Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Persiapan Lamaran



Satu bulan waktu yang diberikan keluarga Airil untuk Eneng. Hubungan mereka juga semakin membaik. Perlahan Eneng belajar menerima perlakuan manis dari Airil. Namun masih saja penyakit ajaibnya kambuh jika terkena serangan dadakan.


Seperti janji Jay. Pernikahan Eneng akan ditanggung olehnya. Hanya saja beberapa orang yang sempat mengetahui jika Eneng sudah menikah dengan Japri, sempat kebingungan dengan status Eneng sebenarnya.


Eneng tidak mau menjelaskan apapun dan hanya tersenyum. Membiarkan semua orang berfikir jika ini adalah pernikahan keduanya.


"Neng. Apa gak sebaiknya kamu jelaskan kondisi kamu. Mak gak mau mereka salah mengartikan. Dikira kamu poliandri"


"Biarkan Mak. Capek kita menyangkal tetap saja pikiran mereka negatif"


"Ya sudah kalau memang menurut kamu begitu"


"Selama keluarga kang Airil tau apa yang terjadi, bagi Eneng itu sudah cukup Mak"


Eneng sedang berada dirumah emaknya. Kebetulan si kembar meminta ditemani ke rumah Rizky. Mulai besok Eneng akan disibukkan dengan persiapan lamaran untuk dirinya.


"Neng henpon kamu bunyi tuh"


"Iya Mak bentar"


Eneng berlari dari dapur dan langsung mengangkat panggilan dari Airil.


"Assalamualaikum kang"


"Waalaikumsalam sayang. Eh awas jangan jatuh lagi"


"Iya kang. Mencoba membiasakan diri ini. Ada apa"


"Hari ini ada waktu tidak"


"Mau kemana kang"


"Ibu ngajakin cari seserahan buat kamu"


"Loh kenapa Eneng harus ikut kang. Eneng terima aja kok apa yang akang kasih"


"Bukan begitu sayang. Kan diseserahan nanti ada pakaian dalamnya juga tuh"


"Hee. Terus"


"Kan akang gak tau ukurannya sayang"


"Ya diawang-awang aja kang"


"Kamu yang. Masa akang suruh membayangkan yang asyik-asyik. Lagian tak terbayangkan kali sayang"


"Ya sudah, akang ukurnya pake cup mangkok sayur aja"


"Ngaco kamu sayang. Emang ukuranya Segede mangkok sayur apa"


"Mangkok sayur untuk anak balita kang. Bukan mangkok sayur ukuran dewasa"


"Kirain mangkok bakso sayang. Hahaha"


"Emang mau segede itu kang"


"Yang gede itu nikmat sayang"


"Ya besok dipompa. Kan akang bisa tiupin tiap malam"


"Ais malah jadi pengen sayang. Udah sayang jangan bahas. Bahaya"


"Hahaha. Akang masih ada yang ditanyain lagi. Ini si kembar Uda ribut minta pulang"


"Kamu emang dimana sayang"


"Dirumah emak"


"Oh. Sebenarnya masih ada sayang. Tapi sebaiknya kamu ikut saja. Gak mungkin aku cari ukuran diimajinasi. Yang ada gak pas ukurannya gak jadi dipake"


"Kalau hari ini gak bisa kang. Jadwal nemani si kembar les"


"Ya sudah besok. Kalau bisa kamu luangkan waktu sehari saja sayang"


"Nanti Eneng ngomong mas kembar. Akang tau sendiri kan gimana mas kembar"


"Iya kalau si kembar gak ngasih ijin, kamu bawa aja sayang"


"Iya kang"


"Sayang. Aku cinta kamu. Kangen banget aku"


"______"


Bukan suara Eneng yang menjawab melainkan teriakan emak yang terdengar Airil.


"Eneng ya Allah gusti. Kenapa pingsan gini sih"


Airil mematikan panggilannya sambil tertawa. Dia sudah terbayang seperti apa Eneng yang pingsan.


.


.


Pagi harinya Eneng sudah meminta ijin kepada si kembar. Awalnya Arsya tidak mau Eneng pergi. Namun setelah Eneng mengajak mereka untuk ikut berbelanja, mereka memilih bermain dengan asisten satu lagi. Mang Toyib. Rashsya memang paling tidak suka diajak pergi ke mall. Mereka selalu menghindari keramaian.


"Eneng berangkat dulu ya mas"


"Iya mas Arsya"


Eneng naik kedalam mobil Airil. Arsya terus menatap tak suka kepada Airil. Mungkin karena Eneng merawatnya dari masih bayi merah, hingga membuat Arsya cemburu jika Eneng sibuk sendiri.


