Anindirra

Anindirra
Chapter 61



Sudah mendekati jam 11 mlam. Tetapi matanya tidak bisa terpejam, hatinya gelisah dengan menanggung beban pikiran. Anin sadar keputusannya salah dengan tidak menuruti keinginan suaminya. Ia hanya tidak ingin kembali ke hotel. Hanya itu.


Berulang kali tubuhnya bergerak karna gelisah. Berguling ke kanan dan ke kiri di atas tempat tidur. Mencari posisi yang nyaman berharap rasa kantuk segera datang. Bukannya tertidur matanya berubah semakin terang.


Di balik rasa takut ada rindu yang tiba-tiba muncul. Ia kembali bangun duduk dengan memeluk guling. Mengingat Dirga belum memberi kabar ia meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.


Ia memerika lagi apakah ada pesan masuk untuknya. Pesannya sudah terbaca tetapi belum terbalaskan.


"Apa dia marah kepadaku?" mendesah lirih, ia bertanya dengan diri sendiri.


Bayangan Dirga memenuhi hati dan pikirannya. Baru saja berucap tanya. Ponselnya bergetar. ‘my love’ nama itu muncul dalam panggilan.


"Mas Dirga." dengan senang, ia mengusap tombol hijau dan menjawabnya.


"Mas..." suaranya terdengar pelan. Mengigigit ujung kuku menunggu suara pria itu dengan harap-harap cemas.


Beberapa detik saling terdiam. Hening tak bersuara. Dengan jantung saling berdebar. Rasa cinta itu semakin kuat di rasakan keduanya. Melalui sambungan telfon keduanya bisa merasakan helaan nafas tak beraturan.


Anin memberanikan diri memanggilnya kembali.


"Mas..., kamu...?"


"Kamu sudah tidur?" suara maskulin sedikit berat itu terdengar jelas di telinga.


"Be-belum..." Anin menjawabnya dengan gugup. Rasa rindu dan bersalah itu semakin membuncah di hatinya.


"Kenapa belum? ini sudah malam?"


Pertanyaan itu membuatnya ingin berteriak berkata sejujurnya kalau ia merindukannya.


"Aku tidak bisa tidur. Aku sudah mencobanya tapi tidak bisa."


"Kenapa?"


Suara itu semakin mengaduk-aduk perasaannya.


"Aku..., aku tidak tau. Aku hanya tidak bisa tidur karna..., Anin mengigit bibirnya, ia tidak sanggup meneruskan ucapannya. Airmata datang memenuhi kelopak matanya.


"Apa kamu merindukanku?" Pria di sebrang telfon kembali bertanya.


Dengan cepat tanpa berpikir Anin menjabawnya.


"Iya..., aku merindukanmu." dengan mengangguk-anggukkan kepalanya seolah Dirga dpat melihatnya.


Tawa pelan terdengar dari sebrang.


"Mas pulang kemana?"


"Aku akan pulang dimana seharusnya aku pulang. Baiklah istriku yang cantik. Keluarlah. Bukakan pintu untukku."


****


Sesampainya di halaman rumah sederhana itu. Dirga tidak langsung mengetuk pintu. Membuka jas menggulung kemeja hitamnya. Ia keluar bersandar di kap mesin. Ia terdiam memandang rumah dengan lampu yang masih terang. Dimana di dalamnya ada seorang wanita yang tidak ingin ia lukai. Menenangkan diri memukul habis egonya. Membuka ponsel mencari nama 'my angel'


****


"Apa! Mas ada di luar?"


Tanpa berpikir dua kali. Ia langsung melempar ponselnya di atas kasur. Melompat dari tempat ia berjalan tergesa-gesa menuju pintu, membuka kunci dengan gemetar.


Ia melihat Dirga tengah bersandar di kap mesin mobil hitamnya, masih dengan ponsel berada di kupingnya.


Dirga berdiri tegak saat melihat Anin berlari ke arahnya.


Anin berlari dari pintu, menuju dimana pria itu berada. Bruk. Ia menabrak tubuh tegap itu sepertia koala. Membelit kaki di pinggang Dirga. Menggantungkan tangan di leher, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher pria yang sudah mengobrak-abrik hatinya.


"Hei.!! Hati-hati nyonya." ia membalas rangkulan wanitanya dengat erat. kalau ia tidak dengan posisi siap. Mungkin tubuhnya akan terhuyung kebelakang.


Tubuh kurus itu semakin kencang memeluknya. Seakan takut kehilangan. Rasa bersalah karna tidak mendengar perkataannya, menyerangnya begitu saja.


"Kamu baik-baik saja?" Dirga bertanya saat merasakan airmata membasahi lehernya.


Anin mengeleng masih membenamkan wajahnya.


Dua insan saling mengungkapan rasa tanpa suara. Saling merasakan gemuruh di dada. Bahasa tubuh mewakili kata. Dinginnya suasana malam menambah syahdu ungkapan kerinduan. Jarak dan waktu semakin menambah buih-buih cinta di hati Dirga Dan Anindirra.


