Anindirra

Anindirra
Chapter 38



Kantor Wijaya grup


Pagi itu seperti biasanya para karyawan di sibukkan dengan tugasnya masing-masing. Beberapa staf terlihat tegang dengan berkas laporan yang sedang di siapkannya. Khawatir kalau-kalau ada kesalahan yang di ketiknya. Karna salah satu saja angka yang salah. Bisa berakibat fatal.


Para petingi perusahaan tengah mempersiapkan diri karna satu jam lagi akan menghadiri rapat bulanan yang biasanya berjalan.


Suasana pagi ini sedikit mencekam dari biasanya. Jam 8 tepat pemilik perusahaan yang biasanya tidak pernah terjun langsung. Pagi ini dengan di dampingi Bayu Asisstennya, ia melakukan Inspeksi ke Departemen Keuangan.


Matanya mengitari seluruh ruangan dan berhenti di kubik kosong yang biasanya di duduki Anindirra.


"Kemana dia?" Dadanya berdenyut nyeri mengetahui ketidakhadirannya. Dengan alasan inspeksi ia datang langsung ke departemen hanya semata-mata ingin melihat Wanita yang di rindukannya.


Sepulang dari rumah Anin, Bayu mengirimkan lagi rekaman keberadaan mereka di dalam kamar atas permintaan Dirga. Walau tidak bisa mendengar yang mereka bicarakan, tapi tergambar jelas kalau Anin tidak melakukan seperti apa yang di tuduhkannya.


Perempuan bertubuh tambun yang menjabat sebagai kepala bagian keuangan menyadari sorot mata Dirga ke arah meja kosong milik bawahannya.


Itu meja Anindirra Tuan. Dia tidak masuk hari ini, dan saya belum menerima laporan ijin darinya.


Tanpa berpikir dua kali Dirga membalikkan badan kembali ke lantai dimana ruangannya berada.


Mebuat sebagian karyawan banyak yang bertanya-tanya. Termasuk Dewi yang bersebelahan meja dengan meja Anin.


"Ada apa dengan Tuan Dirga? Kenapa tatapannya tidak lepas dari meja kerja Anin. Aneh?" Dewi merasa heran.


"Dewi, apa lporannya sudah kamu siapkan?" Ranti bertanya setelah kepergian Dirga.


"Sudah Bu." Dewi harus menyiapkan laporan yang biasanya di kerjakan Anin pagi ini.


Sesosok Wanita cantik berambut hitam lurus sedang berjalan mendekat ke arah meja kerja Siska Sekretaris Dirga. Siska sedang serius menyiapkan berkas penting yang akan di bawanya masuk ke ruang meeting.


"Selamat pagi Bu Siska."


Siska mengalihakan pandangannya ke arah suara yang menyapanya.


"Pagi.." sambil memindai penampilan Anin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Yang hanya menggunakan skini jins hitam dan kaos hitam pas body dengan di lapisi jaket putih, tidak lupa tas cangklongnya.


Merasa di perhatikan Anin sedikit berdehem.


"Ehem... Bu, Siska." Anin melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya.


Siska mengerjapkan matanya merubah mimik wajahnya menjadi serius.


"Kamu siapa? Ada keperluan apa?"


"Maaf, mengejutkan anda Bu Siska, saya hanya ingin menitipkan ini." Anin meyerahkan amplop tebal berwarna coklat dan sepucuk surat.


"Tolong berikan ke Tuan Dirga."


Anin meletakkan amplop coklat yang terlihat mengembung dan secarik surat di tangan Siska.


"Terimakasih Bu."


Tanpa menunggu jawaban dari Siska. Anin segera meninggalkan lantai tujuh belas dimana keberadaan Dirga berada. Dan turun ke lantai sepuluh departemen keuangan tempatnya biasa bekerja.


Di lihatnya Dewi sedang serius menatap komputernya.


"Hai cewek cantik." Anin menyapanya.


"Anindirra..!!"


