
Weekand ini, jatuh di minggu ke empat ahir bulan. Acara familiy gathering besok sudah akan di laksanakan, satu hari sebelumnya keluarga besar Wijaya beserta seluruh pekerja, mereka sudah bersiap-siap akan segera berangkat ke puncak Bogor dimana tempat acara di adakan. 4 mobil beriringan, termasuk mobil Bayu, yang memilih berangkat bersama-sama dari rumah Dirga.
Mobil pertama yang di kendarai Budi, terisi oleh mustafa, Daddy Bastian, Alyne, Bu Rahma dan Alea.
Mobil kedua yang di kendarai Pak Dadang terisi Dirga, Anin, dengan menggunakan mercynya.
Mobil yang di kendarai Bayu, tentunya bersama Stella, Amanda dan Alfred.
Dan mobil yang terahir, yang di kendarai Agus, terisi Bik Asih, Lia, dan Kang Asep tukang kebun.
Sedangkan Radit anak Dari Pak Dadang, sudah lebih dulu standbay berada di lokasi sebelum Dirga tiba. Begitupun istri dan kedua anak kembarnya, mereka turut datang untuk mengikuti acara, sudah dua hari keluarganya datang dari kampung dan tinggal di apartemen Radit. Apartemen yang baru di belinya selama bekerja di Wijaya Grup.
Menghindari macet mereka memilih berangkat pada pagi hari, mereka akan berada di resort satu hari sebelum acara. Dirga dan Bayu mempertimbangkan kenyamanan para istrinya yang sedang hamil, dan juga para orang tua agar staminanya tetap terjaga dengan baik.
Tak lupa, selain Dokter Hendra, ada tim Dokter umum yang sudah di siapkan oleh perusahaan, Dirga juga mengundang Dokter Arum sebagai dokter kandungan. Segala persiapan dan antisipasi sudah di pikirkan dengan matang.
Dirga meminta Bik Asih agar membawakan bantal untuk di taruh kedalam mobilnya sebelum berangkat, pria itu ingin Anin nyaman selama berada di perjalanan. Menata bantal di sisi kiri dan punggungnya, wanita hamil itu sudah mulai tak nyaman kalau berlama-lama duduk di dalam kendaraan.
"Sayang, kalau lelah bilang.." tangannya tak lepas, menngusap punggung dan perut istrinya..
"Ya Mas, aku akan bilang.. Aku ingin tidur selama di perjalanan.." Anin mencari posisi ternyamannya.
"Angkat saja kakimu.. Taruh di pangkuanku." Dirga merubah letak bantal, ia menaruhnya di dekat jendela agar Anin bisa meluruskan kakinya.
"Apa terasa lebih nyaman?" Dirga bertanya sambil mengangkat kaki Anin dan memijit betis kakinya.
"He'em... Thank you Papi.."
Menempuh jarak + 90 kilometer dari Jakarta ke puncak Bogor. Perjalanan di lalui dengan lancar, tidak terhalang oleh kemacetan yang parah. Hanya di titik-titik tertentu saja yang membuat mobil melambat tapi masih bisa di lewati dengan aman. Dan para rombongan tiba dengan selamat.
Udara sejuk menyambut mereka di sabtu pagi menjelang siang ini. Menurunkan barang-barang dari bagasi mobil ke dalam resort yang bisa menampung banyak orang dan banyak menyediakan kamar.
Semua pasangan sudah menempati kamarnya masing-masing. Hanya para pekerja yang berada dalam satu kamar berukuran luas dengan 4 spring bed besar yang di gelar berjejer berhadapan. Mereka lebih memilih kumpul bersama-sama, istri dan dua anak Pak Dadang pun ikut bergabung bersama. Karena sudah saling mengenal. Sebelum memutuskan pulang kampung untuk mengurus anak-anaknya, istri pak dadang sempat menjadi patner Bik Asih sebagai asisten rumah tangga melayani Bastian dan Alyne.
"Apa kabarmu Sih?" Istri Pak Dadang bernama Marni itu menyapa
"Alhamdulilah baik Mar.. Anak-anakmu sudah besar ya.."
"Iya Sih, tahun ini kelulusan. Bagaimana denganmu Jaka?" Marni bertanya putra dari Bik Asih yang berada di kampung.
"Jaka tahun ini juga wisuda. Semoga bisa mengikuti jejak Radit, bisa bekerja di peruasahaan Tuan Dirga."
"Aamiin., kamu tinggal menghadap Tuan Dirga atau Pak Bayu."
Obrolan mengalir begitu saja dari kedua wanita itu. Bik Asih yang menjanda dari mulai putranya duduk di bangku sekolah dasar, sudah bekerja ikut Bastian Dan Alyne dan ahirnya ia harus tetap melayani Dirga bersama Ratna, setelah Alyne dan Bastian memutuskan menetap di Negara Singapura.
