
"Apa anak-anak kita tidak akan turun untuk sarapan bersama?" Amanda bertanya takala kedua pasangan suami istri belum juga turun dan ikut bergabung di meja makan.
"Sepertinya dua pasangan itu akan datang telat dan lupa waktu hingga melupakan kita semua yang berada di meja makan ini." Arleta bicara dengan mulut penuh makanan.
"Arleta.. Habiskan dulu makanan di mulutmu baru bicara." Mommy Alyne mengingatkan putri dari kakak lelakinya itu. Wanita itu sedikit ceplas ceplos. Arleta sepupu Dirga yang juga sama tinggal di indonesia.
Papa dan Mamanya tidak bisa hadir karena pekerjaannya. Orangtua Arleta menetap di negara Eropa, mengurus proyek baru milik Dirga yang sudah mulai berjalan empat bulan yang lalu. Ahmad Latif Sam, kakak pertama dari Alyne Latifah. Berkewargaan negara singapore keturunan melayu asli dan mereka hanya dua bersaudara. Berbeda dengan Bastian yang memang anak tunggal dari saudagar emas dari kota kalimantan.
Di saat Diego tengah memperhatikan Lia sang pengasuh Alea. Seorang wanita di hadapannya tengah mencuri-curi pandang memperhatikannya. Chatrin, sahabat sekaligus patner kerja Stella, dari mulai semalam di saat pesta berlangsung, kehadiran pria itu sudah mencuri hatinya. Tetapi pria penjaja cinta itu tidak menyadarinya ataw memang berpura-pura tidak menyadarinya. Pandangan matanya terap fokus memperhatikan gadis manis berkulit exotic yang selalu bersama Alea. Entah kenapa, Diego merasakan gadis itu berbeda dengan wanita yang selama ini di kenalnya, tiba-tiba hatinya tergerak, ia sangat penasaran dan ingin mengenal Lia.
Sedangkan di meja yang di tempati Lia. Gadis itu tidak menyadari kalau ia sedang di perhatikan. Ia serius menyantap nasi lemak sebagai menu sarapannya bersama para rekan yang lainnya. Mereka ngobrol bersenda gurau meledek Agus di sela-sela makannya. Mereka semua tertawa kala mengingat tragedi di dalam pesawat.
"Jangan lupa Gus. Tali rapia." Budi mengingatkan.
"Tidak perlu tali rapia, tetep akan bocor Bud. Banyak para pembaca yang menyarankan memakai pampers." Bik Asih menyela.
"Kemana harus mencari pampers disini Bik?" dengan polosnya agus bertanya. Ia masih tidak nyambung kemana arah pembicaraan.
"Kamu cari di bengkel onderdil burung di daerah sini." Pak Dadang ikut berkomentar.
"Memang ada?" sepertinya amnesia masih menyerang otak kanan dan otak kiri Agus.
"Ada! Jangankan pempers, kamu mencari alat pemotong burungpun banyak."
"Hihh..." reflek Agus memegang burungnya. Ia bru menyadari apa yang di maksud Pak Dadang.
"Enak saja! Ini aset berhargaku tau." Agus bersungut-sungut merasa di kerjai rekan-rekannya.
Makanya di jaga. Punya aset berharga tapi sudah bocor!" Bik Asih bicara sambil mendelikkan matanya.
"Nama juga neuvous." Agus membela diri.
Lia hanya terkikik geli hingga sampai tersedak. Ia segera berlari hendak mengambil air putih di meja berbeda, meja yang di khusukan meletakan hidangan dan minuman.
"Minumlah." seorang pria menyodorkannya segelas air putih.
Tanpa menolak dan melihat siapa yang memberikan Lia langsung menenggak sampai tak tersisa segelas air putih yang ia terima.
"Teimakasih Tuan." ia baru menyadari dan melihat siapa pria yang berdiri di hadapannya. Yang ia tau pria itu sahabat dari Tuannya. Merasa sungkan takut di anggap tak sopan Lia langsung berbalik ke mejanya. "Permisi Tuan."
Saat semuanya sedang bercengrama, mengobrol, membahas banyak hal sambil menyantap hidangan, pasangan pengantin baru itu muncul, membuat para orangtua dan sahabat tersenyum menyambutnya.
"Aku kira kamu tidak akan sanggup turun ke bawah Bay.." Diego menggoda sepasang pengantin itu setelah kembali mengambil air putih yang juga di inginkannya hingga membuat yang lainnya tertawa.
Mengambil satu anggur, Bayu melemparkannya ke arah Diego dan berhasil di tangkap olehnya sebelum mengenai kepalanya.
"Tanyakan itu juga pada Dirga." Bayu menyadari Dirga dan Anin juga belum datang untuk sarapan.
"Dia tidak akan berani, bisa-bisa di jadikan mumi untuk di jadikan pajangan di hotel ini." Hendra meledeknya.
"Damn you !" Diego membalas ucapan Hendra
Tampak Stella malu-malu, masih terekam dengan jelas saat mandi tadi, Bayu menggarapnya lagi di dalam kamar mandi. Hingga membuat keduanya telat turun ke bawah. Hasrat yang menggebu terasa belum terpuaskan dari malam hingga ke pagi. Saat bangun tidur. Bayu ikut menyusul saat Stella akan membersihkan diri.
