
"Pak Bayu sarapan dulu saja. Tuan dan Nona Anin belum turun." Bik Asih mempersilahkan Bayu untuk sarapan.
Selain roti tawar dan berbagai macam selai yang selalu tersedia di meja makan, pagi ini Bik Asih membuat sarapan dengan menu nasi uduk sesuai permintaan Anin.
"Ya Bik, terimakasih." menarik kursi, Bayu duduk dengan di layani oleh Bik Asih.
"Cukup Bik, jangan terlalu banyak nasinya, biarkan saya yang mengambil lauknya. Bibik tolong buatkan saya kopi, gulanya satu sendok teh saja."
"Baik Pak. Bik Asih kembali ke dapur untuk membuatkan minuman untuk pria yang juga ia hormati keberadaannya.
Saat sedang menikmati sarapannya. Ponselnya bergetar tanda datangnya pesan masuk. Ia tersenyum miring, saat membaca pesan yang di kirim oleh Stella. Wanita itu menanyakan alamat tempat tinggal Dirga.
Klik. Bayu membalas pesan dengan mengirimkan alamat. "Bik, kalau Tuan Dirga bertanya saya sudah kembali ke apartemen."
"Sarapannya belum di habiskan Pak, Kopinya juga." Bik Asih masih memegang gelas keramik berisikan Kopi hitam.
Berikan ke Pak Dadang.
*
*
*
Di kamar utama lantai dua.
Selesai obrolannya dengan Alea dan di sambung oleh Bu Rahma yang menanyakan kabar, keduanya sudah membersihkan diri tanpa ada drama percintaan dalam kamar mandi.
Anin menguncinya walaupun Dirga memanggil untuk minta di bukakan pintu.
Sambil menunggu Anin selesai dengan ritual mandinya, Dirga kembali duduk di sofa, mencoba menghidupkan benda pipih berharga puluhan juta itu akibat terjatuh saat di gudang. Tanpa di sengaja, lengannya tersenggol troly berisikan barang-barang logistik yang sedang di dorong karyawannya.
"Mas tidak ke kantor?" Anin bertanya ketika keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Dirga sudah rapih dengan memakai pakaian santai. Mengenakan Lee Cooper jeans hitam dengan kaos putih berkerah.
"Kita akan ke bandara, Sayang." Dirga bicara menghadap kaca rias, sambil menyemprotkan parfum mahalnya ke titik-titik tertentu di tubuhnya.
"Kita? Maksudnya Mas mengajakku? Memang kita mau menjemput siapa?" Anin bertanya masih dengan menggunakan jubah handuknya.
"Nanti kamu akan tau, cepat pakai pakaianmu." tak lupa Dirga memakai rolex kesayangannya.
Tanpa bertanya lagi, Anin segera masuk ke walk-in closet, mengenakan dres santai tanpa mengurangi keanggunannya.
Kembali ke meja rias, ia merias wajahnya hanya dengan menggunakan pelembab, mentouch up tipis bedak ke wajahnya serta memoles bibirnya dengan lipstik berwarna cerah. Dengan maksud agar terlihat lebih segar.
Tapi sayangnya lipstik itu bertahan hanya hitungan detik. Dirga mengambil tissue basah dan menghapusnya.
"Mm.." saat tissue menempel di bibirnya.
"kenapa di hapus?" ia protes setelah tissue itu terlepas.
"Ganti. Terlalu mencolok. Aku tidak mau kamu di perhatikan banyak pria."
"Ya ampun. Aku kan tidak mengunakan make-up berlebihan." ia hanya bisa protes dalam hati.
Mereka turun setelah Anin menggantinya dengan mengunakan liptint dengan warna Nude.
Sebelum duduk di meja makan, Anin menyempatkan membuat kopi tanpa gula yang menjadi kesukaan Dirga.
"Kopinya Mas." menaruh kopi itu di meja makan. "hati-hati masih panas."
"Terimakasih, Sayang." Dirga meyeruputnya dikit sebelum memulai sarapan.
"Mas mau sarapan roti atau nasi uduk?"
"Nasi uduk, tapi jangan pakai bawang, aku tidak suka."
Anin melayaninya seperti biasa. Menaruh makanan ke piring Dirga. Baru ia akan mengambil makanannya sendiri.
"Pakai sambal Mas?"
"Tidak, pakai itu saja yang hitam-hitam."
"Ini namanya orek tempe Mas. Pakai ayam ya?"
"Boleh.."
Semenjak kehadiran Anin di dalam hidupnya, Dirga banyak mencoba makanan yang selama ini jarang di sentuhnya. Apa lagi untuk sarapan pagi. Selembar roti dan segelas kopi biasanya sudah cukup untuknya.
Tapi tidak saat ini, ia sudah terbiasa dan sangat menyukai ketika di jejali dengan beraneka menu sarapan setiap harinya oleh Anin. Kalau hanya memakan roti Anin menganggapnya belum makan. Semboyannya adalah kalau belum makan nasi belum makan.
Interaksi keduanya tidak lepas dari perhatian Bik Asih yang juga ikut merasakan perubahaan. Ia turut senang, Dirga mendapatkan pengganti Ratna yang jauh lebih memperhatikannya dan selalu siap melayaninya. Pemandangan seperti ini tidak pernah ia lihat ketika Dirga bersama Ratna.
"Bik, apa Bayu masi di dalam kamar?" Dirga bertanya setelah menyelesaikan sarapannya.
"Pak Bayu sudah kembali ke apartemennya Tuan."
*
*
*
Sesekali Anin menengok ke samping kanan dengan mengulum senyuman, ia sangat menyukai, melihat Dirga berada di belakang stir kemudi. Pria itu nampak gagah dan cool, sangat keren di mata Anin. Apa lagi menggunakan pakaian santai seperti ini.
