Anindirra

Anindirra
Chapter 66



Masih dalam keadaan kaget dengan kehadiran Dirga yang tiba-tiba melihat strip pil yang di pegangnya. Anin mulai di serang rasa panik. Ia tidak menyangka kejadian akan seperti ini.


Saat hubungannya dengan Dirga belum ada kejelasan, dia memang menjaga supaya tidak hamil dengan meminum pil pencegah kehamilan. Tapi tidak setelah hubungannya resmi. Ia pun menginginkan seorang anak dari Dirga.


"Aku harus bagaimana? Apa dia akan marah kepadaku? Semoga dia tidak salah paham, aku tidak ingin membuatnya kecewa." Anin terus meracau.


15 menit terlewati. 30 menit berlalu. Tidak terasa sudah satu jam ia menunggu Dirga. Dan belum kembali juga.


Rasa bosan dan mengantuk mulai meyerangnya, pandangannya semakin menggelap, mata itu perlahan tertutup dan terpejam. Di tunjang dengan suhu dingin di dalam ruangan.


Ia merebahkan tubuhnya di sofa, meringkuk dengan mengganjal kepalanya dengan tekukan tangan. Ia terlelap dengan membawa banyak pertanyaan.


Sampai tidak menyadari kehadiran yoyon seorang OB yang di perintahkan membawakan makanan. Takut mengganggu tidur wanita yang ia duga istri Bosnya. Pelan-pelan Yoyon memindahkan makanan dari atas troly ke meja sofa dimana Anin tertidur.


Dirga tengah menjamu dan beramah tamah dengan pemilik salah satu media cetak yang terkenal, pembicaraan kedua pebisnis berbeda bidang itu berlangsung hangat. Selain mengakrabkan diri, pemilik dari Kabar grup itu juga berharap bisa menjalin kerjasama dengan Wijaya Grup.


Di sela obrolannya. Ia kedatangan seorang pria berkacamata, membuat bibirnya tersenyum lebar.


"Halo Tuan penguasa. Kamu melupakanku sepertinya." Pria itu menyapa, dia adalah Dokter Hendra direktur rumah sakit ternama sekaligus pemilik perusahaan obat-obatan dimana Dirga menaruh sahamnya. Dia adalah sahabat kental Dirga dari remaja dan satu sekolah yang sama saat di Singapura.


Mereka terpisah saat kelulusan, Dirga melanjutkan kuliah di Paris mengambil jurusan bisnis, sedangkan Dokter Hendra melanjutkan kuliah di universitas UK khusus kedokteran di Inggris. Sebagai dokter spesalis jantung.


Tetapi hubungan pertemanan mereka terus berlanjut hingga saat ini, dan saling menjalin kerjasama.


Kedua sahabat itu saling berangkulan layaknya khas pria.


"Lama tidak jumpa, dari terahir kita bertemu saat kamu mengantar Alea. selamat atas kesuksesanmu kawan."


"Thank you Brother. Sudah menyempatkan mampir. Aku sibuk hingga lupa meminta Bayu mengabarimu."


"Yaahh … aku tau itu, kamu sangat sibuk dengan dunia barumu." ucapan Dokter Hendra mengandung sindiran.


"Kau menyindirku." keduanya tertawa bersamaan.


"Kenalkan, pemilik Kabar Grup. Tuan Lingga Hanunggara." Dirga mengenalkannya lelaki yang sedari tadi berdiri di sampingnya kepada Hendra.


Hendra menyambutnya dengan sopan. "


Senang bisa berkenalan dengan anda Tuan Lingga Hanunggara. Hendra menjabat tangannya.


Obrolan ketiga pria itu terhenti ketika pemilik Kabar Grup bernama Lingga itu undur diri untuk kembali ke kantornya. Dengan di antar oleh bayu ia meninggalkan dua sahabat yang masih melanjutkan obrolannya.


"Aku butuh rekomen Dokter Kandungan terbaik di rumah sakitmu." Dirga mengganti topik pembicaraan.


"Dan dokter itu harus wanita."


"Untuk ?" Dokter Hendra tersenyum jail.


"Aku ingin program hamil."


"Apa laharmu kurang menyembur? Kenapa harus program kehamilan? Mamanya Alea masih sangat muda." setengah berbisik, Hendra menggoda Dirga.


"Ckk." Dirga berdecak sebal.


"Jangan meremehkanku, laharku bahkan lebih panas dari semburan gunung semeru."


"Baiklah Tuan pemarah, aku percaya khasiatmu." Dokter Hendra tertawa karna berhasil membuat temannya itu kesal.


"Besok akan aku buatkan janji Dengan Dokter arum. Dia spesialis kandungan terbaik di rumah sakitku. Kamu bisa bertanya lebih jelas kepadanya."