( dan part ini tertolak hingga tidak ada yang mengetahuinya 😭 )
"Makan yang banyak Ste. Biar staminamu kuat, masih ada ronde berikutnya." Bayu berbisik di telinga Stella. Membuat wajah wanita itu bersemu merah. Ia sangat malu kalau ucapan Bayu akan terdengar yang lainnya.
Tetapi pria itu sebelas duabelas dengan Dirga. Sepertinya urat malu sudah terputus sejak lama. Ia bicara dengan cueknya, tak memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
"Papi Ea mana oma? Napa belum tulun?" Alea bertanya ketika Dirga dan Anin belum bergabung di meja makan.
"Sebentar lagi sayang. Alea sam oma dan opa dulu ya.."
"Bagaiman sekolahnya? Apa sangat menyenangkan?" Bastian mulai mengintrogasi sambil menikmati kudapan yang tersedia di atas piringnya. Sesekali pria tua itu menyuapi kue yang ia makan ke dalam mulut Alea.
"Cenang Opa.. di cekolah seluuu... Ea cudah punya banyak teman-teman." gadis kecil itu mulai bercerita kesehariannya di sekolah.
"Sudah Mas, ayok cepetan turun.. Babbymu ini sudah sangat lapar." Anin cemberut merajuk kepada pria yang masih meringkuk manja dengan merebahkan kepalanya di pangkuan Anin.
Sehabis mandi pagi, pria itu masuk kembali ke dalam selimut dengan menarik Anin ke dalam dekapannya. Ia bermanja-manja dengan meminta Anin agar mengelus rambutnya.
"Sebentar, Sayang. Aku masih ingin seperti ini." mendusel perut Anin yang duduk bersandar di headboard ranjang dengan ukuran luas itu.
"Kalau kita turun kamu akan sibuk dengan Mommy. Hari ini Mommy akan membawamu berbelanja dan aku tidak mau berjauhan denganmu."
Sebelumnya Alyne sudah bicara kepada Dirga akan mengajak Anin pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di negri ini.
"Kenapa dengan Mommy harus cemburu Mas? Pasti tidak akan lama. Kita jarang bertemu dengan Mommy, jadi biarkan waktuku hari ini bersama Mommy. Ok."
"No, Sayang... Jangan lama-lama. Aku akan menunggumu." sudah seperti anak kecil, pria itu tidak mau di tinggal Anin barang sebentar.
"Tapi aku sudah lapar, Mas." wanita itu harus memiliki extra sabar menghadapinya.
"Pesan saja makanan, minta di antar ke dalam kamar. Kamu bebas memesan apapun."
"Ishh... Aku ingin sarapan bersama dengan seluruh keluarga di bawah. Aku bosan berada di dalam kamar. Aku butuh udara segar. Kita juga belum beretemu Alea. Kalau Mas tidak mau, biarkan aku saja yang turun ke bawah."
"Baiklah-baiklah, kita akan turun ke bawah. Tapi kamu harus berjanji, jangan terlalu lama pergi bersama Mommy."
"Ya ampun, Mas.. Mas bicarakan itu dengan Mommy.."
Dirga beranjak dari tempat tidur, masih menggunakan kaos oblong dan celana pendeknya.
"Mas, tidak ganti pakaian?"
"Tidak. Percuma berganti pakaian kalau kamu tidak menemaniku."
"Haiss... Ckk..." Anin menggelengkan kepalanya. Ia menarik Dirga agar duduk di sofa.
"Duduk."
Anin mengambil kaos berkerah dan celana denim milik Dirga.
"Angat tangannya Mas." Anin membantu melepaskan kaos oblong yang di kenakan suaminya dengan berdiri di antara kedua paha Dirga.
Pria itu menurut dengan mengangkat tangannya. Ia memakai kaos ganti yang di pakaikan Anin, setelah itu ia merangkul pinggang dengan menempelkan hidung dan bibirnya di depan perut Anin.
"Mas, hentikan! Jangan mengadu ke anakmu kalau akan di tinggal shopping oleh Maminya."
"Ternyata Mamimu tau isi kepala Papi Boy.." Pria itu berbisik di perut Anin.
Anin hanya bisa tersenyum melihat kelakuannya. Sekesal apapun dengan keposesifan pria itu, ia sangatlah mencintai dan menyayangi suaminya. Ia tidak bisa merajuk lama apa lagi sampai mendiamkannya. Hatinya sudah sepenuhnya milik Dirga.
"Sebentar lagi Mami akan meminta Papi mengganti celana." Dirga masih berinteraksi dengan Babbynya.
"Mas, ayok berdiri, ganti celanamu."
"Tuhh kan... Ucapan papi benar Boy.. Mamimu pagi ini sangat cerewet..."
"Tapi membuat Papi selalu jatuh cinta."
Bersambung ❤️
Jempolnya jangan terlewat yaa 😍 terimakasih 🙏