Anindirra

Anindirra
Chapter 67



Bukan hanya melihat kamar saja seperti yang di ucapkan. Tetapi melakukan sesuatu yang teramat menyenangkan. Rayuan maut mengatasnamakan ingin memulai program kehamilan, wanita polos itu termakan bujuk rayuan. Imannya sangat lemah, ia tidak bisa menolak saat sang suami menginginkannya lagi.


Untuk kesekian kalinya, pria itu menggauli istrinya. Seakan tidak pernah ada bosannya. Kegiatan itu salah satu aktifitas yang wajib di lakukan selagi ada kesempatan.


Jika biasanya Dirga yang memegang kendali, tidak untuk siang ini. Wanita itu bergerak lincah menari di bawah pusarnya. Dengan dalih ungkapan terimakasih yang di minta suaminya. Wanita itu sungguh tertipu akal-akalan pria yang tengah menikmati kemenangannya.


Dirga mengeram puas, saat lahar panas itu telah menyembur, meluluh lantahkan habis lembah semeru. Ia memeluk erat tubuh polos yang terkulai lemas dalam pangkuannya. Penyatuan itu belum terlepas, keduanya masih menikmati sisa-sisa petualangannya dengan napas yang tidak beraturan.


"Terimakasih, Sayang.. Kamu luar biasa, aku selalu mencintaimu." ia mengecup kening Anin sebelum membaringkannya di tempat tidur barunya.


Anin terbangun ketika suhu ruangan menembus selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya dan menyentuh kulitnya. Tangannya meraba kesamping pembaringan, lelaki yang baru saja membuatnya kelelahan sudah tidak ada di sampingnya.


"Ah, sepertinya aku tertidur cukup lama. Kemana Mas Dirga?" Ia kehilangan pria yang tadi memeluknya dengan hangat.


Anin beranjak bangun masuk kamar mandi yang luasnya menyamai kamar di rumah kontrakannya. Ia menyentuh air yang berbusa di dalam bathup yang sudah tidak terlalu hangat. Bibirnya tersenyum, ia bisa menebak siapa orang yang telah menyiapkannya. Ia segera merendam tubuhnya yang terasa remuk.


Keluar dengan menggunakan handuk kimono, ia duduk di sisi tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya panjangnya dengan handuk kecil. Pandangannya tertuju dengan secarik kertas yang berada di atas nakas.


"Sayang.


Sudah aku siapkan air hangat untukmu. Saat kamu terbangun mungkin suhu airnya sudah menguap menjadi dingin. Aku tinggal sebentar karna harus menemui seseorang. Di bawah sudah ada pekerja yang akan melayanimu.


Love you.. suamimu"


"Pekerja?" Anin segera memakai kembali pakaian yang ia kenakan tadi.


Perlahan menuruni undakan tangga. Ia mencari keberadaan pekerja yang di maksud oleh Dirga. Langkahnya menuju suara dari arah dapur.


"Sore Nona Anin … anda sudah bangun?"


Seorang wanita berumur menyapanya dengan sopan dengan di ikuti yang lainnya.


"Sore.." Anin membalasnya dengan tersenyum. Ia memperhatikan satu persatu para pekerja yang baru di kenalnya.


"Saya Bik Asih Non,"


"Saya Lia, yang akan menjaga Nona kecil Alea."


"Saya, Budi penjaga keamanan rumah ini."


"Saya Agus Non, selain penjaga keamanan, saya merangkap supir Nona Anin."


ke empatnya menunjukkan wajah sumringah. Dan saling mengenalkan diri kepada wanita yang masih syok dengan perlakuan yang baru ia terima.


*


*


*


Di lain tempat. Di salah satu cafe milik temannya yang bernama Diego. Yang tak lain adalah pemilik club yang sering Dirga kunjungi saat menjamu client. Cafe ini juga tempat dimana pertama kali ia bertemu dengan Ratna.


Di private room ini, Dirga duduk berhadap-hadapan dengan laki-laki yang tak lain adalah Andre.


"Menjauhlah dari istriku." Dengan suara tegas ia menyodorkan map yang berisikan surat pengadilan agama milik Anin dan juga hak asuh Alea.


"Tandatangani jika ingin perusahan anda tetap berjalan. Jangan sampai perusahaan itu harus gulung tikar."


"Apa anda mengncam saya?" Andre balik menatap Dirga dengan wajah yang mengeras.


"Anggap saja seperti itu. Saya tidak suka berbasa-basi. Saya tidak akan membiarkan siapapun mengusik sesuatu yang telah menjadi milik saya."


"Tapi Alea darah daging saya. Jangan lupakan itu Tuan."


