Anindirra

Anindirra
Bonchap 01



Tiga minggu sudah berlalu dari kelahiran putranya yang beri nama Boy Mehrdad Wijaya. Ucapan selamat dari keluarga, para colega, dan patner bisnisnya, baik dari dalam dan luar negri masih terus berdatangan memberikan ucapan selamat atas kelahiran sang pewaris.


Penerus kerajaan Wijaya Grup. Bahkan karangan bunga papan bertuliskan ucapan selamat masih di terimanya dan berjejer di halaman rumah.


Para media cetak dan elektronik pun meminta ijin untuk mengangkatnya sebagai berita utama di timeline baik media cetak maupun di media elektronik.


Tubuh wanita yang baru melahirkan itu tampak semakin berisi, karena menyusui. Pipi cuby-nya menambah aura paska melahirkan semakin terlihat bersinar dan cantik. Bibirnya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya saat melihat kelakuan suaminya.


Pria dengan tubuh gagah itu tengah memberi tanda silang dengan spidol warna merah di tanggalan, dimana waktu berpuasanya semakin berkurang setiap harinya. Wanita itu baru saja selesai menyusukan putranya hingga tertidur, dan meletakkan-nya ke dalam ranjang box bayi berukuran besar di samping tempat tidurnya.


Semalaman begadang, bayi tampan itu akan tertidur lelap setelah berjemur di bawah sinar matahari pagi bersama Dirga, dan setelah di mandikan.


"Bobok yang nyenyak sayangnya Mami.. Sekarang giliran bayi besar dulu yang harus Mami urus." Anin mengecup pipinya yang mulai terlihat montok di usianya yang ke tiga minggu.


"Mas, cepat mandi.. Sudah jam 8, Mas selalu datang telat. Apa kata karyawanmu nanti." Anin membantu melepaskan kaos oblong yang gunakan suaminya.


Dari semenjak pria itu memutuskan untuk cuti, dengan alasan cuti melahirkan. Dirga baru seminggu ini mulai kembali masuk kerja, itupun dengan waktu di mundurkan 2 jam dari biasanya. Kalau biasanya jam kerja di mulai dari jam 8, tidak untuknya sementara waktu ini. Dirga akan memulai jam kerjanya dari jam 10 dengan alasan ia harus berjemur dulu dengan Baby Boy.


Padahal, Bastian, Alyne, juga Bu Rahma siap menggantikan. Tapi pria itu kekeh ingin menikmati waktu kebersamaannya dengan Baby Boy di pagi hari sebelum ia berangkat kerja. Kadang Bastian harus mengendap-endap untuk mencuri cucunya, lalu di sembunyikannya di dalam kamar. Sehingga dua pria itu akan bertengkar memperebutkan Bayi seperti memeperebutkan boneka.


Membuat Alyne dan Anin harus pasang badan untuk memisahkan ayah dan putranya. Keposesifan Dirga bukan hanya kepada istrinya tetapi kepada kedua anaknya.


"Sayang, mandikan.." bukannya masuk kamar mandi, pria itu bergelayut manja, memeluk Anin dari belakang dengan menempelkan hidungnya di ceruk leher istrinya.


"Mas, hentikan.. Mas sedang berpuasa."


"Apa tidak bisa di percepat, Sayang?"


"Tidak bisa, Mas.."


"Ckk... Kenapa lama sekali?" Pria itu berdecak dan mulai mengeluh.


"Dua bulan saja kuat, Cuma 40 hari masa tidak kuat?"


"Keadaannya berbeda, Sayang.." pria itu terus mendusel di leher Anin.


"Apanya yang beda? Sama-sama puasa?" Anin paling senang kalau harus menggoda suaminya. Pria itu merengek sudah seperti anak kecil yang meminta jatah makan.


"Ahh, kelamaan.." Dirga mengangkat tubuh Anin dan membawanya masuk ke kamar mandi..


"Masss.." Anin teriak dan tertawa, saat tubuhnya melayang di udara.


Dirga terus mend*sah dan mengerang nikmat di bawah shower yang ia matikan aliran airnya, hasrat itu semakin berada di puncaknya, sesuatu yang di tahannya selama 3 minggu tersalurkan walau dengan cara yang berbeda, tetapi ia sangat menyukainya. Pria itu tak mampu menolak, saat Anin mulai memainkan jurusnya.


( jurus memijat elang dalam kandang )


Wanita itu semakin pintar, hingga membuat Dirga tak berhenti meracau.


"Sayang... Ahh.., sebentar lagi... lebih cepat, Sayang.." tangannya menggulung rambut Anin yang sedang berjongkok di antara kedua pahanya. Beberapa detik lagi akan menyembur keluar, Dirga langsung melepasnya dan menarik wanita itu agar berdiri, berganti dengan mel*mat bibir Anin, dengan tangan yang terus bergerak menggantikan mulutnya.


Pria yang bertambah tampan itu mengerang berat, dengan bibir masih mensesap, menikmati manisnya bibir sang istri yang membengkak akibat ulahnya.


