
Setelah menghabiskan waktu selama 2 bulan di negara Eropa dengan mengelilingi banyak kota, kini pasangan suami istri itu harus kembali ke tanah air tercinta. Kehamilan Anin yang sudah menginjak 7 bulan lebih, bersamaan dengan ulang tahun Alea dan juga ulang tahun perusahaan.
Dirga sudah berkoordinasi dengan Bayu bahwa, perayaan tahun ini akan di adakan family gathering yang akan di adakan di puncak, dengan mengundang anak-anak panti asuhan dari beberapa yayasan di bawah naungan Wijaya Grup.
Selama perusahaan Wijaya Grup berdiri, perusahaan itu menjadi donatur tetap dari beberapa yayasan panti asuhan resmi dan bersertifikat. Dirga dan Anin sepakat ingin menggabungkan perayaan ulang tahun perusahaan dengan ulang tahun Alea, dengan mengajarkan putrinya untuk saling berbagi bersama anak-anak yatim piatu dan menanamkan rasa sosial dan empati.
Kurang lebih 7 jam mengudara di cakrawala dengan cuaca cerah tanpa awan yang menghitam. Pesawat yang membawa sepasang suami istri itu sudah mendarat dengan selamat di landasan Bandara Soekarno Hatta tepat pukul 4 sore waktu indonesia bagian barat.
Turun dari tangga pesawat pribadi-nya Anin dan Dirga sudah di sambut oleh Bastian, Alyne dan juga Alea. Sedangkan Bu Rahma akan datang besok dari Solo menuju Jakarta.
"Papi... Mamiii..." Alea melambaikan tangannya. Ia berlonjak kegirangan, gadis kecil itu tampak senang menyambut kedatangan orang tuanya yang sudah sangat di rindukannya.
"Hai girl.." Dirga mengangkat, memutar tubuh kecil itu dan menciumi pipi gembulnya. Hingga membuat Alea tertawa bahagia.
"Hai Pih, Ea.. Lindu Papi.." Alea balas mengecup kedua pipi Dirga. Setelah putaran itu berhenti.
"Sepertinya gadis Papi bertambah berat?"
"Ea, cudah besal Papi.. Sebental lagi Ea ulang tahun. Umul Ea tambah satu."
"Sama Mami tidak rindu ya.. Asik bener ngobrol sama Papi? Mami sama Dedek di cuekin.." Anin bicara dan berpura-pura merajuk, setelah ia lebih dulu menyapa Mommy Alyne dan Daddy Bastian.
"Lindu juga Mamiii..." Alea tertawa dalam gendongan Dirga, dan mencium kedua pipi Anin.
"Bagaimana perkembangan cucu Mommy di dalam sini?" Alyne bertanya sambil mengusap perut Anin.
"Alhamdulillah sehat, Mom.. Sebelum kembali ke indonesia, kami menyempatkan datang ke rumah sakit saat kami kembali ke paris, kami mengunjungi Dokter kandungan untuk memeriksakannya."
"Mommy senang mendengarnya, Nak, begitupun dengan kondisi putra Mommy, Mommy dan Daddy sudah bisa bernapas dengan lega, menerima kabar Dirga sangat jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Ya, Mom.. Ini semua karena doa dari Mommy dan Daddy.. Kami sangat berterimakasih untuk segala bentuk dukungan dan suport yang kami terima.
"Selamat datang Tuan, Nona.." Pak Dadang turut menyapa,
"Sehat, Pak Dadang?" Dirga bertanya.
"Alhamdulillah Tuan. Seperti yang Tuan lihat. Saya sangat sehat." Pak Dadang membukakan pintu untuk Tuannya.
©©©©©
"Mami apa dedek Bayina sudah besal?"
Alea bertanya saat sudah berada di dalam mobil menuju rumah, gadis kecil yang sebentar lagi akan menjadi Kakak itu duduk di belakang dengan mengusap-usap perut Maminya.
"Dedek bayinya sudah besar.. Adek ingin cepat bertemu dengan Kakak Alea." Anin bicara mengikuti suara anak kecil hingga membuat Alea cekikikan.
"Papi, apa Dedek Bayina suka main boneka plincess sepelti Kak Ea?" Alea bertanya kepada Dirga yang duduk dikursi tengah di samping Alyne..
"No girl … adek bayi akan main Bola dan tembak-tembakkan."
"Yaahhh..!! Gak seluuu donkk.. Pada'al Ea sudah siapin Balbie Ken."
"Alea main bonekanya sama Opa saja ya."
Bastian ikut menimpali ucapan cucunya dari kursi depan di samping Pak Dadang.
Alyne tertawa mendengar ucapan jujur dari mulut cucunya, selama berada di Indonesia, kedua pasangan senja itu tidak lepas mengawasi, menemani, dan menjaga gadis kecil itu.