Pria itu membuat dirinya nyaman dalam pelukan hangatnya.


Dengan tidak menghiarukan keberadaan Pak Dadang sebagai penonton setia, yang berada di balik kemudinya. Menyaksikan dua orang anak adam dan hawa. Senyum terbit di bibir pria tua itu. Ada kelegaan di hatinya. Apa yang di khawatirnya hilang begitu saja. Kehadiran wanita itu, pelan-pelan mampu merubah kerasnya seorang Dirga.


Dengan masih menggendong tubuh kurus itu. Dirga berjalan masuk ke dalam rumah. menutup pintu dengan kakinya ia terus melangkah masuk ke dalam kamar .


"Kenapa tidak mau melihatku?" dengan posisi berhadapan.


Anin menggelengkan kepalanya.


"Kenapa menangis?" Dirga bertanya lagi.


Dan Anin tetap memggelengkan kepalanya.


Dirga sudah tidak bisa menahan keinginannya. Rasa kesal, marah, seakan menguar karna rasa cinta yang teramat besar. Menangkup kedua sisi pipinya, ia mendongakkan wajah Anin sedikit ke atas. Dengan gemas ia mengigit dagu lancip itu sehingga Anin berteriak.


"Maasss..." dengan reflek ia memukul bahu Dirga.


Di balas kekehan dari pria itu.


"Jangan di ulangi lagi. Atau aku akan menghukummu lebih dari ini."


Terdengar pelan tapi dengan sorot mata yang tajam. "Semua tindakanku, itu yang terbaik untukmu."


"Ingat janjimu, Sayang. Kamu tidak akan keluar dari kodratmu sebagai wanita. Kamu akan tunduk patuh jika untuk kebaikan bersama." Dirga mengingatkan janji yang terucap.


"Maafkan, aku... Aku salah. Tapi aku punya alasan untuk itu."


"Baik, aku dengarkan."


"Aku hanya tidak ingin pulang ke hotel. Itu saja."


"Kenapa? Apa yang membuatmu tidak ingin pulang ke hotel? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"


"Aku..., aku hanya mengingat kesalahanku jika aku ke hotel itu."


"Kesalahan? Kesalahan apa?" Dirga menautkan alisnya


Anin bingung harus menjelaskan seperti apa. Ia tidak mau menyampaikan apa yang di ucapkan Andre tentang dirinya.


"Aku hanya merasa bersalah. Di kamar itu, menginggatkan aku saat aku menyerahkan kehormatanku sebagai perempuan. Aku hanya ingin melupakannya. Itu saja."


Dirga paham apa yang sedang mengganggu pikiran istrinya.


"Tidak ada yang salah. Dan malam itu, bukan sebuah kesalahan. Kamu hanya berjuang untuk putri kita. Kamu tidak salah, Sayang... Jangan menyesalinya. Jadikan itu sebagai kenangan terindah di mulainya hubungan kita."


"Jika kamu tidak datang di malam itu. Hari ini aku belum memilikimu. Kita tidak akan bersama seperti ini."


"Kamu tau? Sebenarnya surat perjanjian itu berisikan puisi. Ungkapan rasa sukaku kepadamu, yang belum bisa aku ungkapkan langsung dari mulutku."


"Hah!! Yang benar?" Anin menutup mulutnya yang terbuka.


"Benar. Kamu itu wanita ceroboh. Menandatangani sesuatu sebelum membacanya. Bagaimana kalau saat itu aku punya niat jahat. Habis kamu!"


Memencet hidung Anin dengan menggoyangkannya.


"Mas... Sakit." Anin protes dengan manja.


Dirga mengecup keningnya penuh cinta, sebelum ia melanjutkan ucapannya.


"Malam itu aku tidak membelimu. Tapi aku membantumu. Sebelum aku memutuskan menghubungimu, aku sudah mencari tau siapa kamu. Aku tidak bisa mengauli wanita tanpa ada rasa cinta."


"Bolekah aku bertanya sesuatu Mas?"


"Tanyakanlah. Apa yang kamu ingin ketahui."


"Eem... Siapa wanita yang mengaku sebagai istrimu?"


"Merubah posisi duduk, Anin bangkit dari pangkuan Dirga. Mereka duduk bersama bersandar di ranjang dengan ukuran yang tidak terlalu besar.


Sebelum bercerita Dirga menarik napas lalu membuangnya. Menggengam telapak tangan kiri Anin, ia mencari kekuatan melalui sentuhan tangannya. Dirga membawa tangan kecil itu ke atas perutnya."


"Dia adalah Ratna Diyanti. Wanita yang aku nikahi 12 tahun yang lalu."


****


Bersambung ❤️


Jangan lelah berikan dukungannya ya..


Like, komen, hadiah dan votenya aku tunggu 🤗


Terimakasih 😘