Anindirra

Anindirra
Chapter 45



"Mas Dirga." Anin bergumam pelan. Nama itu lolos begitu saja keluar dari mulutnya. Ada duapuluh panggilan tak terjawab dari nama itu.


Anin mencoba tidak peduli.


Ia mengabaikan panggilannya dengan beralih ke aplikasi lainnya. Jempolnya membuka beberapa pesan yang masuk dari teman-temannya. Satu persatu ia membaca tulisan yang di kirimkan.


Selain nama Dirga dan Adi sebagai teman lelaki yang ia simpan di kontak pesannya. Ada dua nomor baru yang masuk mengirimkan pesan. Salah satunya dari Bagas lelaki yang baru di kenalnya. Ia memberitahukan kalau itu nomornya.


Nomor baru yang berikutnya ternyata dari Andre mantan suaminya. Selain menanyakan kabar dan keberadaan Anin. Andre mengajaknya bertemu. Andre menginginkan bertemu dengan Alea.


Ingin rasanya ia memblokir nomor kontaknya. Tapi ia urungkan, ia tidak mau menghindar lagi dan membuat hubungannya berkepanjangan.


Ia harus menyelesaikan hubungannya dengan Andre secara resmi. Ia bertekad akan mengajukan surat ke pengadilan.


Saat sedang sibuk dengan pikirannya. Terdengar bunyi panggilan video di aplikasi pesannya. Ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya. kelopak matanya melebar jantungnya berdegub kencang. Saat nama dan foto Dirga tertera di layar pangilan.


"Ugh... Bagaimana ini? apa aku harus menerima panggilannya?" Anin hanya menatap ponsel yang terus berbunyi itu. Ia bingung harus menjawab atau megabaikannya. Sampai ahirnya panggilan itu berhenti.


Di detik berikutnya nomor itu memanggil kembali. Sebelum jempolnya sempat menolak pangilannya, tiba-tiba suara Alea berteriak gembira.


"Papiii... Ma, tu Papi Ma..." telunjuknya menunjuk ke layar ponsel yang sedang di genggamnya.


Anin menghela napas panjang. Tidak tega rasanya mengenyampingkan keinginan putrinya. Alea meraih ponsel di tangannya dan ia membiarkan Alea menjawabnya.


Tampak wajah Dirga dengan segala pesonanya memenuhi layar ponselnya.


"Papi..." suara menggemaskan Alea lebih dulu menyapa pria yang di harapkannya.


"Ea lindu papi..." gadis kecil itu setengah berteriak mengungkapkan isi hatinya.


Terdengar suara tawa Dirga.


"Iya, Papi juga merindukan sayang..." hening sesaat, hingga... "Juga Mama... Papi, sungguh merindukannya." Suara itu terdengar menyayat hati. Dan Anin bisa mendengarnya dengan jelas.


"Papi kapan kecini?"


"Secepatnya sayang..., Alea tunggu Papi ya..."


"Ya, Papi..., Ea tunggu papi."


"Kata Mama, Papi kelja."


"Mama bilang seperti itu?"


Alea menganggukkan kepalanya.


"Mana ciuman sayang untuk Papi?"


Alea menempelkan bibirnya yang mengerucut ke dinding ponsel. Membuat tingkahnya semakin lucu


Pangilan itu berahir saat terlihat mata Alea yang mulai terlihat sayu dan beberapa kali menguap.


Anin lantas memindahkan tubuh kecil itu ke dalam kamar ketika mata kecil itu terpejam dengan sendirinya. Alea tidur dengan tenang. Setenang hatinya karna telah melepaskan kerinduan dengan sosok laki-laki yang sudah berhasil mengambil hatinya.


*


*


Di Negara Singapura


Menjelang makan siang Dirga meninggalkan ruang perawatan menuju sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari gedung Mount Elizabeth Hospital.


