
Anin tertawa mendengarnya.
"Kamu tuh ada-ada aja Wi, kamu bebas menghubungiku kapan saja, dan maaf, kalau aku baru sempat menghubungimu. Setelah menikah aku harus bisa mengimbangi kesibukan suamiku. Belum lagi, di awal kehamilan aku sempat di rawat karena mengalami pendarahan." Anin menjelaskannya panjang lebar.
"Ya An, aku paham. Ku harap kandunganmu selalu sehat. Di kantor juga tidak ada Pak Bayu. Ohya, gosip yang beredar, Pak Bayu akan segera menikah? Apa benar An?"
"Kabar yang aku terima sih seperti itu." Anin bicara dengan menyuapkan sendok ice cream ke dalam mulutnya setelah makanan yang di pesannya tersaji di meja.
"Yahhh... Jadi hari patah hati lagi deh untuk kedua kalinya." Dewi bicara sambil memakan kentang goreng yang sudah di celupkan di saus sambal.
"Maksudnya?" Anin tidak mengerti yang di sampaikan Dewi.
"Ya, patah hati. Pertama Tuan Dirga menikah denganmu. Tidak lama lagi asistennya yang akan menikah. Ampun-ampun dah! Kenapa Pak Bayu tidak melamarku saja. Apa dia tidak sadar? Kalau aku sangat mengidolakannya." Dewi membayangkan wajah sang asisten dengan senyum hayalannya.
"Nih otak kayanya harus di kasih pembersih." Anin menoyor jidad Dewi.
"Inget Aldi Dewiiii..."
"Ish.. Memangnya otakku porselen."
Anin terkikik mendengarnya. Dari dulu temannya itu memang sangat mengidolakan Bayu. Tapi bukan berarti dia tidak mencintai kekasihnya Aldi.
"Aku sungguh senang dengan kehidupanmu sekarang An, beneran deh …aku kaget saat mengetahui kamu menikah dengan Tuan Dirga. Cerita doonkkk kisahnya?" Dewi merayu menunjukkan wajah memelasnya.
"Kamu kepo iih... Rahasia perusahan."
"Duh.. Duhh... Yang sudah punya perusahaan. Pake rahasia-rahasiaan segala."
"Biarin.." Anin mencebikkan bibirnya.
Tanpa di ketahui Anin. Ada dua pasang mata yang sedari tadi memperhatikan-nya. Dari mulai ia melangkahkan kaki masuk ke dalam resto. Wanita itu tak lain adalah Diana dan Sinta. Ibu dan istri dari mantannya Andre.
Diana memperhatikan penampilan Anin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita yang pernah menyandang status sebagai menantunya itu sudah sangat berubah dan berbeda.
Pakaian dan tas yang di tentengnya sudah bisa menjelaskan kalau itu bukan barang murah. Wanita itu bukan lagi wanita biasa dengan pakaian seadanya dan tanpa riasan.
Wanita itu sudah berubah menjadi wanita berkelas walaupun tidak meninggalkan kesederhanaan-nya.Rasa penasaran menghinggapi hatinya.
"Apa wanita itu sudah menikah lagi? Tapi dengan siapa? Tidak mungkin dia mendapatkan pria yang melebihi Andre. Apa lagi dengan latar belakangnya?"
Wanita yang bernama Diana itu terus bermonolog. Dia sibuk dengan pertanyaan di kepalanya.
"Ma.." suara Sinta membuyarkan pikirnya.
"Bukankan itu mantan istri Andre?" Sinta bertanya dan memastikan tebakannya tidak salah. Ia pernah melihat foto pernikahan Andre dan Anin yang masih di simpan oleh pria yang sudah menjadi suaminya.
"Ya, dia Anindirra, mantan istrinya Andre." Diana membenarkan pertanyaan menantunya.
"Tetapi kenapa penampilannya berbeda? Bukannya Mama pernah cerita, kalau wanita itu dari kalangan biasa. Tapi yang aku lihat, dia seperti wanita berkelas?" Sinta ikut bertanya-tanya dalam hatinya.
Belum sempat ia menanyakan lagi tentang mantan istri suaminya. Seorang gadis kecil menghambur berlari masuk menghampiri Anin. Membuat wajah ibu mertuanya berubah seketika.
Diana ikut mengamati interaksi keduanya, antara Anin dan Alea. Pertanyaan baru muncul di kepalanya. "Apa dia anaknya Andre? Di lihat dari wajahnya, anak itu mirip dengan Andre. Kalau dia anak Andre berarti dia cucuku?" tanpa Diana sadari, ia mengakui kecantikan Alea. Gadis kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan.
Perubahan di wajah Diana tak lepas dari pantauan Sinta.