"Sssttt... Jangan keras-keras Dewi. Kaya di hutan saja." Anin langsung membekap mulut Dewi.


Dewi menganggung dan menunjuk mulutnya yang mashih di bekap oleh tangan Anin agar melepasnya.


"Oh, iya.." Anin nyengir.


Setelah bekapannya terlepas. Dewi langsung memeluk Anin.


"Tidak Wi, aku baik baik saja." Anin tersenyum.


"Oh, ya... Aku kesini mau menitipkan ini." Anin menyerahkan amplop putih yang berisikan surat pengunduran dirinya.


"An, kamu lagi gak becandakan?" Dewi terkejut mengetahui kalau amplop itu berisikan surat pengunduran diri temannya.


"Apa kamu sedang ada masalah An? Kenapa harus berhenti? Beberapa bulan lagi masa kontrakmu berakhir An."


"Maaf Wi, aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Aku janji, aku akan menemuimu. Sekarang aku tidak bisa lama-lama. Taksi yang mengantarku sudah menunggu di bawah."


"Kamu mau kemana?" nampak Dewi enggan melepaskan kepergian teman baiknya. Ada kesedihan di wajahnya. Dan ini terlalu mendadak baginya.


"Aku akan menyusul Ibu dan Anakku ke kampung Wi, aku rindu mereka."


"Baiklah Tuan Putri, semoga selamat sampai tujuan. Sesampainya disana tolong hidupkan ponselmu dan hubungi aku. Okey..."


"Siap Bu Bos!" keduanya tertawa mengiringi kepergian Anin.


*


*


 


Di ruangan Meeting. Dirga tidak terlalu mendengarkan laporan yang di sampaikan bawahannya mengenai peningkatan grafik saham perusahaan wijaya grup yang meningkat pesat. Laporan keuangan selama tiga bulan yang di jelaskan pegawainya pun tidak di perhatikannya. Pikirannya fokus ke Anin yang belum bisa di hubunginya.


Siska masuk ke ruangan dengan membawa berkas yang tertinggal dan menyerahkannya ke Dirga.


"Maaf, Tuan. Ini berkasnya."


Bayu memperhatikan Dirga yang tidak konsentrasi dan tidak merespon berkas yang serahkan sekertarisnya.


"Kenapa lama?" Tegur Bayu.


"Maaf Pak, tadi ada Wanita yang datang menitipkan barang. Saya harus menaruhnya dulu di meja Tuan Dirga."


"Barang?" Bayu bertanya.


"Iya, Pak. Sudah saya letakkan di meja Tuan Dirga."


Siska kembali ke tempat duduknya untuk mempersiapkan diri mencatat notulen hasil rapat pagi ini.


Rapat selesai selama satu jam. Dengan Dirga yang tidak merespon sama sekali. Biasanya Dirga sangat memperhatikan dengan detail apa yang di laporkan oleh bawaannya. Dia tidak bisa menerima kesalahan sedikit pun yang di lakukan oleh bawahannya.


Hanya Bayu yang merespon, mempertanyakan, dan menjawab keterangan dari laporan yang di berikan para petinggi perusahaan.


Semua anggota rapat sudah membubarkan diri tapi Dirga masih terdiam di kursinya.


"Tuan, ada wanita yang datang dan menitipkan sesuatu."


"Degg!!" pikirannya langsung mengatakan kalau wanita itu adalah Anindirra.


Ia bergegas ke luar dari ruang rapat. berjalan ke ruangannya dengan langkah lebar.


Bungkusan kertas coklat yang menggelembung berstempelkan salah satu BANK dan sepucuk surat sudah berada di atas meja kerjanya. Ia Duduk di kursi singgasananya dengan perasaan berdebar. Tangannya mengambil sepucuk surat dan membacanya.


Sebelum datang ke kantor Wijaya grup. Anin mampir ke salah satu Bank swasta dan menarik uang sebanyak yang Dirga kirimkan ke rekeningnya.


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan like komen hadiah dan votenya ya 🤗🤗