
Dua bulan kemudian di negara bagian Eropa. Sepasang suami istri tengah berkelilig di lima kota dengan segala keindahaan dan keunikannya, masing-masing tempat memberikan pengalaman traveling yang mengesankan. Banyak destinasi menarik yang telah di kunjunginya sepasang suami istri itu.
Di awali dari kota Paris, Prancis. Sebagai kota yang romantis, Anin dan Dirga melewati Katedral Notre Dame di mana Napoleon dinobatkan menjadi Kaisar, Museum Louvre yang merupakan tempat lukisan Monalisa asli di simpan, Champs Elysees sepanjang 2 km yang sangat terkenal di paris dan tentunya Menara Eiffel yang menjadi ikon Negara Prancis.
Zurich, Swiss. Negara yang terkenal dengan pemandangan gunung Alpen yang sangat indah memukau.
Berlanjut ke Kota Roma, Italia. Kota yang menawarkan bangunan yang megah nan eksotik, terdapat bangunan kuno bersejarah yang sangat menarik seperti Colloseum dan masih banyak lagi.
Dan di sambung ke Kota yang tak kalah menawannya. Brussel, Belgia. Kota yang terletak di antara belanda dan Perancis sehingga membuat wanita hamil yang tampak energik itu ingin melihat Mankin Piss yang merupakan lambang Kota tersebut dan Grand Place yang merupakan alun-alun Kota tua Brussel.
Tak lupa, ia memborong banyak rasa dan merk coklat terkenal Chocolaterie Manekin Pis yang langsung di kirim ke Indonesia.
Dan yang terahir Kota Amsterdam, Belanda. Kota yang menyuguhkan tatanan dan pemandangan kota yang begitu indah, salah satunya pasar bunga terapung , kincir angin, hingga yang membuat wanita itu tersenyum sangat bahagia, ketika Dirga membawanya ke pabrik pengasahan berlian.
"Kamu senang? Sayang.."
"Yes, Papi.. I'm Happy.." Anin bicara sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Dirga dengan manja, wanita hamil dengan perut bulat yang semakin besar, dan sebentar lagi akan menginjak 7 bulan itu, tampak cantik dan menggemaskan.
Wajahnya berseri-seri secerah mentari. Begitupun dengan Dirga Pria itu sudah jauh lebih baik, ia sudah tidak mengalami kecemasan yang berahir dengan mimpi buruk. Tetapi Dirga tetaplah Dirga, dia akan bersikap posesif dan manja kepada istrinya. Dan tetap menjadi pria pencemburu.
Saat ini, pasangan itu tengah berada di atas perahu di sungai Amstel. Sebuah sungai di provinsi North Hollan di Belanda.
"Apa hukumanku sudah berahir, Nyonya? Aku sudah sangat merindukan Babbyku.. Aku rasa, malam ini aku harus menjenguknya, aku khawatir dia akan melupakanku dan jangan sampai melupakanku.."
"Hukumanmu sudah berahir, Papi.. sekarang pun Babbymu sudah sangat ingin di kunjungi.."
"Benarkah?" Wajah cerah terpancar indah di wajah Dirga,
"Navigate this boat to the nearest hotel."
( arahkan perahu ini ke hotel terdekat )
Dirga bicara kepada pria yang tengah berdiri mengendalikan perahu di atas sungai dengan pemandangan bangunan ber-arsitektur klasik khas belanda yang tertata rapi sejak ratusan tahun lalu.
Sepanjang jalan merupakan bangunan perkantoran dan apartemen tunggal yang berdempetan dan di selingi oleh bangunan yang cukup besar Hall Kota atau Gereja.
Yes Sir ( baik Tuan )
©©©©©
Dirga memboking kamar hotel dengan pelayanan super fantastis dengan mendapatkan kenyamanan nomor satu. Setelah mendapatkan kunci, seorang pria berkemeja putih ber-jas rapi dengan dasi kupu-kupu, mengantarkan sepasang suami istri yang tengah meletup-letup,
Tak sabar ingin segera sampai ke dalam kamar, keduanya berjalan bersisian dengan binar cinta, dengan tangan saling bertautan tak terlepaskan. Pasangan itu ingin segera menuntaskan hasrat yang sudah memuncak. Setiap detik, setiap menit, setiap waktu, rasa cinta itu semakin bertambah besar tak kunjung ada habisnya, layaknya sepasang remaja yang tengah merasakan jatuh cinta.
