Anindirra

Anindirra
Chapter 53



Makan malam ini terasa berbeda di sepanjang hidup seoarang Dirga. Bukan karna hidangan yang sederhana. Tapi karna ia bisa menikmati makanan dengan di kelilingi wanita-wanita kesayangannya.


Wanita polos dan lugu itu dengan tulus melayaninya. Sekecil apapun yang di lakukan Anin membuatnya merasa di perhatikan. Hingga, perhatian kecil yang di terimanya melebihi kebahagian saat ia mendapatkan tender dengan nominal milyaran.


*


*


Menerima panggilan dari Bayu, Dirga memilih ke luar duduk di teras rumah. Wajah tegang menandakan ada sesuatu yang penting yang di sampaikan. Ada sedikit masalah yang yang di sampaikan asistennya.


Selain membahas pekerjaan yang membutuhkan tandatangan Dirga. Bayu pun meminta kehadirannya besok di Jakarta sebelum jam menunjukkan pukul 10. Pertemuan penting dengan para pemegang saham besok tidak bisa di hadiri olehnya saja. Kehadiran pemilik Wijaya Grup sangat berpengaruh dengan keputusan yang akan di ambil dalam rapat. Jadwal itu sudah terencana seminggu yang lalu dan sangat tidak etis jika harus di undurkan.


Di sinilah Dirga sekarang. Dengan hanya memakai kemeja putih berlapiskan jas yang ia kenakan tadi pagi. Ia duduk di hadapan pemuka agama saling berjabat tangan mengucapkan ( menerima ) ijab kabul dari penghulu sebagai wali dafi memepelai wanita. Dengan Beni sebagai saksi dari pihaknya.


Sedangkan dari pihak Anin ada Bu Rahma dan Pak suryo yang mendampingi sebagai saksi. Menjabat sebagai kepala desa Pak Suryo adalah orang terdekat keluarganya, yang tak lain adalah orangtua Bagas.


Bu Rahma menyerahkan kepada pemuka agama sebagai wali. Di karenakan Ayah kandung Anin telah berpulang, dan juga tidak memiliki saudara laki-laki sebagai saudara sekandung, atau paman laki-laki dari kedua orangtuanya.


Anin duduk diam di samping Dirga, tak beda, ia pun hanya memakai pakaian biasa yang menutup seluruh auratnya.


Semua serba mendadak, dengan di antar supir dan Beni, Bu Rahma mendatangi rumah pemuka agama sekaligus penghulu, di sambung ke rumah Pak Suryo.


Pernikahan harus berlangsung malam ini, di karenakan besok pagi Dirga sudah harus tarbang ke Jakarta.


Setelah mendapatkan kabar dari Dirga, Beni segera meluncur. Dengan kecepatan penuh, mobil yang di kendarai sang supir tiba dengan cepat, 20 menit setelah ia menutup telfonnya.


Dengan tidak mengurangi kekhidmatan, proses itu berjalan lancar tanpa halangan. Dirga mengucapakannya dengan lantang dan tegas. Di sambut kata SAH dari para saksi. Rasa haru melingkupi suasana malam ini.


Bu Rahma harus berkali-kali membuang napas, untuk bisa meredam kesedihan yang ada. Sungguh ia tidak menyangka anaknya akan kembali menikah dalam situasi seperti ini. Rasa lega teriring doa dalam hatinya. Ia berharap ini untuk terahir dan selamanya.


Doa dan sedikit petuah di sampaikan penghulu sekaligus pemuka agama, di khususkan kepada dua insan yang telah menghalalkan hubungannya. Di ahiri sungkeman kepada Bu Rahma Dan Bude Darmi sebagai orang tua.


Di lanjutkan dengan saling bersalaman dan mengucapkan terimakasih kepada penghulu dan saksi.


Hanya teh dan kue seadanya yang di hidangkan dalam acara ini. tidak ada makannan mewah apa lagi kue pernikahan. Hanya mahar berupa uang tunai yang ada di dompetnya sebesar 2 juta sebagai syarat sah pernikahan.


Setelah bincang-bincang selesai. Mereka pun undur diri. Tak lupa Beni telah menyiapkan amplop tebal untuk di berikan kepada penghulu dan saksi, tentunya atas perintah Dirga.


*


*


Anin bangun jam setengah 5 pagi untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Walau terkadang ia tinggalkan karna kesiangan. Pagi ini hari pertamanya menyandang gelar sebagai istri.


Istri dari pria yang masih tertidur lelap dengan Alea berada dalam pelukannya. Semalam setelah acara selesai Alea meminta ikut tidur bersama di malam pertama untuk Anin maupun Dirga.