"Sayang"


"Ya kang"


"Arsya sayang banget ya sama kamu"


"Iya. Mas Arash juga sama kok"


"Besok setelah kita menikah, apa kamu masih bekerja disana"


"Apa akang akan malu jika Eneng masih bekerja disana"


"Tidak sayang. Untuk apa malu"


"Kang. Eneng gak mungkin meninggalkan keluarga mereka. Selama ini mereka sangat membantu eneng. Bahkan mereka menganggap Eneng sebagai anak mereka. Mungkin pengabdian seumur hidup Eneng tak akan sebanding dengan apa yang mereka berikan untuk Eneng kang"


"Iya sayang. Aku sangat paham. Akang tidak akan meminta kamu meninggalkan mereka. Tapi akang hanya minta. Setelah kita menikah kamu tetap tinggal bersama akang. Dan kamu tetap boleh menjaga si kembar sampai kapanpun"


"Terimakasih akang"


"Iya sayang"


Mereka menjemput ibu Airil di stasiun kereta. Karena memang sang ibu kemarin tiba-tiba harus kembali ke kampung karena Juna sakit. Dan pagi ini kembali ke kota untuk mencari seserahan lamaran sang putra.


"Ibu apa kabar"


"Baik nak. Kamu gimana kabarnya. Emak sama adik kamu gimana"


"Alhamdulillah kami baik semua. Juna sudah sembuh Bu"


"Sudah mendingan. Cuma kecapekan saja"


Mereka pergi ke pusat perbelanjaan dikota. Airil begitu antusias dan bahagia. Apalagi melihat kedua wanita yang paling penting dihidupnya begitu akur dan saling menyayangi. Senyum terus ditampakkan Airil melihat keakraban mereka.


"Ril. Kita cari mukena dulu atau gaun dulu"


"Manut saja bu"


"Neng mau apa dulu"


"Yang sejalan saja dulu Bu. Biar gak bolak balik"


"Ya sudah yuk"


Airil mencoba merangkul pinggang Eneng. Dan melindungi Eneng jika akan terjatuh atau tersenggol orang. Tapi yang dirangkul bukannya bahagia malah tegang.


"Sayang jangan tegang dong. Tegangnya malam pertama saja besok"


Eneng tidak menjawab. Apalagi hembusan nafas Airil ditelinga Eneng, semakin membuat Eneng tak bisa berkutik. Airil semakin gencar menggoda Eneng.


"Jangan pingsan. Jangan kejang. Bahaya nanti jadi piral"


Tangan Airil berpindah ke pundak Eneng. Bahkan saat mereka berhenti disebuah butik, sengaja Airil merangkul Eneng dari belakang dan melingkarkan lengannya dileher Eneng.


"Sayang, kayaknya gaun yang silver bagus deh. Bisa couplean juga kayaknya. Gimana"


Tak ada jawaban dari Eneng. Ibu Airil juga sedang melihat gaun lainnya. Mencari yang cocok untuk Eneng.


"Hei. Jangan melamun. Biasakan aku berperilaku seperti ini sayang. Jangan tegang. Tarik nafas sayang. Hembuskan perlahan"


Eneng menarik nafas sesuai apa yang Airil katakan. Namun bukan hembusan dari mulut yang keluar melainkan dari slebor belakang Eneng.


Bruttttt breeeet broootttt


Beberapa pengunjung butik mendengar suara nyaring itu mencoba menengok kearah Eneng dan Airil. Airil tertawa melihat tingkah Eneng. Ibu Airil pun tertawa. Salah seorang pengunjung mencoba menghina Eneng.


"Ih gak banget masa kentut sih"


"Apa salahnya kentut mbak. Kan gak merugikan juga. Lagian gak bau kok"


"Jadi cewek itu harusnya jaga image. Memalukan. Kok masnya mau sih sama cewek gak tau malu gitu. Padahal masnya ganteng loh"


"Untuk apa malu. Selama itu membuatnya nyaman tak masalah untuk saya. Lebih menyakitkan lagi jika perempuan menutupi sikap aslinya hanya demi sebuah image. Selagi dia menjadi dirinya sendiri. Saya akan terus membahagiakannya"


Cup


Airil mencium pucuk kepala Eneng dihadapan wanita yang menghina Eneng. Airil langsung memeluk eneng, karena dia sadar Eneng sedikit limbung.


"Jangan pingsan sayang"


Bukan pingsan lagi ini. Eneng keringat dingin Eneng terus bercucuran. Eneng sudah tak bisa menahan lagi. Apalagi Airil memeluknya dengan erat.


"Kang Eneng mau pup"


________


Maaf ya yang semalam belum lolos. Jadi ini sekalian aja biar puas bacanya...


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yuk