*


*


*


Dirga kembali setelah acaranya selesai dan para koleganya undur diri. Ia masuk ke dalam ruang kerjanya, melihat Anin tengah tertidur meringkukkan badan di sofa. Pemandangan itu membuat hatinya merasa bersalah karna meninggalkannya dengan waktu yang lama. Bermacam hidangan di atas meja pun belum tersentuh sama sekali.


Membungkuk, ia meraih kepala Anin. mengangkatnya dengan perlahan supaya tidak membangunkannya. Meletakkan kepala itu di pangkuannya.


Di perhatikan dengan teliti. Butiran itu hanya berkurang sedikit. Rasa kecewa yang sempat melintas di hatinya seakan pudar ketika ia menyadari Anin sudah beberapa hari tidak meminumnya.


Perlahan tangannya mengusap perut Anin. "Aku ingin segera memiliki penerus Wijaya Grup, Sayang..." ia berkata pelan.


Usapan tangan Dirga membuat tidur Anin terusik. Samar-samar ia mendengar ucapan Dirga.


"Mas..." Anin merubah posisinya menegakkan tubuh, ia bangun dan duduk di samping Dirga.


"Aku membangunkanmu, Hemmm..." ia membelai wajah Anin dan menatapnya.


"Maaf, aku ketiduran. Tidak tau Mas datang. Apa acaranya sudah selesai?"


Dirga bungkam tidak menjawab pertanyaan Anin. ia terus menatap wajah itu dengan sorot mata sendu.


"Aku menginginkan seorang anak dari rahimmu? Usiaku sudah tidak muda lagi. Jadi, jangan menundanya. Besok kita ke rumah sakit untuk memeriksan kandunganmu."


"Aku tidak bermaksud menundanya Mas. Saat aku ke solo. Pil itu sudah tidakku minum lagi. Jangan marah kepadaku."


Dirga mebawa tubuh itu ke dalam pelukannya. "Ya, aku tidak marah, Sayang... Berjanjilah, untuk tidak melakukan sesuatu di belakangku."


Ia lalu mencumi seluruh wajah Anin dan berhenti di bibirnya. Menyesap manisnya madu yang berasal dari bibir merah itu.


"Ayo makan dulu, sebelum aku kehilangan kendali dan memakanmu."


*


*


*


Sesuai janjinya. Setelah makan siang, Dirga mengajak Anin ke suatu tempat. Velfire yang di kendarai Pak dadang menuju ke sebuah kawasan elite di tengah kota.


Ia memilih tempat tinggal dengan area berupa taman terbuka yang di tumbuhi tanaman hijau. Dengan kolam renang pribadi yang menyatu dengan taman seluas 2200 m2 di lengkapi dengan 700 meter jogging track, yoga corner, koi pond barbeque pit, children tree-house dan hang-out garden.


Benar-benar hunian terbaik. Anin tak henti-hentinya terpukau dengan apa yang di lihatnya. Baginya, ini adalah sebuah istana. Biarpun untuk sebagian orang rumah ini masih terbilang biasa. Tapi untuknya sangat luar biasa.


"Apa ini kejutan yang Mas bilang?" ia berdiri tepat di pinggir kolam renang.


"Hemmm … kamu suka?" Dirga memeluknya dari belakang.


"Suka Mas, sangat suka. Tapi, apa ini tidak terlalu besar dan berlebihan? Pasti harganya sangat mahal?"


"Harga rumah ini tidak sebanding dengan dirimu, Sayang. Rumah ini akan menjadi awal kebahagaiaan kita. Karna disini keluarga kita akan berkumpul."


"Aku ingin memberikan kenyamanan untuk kamu dan anak-anak. Sesuai keinginanku, rumah ini memiliki taman yang luas untuk anak-anak kita bermain berlarian. Alea juga pasti menyukainya."


"Maaf, aku tidak bertanya dulu pendapatmu dan langsung membelinya."


"Tidak apa-apa Mas, aku sungguh menyukainya. Rumah ini terasa nyaman dan sejuk. Apa yang menjadi pilihan Mas, aku pasti menyukainya."


"Dan sepertinya, sebelum kedatangan Alea, kita harus mencoba bercinta di kolam renang ini, Sayang.." Dirga mulai menciumi tengkuk Anin. Membuat wanita itu meremang merasakan sesuatu yang mengalir di tubuhnya.


"Mas.." Anin menyikut perut Dirga yang berada di belakangnya. Ia paham apa yang di inginkan suaminya itu. Entah kenapa, setiap kali Dirga berkata vulgar, langsung menyetrum otaknya. Ia ikut terbawa arus mematikan. Biarpun sedikit malu mendengarnya, Ia sangat menyukainya.


"Ayo kita lihat kamar kita di lantai atas."


****


Bersambung ❤️


Aku kasih untuk menemani dinginnya malam 🤗


Tapi jangan lupa dukunganny ya...


Like, komen, hadiah dan votenya aku tunggu 🙏


Terimakasih 😘😘 selamat beristirahat