
Dirga menyusul Anin ke dalam kamar setelah meminta ijin kepada Bu Rahma.
Tetapi sebelumnya, ia memerintahkan Beni beserta pengawalnya untuk kembali.
"Maaf, Tuan Dirga. Pak Bayu memerintahkan kami untuk tidak meninggalkan Tuan."
"Ah,... Sial. Kenapa kalian lebih mendengarkannya dari pada aku." Dirga mengumpat dalam hati.
"Ben, cari villa terdekat. Kalau bisa di daerah perkebunan teh. Saya ingin membelinya. Koordinasikan dengan Bayu."
"Carilah penginapan di daerah sini untuk kalian. Saya akan menghubungi jika sewaktu-waktu saya butuhkan."
Beni meninggalkan rumah Joglo itu beserta supir dan dua pengawal untuk melaksanakan tugas yang di perintahkan Dirga. Ia hanya meninggalkan fortuner hitam yang masih terparkir di halaman.
Anin terlihat lebih segar setelah membersihkan diri, mengganti pakaian. Mengeringkan rambut dengan handuk ia sedikit menunduk mendekatkan rambutnya di depan kipas angin. Ia memakai kaos rumahan dan celana jogger wanita.
Suara ketukan pintu tidak menghentikan kegiatannya. Suara knop pintu terdengar terbuka. Dari wanginya ia sudah bisa menebak siapa yang masuk tanpa melihatnya. Ia berusaha tenang walau sebenarnya hati bergemuruh tidak karuan.
**
Dirga masuk setelah mengetok pintu dan tidak ada jawaban. Di lihatnya Anin sedang mengeringkan rambutnya yang basah. Ia jalan mendekat ke arah wanita itu, tangannya meraih handuk yang di pegang Anin.
"Sini, aku bantu mengeringkannya." tangannya mengambil alih handuk kecil yang di pegang Anin.
Tubuhnya yang lebih tinggi dari wanita itu, memudahkannya mengusak rambut panjang itu dari belakang. Anin terdiam membeku menerima perlakuan Dirga
Tanpa sadar ia menikmati setiap gerakan dari tangan kokoh itu.
"Dari mana? Kenapa pulang sesore ini?"
Suara maskulin itu terdengar tepat berada di telinganya. Membuat darahnya berdesir. Jantungnya berdetak tak karuan.
Dirga menghentikan kegiatannya, menaruh handuk di atas nakas. Tangan itu berganti melingkar di pinggang Anin. Rengkuhannya semakin erat menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher putih itu.
"Kamu tidak merindukanku, Sayang?" setengah berbisik. Dirga bertanya.
Sapuan hangat yang keluar dari mulut Dirga, hampir saja membuat Anin goyah. Tapi ia memilih diam, ia bingung harus bagaimana. Hatinya masih marah. Tapi tubuhnya tidak bisa menolak perlakuan Dirga yang membuatnya nyaman.
"Kenapa diam? Hmm..." Dirga bicara dengan menjatuhkan dagu di pundaknya.
"Sudahi marahmu, Sayang? apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memafkanku?"
Dirga mengurai belitan tangannya. Ia membalikkan tubuh Anin agar berbalik menghadapnya. Menyentuh dagu dengan ujung jarinya, ia mengangkat wajah yang tengah tertunduk, agar membalas tatapan matanya. "Lihat aku."
"Maaf, maafkan kata-kataku, aku membuatmu kecewa." Seraya tangannya menyelipkan anak rambut ke sisi belakang telinga. Lalu, kedua tangannya menangkup wajah cantik tanpa riasan.
Kepergian Anin ke solo telah membuat Dirga sadar satu hal. Bahwa ia tidak sanggup kehilangannya.
"Aku, salah... Aku tidak bisa mengontrol emosiku hingga menyakitimu. Maafkan aku, Sayang... Maafkan kebodohanku."
"Aku cemburu... Karna," ia terdiam sesaat.
"Aku mencintaimu Anindirra. Aku mencintaimu, Sayang..."
Seketika kedua bola mata Anin merembas basah. Hatinya berdesir bahagia. Ia mencari kebohongan di mata Dirga tapi tak menemukannya. Ia mendapatkan kepastian sebuah hubungan. Kata cinta itu ahirnya keluar dari mulutnya.
"A-apa aku tidak salah dengar?" Anin masih belum percaya. "Benar kah?"
Mengerjapkan mata, air mata itu tumpah membasahi bulu matanya yang lentik, bergerak dengan indah saat beradu pandang dengan Dirga. Tidak terucap dengan kata, tapi ia tau wanita itu sudah memaafkannya.
Perlahan Dirga mengecup keningnya, menundukkan sedikit kepalanya, ia menggapai bibir merah alami yang sedari tadi sudah menggodanya. Ia terlalu lemah dan tidak bisa menahan hasratnya saat bersentuhan dengan Anin.