Sesuai permintaannya, Hadi Darma datang untuk menemuinya. Setelah mendapatkan kabar dari Bayu sebagai asisten Dirga. Ia langsung terbang ke Negara Singapura dengan fasilitas penerbangan yang telah di siapkan oleh Wijaya Grup.


Tak lama seseorang yang di tunggunya datang dan menyapanya.


"Halo, Tuan Dirga. Anda sudah dari tadi? Maaf, saya terlambat."


"Tidak, saya juga belum lama sampai. Silahkan." Dirga memintanya untuk duduk.


Pengecara itu duduk berhadapan dengan Dirga, dan mulai menenggak minuman yang telah tersedia.


Dua orang pelayan tadi datang dengan mendorong troly membawa makanan yang telah di pesan dan menghidangkannya di atas meja.


"Selamat menikmati makan siangnya Tuan." Pelayan itu membungkuk sopan lalu pergi.


"Mari," Dirga mempersilahkan Hadi Darma untuk menikmati makan siang sebelum memulai pembicaraan.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan?" pengecara itu memulai pembicaraan setelah selesai menyantap makanannya.


Dirga menghabiskan sisa minuman di gelasnya dan mengelap ujung bibirnya dengan tisu sebelum membuka suara.


"Saya ingin anda segera mengurus surat perceraian saya dengan Ratna." Dirga mengeluarkan berkas sebagai barang bukti dari tas kerja yang di bawanya.


Hadi Darma membaca dan meniliti apa yang di serahkan Dirga.


"Bukti ini sudah cukup menguatkan Tuan. Saya jamin prosesnya tidak akan lama. Karna, dengan bukti-bukti ini sudah bisa memberatkannya."


"Apa ada harta yang akan anda berikan kepadanya? Karna yang saya tau, wanita itu tidak membawa harta apapun saat menikah dengan anda."


"Saya akan menyerahkan rumah yang saat ini di tempatinya dan uang sebesar 1 milyar sebagai talak."


"Baik, Tuan. Ada lagi?"


"Saya juga akan meminta anda mengurus surat perceraian seorang wanita. Berkasnya akan menyusul. Akan saya kirimkan melalui Email."


Setelah pembicaraan panjangnya selesai. Dirga meminta Pak Mun mengantarkan pengecara Hadi ke hotel miliknya yang berada di Singapura untuk beristirahat.


"Nikmati waktu anda pak Hadi." Dirga menjabat tangannya.


"Terimakasih Tuan Dirga. Segala sesuatunya akan saya kabarkan secepatnya." pengecara itu membalas jabatan tangan Dirga dengan sikap hormat.


Saat ini Dirga masih berada di restoran. Ia sudah menerima laporan tentang keberadaan Anin dari Bayu dan anak buahnya yang berada di Solo. Senyum bahagia saat mengetahui keberadaan wanita yang sudah sangat ia rindukan.


"Aku harus segera menemuimu, Sayang... Aku akan segera membawamu kembali dan tidak akan membiarkan dirimu pergi jauh dariku." Dirga bicara dengan jari mengusap foto Anin di layar depan pnselnya sebagai wallpaper.


Ia lalu menghubungi nomor kontak Anin melalui video di aplikasi pesannya.


Satu kali panggilan belum terjawab.


"Kenapa dia tidak menjawabnya?" Ia lalu memencet tombol itu kembali berharap yang kedua kalinya wanita itu akan menjawabnya.


Sesosok gadis kecil berwajah mungil menggemaskan terlihat jelas di layar panggilan. Dirga sadar Anin belum mau bicara kepadanya. Dan ia tidak akan memaksanya untuk saat ini. cukuplah wajah Alea sebagai pengobat rindunya.


Jika tidak mengingat kondisi Daddy-nya. ia ingin segera terbang menemui wanita itu saat ini juga. Ia ingin segera mengungkapkan isi hatinya. Melepas kerinduannya yang telah membuncah.


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🤗


Jangan lupa simpan dalam favorit yaa...


Terimakasih 😘