
"Neng jadi kamu manggil rebana sama pengajian buat emak"
"Jadi non Jasmine. Ini juga mau tanya non. Ibu-ibu pengajian bisa main rebana gak sih"
"Setau saya ada grup rebana anak muda. Mau saya tanyakan"
"Boleh non"
"Ya sudah. Saya telfon ustadzah yang membimbing grup rebana"
"Makasih non"
Eneng kembali menyelesaikan pekerjaannya. Jasmine kembali ke kamarnya untuk menghubungi ustadzah tempat biasa mengikuti pengajian. Saat Eneng sedang asyik membereskan dapur, Serkan datang. Nampak Serkan sedang menerima panggilan dari seseorang yang spesial karena Serkan terus menyebut orang diseberang dengan sebutan honey.
"Iya ntar aku beliin. Tapi jangan lupa janji kamu honey"
Eneng yang sedang bekerja merasa terganggu karena Serkan mondar-mandir disampingnya. Eneng pun mulai jahil.
"Sayangku bisa geser gak sih. Aku lagi beresin nih lo"
Serkan melotot kearah Eneng. Serkan mengisyaratkan agar Eneng diam. Namun bukan Eneng jika tidak membuat Serkan kesal.
"Apa sayangku. Tunggu bentar ya. Nanggung nih"
"Nengggg"
Serkan menyebut nama Eneng pelan dan penuh penekanan. Namun Eneng tak perduli dengan permintaan Serkan. Dan semakin menjadi.
"Sayangku. Minggir dong. Anak kamu nanti keburu lapar. Minggir bentar oke"
Nampak wajah Serkan sedikit berubah. Eneng bersikap biasa saja saat Serkan berusaha meminta maaf kepada wanita yang sedang berbicara diponselnya.
"Honey. Dia bukan siapa-siapa. Dia kakakku. Benar aku gak bohong"
"____"
"Ya sudah kamu bicara langsung dengan dia ya. Biar kamu percaya jika dia kakak aku"
"___"
Serkan menyerahkan ponselnya pada Eneng agar Eneng mau menjelaskan kepada sang kekasih. Arsya yang sedari tadi memperhatikan sang putra kesal, tersenyum licik.
"Neng. Nih ngomong kalau loe kakak gue"
Eneng mengambil ponsel Serkan dan dengan senang hati berbicara dengan gadis diseberang. Namun bukan sesuai keinginan Serkan.
"Hallo. Ini mbak Hani ya"
"__"
"Oh jadi namanya bukan mbak Hani. Tapi mbak Mutia"
"___"
"Saya siapa. Saya istri mas serkan. Dan tau gak saya lagi hamil..."
Belum selesai Eneng berbicara, Serkan sudah merebut ponselnya kembali dan berteriak sekencang mungkin.
"Enenggggg. Nyebelin"
Serkan berjalan meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya. Saat melewati sang Papi, Serkan hanya menundukkan kepalanya. Serkan tahu jika papinya tidak pernah menyukai Mutia karena perangai gadis itu. Namun Serkan selalu mengatakan jika dia bisa mengubah Mutia. Dan Serkan memberikan waktu untuk Serkan bisa membuktikan perkataannya. Setelah Serkan pergi, Arsya mendekati Eneng dan memberikan imbalan.
"Eneng. Emang the best. Nih bayaran loe"
"Ahhhh. Gue suka gaya loe. Ntar kalau ada kerjaan gampang gini lagi, kasih Eneng"
"Beres itu neng"
Eneng sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia bersiap untuk pulang kerumah. Berjalan menyusuri jalan ditengah perumahan mewah itu. Hanya butuh lima belas menit untuk sampai dirumah. Eneng sudah ditunggu oleh sang emak diteras depan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam. Akhirnya datang juga"
"Kenapa Mak"
"Neng. Ini seragam emak sobek lagi"
"Ya Allah Mak. Ini udah direvisi sampai sepuluh kali loh ya"
"Kamu sih pakai kain murahan"
"Bukan kainnya yang murahan Mak. Tapi emaknya yang pecicilan"
"Nih anak malah nyolot dikasih tau"
"Emak juga ngegas duluan"
"Ya udah ini gimana bajunya"
"Buang tempat sampah"
"Besok emak pakai apa dong neng"
"Karung beras"
"Tega amat loe neng"
"Emak juga tega. Kasian tukang jahitnya Mak. Bolak-balik nambal"
"Neng ayolah. Masa emak gak pake seragam sendiri. Ntar kalau emak ilang gimana"
"Loe kira gue sapi"
"Eneng gak ngomong loh ya"
"Pokoknya benerin baju emak"
Eneng sudah masuk kerumah dengan diikuti emak yang masih merengek untuk dibenahi kembali pakaiannya. Eneng menyalami kedua mertuanya dan mencium tangannya. Emak kembali protes.
