Eneng Oh Eneng

Eneng Oh Eneng
Duo Ancur



Saat ini dikediaman Jay sedang menunggu kehadiran Airil dan keluarganya. Semua sudah rapi dan siap dengan seragam keluarga. Hanya Eneng yang masih berada didalam kamar. Para tamu undangan juga sudah hadir. Nampak rombongan mobil tamu yang dinantikan sudah berada didepan rumah Jay.


Airil turun dengan senyum bahagia. Jay dan Arka menjadi wakil dari keluarga Eneng. Beberapa keluarga Airil datang dengan membawa berbagai macam hantaran.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam. Akhirnya tamu istimewa hari ini datang juga"


Acara sambutan yang dilakukan Jay dan Arka hanyalah sekedar formalitas saja. Karena setelah masuk kedalam taman yang dijadikan tempat untuk lamaran, sudah ada pembawa acara yang lebih resmi menyambut mereka.


Acara ramah tamah tak berlangsung lama. Mereka langsung berlanjut keacara inti. Eneng dipanggil oleh Jasmine dan emaknya. Mereka mengapit Eneng layaknya seorang putri raja. Semua mata terpana melihat Eneng yang begitu cantik dan anggun. Termasuk Airil.


Eneng duduk diantara Jay dan Jasmine seperti permintaan emaknya. Mereka menunggu Airil yang sedang berdiri dihadapan seluruh keluarga untuk meminang Eneng.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarrakatu. Huh. Maaf ini lebih tegang daripada saya sedang berada diruang operasi"


Terdengar suara tawa dari para tamu dan keluarga mendengar candaan kegugupan Airil saat akan mengutarakan maksud kedatangannya kekediaman Malik.


"Ijinkan saya Airil Prasaja. Mengatakan apa yang sedang saya rasakan saat ini untuk pujaan hati saya tercinta. Suciati Laras. Tapi semua mengenalnya dengan Eneng"


Eneng berdiri saat Airil tadi menyebut namanya. Dia hanya bisa menunduk dengan menggenggam kedua tangannya sendiri.


"Neng. Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. Bermunajat pada Tuhan untuk menentukan pilihan yang paling tepat. Berkali-kali ku tanya pada hatiku sendiri. Sudah tepatkah pilihanku? Dan berkali-kali pula jawabanku tetap sama, itu kamu.


"Neng. Satu-satunya hal yang bisa kujanjikan padamu saat ini adalah hatiku yang tulus. Akan kulakukan yang terbaik untuk mencintaimu dengan cara yang sama seperti hari ini seumur hidupku."


"Dan pada akhirnya. Aku ingin memintamu dihadapan keluargaku dan juga keluarga kamu. Eneng maukah kamu menjadi nyonya Airil Prasaja. Bersediakah kamu menemaniku dalam suka dan duka hingga maut memisahkan kita"


Eneng masih tak bisa menatap wajah Airil. Saat mikrofon diarahkan kepada Eneng untuk meminta jawaban. Eneng menjawab dengan menunduk.


"Eneng mau kang"


"Alhamdulillah"


Suara riuh tepuk tangan menyambut kebahagiaan calon pasangan baru. Jay dan Jasmine menyadari akan terjadi bencana saat ini. Mereka langsung sigap berdiri dibelakang Eneng. Jay membisikkan sesuatu yang membuat Eneng seketika langsung tersadar.


"Awas kalau pingsan atau kejang neng. Tuh lihat si emak udah meronta mau gantiin kamu. Untung dijagain kalau gak bukan kamu yang tunangan tapi kendil jennar"


Airil dan ibunya berjalan mendekati Eneng dengan membawa satu kotak perhiasan untuk dipasangkan dijari Eneng dan Airil. Saat Airil memegang tangan Eneng, dia berusaha menahan tawanya. Karena Airil tau Eneng saat ini berjuang menghadapi penyakit ajaibnya. Airil pun akhirnya berbisik sesuatu.


"Sayang jangan pingsan. Kamu harus biasa"


Airil menggandeng tangan Eneng dan memperlihatkan cincin yang baru saja mereka kenakan. Eneng berusaha mengangkat wajahnya menghilangkan rasa gugupnya. Acara inti telah usai kini mereka sedang menikmati hidangan perjamuan.


Sesuatu yang bisa mereka cegah diawal, kini terjadi. Beruntung acara cukup lancar tanpa gangguannya. Dia melepaskan diri dari beberapa orang yang menjaganya. Awalnya saat tau Airil turun dari mobil, dia sudah meronta ingin memeluk Airil.


"Pokoknya dedek gak terima. Dedek gak ridho bebeb nikah sama Eneng. Bebeb cuma punya dedek"


Kendil jennar bergulung-gulung tengah taman. Dia menangis tanpa air mata. Bukan mereka iba tapi malah tertawa. Emak bangun langsung mendekati kearah Airil.


