
"Telus Pak Agus .... Ayoooo.... Teluussss... Di kejal bulungnaaa... Tepetaannn lalinaa!! Ayyooo laliiiiiii....!"
Seorang pria, berumur 30 tahun beralari kesana kemari di dalam ruang tamu, lalu keluar lagi ke area kolam renang, di ikuti gadis kecil di belakangnya.
Dia adalah Agus, supir kesayangan Alea.
"Blunooo... Ayoo kembali Blunooo..." Alea terus melompat-lompat tatkala burung piaraannya terbang melayang mengitari seluruh ruangan.
Pagi di hari weekand ini, sekitar jam enam, ketika para pekerja Rumah mewah itu tengah sibuk dengan kegiatan dan aktivitasnya. Seluruh pekerja telah di hebohkan oleh lepasnya burung gagak yang selama ini berada dalam kurungan.
Niat ingin membelai bulu hitam indahnya, burung itu terlepas bebas kala si gadis kecil lupa menutup kembali jendelanya dan membuka peluang untuk sang gagak kabur dari sangkar.
Burung itu kini sedang menikmati kebebasannya di dalam ruangan rumah. Setelah puas mengepakkan sayapnya di dalam ruangan, burung itu bertengger di atas atap gazebo lalu berpindah lagi ke atas dahan pohon rindang yang berada di taman tidak jauh dari kolam
"Ayoo mbak Lia bantunin Pak Agusna! Jangan campe kabul bulungnaa.." wajah imut itu mulai merengek menahan tangisan, bibirnya mulai mencebik bergerak-gerak kesamping, dan matanya mulai berkaca-kaca, saat Agus belum bisa menangkapnya.
"Iya Non …ini mbak Lia juga bantu, tapi burungnya nakal tidak mau turun."
Seperti mengejek, burung itu hinggap dengan nyamannya tanpa memperdulikan orang–orang yang mengejarnya. Bebas Bebas Bebas mungkin seperti itulah isi hati sang burung yang sengaja mewakili perasaan Tuannya.
Bik Asih ikut bergabung melihat Agus yang belum bisa mendapatkan burung itu kembali. Sedangkan sang burung Dara masih bertengger manis di dalam sangkarnya menyaksikan sang teman sedang terbang menghindari perburuan.
"Budii......" Bik Asih memanggil penjaga rumah yang sedang menikmati kopi hitam dan sepiring pisang goreng dengan musik dangdut koplo sebagai hiburan. Di temani tukang kebun yang juga ikut bergoyang.
Sedangkan Pak Dadang, pria itu setiap ahir pekan, ia akan asik mengurus, membersihkan dan mengelap kaca mobil Tuannya.
Seperti inilah kegiatan para pekerja di pagi minggu ini.
"Budiiiiiii...." Bik Asih berteriak lagi memanggil, saat pria itu tidak mendengar karna suara musik dari handphone yang tersambung di soun sistem.
"Ya Bik... Ia langsung berlari setelah mendengar panggilan Bik Asih. Seperti dejafu ia teringat akan Nonanya yang tak sadarkan diri saat pendarahan. Ia berfikir apa ada masalah yang menimpa Nonanya lagi.
"Ada apa Bik?" pria itu bertanya sambil ngos-ngosan. Ia hampir saja keselek pisang goreng yang baru di masukkan ke dalam mulutnya.
"Cari jaring ataw yang lainnya. Bantu Agus menangkap burung yang lepas."
"Hah...!! burung lepas? Burung siapa?" Pria itu terkejut, ia pikir ada sesuatu yang membahayakan.
"Sudah … jangan banyak tanya.! Cepetan dapatkan burungnya sebelum Nona kecil menangis. Kalau perlu ajak Pak Asep." tukang kebun yang masih terus bergoyang sambil memotong dahan-dahan yang mulai rindang.
"Itutu bulungna … pelan Pak, pelan Pak.... Ayo tangkep.... Yahhhh telbang lagi...!!"
Alea mulai putus asa dan kecewa. Ketiga pria dewasa itu kewalahan menangkap burung yang benar-benar mengoda dan nakal. Duduk di rumput hijau nan asri, Pria-pria itu meluruskan kaki dengan keringat mulai membanjiri dahi. Mereka di kerjai sang burung yang semakin senang berada di atas dahan.
Kegaduhan di area taman dekat kolam renang yang tepat berada di bawah balkon kamar sang Tuan, membangunkan sepasang suami istri yang tengah meringkuk berpelukan dalam keadaan polos dalam satu selimut.