"Assalamualaikum Bu. Pak"
"Waalaikumsalam. Baru pulang nak"
"Iya pak"
Arjuna juga langsung menyalami Eneng. Bagi Arjuna Eneng tetap ibunya.
"Heh loe gak nyium tangan gue neng"
"Lah gimana mau nyium mak. Dari tadi udah ngegas aja"
"Nih cium dulu. Gak berkah ntar lo"
Emak menyodorkan tangannya. Eneng menyambut dengan senang hati. Saat Eneng mencium tangan emak, tercium bau aneh.
"Mak habis cebok"
"Gak ya"
"Kok bau gitu tangannya"
"Tadi habis makan terasi"
"Pantes. Cuci pakai pewangi baju"
"Iya. Tapi ini jahitin dulu"
Eneng mengambil baju yang sudah sobek. Dan mencoba meneliti dimana lagi letak robekan baju itu. Eneng sudah tak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa berteriak saat tau dimana letak sobekan itu.
"Ya Allah Mak. Ini udah gak bisa dijahit lagi. Kalau diketek aja masih bisa. Lah ini dipunggung dari atas sampai bawah"
"Bisa neng. Tinggal disambungin lagi"
"Dahlah. Mending dipakai gini aja. Ntar pake daleman"
"Lah emang emak sundel lobong apa"
"Habis ini gimana nyambungnya Mak. Tukang jahit pun akan bingung. Dah pakai gini aja. Malah gampang geraknya"
"Ogah. Pokoknya benerin"
Mertua Eneng dan Arjuna yang melihat persedebatan mereka, ikut tertawa. Mereka sangat senang melihat tingkah emak yang lucu.
"Oma sama mami seru. Gak kayak kakek sama nenek"
"Heh Juna. Kakek kamu itu yang kaku"
"Hemmm"
Bapak Airil memang dingin namun terkadang asyik. Kembali kepada rengekan emak. Eneng pun akhirnya memutuskan untuk membuatkan baju yang baru untuk emak. Dengan ukuran diperbesar.
Dua hari lagi mereka akan berangkat umroh. Dan siang ini akan diadakan pengajian dan rebana untuk mendoakan keluarga besar Eneng dan Airil. Keluarga besar Malik turut membantu persiapan. Bahkan makanan semua dari catering milik Arash. Rumah Eneng sudah dipersiapkan sejak kemarin.
Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Awalnya Airil ingin Titi juga ikut, namun Titi menolak karena takut tidak ada yang menjaga si kembar. Titi memilih tahun berikutnya saja.
Rumah Eneng sudah penuh dengan para tamu undangan. Ustad pengisi acara juga sudah hadir. Pengajianpun dimulai. Semua khidmat mendengarkan pengajian. Usai pengajian akan dilanjutkan dengan rebana. Para pemain rebana yang terdiri dari anak-anak muda sudah siap. Diawali dengan lagu shalawat yang menenangkan hati.
Para tamu menikmati hidangan bersamaan dengan permainan rebana. Lagu-lagu bernuansa islami mereka lantunkan. Airil melirik emak setelah Arjuna dan si kembar memberi kode. Emak sudah gelisah. Sambil manggut-manggut setiap mendengar musik rebana.
"Papa. Awas danger"
"Jangan sekarang. Jangan sekarang"
"Kita tunggu gaesss"
Acara hampir selesai. Airil merasa lega karena emak bisa menahan hasrat ingin bergoyang. Para tamu mulai meninggalkan rumah Eneng. Namun tidak untuk para pemain rebana. Mereka masih duduk dihalaman rumah Eneng. Airil mencoba bertanya kepada Eneng. Namun Eneng tidak tahu kenapa mereka masih dipanggung. Dan ternyata.
Suara tabuhan rebana terdengar. Terdengar suara penyanyi yang sangat familiar. Airil dan Eneng saling bertatapan.
"Kang"
"Neng"
Semua keluarga keluar menuju taman Eneng. Disana para anak muda sudah ikut berjoget. Dan artisnya adalah emak yang sudah berjoged dan bernyanyi. Hal yang membuat Airil semakin tepuk jidat adalah sang ayah. Bahkan ayah Airil nyawer emak diatas panggung.
"Boleh gak akang pindah planet"
"Eneng ikut"
"Yuk pergi"
"Yuk"
_____
Jadi kan memang kisah Eneng ini sampai mewujudkan emak naik haji. Namun karena prosedur yang lama, maka emak hanya sampai umroh saja gaesss.
Jangan lupa bahagia gaesss
Jempol digoyang yuk