"Saya tau. Dan saya tau seperti apa anda melepas tanggung jawab dan pergi meninggalkannya. Sudah tertulis dengan jelas. Anda akan bebas bertemu dengan putriku setelah umurnya menginjak 17 tahun. Sebelum menginjak 17 tahun anda tidak di ijinkan bertemu."


"Saya akan melakukan apa saja demi menjaga mental Alea. Saya menginginkan agar tumbuh kembangnya berjalan semestinya. Dia harus tumbuh tanpa di bayang-bayangi oleh kegagalan orang tuanya. Di saat dia sudah siap, kami yang akan memberitahukan kepada Alea, siapa Ayah biologisnya."


Setelah mengetahui Siapa laki-laki yang ada di hadapannya, Andre tidak mampu untuk melawannya. Apalagi sampai harus mempertaruhkan usaha yang telah di bangun dengan susah payah oleh orang tuanya. Dengan terpaksa, ia harus menandatangani surat itu.


"Bisakah saya meminta satu hal Tuan."


"Ya, katakan."


"Sebelum saya kembali ke Surabaya. Saya ingin bertemu Alea. saya berjanji tidak akan menyebut bahwa saya Ayahnya sampai waktu yang di tentukan."


"Baik. Kamu bisa menyimpan nomor asisten saya dan menghubunginya. Jangan menghubungi Anindirra lagi."


Selepas kepergian Dirga dari dalam ruangan. Andre terdiam untuk beberpa saat. Ia masih tidak menyangka, kesalahan yang telah di perbuatnya, di balas dengan sesuatu yang sangat menyakitkan. Ia harus menerima kenyataan, bahwa ia tidak bisa dengan bebas, bertemu darah dagingnya sendiri.


Dengan berat hati ia juga harus merelakan wanita yang masih di cintainya. Seandainya waktu bisa ia putar kembali, ia tidak akan meninggalkan Anin dan juga putrinya. Sungguh ia sangat menyesalinya.


*


*


*


Ratna menghabiskan waktunya malam ini di sebuah club malam di tempat dulu Johan pernah bekerja. Tempat pertamakalinya ia mengenal sebuah club ketika Soni mengajaknya.


Setelah melihat sesi wawancara Dirga melalui dunia maya dan di tayangkan di salah satu stasiun TV. Ia merasa hidupnya hancur, ia tidak memiliki kesempatan lagi untuk kembali dengan Dirga. Di saat cinta itu datang, ia sudah terlambat mempertahankannya.


Sudah lebih dari satu tegukan ia meminum cairan merah yang memabukkan. Ia ingin meluapkan kesedihannya malam ini dengan minuman.


Belum lama, ia harus merelakan Soni karna telah menghianatinya. Dan sekarang, ia harus merelakan Dirga, lelaki yang menikahinya selama 12 tahun.


"Kenapa kalian meninggalkanku brengsek?!" ia mulai mabuk, mulutnya terus meracau. Ia teringat kembali, saat menyaksikan Soni sedang berada di atas tubuh seorang wanita, yang lebih muda darinya di dalam apartemen tempat mereka memadu kasih.


Ingatan itu berputar di kepalanya. Ia mempertaruhkan rumah tangganya demi cinta pertamanya. Ia sangat tergila-gila dengan laki-laki itu. Cinta itu bersemi saat pertama kali ia menginjakkan kaki di universitas ternama. Menjadi sepasang kekasih, mereka selalu bersama-sama, dimana ada Ratna pasti ada Soni.


Laki-laki itu selalu menemani hari-harinya. Mengenalkannya dengan dunia malam. Dan, laki-laki itu juga yang telah merenggut kehormatannya.


Setahun sempat di tinggalkan olehnya. Laki-laki itu datang kembali di saat ia sudah menjadi istri Dirga.


"Brengsek kamu Son! Gara-gara kamu aku harus kehilangan Dirga." ia tertawa menyedihkan, dengan mata memerah karna minuman.


Seorang pria datang mendekat kepadanya. "Hentikan Ratna, kamu sudah mabuk." pria itu menjauhkan botol minuman dari meja.


"Mabuk?" ia tertawa kencang.


"Aku tidak mabuk." dengan mengelengkan kepala, menggoyangkan telunjuk di depan dadanya.


"Aku wanita yang kuat. Aku tidak akan kalah dengan minuman apa lagi kalah dengan wanita lain. Kamu tau? Aku Ratna Diyanti, aku akan selalu memenangkan segala permainan."


"Hentikan Ratna. Ayo, aku antar pulang."


"Aku tidak ingin pulang!" ia terus berteriak.


"Aku membutuhkan minuman itu. Tolong berikan padaku."


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🙏🤗


Terimakasih 😘