
Seorang pria tengah memandang wajah gadis kecil yang ia pajang sebagai wallpaper dengan penuh rasa kagum. Foto itu ia ambil beberapa hari yang lalu saat Alea keluar dari gerbang sekolah dengan di dampingi pengasuhnya.
Ingin rasanya ia mendekat dan memeluknya, tetapi ia mengingat akan ucapan Dirga. ia tidak bisa menemuinya dengan bebas sampai batas waktu yang telah di tentukan.
Pandangannya tak lepas memperhatikan dengan teliti wajah putrinya yang tengah tersenyum bahagia dengan perasaan sesak di balut rindu, tangannya terus mengusap wajah yang sedang mungil yang tampak menggemaskan di layar ponselnya.
"Alea.." Andre menyebut namanya dengan lirih. Ia teramat merindukan gadis kecil yang menjadi darah dagingnya. Bayi merah yang ia tinggalkan itu tumbuh sehat dan sangat cantik.
Sebentuk penyesalan belum bisa hilang dan masih menggerogoti jiwanya, ia juga belum bisa melepaskan Anindirra dari dalam hatinya. Berharap waktu bisa di putar kembali, ia memilih tidak akan melakukan keputusan yang akan di sesalinya.
Jangankan untuk memeluknya, memberikan nama belakangnya saja ia tidak bisa. Ia ingin sekali menyematkan nama Herlambang di belakang nama putrinya. Tapi ia tidak mampu melakukannya.
Dari terahir pertemuan dengan pria yang menjadi ayah sambungnya. Andre belum menghubungi kontak Dirga untuk meminta bertemu dengan putrinya.
Berada di moon caffe milik Adi, ia duduk di kursi dengan pemandangan jalan raya sambi menyeruput kopi panas yang di pesannya. Hanya tempat ini untuknya melepas kepenatan dengan segala penyesalan. Belum lagi masalah dengan istrinya, sudah seminggu ini Sinta menyusulnya ke Jakarta.
"Sudah dari tadi?" menarik kursi, Adi ikut duduk di depannya.
Andre melihat jam yang di kenakannya.
"Sekitar 10 menit."
"Apa sudah bertemu dengannya?" Adi bertanya dengan dagu mengarah ke ponsel Andre yang tergelatak di atas meja. Foto gadis kecil sebagai wallpaper yang ia ketahui putri dari Anin. Mantan istri sahabatnya, sekaligus wanita yang sudah mengoyak hatinya.
Tanpa di ketahui Andre, Adi pun menyukai Anindirra setelah mengetahui mereka sudah berpisah. Tetapi sayang, sebelum berjuang ia mendapat kabar bahwa Anin telah menikah.
"Belum. Aku belum menghubungi pria itu." terlihat jelas wajah Andre yang berubah murung.
"Aku tau tidak mudah." Adi mulai bicara. "Tetapi cobalah untuk melepasnya, dia sudah bahagia dengan pilihannya. Dan, aku harap kamu tidak membuat masalah dengan pria itu. Lanjutkan kembali hidupmu dengan Sinta."
Andre terdiam mendengarkan apa yang di sampaikan sahabatnya. Tidak ada yang salah dari ucapan Adi, tapi ia masih begitu sulit menjalaninya. Entah sampai kapan.
*
*
*
Waktu berlalu dengan cepat, Dirga sudah kembali menjalani rutinitasnya di kantor seperti biasanya. Setumpuk kerjaan meminta untuk segera di selesaikan. Belum lagi pertemuannya dengan para pemegang saham dan para investor.
Terkadang ia harus ke luar kota hingga pulang larut malam. Tetapi tidak mengurangi kemesraan pasangan yang selalu bercinta di sela-sela waktu yang ada.
Begitupun dengan Bayu yang masih berada di Singapore. Setelah benar-benar pulih, Pria itu sudah menjalankan aktifitasnya mengurus perusahaan yang ada di sana. Dan kabarnya tidak lama lagi Bayu dan Stella akan meresmikan hubungannya ke jenjang pernikahan.
Bersamaan denga kabar tertangkapnya Steven di salah satu kamar hotel di negara Indonesia bersama seorang wanita. Sungguh kabar yang sangat baik untuk seluruh keluarga. Terutama Alfred Hugo, walaupun ia tidak bisa mengambil kembali uang yang di jadikan barang bukti sebagai barang sitaan oleh kepolisian.