Senyum bahagia terukir di sudut bibirnya, menginggat kembali perjalanannya, hingga mengenal Dirga, terikat sebuah perjanjian karna saling membutuhkan. Di hiasai pertengkaran karna kesalahpahaman dan berahir di pernikahan mendadak.


Ke kamar mandi, ia mensucikan diri terlebih dahulu bebelum menghadap sang khalik. Menjalankan sholat subuh di mushola kecil yang berada di dekat ruang makan.


Setelah selesai ia ke dapur untuk ikut membantu Bu Rahma dan Tami yang sedang memasak untuk sarpan nanti.


"Wah! pengantin baru, masuk dapur." Bu Rahma mengodanya di iringi tawa dari Tami.


"Ibu, biasanya juga Anin masuk dapur." Dengan wajah malu-malu.


"Apa Dirga belum bangun?"


"Belum Bu, eem..., Anin belum berani membangunkannya untuk menjalankan kewajiban pagi ini."


"Tidak usah terburu-buru An, semuanya berproses, kamu harus mengingatkannya pelan-pelan. Jangan membuatnya terpaksa. Itu PR buatmu sebagai istrinya."


"Kamu harus mengajaknya dengan bahasa yang baik, jangan sampai membuat kesan yang membuatnya merasa buruk dam kita merasa lebih baik. Dunia dan akhirat harus seimbang."


"Layani lah suamimu dari mulai pakaian, makanan, dan dalam hal kebutuhannya dengan baik. jika ada masalah bicarakanlah dengan baik. jangan kabur-kaburan."


"Adakalanya ia memiliki masalah di luar rumah, mungkin soal pekrjaan, kamu harus bisa menjadi penyejuk tempatnya pulang."


Bu Rahma memberi wejangan kepada anaknya sebagai bekal, agar belajar menjadi istri yang baik.


"Ya, Bu. Anin akan terus mengingat pesan Ibu, Anin ke kamar dulu.." dengan membawakan minuman hasil buatannya.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6. Anin menaruh gelas berisikan kopi panas di atas nakas.


"Mas, Mas..." dengan lembut Anin mengusap-usap bahu Dirga.


"Mas, bangun yukk..." Butuh beberapi kali panggilan, Dirga baru membuka matanya. Ia mengusap wajahnya, mengumpulkan kesadarannya.


"Pagi, Sayang..." dengan suara serak khas bangun tidur. Menoleh ke samping, melihat Alea yang juga mulai bergerak, membuka mata lalu terpejam kembali. Membuat ia tersenyum gemas.


Pagi ini ia lewati dengan pemandangan berbeda.


"Pagi, Mas... Ayok bangun, bukannya kita harus bersiap-siap? Nanti kesiangan."


Ia menyambut uluran tangan Dirga yang memintanya membantu menariknya.


Dirga duduk di sisi ranjang dengan kepala sejajar di perut Anin. Ia merakul pinggangnya dan menengelamkan kepala di perut wanita yang sudah sah menjadi Nonya Dirga.


"Kamu wangi." … Dirga mengesek-gesekkan wajahnya di perut Anin.


"Apa sudah mandi?"


"Sudah Mas." … tangannya membelai rambut Dirga dengan ke lima jarinya.


"Mandi dulu, akanku siapkan air hangat.."


"Biarkan seperti ini dulu, Sayang... Biarkan aku menikmati wanginya dulu. Aku melewatkan malam pertamaku."


Anin tertawa pelan mendengar ucapan Dirga. Tentu ia paham apa yang di maksud.


"Jangan mentertawakanku, Sayang... kamu pasti tau semalam aku tersiksa. Ada satpol pp kecil yang lucu menjadi pengganggu."



"Hei! …harusnya aku yang merajuk, Alea menguasaimu semalaman."


Mereka berdua tertawa bersama.


"Masih banyak waktu, Sayang..." suara lembut itu mempu membuat Dirga nyaman.


"Sesampainya di Jakarta aku akan sibuk untuk beberapa hari." Dirga bicara dengan menenggadahkan kepalanya menatap Anin.


"Aku akan sabar menunggu." Anin tersenyum malu.


"Ahh! Sepertinya aku harus memaksa Bayu untu meluangkan waktu untukku menikmati bulan madu."


****


Bersambung ❤️


Mohon dukungan komentarnya yaa..


Juga like, hadiah dan votenya 🤗


Menyusul 1 BAB lagi 😊


Jangan lupa simpan dalam faporit ❤️


Terimakasih. Salam sayang ❤️