"Beb. Tega sama dedek beb. Gimana nasib dedek beb"


Airil mendekati emak Ijah dan berjongkok. Karena Mak Ijah memegang erat kaki Airil sambil menangis.


"Mak. Mak lihat tuh banyak yang ganteng-ganteng. Bahkan lebih ganteng dari Airil. Mak gak pengen sama mereka"


Airil sengaja menunjuk ke arah Gama dan Teddy. Sahabatnya sesama dokter. Airil tersenyum licik saat emak berlari menghampiri Gama dan Teddy.


Acara semakin heboh, kala Shanum naik ke panggung dan bernyanyi sambil berjoged.


Saya si putri, si putri sinden panggung


Datang kemari menurut panggilan anda


Panggung ke panggung, saya sering bergoyang


Suka dan duka terkadang saya rasakan


Dari malam sampai pagi ku lakonkan


Apalagi ada mas Joko tersayang


Rasa capek jadi hilang, semuanya karena kang mas


Mata ngantuk, hari gelap jadi terang


Karena kang mas tak putus kirim pesanan


Pesan cinta, pesan sayang, 'tuk diri saya seorang


Saya si putri, si putri sinden panggung


Datang kemari menurut panggilan anda


Emak Ijah menaikan kain batiknya dan mengikatnya dipunggung. Berjoged gaya gergaji. Sambil kepala diputar-putar. Daya tarik dari duo ancur memikat hampir semua tamu. Para tamu undangan ikut bergoyang. Taman rumah Jay mendadak menjadi panggung hiburan tanpa panggung.


"Ya Allah kenapa jadi gini sih"


"Itu Gama ngapain ikut joged juga. Mana dipeluk-peluk para wanita setengah tua lagi"


Istri Gama dan kekasih Teddy kaget melihat kelakuan kedua dokter dingin itu. Mereka berjoged bersama para emak-emak. Airil tertawa bahagia begitu juga Jay Karen mereka terbebas dari jeratan kendil jennar.


Emak mengambil mikrofon lain saat shanum asyik berjoget dan bernyanyi. Emak begitu bahagianya. Hingga meneriakkan kata-kata yang membuat semua orang tertawa.


"Duh Gusti. Nikmat mana lagi yang kudustakan. Hilang satu pangeran. Engkau langsung memberiku puluhan pangeran tampan lainnya"


"Neng. Emak mau istana pangeran tampan"


Eneng hanya melengos saja mendengar perkataan Eneng. Sedari tadi Eneng mencari keberadaan emaknya sendiri yang menghilang entah kemana.


"Sayang kamu nyari siapa"


"Emak kang. Kemana ya kok gak kelihatan bokongnya"


"Kok bokongnya sih sayang. Normalnya kan gak kelihatan batang hidungnya"


"Emak mana punya batang hidung akang. Hidung aja lurus banget. Lalat aja kepleset. Nah kalau slebornya kan gede. Buat boncengan aja bisa"


"Hahaha. Kamu sayang"


"Bentar ya kang. Eneng cari emak dulu"


"Ayo aku temani"


"Akang disini saja. Kan ada kak Gama juga"


"Nggak ah. Lebih asyik nemenin calon istri"


Airil menemani Eneng mencari emaknya. Disekeliling taman tidak nampak emak Eneng.


"Emak digondol setan mana sih. Gak kelihatan"


"Sabar sayang. Coba aku tanya penjaga. Siapa tau emak keluar"


"Ya kang"


Airil berjalan ke pintu gerbang depan. Sedangkan Eneng masih mencari didekat kolam. Eneng teringat sesuatu. Dan langsung berlari menuju belakang sound sistem.


"Ya Allah emak"


"Hus. Gak usah gangguin lagi enak ini neng"


"Ngapain gitu juga Mak. Udah dilosin aja"


"Malu sama besan neng"


"Gapapa. Tuh lihat besan emak lagi apa"


"Wah asyik tuh"


"Makanya los in Mak"


"Hokya hokye joss"


Emak bersembunyi dibelakang spiker besar untuk berjoged dengan cara menggeliatkan tubuhnya sambil duduk diatas rumput. Karena malu dengan orantua Airil. Yang nyatanya orangtua Airil ikut berjoget asyik.


"Untung Eneng tau kalau itu tadi emak"


"Emang kenapa neng"


"Lah emak pakai kebaya lengkap meliuk-liuk diatas rumput udah kayak cacing gajah kepanasan aja"


"Semprul kamu neng"


_____


jujur ya othor lupa nama asli EnengπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Jadilah emak othor ganti


Jangan lupa bahagia gaesss


Jempol digoyang yukkk