Dan ini untuk kedua kalinya ia bersama Dirga dalam satu mobil tanpa supir. Yang pertama saat mereka pulang sehabis makan malam romantis.
"Ada apa, hemm … kamu menatapku sampai tidak berkedip? Apa suamimu ini terlalu tampan?"
"Mulai deh.." Anin mencebikkan bibirnya.
"Lalu apa kalau bukan karna mengagumiku?" Dirga tertawa sambil meraih telapak tangan Anin, menggenggamnya, membawanya ke atas perutnya.
"Hei, jangan malu, Sayang. kamu harus mengakuinya. Suami ini benar-benar tampan bukan?"
"Ya... Ya... Ya... Kamu benar Tuan pemaksa. Tapi tolong di kurangi kepedeanmu itu. Itu sangat berbahaya, karna akan banyak wanita yang selalu mengejarmu."
"Apa kamu sedang cemburu Nyonya?"
"Tidak.." Dengan mengembungkan mulutnya.
"Yakin?" Dirga terus menggodanya
"Yakin." Anin memalingkan wajahnya, ke arah jendela, menyembunyikan raut wajah khawatir. Kalau ingat wanita berambut pirang kemarin ia masih merasa was-was.
"Baiklah. Kalu kamu tidak cemburu, tidak akan menjadi masalah buatku, saat banyak wanita datang mendekat."
Reflex, Anin memalingkan kembali wajahnya menghadap Dirga, menatapnya dengan mata melotot.
"Jangan macam-macam kalau tidak ingin ku potong burungmu!"
Di sambut gelak tawa lepas dari Dirga. Ia tertawa sampai menitikkan air di sudut matanya.
"Tidak, Sayang... Aku tidak berani. Aku janji." ia mengecup punggung telapak tangan Anin. memberikan ketenangan untuk wanita yang sudah memasang wajah masam di sampingnya.
"Aku pernah merasakan bagaimana sakitnya di hianati. Dan aku tidak akan menjadi pecundang hanya untuk kesenangan sesaat. Kalianlah prioritasku sekarang."
Mendengar ucapan Dirga, membuat kekesalan Anin menghilang. Seperti terguyur air dingin, rasa panas dalam hatinya menguap, meleleh dan mencair.
"Tapi kenapa? Kemarin seharian Mas tidak memberi kabar?"
"Setelah rapat aku langsung ke gudang penyimpanan barang. Saat akan membalas pesanmu ponselku terjatuh dan mati. Dan aku harus segera menyeslesaikan masalah di sana hari itu juga agar bisa pulang dan tak harus menginap."
"Maaf, Sayang. membuatmu khawatir."
"Tidak Mas, aku yang minta maaf karna sudah berpikiran buruk kepadamu. Kemarin moodku buruk, entah kenapa, aku sangat sensitif."
"Apa kamu jadi membeli banyak barang? Aku tidak melihat apa pun di dalam kamar."
"Tidak jadi Mas, belanjanya aku tunda. Aku hanya membeli kebutuhan bulanan saja."
"Selesai Acara kita, aku akan meluangkan waktuku untuk mengantarmu belanja dan ke dokter kandungan."
"Acara? Acara apa?"
Sebelum mendapatkan jawaban, tidak terasa mobil yang membawanya sudah memasuki area bandara. Mobil itu terus melaju masuk ke dalam, berhenti di parkiran khusus yang berada tidak jauh dengan landasan pesawat.
Tampak beberapa keamanan dari pihak bandara dan Wijaya Grup menyambut kedatangan Dirga.
****
Bersambung ❤️
DI BACA YA !!
Untuk beberapa pembaca ada yang menyamakan karya ini mirip dengan karya Author yang sudah melambung tinggi namanya. Dan saya sangat meghargai pendapatnya. Walaupun di katakan karyaku hanya karya lokalan dan tidak bisa di samakan dengan karya yang sudah go luar negri.
Tidak apa-apa teman. Aku menerimanya denga lapang dada. Di sini aku masih harus banyak belajar. Karna aku tidak sekolah Tinggi seperti Author yang lainnya. Aku juga bukan keluaran sastra yang mampu merangkai kata.
Aku akan terus melanjutkan karyaku karan ini BUKAN PLAGIAT. ini murni karyaku, hasil pemikiranku, sampai harus begadang hanya untuk menyelesaikan satu bab. Dan yang pasti alur cerita Anindirra sangat jauh berbeda.
Kalau ada nama panggilan yang sama, aku rasa tidak menjadi masalah. Di setiap karya kita akan menemukan nama tokoh yang sama, pangilan yang sama, tempat kejadian yang sama. Ini dunia halu kawan.
Dunia nyata saja, satu RT ada yang memanggil panggilan Ayah yang sama.
Kesimpulannya. Ini yang terakhir aku merespon komentar dari pembaca yang sangat perhatian kepada saya.
Dan terimakasih untuk para pembaca semuanya kalian sungguh baik. Tanpa kalian apalah aku ini. Terimakasih untuk segala bentuk suportnya. Dan aku memohon MAAF jika ada kata-kata yang kurang menyenangkan 🙏🙏🙏🙏 tidak sedikitpun, niat aku merugikan siapapun.
Kalau suka silahkan di baca. Dan kalau tidak suka tiggalkan saja kawan. Aku ridho 😁😁😁😁 aku menulis bukan semata-mata karna uang. Ini salah stu bentuk hobi yang ingin aku salurkan.
Aku non esee sungguh sungguh lopeee kepada teman-teman semua ❤️❤️❤️❤️
Selamat hari minggu 😘😘😘😘