
Dua hari sudah berlalu dari terahir pembicaraannya dengan Mama Diana, Sinta pun telah kembali ke Surabaya. Selain masa cutinya telah habis. Wanita itu berencana akan mengurus kepindahannya ke Jakarta.
Andre bertekad akan berusaha mengikhlaskan Anin walaupun sulit. Mengenai Alea, ia berencana akan menemui Dirga di kantornya.Tanpa harus melalui sambungan telfon, ia akan meminta ijin langsung kepada ayah sambungnya untuk bertemu dengan putrinya sesuai yang di janjikan.
Ia berniat ingin membangun hubungan baik, berharap suatu hari nanti, ia bisa mendapatkan kelonggaran untuk bertemu putrinya.
Sudah merasa lebih tenang, Andre merilekskan tubuhnya dengan menghempaskan bokongnya ke kursi kerja dengan menyandarkan punggung kepalanya. Memejamkan mata, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak.
Tetapi tidak lama kemudian, kepala bagian operasional masuk dengan membawa kabar yang mengejutkan.
"Sampai waktu yang belum bisa di tentukan perusahaan kita tidak bisa memberangkatkan para wisatawan. Dan beberapa transportasi yang siap beroperasi harus di hentikan Pak."
"Sebagian dari para pengguna jasa kita, minta di kembalikan uangnya." pria itu menyerahkan selembar kertas di dalam map kepada Andre sebagai pimpinan.
"Ada masalah apa? Bukankah sudah terselasaikan masalah pemberangkatan yang tertunda kemarin?"
Andre membaca dengan teliti yang tertulis di atas kertas, Andre nampak binggung. Setaunya Lembang Tour & Travel miliknya tidak melakukan kesalahan dan melanggar hukum.
"Surat ijin untuk Biro Perjalanan Dan Wisata di cabut oleh Lembaga OSS.
Apa alasannya? Saya belum mengetahuinya dengan jelas Pak. Saya baru saja mendapatkan surat pemberitahuan itu."
Belum hilang rasa kagetnya. Sekertarisnya masuk ke dalam ruang kerja Andre. "Maaf, Pak Andre, ada yang ingin bertemu dengan Bapak."
"Siapa?"
"Perwakilan dari WJ Group."
"WJ Grup?" seingatnya, bukankah WJ Grup itu milik Dirga.
"Suruh masuk."
Pria berpenampilan rapih dengan kemeja hitam itu masuk ke ruangan tanpa ekspresi di wajahnya. Ia berdiri tegap di hadapan Andre, terhalang oleh meja kerja.
"Silahkan duduk."
"Tidak perlu Pak Andre. Saya tidak akan lama, saya datang kemari hanya ingin menyampaikan pesan Tuan Dirga."
"Tuan Dirga?" tiba-tiba Andre merasa tidak tenang.
Pria utusan itu meletakkan amplop coklat besar di atas meja kerja Andre.
"Saya sarankan anda tidak melangkah lebih jauh lagi. Jika anda melanggarnya, anda akan menerima konskuensinya. Kejadian hari ini hanya untuk peringatan saja! Permisi."
Andre membuka amplop besar itu masih dengan pikiran bingung stelah Pria itu keluar meninggalkan ruangannya.
Tampak jelas raut wajahnya kecewa, tangannya mengepal menahan emosi yang meluap-luap. Ia sangat menyesal kenapa harus memberitahukan kepada Mamanya dimana Alea bersekolah. Ia mengeluarkan beberapa foto yang memperlihatkan keberadaan Mamanya tengah berdiri di depan pintu gerbang sekolah.
Begitupun dengan foto yang lainnya. Tampak Diana sedang berbincang dengan salah satu security sekolah.
Flashback.
Setelah mengorek informasi tentang Alea. Keinginannya untuk bisa bertemu dengan Gadis kecil itu mengebu-gebu. Selain itu, Andre juga sudah menceritakan tentang penyakit jantung bawaan yang di deritanya sebelum menjalani operasi.
Ia tidak menyadari tindakannya dulu. Saat ini, yang ia rasakan hanya keinginannya untuk bertemu dan memiliki cucu.
Tidak mengindahkan ucapan putranya, Diana nekat mendatangi Bambino Preschool dimana tempat Alea belajar. Ia sampai rela berdebat dengan salah satu security karena tidak di ijinkan masuk ke dalam gedung.
"Saya ini Neneknya! Saya ingin bertemu cucu saya Alea. Dia putri dari anak saya Andre, pemilik dari Lembang tour &travel."
"Tidak ada nama Alea dengan wali murid bernama Andre Bu."