"Agus, kamu satu bed denganku? Awas ya kalau ngompol." Budi memperingatkan
"Enak saja ngompol! Kamu pikir aku cowok apaan!" Agus mendelikkan matanya.
"Cowok jadi-jadian." Budi terkikik geli.
"Paling juga Cuma ngilerr.." ucap Agus
"Siap-siap ku lakban mulutmu.." Budi mulai antisipasi
Dan hanya di jawab cengiran oleh Agus..
"Denganku Agus! Awas kalo macam-macam." Bik asih menunjukkan kepalan tangannya di wajah Agus.
"Gak macam-macam Bik, cuma satu macam.. Ya'kan Neng Lia?"
"Hmmm..." Lia menaruh tasnya dan mendudukkan bokongnya di atas spring bed empuk. Gadis itu hanya menjawab dengan suara deheman karena sedang asik membalas beberapa DM yang masuk ke aplikasi miliknya. Ada satu pengikutnya yang selalu, menyapa dan bertanya kabarnya. Tetapi Lia belum mengetahui siapa pemilik dari akun berinisial DM
"Neng Lia, nanti kalau ada cowok yang deketin, jangan mau yaa.." Agus mengompori wanita manis yang masih serius dengan ponselnya.
"Termasuk kamu ya Gus? Kamu kan juga cowok.." Lia menjawab ucapan Agus dengan mata masih mengarah ke layar ponselnya
"Iih Neng.. Aa Agus mah gak termasuk atuuh.."
"Berjuang teruuusss... Sampai titik darah penghabisan.." Budi meledek rekannya yang sedang berusaha mendekati wanita manis sebagai pengasuh Alea.
Pria itu ikut merebahkan tubuhnya di atas bed yang tersedia dengan kedua tangan berada di belakang kepala.
"Asal jangan kalah sebelum berperang saja.." Kang Asep menimpali, pria itu baru keluar dari kamar mandi setelah menuntaskan hajatnya yang ia tahan semenjak di perjalanan.
"Indonesia sudah merdeka.. Gak perlu perang dan berjuang." Agus menjawab ledekan dua rekannya.
"Terus kalau gak berjuang kamu mau ngapain supaya mendapatkan pujaan hatimu.." Ce'ileeeehh kang Asep berpujangga, tukan kebun yang hobinya meyetel lagu-lagu dangdut dan campur sari di setiap waktu itu duduk dengan kaki bersila menghadap Agus.
"Jangan bilang cinta di tolak dukun bertindak kau!!" Bak seperti rukun tetangga yang sedang menyidak warganya. Pria Batak dengan nama khas Sunda itu berkomentar.
"Beeehhh... eta mulut asal njeplak … kog ya pas dengan pikiran ane Ontaa.." Agus menjawab dengan logat yang biasa di gunakan Budi, pria yang pernah bekerja 5 tahun di Negara Arab Saudi. Gosip punya gosip ada darah arab yang mengalir di tubuhnya.
"Hehh.. Logat ane, kambiiing!!" Budi menoyor kepala Agus. Pria yang asli berdarah sunda.
"Siapa dukunnya Kang Asep? Budi kepoo
"Aku bah! Kau tak liat apa?" Kang Asep mengarahkan telunjuk ke jidatnya.
"Asep.. Asep.. Kalau kau jadi dukun? Semua pasienmu bingung bah..!!" Agus mengkuti logat Kang Asep.
"Bingung kenapa?" Pria itu bergantian menatap agus dan Budi
"Asli Batak nama Asep. Turun powermu."
"Yang panggil aku Kang Asep itu kalian.. Kalau mamakku, panggil aku Lae Asep."
Mereka semua yang berada di ruangan tertawa terbahak-bahak, mendengarkan obrolan ketiga pria dengan karakter berbeda.
Apa pun yang mereka bicarakan, mereka ributkan, mereka perdebatkan, selalu ada kebersamaan di antara pekerja. Di sela-sela waktu senggangnya, mereka akan kumpul duduk bersama membicarakan banyak hal, walaupun pada ahirnya pria yang bernama Agus selalu jadi bullyan.
Tetapi tidak ada rasa marah atau sakit hati, karena Agus sadar semua omongan hanyalah candaan dan gurauan.
Sudah-sudah lebih baik habiskan makanan ini. Bik Asih membuka bekal kudapan yang ia bawa dari rumah dan menyantapnya bersama-sama.
****
Bersambung ❤️
Kasih jempolnya buat Aa Agus, Kang Budi, dan Lae Asep yaa.. Ini hanya candaan, tidak bermaksud mencela. Kalau ada pembaca dari medan pisss ✌️✌️✌️ maafkan akuhhh yaa...