Anin menyambutnya dengan membuka sedikit mulutnya. Dan, tidak di sia-siakan oleh Dirga. Ia memagut bibir itu lebih dalam, menciumnya dengan penuh kelembutan seakan takut akan menyakitinya. Lidahnya menerobos masuk, membelitkan lidah dan saling berbagi saliva. Merapatkan tubuh Anin ke dinding lemari.
"Nghh..." Anin melenguh dan meremat kemeja, perpegangan di pinggang Dirga. Tubuhnya yang kurus seakan terkunci.
Ia berhenti saat kesadarannya kembali. Ia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan cumbuannya. Mengusap bibir basah yang semakin memerah akibat ulahnya.
"Aku merindukanmu, Sayang..."
Dengan nafas tersengal, wajah Anin memerah, matanya mulai sayu, ia dengan cepat terpancing sentuhan Dirga, membuat hasratnya menggelora.
"Katakan, siapa laki-laki yang bersamamu tadi? Apa kamu lupa? Aku tidak mengijinkanmu dekat dengan siapapun. Ini untuk yang terahir kalinya kamu tersentuh laki-laki selain aku." Dirga meraih pergelangan tangan Anin lalu mengusapnya.
"Jangan lakukan lagi." Suaranya terdengar pelan namun tegas.
Anin terjengkit kaget. Otaknya bekerja dengan cepat. Ia menginggat kejadian beberapa jam kebelakang saat Bagas menarik pergelangan tangannya agar berlari menghindari hujan.
"Ya Tuhan. Kenapa dia tau." Anin bergumam dalam hati.
"Mas memata-mataiku?" memicingkan mata, Anin bertanya curiga
Dirga terkekeh. "Kamu milikku, Sayang... Sudah, jangan protes. Cukup dampingi aku. Berdirilah di sisiku dalam kondisi apapun. Genggam tanganku, jadilah teman hidupku, Sayang..."
"Apa ini sebuah lamaran? Tidak romantis sekali, tidak seperti di novel-novel juga drama korea." Anin mengerutu pelan. Ia membayangkan sang pria melamar dengan memberikan bunga atau perhiasan, lalu bersujud memohon dengan kata-kata manis.
Dirga tersenyum. "Otak kecilmu itu Jangan berpikir aneh-aneh." telunjuknya mengetuk pelan kening Anin.
"Anggap saja ini lamaran darurat. Aku ingin segera bertemu denganmu dan menyelesaikan kesalahpaham kita." ia menyadari kalau belum sempat memesan perhiasan yang seharusnya ia berikan.
"Aku mungkin bukan pria romantis. Tapi aku pastikan kamu dan Alea segala-galanya bagiku. Kalian lah prioritasku sekarang. Aku mencintaimu, sangat."
"Dengarkan aku dengan baik. Aku anggap surat yang kamu berikan tidak pernah ada. Aku tidak akan melepasmu, bahkan saat ini aku akan mengikatmu lebih kencang. Jadi, jangan pernah berpikir sedikit pun berniat meninggalkanku. Kemanapun kamu pergi aku pastikan akan menemukanmu."
"Bolehkah aku meminta sesuatu darimu Mas?
"Katakanlah, kamu ingin apa? Emas, rumah, mobil, atau yang lainnya. Aku akan mengabulkannya."
"Tidak, aku tidak menginginkan hartamu."
Anin menaraik napasnya sebelum ia bicara.
"Aku, tidak tau seperti apa masalalumu, aku hanya ingin, kamu percaya kepadaku dan membagi semua masalahmu. Begitupun sebaliknya aku. Jika aku di takdirkan menjadi istrimu. Aku tidak akan keluar dari kodratku sebagai wanita. Aku akan tunduk patuh kepadamu jika itu untuk kebaikan bersama. Aku, tidak memiliki apapun yang bisa aku berikan kepadamu. Aku hanya memiliki cinta yang besar untukmu. Berjanjilah, untuk setia kepadaku. Karna, aku juga mencintaimu Dirgantara Damar Wijaya."
Membelai rahangnya. Anin mengucapkannya dengan menatap sorot mata Dirga.
Dirga menarik tubuh itu, membawanya ke dalam dekapan. Menyurukkan kepala itu ke dada bidangnya. Ia memeluknya dengan erat seakan takut kehilangan. Hati Dirga teramat bahagia mendengar pengaakuan wanitanya. Hatinya menghangat, jantungnya berdetak berlarian karna cinta.
"Terimakasih, Sayang... Aku bahagia... Kamu mungkin tidak akan selalu tersenyum mendampingiku. Tapi aku akan selalu memberikan yang terbaik yang aku bisa. Cintaku..."
"Aku bukan wanita sempurna, sayang..."
"Ya, begitupun aku..."
"Kita akan saling menyempurnakannya."
"I love You Anindirra."
****
Bersambung ❤️
Hari ini 2 BAB loh, aku kabulin... Selagi bisa 😁
Jangan lupa like, komen, hadiah dan votenya yaa 🤗
Jangan lupa simpan karya ku sebagai faporit ❤️ dalam rak buku.
Terimakasih... Salam sayang 😘