"Apa perlu saya berikan kartu tanda pengenal saya? Saya ini bukan penculik. Saya ini benar-benar Neneknya." Diana sangat kesal saat security tidak mempercayai ucapannya.
"Ibu bisa meminta ijin dulu kepada kepala yayasan. Nanti pihak yayasan yang akan mengkonfirmasi kepada orang tua. seperti itu Bu prosedurnya."
Selain memang karena peraturan. Dirga sudah berkoordinasi sebelumnya dengan pihak yayasan, selain keluarga dan pengasuhnya, ia tidak mengijinkan siapapun menemui Alea. Ia juga telah menempatkan keamanan untuk menjaga dan melaporkan jika terjadi sesuatu yang membahayakan.
*
*
*
"Mama puas Ma? Mama sudah membuat usaha kita kacau!" Andre menyerahkan kepada Diana surat ijin usahanya yang di Block sementara waktu. Bukan hanya itu saja, kemungkinan akan menjadi sulit untuknya bisa bertemu dengan Alea.
Sebelumnya.
Setelah mengetahui penyebab dari masalah di perusahaannya, Andre segera menyambar kunci mobil dan pulang ke rumah untuk menemui Diana.
"Apa Mama salah Ndre? Kalau menginginkan bertemu dengan cucu Mama? Mau bagai manapun darah Herlambang mengalir di tubuh Alea. Mereka tidak berhak menjauhkannya dari kita. Apa lagi pria itu hanya ayah sambung."
"Tidak salah Ma, Andre bisa memahami perasaan Mama. Tetapi kita harus menyadari kesalahan yang telah kita buat Ma. Ini hukuman untuk Andre, bukan saja karena Mama meminta Andre meninggalkan Ibunya. Tetapi kita tidak mengenalnya dari Bayi. Begitupun sebaliknya, Alea tidak mengenal kita."
"Kita sudah tidak berlaku adil bukan hanya kepada Anin. Tapi kepada Bayi merah itu. Cobalah untuk bisa memahaminya Ma.. Andre mohon. Sekali ini saja Mama mengerti." Andre menjatuhkan kedua lututnya bersimpuh di hadapan Diana denga posisi wanita itu duduk di sofa.
Di gedung Wijaya Grup
"Sudah selesai Tuan. Saya menunggu perintah selanjutanya." Pria yang menjadi utusan Dirga itu memberikan laporan yang terjadi di perusahaan Andre.
"Cukup. Sejauh ini sudah cukup. Saya puas dengan hasil kerjamu dan anak buahmu di lapangan. Kita hanya tinggal menunggu. Pantau terus."
"Baik Tuan. Kalau begitu saya ijin keluar." Membungkukkan badan, pria itu keluar bersamaan dengan wanita masuk ke dalam ruangan. "Nyonya.." pria itu menyempatkan menyapa dengan hormat.
"Mas.." suara mendayu terdengar indah di telinga. Wanita hamil yang tengah di tunggu-tunggunya, menampakkan diri masuk ke dalam ruangan. Siang ini, sepasang suami istri itu berencana akan makan di luar.
Dengan wajah sumringah, Dirga menyambutnya dengan uluran tangan. "Kemari, Sayang. Dirga meminta Anin agar mendekat kepadanya.
Ia mendudukkan wanita hamil itu ke atas pangkuannya. "Kenapa lama sekali?" Dirga bertanya setelah menciumi seluruh wajah Anin.
"Lama?" Anin memegang pergelangan tangan Dirga yang terpasang jam mahalnya. "Lebih cepat 10 menit Mas.."
"Bagiku sangat lama, karena aku sudah tidak sabar ingin segera bertemu." tangannya melingkar di pinggang sambil mengelus perut yang sudah membuncit.
"Baby Boy ingin makan apa hari ini?" tangannya menelusup masuk dari bawah pakaiannya.
"Mas mau apa?" Anin menahan tangan yang mulai tidak bisa diam, mengusap perutnya dari dalam pakaian yang tersingkap.
"Aku ingin menyapa Anakku. Sebelum bertemu nanti malam." menundukkan kepala, Dirga menciumi perut yang terlihat seksi menggairahkan.
"Bertemu? Memangnya siapa yang mau bertemu?" Anin mengoda suaminya dengan berpura-pura tidak mengerti. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Dirga dengan manja.
"Sayang, jangan menunda lagi. Minggu kemarin sudah 4 bulan."
"Memangnya kenapa kalau sudah 4 bulan? Oh.. Iya, aku lupa. Sudah waktunya kontrol ke Dokter Arum."
Sadar sedang di goda istrinya. Dengan gemas Dirga mengigit dagunya.
****
Bersambung ❤️
Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🤗 terimakasih 🙏😘