Sesampainya di dalam kamar luas nan megah, tanpa berbasa basi Dirga langsung mengeluarkan lembaran Euro sebagai tip, agar pelayan hotel segera keluar meninggalkan kamar.
Thank you Sir ( terimakasih Tuan )
Pelayan itu membungkuk, segera meninggal pasangan yang sedang di mabuk asmara setiap harinya.
Dirga membantu wanita hamil itu melepaskan seluruh pakaiannya tanpa tersisa, dengan terburu-buru bak di kejar waktu, ia pun segera melepas kemeja dan celana yang di kenakannya, dan melemparkan ke sembarang arah, hingga keduanya sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang.
"Nghh... Masss..." suara mendayu manja itu terdengar indah di telinga, semakin menambah hasrat dan nafsu yang tengah berkobar, lenguhan dan des*han mulai menggema memenuhi seisi ruangan.
Wanita hamil itu, tengah memiliki gairah se*s yang tinggi akibat perubahan hormon yang melonjak, sehingga Anin menyambut tak kalah agresif dengan sang pria, wanita itu bahkan semakin lincah membalas mencumbu pria yang mulai mengerang mendapatkan serangan balik dari sang wanita.
Tak ingin menyakiti Baby Boy yang akan di jenguknya. Dirga memilih posisi aman saat berhubungan, walau sebenarnya ia sangat menginginkan bermain kasar saat menggauli istrinya untuk meluapkan segala rasa dan kenikmatan.
Memilih posisi berbaring miring menuju satu arah dengan sang wanita, dan menyamping menjadi satu.Tak lupa, Dirga menaruh bantal di bawah perut dan di belakang punggung, dengan mengangkat kaki sang wanita pria itu mulai menancapkan paruh panjang sang gagak yang sangat tajam dengan membenamkan sepenuhnya.
"Ohh... Sayang, kamu semakin bertambah nikmat." Pria itu meracau saat mulai menghentakkan dan merasakan milik wanita hamil itu semakin meremat dan mengapit kencang miliknya, wanita hamil itu sungguh sangat mengairahkan. Membuat Dirga hampir kehilangan kontrolnya.
"Ahh..., Sayang... Kenapa kamu semakin seksi, rasanya sangat berbeda, Sa-yaanghhh... Aku semakin men-cihhntai …muhhh.... Ahhh...." Pria itu terus menyanjung, mengeluarkan kata-kata cinta di tegah-tengah permainannya..
Gempuran itu semakin cepat, dengan tangan Dirga yang berusaha menggapai benda kenyal agar bisa merematnya.
Tak mau kalah, wanita itu juga balik menyanjung sang kekasih hatinya..
"Kamu juga semakin kuat dan per …kasaahhh, Mas.." Anin bicara dengan tersendat, matanya mulai sayu dengan mengigit bibirnya. "Emhhh... kamu membuatku tak bisa menolaknya."
Tak puas dengan satu gaya, Dirga meminta Anin untuk berposisi misionaris, bercinta di tepi kasur dengan posisi Anin yang masih terlentang dan posisi Dirga yang berdiri karena di tunjang dengan ketinggian tempat tidur yang pas.
Pria itu terus bergerak dengan sesekali mengecup perut yang tampak bulat, agar kaki sang istri tak menjuntai ke bawah, ia mengangkat kakinya dan meletakkan di pundaknya...
"Sayang, aku tidak bisa berhenti." ~ Dirga
"Ya, aku tau... Kamu memang luar biasa, Mas.." ~ Anin
"Milikmu, mengigit milikku.." ~ Dirga
"Kamu menyukainya, Mas?" ~ Anin
"Ya, sangat." ~ Dirga
"Kalau begitu kamu harus lebih cepat." ~ Anin
"Kamu yakin?" ~ Dirga
"Sangat, yakin. Baby Boymu sangat kuat seperti Papinya."
"Baiklah.. Jangan meminta aku untuk berhenti, Sayang.. Kamu tidak bisa menarik kata-katmu lagi.."
"Ohh, aku menunggumu Papi Boy.. Cepat lakukan.. Aku sudah tidak tahan."
****
Bersambung ❤️
Jempolnya ikut bergoyang yaa.. Tinggalkan jejaknya di detik-detik terahir perjalanan Anindirra
Terimakasih 😘