb aja. Umur kita kan jauh beda"
"Hah. Kenapa rumah gue kedatangan satu makhluk planet lagi sih"
"Bebeb. Suapin. Dedek gak mau mamam kalau gak disuapin"
"Haduh Mak. Sekopnya belum beli"
"Kok Mak lagi sih. Ayang bebeb"
"Huh. Iya bebek mau mamam apa"
"Ayam bakar"
"Gimana ngunyahnya gigi aja gak punya"
Jasmine langsung menjitak kepala Jay. Karena berkata tak sopan pada Mak Ijah.
"Aduh sakit mommy. Cium aja jangan dipukul"
Bukan Jasmine yang akan mencium Jay. Namun Mak Ijah. Jadilah adegan pilem India berlari sambil saling mengejar. Jasmine dan Arka tertawa hingga perut kram melihat Jay tertindas.
"Utuk utuk. Ayang bebeb sakit. Sini dedek cium biar sembuh"
"Ogah. Aya Allah. Tolong"
"Jangan lari dong. Sini muah muah"
"Ampun Mak. Eneng cepetan amankan dia dari hadapan saya"
"Ayang berhenti dong. Gak capek apa lari terus"
"Ogaahhhhh"
Eneng akhirnya bertindak. Menghentikan kekacauan di pagi hari.
"Kendil Jennar stoppp"
Emak Ijah berhenti mendengar ucapan Eneng. Sedang sang suami kendil jennar sedang asyik meminum kopi hitam. Tak peduli dengan kelakuan sang istri.
"Eneng. Pantes loe betah disini. Ternyata loe kerja disarang pangeran. Tau gitu emak ikut kamu neng"
"Huh. Mak. Udah mandi belum"
"Ya belumlah neng"
"Ah bener juga loe neng. Biar nanti emak bisa dapat pengeran juga"
"Ya udah yuk mandi"
"Disini kalinya jauh gak neng"
"Gak ada kali disini. Dah ayo ikut eneng"
Emak Ijah menghampiri jay sebelum mengikuti Eneng.
"Kasep. Ayang mandi dulu ya. Biar wangi. Nanti kita kencan. Muah"
Tangan Mak Ijah memang ramah. Dia mengusap perlahan lengan Jay. Dan meninggalkan ciuman jauh untuknya. Jasmine masih saja tertawa. Sedangkan jay sudah tak karuan lagi rasanya.
Emak diajak masuk kedalam kamar mandi belakang. Disana kebetulan juga ada bathtubnya. Eneng menyiapkan air hangat dan wewangian untuk Mak Ijah.
"Neng. Wangi banget. Kapur barusnya berpasangan karung neng"
"Satu trek mak. Sekalian formalin"
"Formalin buat apa"
"Ngawetin emak biar gak gampang punah"
"Jadi formalin buat emak awet muda gitu neng"
"Ya ya ya. Dah sono mandi. Jangan lupa gusinya digosok"
"Asyiap"
Emak masuk kedalam bathup untuk berendam. Sedangkan Eneng kembali keruang keluarga menemui Mang Kodir yang ternyata masih asyik meminum kopi.
"Apa kabar mang"
"Sehat neng. Seperti yang kamu lihat"
"Masih suka jaran goyang"
"Harus itu neng"
"Jangan keseringan. Pinggang bisa lepas gak ada lemnya. Gak lucu aja kan jaran goyang separo badan"
"Tenang neng. Mamang kan ada penangkalnya"
"Ohh"
Jay dan Arka yang mendengar obrolan dua generasi berbeda nan absurd itu.
"Neng"
"Iya tuan Jay"
"Ini suami emak tadi"
"Iya tuan"
"Oh. Terus tadi beneran si emak mandi paket kapur barus"
"Tadinya tuan. Tapi karena disini gak ada. Ya gak pake gituan"
"Kenapa gak sekalian dikafani neng"
"Iya habis itu tahlilan ya tuan"
"Hahaha. Loe kualat neng doain emak kaya gitu"
"Tuan juga kualat. Kan tuan Jay yang ngajarin"
"Sontoloyo emang kamu neng"
Ketenangan rumah itu hanya bertahan sebentar. Saat sarapan pagi emak benar-benar meminta disuapi oleh Jay. Melany dan Jasmine terus tertawa begitu juga Arka.
"Ayang ak dong"
"Iya ini Mak"
"Dede ayang bukan Mak"
Rashsya yang melihat Daddynya ditindas oleh emak, merasa bahagia. Kapan lagi melihat wajah Jay tampak tersiksa.
"Neng saat acara nanti jauhkan dia dari samping saya"
"Tenang tuan. Emak akan pergi dengan sendirinya saat melihat yang lebih muda"
Acara sarapan pagi diakhiri dengan emak yang kepincut salah satu pengawal Jay yang memiliki body sangat kekar.
"Ya Allah makhluk langka seperti ini kok belum punah ya"
"Jay. Harusnya Afnan datang. Akan lebih mengasyikkan"
"Papa pintar sekali. Sayang si uwak bule sedang sakit"
Tak lama kembali terdengar teriakan
"Bebeb. Huaaahhhh. Dede jatuh. Gendong"
Arka menggoda Jay
"Tuh bebeb yayang manggil. Sana digendong. jangan lupa dikasi dot. Hahahaha"
"Semprul"