"Sayang, terimakasih.." Dirga memeluk Anin dengan membenamkan wajahnya di dada sang istri yang semakin padat berisi, tapi sayang pria itu hanya bisa mengecup di bagian kulit putihnya saja, karena pucuk gunung kembar itu masih di kuasai sang Baby Boy-nya.


Anin dan Dirga mandi bersama di bawah shower dengan saling menyabuni. Kemesraan itu tidak pernah berkurang sedikitpun. Yang ada malah semakin bertambah, dengan kehadiran Baby Boy di tengah-tengah mereka.


Anin masih mengurus sendiri Baby-nya tanpa bantuan Babysister. Masih ada Bu Rahma dan Alyne yang selalu bergantian, membantu mengurus Baby yang kalau malam hari, selalu mengajak kedua orangtuanya begadang. Bayi itu seakan tidak rela kalau Dirga mulai memejamkan matanya, dia akan mengeluarkan suara andalannya dengan menangis kencang. Dan akan tersenyum bila mendengar Dirga bersuara, mengajaknya bicara dengan kepala terjatuh akibat terkantuk.


"Good Boy, pagi ini kamu menjadi anak pintar dengan membiarkan Papimu mendapatkan jatahnya." Pria itu bicara masih dengan menggunakan handuk sebatas pinggang di susul Anin yang baru keluar dari kamar mandi. Setelah berganti pakaian rumahan. Anin menyiapkan stelan baju kerja untuk di kenakan suaminya.


Dengan sabar, Anin membantu suaminya itu berpakaian, dengan tangan sang pria yang tak lepas dari pinggannya.


"Mas, tanganmu lepaskan dulu.. Akan lama selesainya."


Bukannya melepas, Dirga malah menggoda sang istri.. "Kamu semakin seksi, Sayang.. Dan semakin pintar memuaskanku.."


"Tapi aku suka.." Dirga terus tersenyum menatap Anin.


"Semakin mantap di pegangnya."


"Setelah 40 hari, aku akan ikut senam bergabung dengan ibu-ibu komplek Mas. Kemarin di grup pesan, ibu rete mengajakku bergabung."


"No, Sayang.. Tidak perlu senam.. Kamu tetap cantik dan menarik di mataku.."


"Issh.. Di luar sana banyak wanita muda yang menggiurkan, bagaimana kalau suamiku tergoda?"


"Tidak akan, Sayang.. Janji.." Dirga memberikan kelingkingnya, seperti saat ia berjanji bersama Alea.


"Aku akan secepatnya mengalihkan seluruh asetku atas namamu dan kedua anak kita. Agar kamu tidak berpikir macam-macam."


"Tapi jangan, ikut senam di luar.."


Obrolan sepasang suami istri itu terhenti saat suara ketukan pintu terdengan keras.


"Mami.. Papi..."


"Tenang.." dengan tersenyum Dirga mengusap dadanya. "Satpol pp kita datang di saat waktu yang tepat, kita sudah menyelesaikan urusan kita."


"Papiii..." gedoran itu semakin kencang.


"Buka pintuna.. Ea mau liat dedek Boy.."


"Ya sayang... Anin segera membukakan pintu setelah Dirga selesai mengenakan celana. Jangan sampai teriakan Alea membangunkan Boy.


"Lama benel sih, Mih?"


"Loh, Kakak Alea kog sudah pulang sekolah?"


"Iya Mih.. Ea lupa kalo hali ni libul.." gadis kecil itu mendekat ke arah box bayi dimana Boy sedang terlelap..


"Yahhh.. Adekna bobok.."


Anin buru-buru meraih ponselnya di atas nakas dan membuka grup pesan sekolah. Karena sibuk mengurus Baby Boy.. Ia sampai tak sempat membuka ponselnya.


"Sayang, sepertinya kita butuh pengasuh. Apa lagi kalau sampai Mommy dan Ibu sudah pulang. Kamu akan keteteran."


"Nanti saja, Mas.. Aku masih sanggup."


Tak lama, Alyne dan Bastian muncul bersamaan. Opa dan Oma itu langsung menggendong bayi yang berada di dalam box tanpa permisi.


"Dadd.. Cucumu masih tidur." Dirga tampak protes.


"Iya, Daddy tau.. Makanya mau Daddy bawa ke bawah.. Bagaimana ide Opa my princess?"


"Siippp.. Opa.." Alea memperlihatkan dua jempolnya. "Kita ajak Dedek Bayina main lumah-lumahan.." Alea berbisik di telinga Bastian.


"Oh, Tuhan.." Dirga menepuk keningnya melihat kompaknya Daddy dan putrinya.


Anin dan Alyne hanya bisa tersenyum.


"Sudah, Sayang.. Jangan khawatir.., putramu akan baik-baik saja.. Sekarang, Papi harus segera sarapan dan segera berangkat kerja. Cari uang yang banyak anakmu sudah dua."


Anin menggandeng tangan Dirga.. Mengajaknya agar segera turun ke bawah.


****


Bersambung ❤️


Hai.. Hai.. Aku dataaanggg... Lindu nulis Anin dan Dirga. Hehehe