Setelah menengok Babbynya kembali saat menjelang subuh, keduanya tidur kembali. Perlahan Dirga membuka matanya, telinganya sayup-sayup mulai mendengar dengan jelas teriakan gadis kecil dan para orang dewasa.
Menarik lengan yang di gunakan sebagai bantal sang wanita, dengan pelan, ia menyibak selimut turun dari tempat tidur. Hanya menggunakan bokser hitam dengan bertelanjang dada ia membuka pintu balkon mencari tau apa yang terjadi.
Dirga dapat melihat apa yang sedang di lakukan para pekerjanya. Memakai kaos oblong putih, ia segera turun ke bawah. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan putrinya.
"Ada apa ini?" Dirga bertanya dengan wajah bantalnya. Pria itu tidak sempat membasuh mukanya ketika turun.
Semua pekerja menengokkan kepala dengan bersamaan memannggil "TUAN!!" melihat kehadiran Dirga dan menyadari kegaduhahan membangunkan Tuannya.
"Papiiii..." gadis mungil itu langsung berlari menghampiri pria yang berdiri di ambang pintu.
Sedangkan pria itu masih mengumpulkan kesadarannya.
"Burung? Burung yang mana girl?
"Bulung yang walnana hitam Papiihhhh...."
"Kog bisa?"
Agus ikut mendekat ke arah Dirga dan meneritakan kronologis yang terjadi di TKP. Tempat kejadian perkara
Setelah mengetahui, pria yang hanya mengenakan bokser dan kaos oblong itu mengusap wajahnya. Berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Alea, ia harus merayu dan memberikan pengertian sebisanya.
"Biarkan saja dulu sayang... Biarkan burungnya keluar dari sangkar, Papi yakin tidak akan lama. Dia ingin terbang bebas dulu menikmati suasan alam."
"Tapi ental bulugna pegi Pih..." gadis kecil itu mulai cemberut dengan pipi mengembung.
"No sayang... Dia akan selalu kembali masuk ke dalam sangkarnya."
"Tapi nanti Bluno kelapalan Pih."
"Bluno? Dirga menautkan alisnya
"Iya, Ea kacih nama Bluno. Kelenkan Pih? Padahal yang di maksud BRUNO
"Ya sayang … sangat keren." dalam hati Dirga berkata, kenapa tidak di beri nama PUISSANT. Dirga menggaruk kepalanya karna hanya ia yang mengetahui artinya.
( PUISSANT – PERKASA )
"Ada apa Mas?" wanita hamil itu terbangun kala tak mendapatkan pria yang memeluknya hilang dari sisi pembaringan. Memakai dres tidur di lapisi kimono, ia turun ke bawah mencari keberadaan suaminya.
"Sayang, kenapa bangun? Ini mash pagi." Dirga menghampiri mendapati Anin yang ikut turun.
"Aku kehilanganmu, Mas.. Ada apa? Apa ada masalah?" Anin melihat para pekerja sedang berkumpul di taman hijau dengan wajah yang lelah. Ia baru mengerti setelah Dirga menceritakan kejadian pagi ini yang membuat heboh seluruh penghuni rumah.
Anin tertawa geli saat mengetahuinya. Ia menyadari lepasnya burung gagak bersamaan lepasnya sesuatu yang di tahan suaminya. Seperti memiliki keterikatan batin dengan Tuannya.
"Tidak apa-apa sayang. jangan bersedih. Bukankan beberapa hari lagi kita akan naik pesawat, untuk bertemu granpa dan granma, Alea akan menjadi princess lagi di pesta Uncle Bayu dan Aunt Stella." Anin merayunya dengan mengingatkan akan kepergian mereka ke negara Singapore. Karena sebelumnya Gadis kecil itu meminta naik pesawat.
"Ya sayang …sebagai gantinya hari ini kita akan pergi ke Sea World mengunjungi ikan Duyung yang besar. Bukankah Alea ingin melihatnya." Dirga menawarkan hiburan kepada putrinya. Weekand ini ia ingin menghabiskan waktunya bersama kedua wanitanya.
"Holeeeee …holeeeee, Ea mau liat putli Duyung laksasa..." gadis kecil itu melompat kegirangan, ia sejenak melupakan burung yang masih bertengger asik di atas dahan. Dengan burung dara yang tertunduk malu-malu di dalam sangkar.
Dan seluruh para pekerja kembali ke tempat masing-masing untuk melanjutkan aktifitasnya dengan nafas.
Legaaa...
****
Bebaaaasssss
Bersambung ❤️
Jangan lewatkan jempolnya yaa 🤗 Terimakasih 🙏😘