Alea sering meminta Bastian agar menemaninya bermain rumah-rumahan di lantai bawah ruang keluarga dengan koleksi bonekanya, dan pria tua itu, akan berahir tertidur di atas karpet bulu saat gadis mungil itu mengoceh, bercerita, memainkan peran para bonekanya.
Karena kesal di tinggal tidur, Alea meminta spidol kepada Lia, dan mulai mengambar kumis kucing dan tanduk di kening dan wajah Bastian
"Opa tidak tidur... Hanya ketiduran sayangnya Opaaaa..." Pria tua itu mengeles mencari alasan.
"Sepertinya kamu sangat menikmati, menjadi korban lukisan cucumu lagi pak tua?" Alyne bicara dan belum berhenti tertawa membayangkan hasil coretan di wajah suaminya.
©©©©©
Tiba di rumah, pasangan itu di sambut oleh semua para pekerja …wajah-wajah polos itu tampak tulus, tampak senang, dengan kembalinya tuan rumah yang mereka sayangi dan di tunggu-tunggu.
Selama bekerja bersama Dirga dan Anin, mereka semua di perlakukan dengan baik, manikannya itu tidak membedakan dalam hal apa pun walaupun berbeda tempat, contohnya seperi memberi makan. Apa yang di sajikan di meja Tuannya, akan sama seperti yang di sajikan di meja makan pelayan. Selain gaji yang di terima setiap bulan, mereka juga mendapat tunjangan, bahkan, tiap bulannya Anin sering membelikan mereka pakaian
"Selamat datang Nona." Bik Asih tampak berkaca-kaca.. Begitupun dengan Lia dan yang lainnya. Mereka sangat antusias melihat kandungan Anin yang semakin membesar dan sehat, berpisah selama dua bulan tertanam kerinduan di hati para pekerjanya.
"Bibik, sehat? Semuanya juga sehat kan?"
"Alhamdulillah kami semua sehat, Non."
Serempak, semuanya menjawab bersamaan.
Untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya yang baru tiba di tanah air, Bastian ingin menjamu, mengundang para sahabat dan rekan untuk hadir dan bercengkrama bersama melepas kerinduan. Ia meminta Alyne menyiapkan daging kambing dan ayam sebagai santapan malam ini. Bukan barbeque-an sebagai menu sajian yang akan di sediakan, tetapi sate-an yang di gelar di taman dekat kolam renang.
Bik Asih sudah menyiapkan bumbu kacang dan bumbu kecap sebagai pelengkap. Memberi tugas kepada Agus dan Budi sebagai tukang sate dadakan yang akan mengipa-ngipas sampai matang, bersama tukang kebun yang meracik, menusuk daging yang sudah di potong-potong berbentuk bulatan.
Memilih menu bakar-bakaran, karena wanita hamil itu sangat menginginkannya, selain itu Anin juga merindukan sate sebagai makanan cita rasa asli indonesia. Selama di luar Negeri, ia banyak merindukan makanan nusantara yang sesuai dengan lidahnya, yang mampu mengalahkan masakan mahal yang di santapnya selama berada di Negara Eropa. Tak ketinggalan Bik Asih juga memasak sop iga kesukaan Dirga,
Kudapan dan minuman juga sudah tertata rapi di atas meja yang berada di taman.
Pasangan pengantin Bayu dan Stella pun sudan hadir di kediaman Dirga. Sepasang pengantin itupun tengah berbahagia, tak lama dari kepulangan mereka berbulan madu di raja ampat, Stella di nyatakan hamil dan masih masa trimester pertama. Bayu cukup kerepotan dengan ngidamnya Stella, wanita hamil itu paling senang melihat suaminya makan dari apa yang di lihat dan di inginkannya. Hingga Bayu harus bisa menyempatkan dan membagi waktu di tengah kesibukannya untuk berolah raga.
"Hai Stella.. Selamat ya.. Semoga sehat dan di lancarkan." keduanya wanita hamil itu saling berpelukan melepas rindu.
"Untukmu juga Anindirra.. Tidak terasa ya, kandunganmu sudah mendekati 8 bulan."
"Tepatnya 28 minggu lewat 10 hari Stella.." Anin menjelaskankan.
Anin dan Stella, berbincang-bincang memisahkan diri, saat para pria mengobrol, berkumpul bersama di gazebo di antara taman dan kolam renang.
Hendra dan Diego datang 10 menit setelah kedatangan Bayu dan Stella, tak lama di susul dengan kehadiran Radit sang asisten baru yang membawa Siska sehabis bertemu client mewakili Dirga.
"Selamat datang Nona." Siska menyapa. Sang sekertaris itu, memilih bergabung dengan para wanita yang tengah duduk di kursi taman. Sambil membantu Agus dan Budi mempersiapkan hidangan dadakan
****
Yang belum mampir... Melipir yuukkk di cerita Maya..