Tetapi ia merasa puas karena pria yang telah menipunya sudah berada di dalam penjara. Selain itu, ia akan menggelar pesta pernikahan putrinya dengan pria yang sudah di restuinya.
**
Hari ini, Dirga meninggalkan rumah dengan beribu macam pesan dan larangan, pria posesif itu mewanti-wanti minta di kabari sesering mungkin saat Anin meminta ijin untuk bertemu Dewi di salah satu mall terbesar di Jakarta.
Anin menjemput Alea di sekolahnya. Ia ingin mengajak putrinya ikut dengannya, menebus menghabiskan waktu bersama sebelum ahir pekan. Mobil yang di kendarai Agus dengan mudah masuk ke halaman sekolah karna sudah memiliki kartu akses sebagai kendaraan yang tercatat, kendaraan yang akan menjemput murid di Bambino preschool.
Mengingat dulu saat Alea membutuhkan perawatan yang lebih baik, ia tidak mampu. Sampai dimana Alea tak sadarkan diri, dengan terpaksa ia membawanya ke rumah sakit ternama dengan fasilitas lengkap.
"Non Anin tidak turun?" sang supir bertanya.
"Tidak Gus, saya menunggu disini saja, sudah ada Lia." Anina ingin memerikan kejutan kepada Alea. Selain itu ia lebih memilih menunggu di dalam mobil dari pada harus berkumpul dengan beberapa wali murid dengan penampilan wah-nya.
Ia masih belum percaya diri. Padahal dengan nama besar dan kekayaan yang di miliki suaminya, siapapun akan menundukkan kepalanya.
Sekitar 15 menit menunggu, tidak lama para penghuni playgroup keluar dari dalam dengan di dampingi para guru pembimbing. Anak-anak dengan seragam schoolnya terlihat lucu-lucu dan menggemaskan, sebagaian anak ada yang berlarian menyambut para orang tua dan juga pengasuh yang menjemputnya.
Anin bisa melihat Alea dan Lia berjalan mendekat ke arah mobilnya.
"Mamaaa..." gadis mungil itu terkejut saat Lia membukakan pintu belakang mobil. Ia tampak senang ketika melihat keberadaan Anin di dalam mobil.
"Hai cantik." Anin merentangkan tangan menyambut kedatangannya.
"Mama jemput aku? Papina mana?" Seperti biasa, selalu Dirga yang di tanyakan.
"Papi kerja sayang."
"Ouhh..." bibirnya mengerucut lucu
Gembiranya bukan main saat mengetahui Anin membawanya ke mall. Alea meminta bermain di playgroun dimana dulu ia pernah bermain saat bersama Dirga.
"Lia, kalau sudah selesai, temui saja di sana ya." Anin menunjukkan restoran siap saji yang sangat di gemari anak-anak tidak jauh dari tempat Alea bermain.
"Iya, Nona."
Dalam pengawasan Lia, Anin meninggalkan Alea yang tengah bermain untuk menemui Dewi di tempat makan yang sudah di janjikannya.
Menggunakan Dress selutut tanpa lengan ibu hamil itu terlihat cantik. Kehamilannya yang sudah menginjak 4 bulan, membuat tubuh kurus itu terlihat berisi di bagian pipi dan menonjol di bagian perut.
"Bumiiiilllll...." Dewi menyambutnya dengan suara melengking sangking senangnya, membuat para pengunjung yang sedang menikmati makanannya menengok ka arah mereka. Luapan senang wanita itu tunjukkan, ia senang karena bisa bertemu dan mengobrol lagi dengan temannya.
"Berisiiikkkk Dewi. Kaya di tengah hutan saja." Anin memeluk tubuh wanita yang tidak berubah kelakuannya. Memiliki suara cempreng dan senang berteriak saat bicara dengan Anin.
"Bagai mana kabarmu Wi?" Anin bertanya setelah mendudukkan bokongnya di kursi.
"Sangat- sangat baik An." senyum cerah menghiasi wajahnya
Susah sekali ya mau bertemu dengan istri sultan? Duhh... Sepertinya harus pakai jadwal dan antrian. Ckk Ckk..." Dewi berdecak sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Anin tertawa mendengar ucapan Dewi.
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🙏 terimakasih 😘