"Alea sudah mainnya?" Anin menghapus keringat yang menetes di dahi Alea dengan tissue.
"Cudah Ma, Ea lapal mau emam."
"Salim dulu sama tante Dewi."
"Hai cantik. Duhhh.. Imut banget sih kamu." Dewi Tampak gemas dan mencolek pipi Alea.
"Tante juga lutu..." wajah imutnya tersenyum lucu
Lia dan Alea ikut bergabung dalam satu meja. "Lia, kamu pesan lagi makanan ya, sekalian untuk Alea."
"Ya Non." Lia beranjak bangun untuk antri di barisan depan meja kasir.
"An, apa dia?" Dewi memberi isyarat kepada Anin.
"Ya Wi, tapi jangan di bahas."
"Oke." Dewi sangat paham apa yang di maksud Anin. Anin sudah menceritakan kalau Alea belum mengenal Andre sebagai ayah biologisnya.
Puas menikmati menu yang di pesan, Anin mengajak Dewi untuk berkeliling berbelanja. Bukan hanya membeli pakaian hamil untuknya. Tetapi Anin juga mentraktir Dewi dengan membelikannya satu buah tas bermerk.
Begitu juga dengan Lia dan Alea. Ia membebaskan pengasuh dan putrinya memilih apa yang di inginkannya. "Lia, ambilkan beberapa stel pakaian untuk Bik Asih, Agus dan Pak Dadang."
"Siap Nona." Dengan senang hati, Lia mengikuti perintah Anin.
Setelah puas menguras uang suaminya. Anin memutuskan untuk pulang, sebelum alarm masuk ke dalam panggilan. Suaminya itu sudah tiga kali mengirim pesan supaya Anin tidak kelelahan dan segera pulang.
"Terimakasih BukBos." Dewi mencium pipi kanan dan kiri Anin sebelum mereka berpisah, Dewi turun duluan ke lantai bawah karena sudah di jemput oleh Aldi. Dewi sengaja mengambil cuti hanya karena ingin bertemu dengan Anin hari ini.
Menenteng banyak paperbag berisi pakaian. Anin berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai bawah. Dengan Lia berada di sampingnya sambil menuntun Alea. Anin sudah menghubungi Agus meminta agar segera di jemput.
Beberapa kali keluar masuk toko dengan menantunya Sinta, Diana masih dengan pikirannya. Wanita itu masih terus bertanya-tanya. Selain penampilan Anin yang sudah sangat berbeda.
Ia juga bisa melihat Wanita itu sedang dalam keadaan hamil, Dress yang di kenakannya memperlihatkan perutnya yang membuncit. Belum lagi kehadiran gadis kecil itu. Sungguh membuat pikirannya tidak konsentrasi saat Sinta meminta pendapatnya soal baju yang pilihnya.
"Ma, Mama.." Sinta sampai harus menggoyangkan lengannya.
"Mama kenapa?" Sinta bertanya memperhatikan wajah Diana.
"Oh tidak, mama tidak apa-apa." Diana tersenyum menutupi apa yang di pikirkannya.
"Kamu tanya apa tadi?" Diana balik bertanya.
"Menurut Mama, mana yang cocok untukku?" Sinta membentangkan kedua tangannya dengan memegang hanger pakaian.
"Keduanya sangat bagus Sinta."
"Bagaiman dengan warnanya?" Sinta bertanya kembali meminta di perhatikan.
"Warnanya sangat cocok dengan kulitmu."
"Benarkah?"
"Iya benar. Kalau kamu suka kenapa tidak kamu ambil saja dua-duanya." tidak ingin mendapatkan banyak pertanyaan, Diana lebih memilih menyarankan menantunya itu membeli keduanya.
Tentu saja membuat Sinta sangat senang mendengar tawaran ibu mertuanya, karna memang itu yang ia harapkan.
"Terimakasih Ma, Mama yang terbaik." Sinta sangat pintar mengambil hati Diana.
Selain itu, ia memang sangat suka berbelanja. Ia bisa menghabiskan lebih dari ratusan hanya untuk memuaskan hobinya. Dan sifat itu yang membuat Andre kewalahan dan tidak menyukainya.
Walaupun Sinta memiliki penghasilan sebagai meneger di salah satu BANK, sedikit pun Andre tidak pernah ikut menikmatinya. Sinta selalu menghambur-hamburkan uangnya untuk membeli barang-barang yang menjadi kesenangannya.
Tanpa di duga. Saat Diana menunggu Sinta membayar baju di kasir dengan menggunakan kartunya. Ia melihat Anin lewat di depan toko dengan barang belanjaan di tangannya.
Diana sampai harus keluar dari dalam toko agar lebih jelas melihatnya dari belakang.
****
Bersambung ❤️
Semoga likenya tidak terlewat ya 🤗