
"Ohh, aku menunggumu Papi Boy.. Cepat lakukan.. Aku sudah tidak tahan."
Singa ganas itu semakin mengila setelah tertantang oleh sang wanita. Dengan kekuatan yang besar ia semakin menggempur hingga sang wanita harus menyesali ucapannya, saat mendapati sang suami tak memberikannya ampun.
Ia berjanji dalam hati tak akan berani menantangnya lagi. Cukup lama bermain, belum ada tanda-tanda Dirga akan berhenti.. Ia harus mengaku kalah dan menyerah saat merasakan sesuatu mengumpul menjadi satu yang akan segera meledak keluar membawanya masuk ke dalam kubangan kenikmatan.
Anin berteriak kencang dengan menyebut nama Dirga saat pelepasan di dapatnya. Pria itu terus bergerak, tak memberikan jeda, saat cairan hangat menyiram deras miliknya, pria itu ikut menikmatinya juga, kehangatan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata...
"Kamu menyerah, Sayang.." Dirga bicara dengan terus menghentakkan pinggulnya.
"Ya, aku mengaku kalah.."
Anin terkekeh di bawah kungkungan dengan tubuh terguncang semakin cepat membuat gunungnya ikut bergoyang..
Hingga beberapa menit kemudian, tubuh tegap dengan bahu lebar dan dada bidang itu mengerang, menggelepar meraih puncak di atas lembah semeru yang telah di luluh lantahkannya, tubuhnya bergetar dengan menyebut nama.
Anindirra...
Pasangan itu tengah terkapar di atas luasnya singgasana, masih belum bisa menghilangkan sisa-sisa rasa dari pertempuran.. Keduanya telah mendapatkan dan menuntaskan apa yang di kejarnya.
"Terimaksih, Sayang.." Dirga mengecup kening Anin dengan penuh kasih sayang.
"Aku akan menemani dan membantumu membersihkan badan.."
"Biarkan aku jalan, Mas.. Badanku sudah bertambah berat." Anin menolak saat Dirga akan mengangkat tubuhnya.
"Kamu mergukan kekuatanku, Sayang."
"Oh, tidak Papi Boy.. Aku hanya ingin kamu menghemat tenagamu." Anin tersenyum mengedipkan matanya.
"Kamu semakin nakal, rupanya. Jangan khawatir, Sayang …aku masih cukup kuat untuk beberapa kali lagi.."
"Mau mencobanya sekarang?"
Dengan tubuh polos dan rambut tergerai indah, Anin buru-buru masuk ke dalam kamar mandi saat melihat sesuatu yang sudah tegak berdiri.
Dirga tertawa lepas, saat melihat pergerakan Anin, yang terlihat lucu dan menggemaskan.
"Sayang, tunggu aku.. Biarkan aku saja yang menyiapkan air ke dalam bathup." Dirga bicara dengan menyembulkan kepalanya di samping pintu.
"Kamu menginginkan sesuatu? Aku akan memesan makanan?"
"Pesankan saja semua makanan yang enak dan mahal di restoran hotel ini.. Wanita hamil ini butuh pasokan energi yang banyak jagoan..." Anin bicara menghadap kaca besar, sambil menghitung jejak yang di tinggalkan Dirga dengan warna merah di seluruh tubuhnya.
Tak butuh lama, pria itu sudah menyusul masuk dengan tubuh sama polosnya.
"Apa perlu ku tambahkan?" sambil mengisi air hangat ke dalam bathup, ia bisa melihat wanita itu tengah menghitung jejaknya.
"Ishh.. Llihatlah, aku sudah seperti macan tutul betina.." Anin cemberut dengan memperlihatkan kepada suaminya yang tengah memberikan cairan sabun ke dalam bathup yang sudah terisi penuh dengan air hangat.
Tak lupa, pria itu menghidupkan lilin aroma terapi yang telah di sediakan pihak hotel sebagai pelengkap paket kamar Babbymoon yang di pesannya.. Dirga ingin menutup perjalanannya di Negara Eropa dengan memberikan kesan yang tidak akan pernah terlupakan.
Menyempurnakan Quality Time dengan pasangannya berdua sebelum bayinya lahir dan ia akan kembali sibuk dengan rutinitas pekerjaannya. Ia ingin memanjakan semampu yang bisa ia lakukan untuk wanita yang akan menjadi Ibu dari anaknya, wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta.
"Sudah …jangan mengomel, Sayang.. kamu terlihat semakin seksi.. Jangan lama-lama berdiri di hadapanku dengan keadaanmu seperti itu, atau aku akan membuatmu kelelahan sepanjang hari."
Pria itu menggiring wanita itu agar masuk ke dalam bathup dengan posisi ia berada di belakang punggung sang istri. Dan Anin duduk di tengah di sela-sela kedua belah paha Dirga.
"Biarkan aku membantu membersihkan punggungmu." Dirga mulai mengosok pungung yang tampak putih mulus itu dengan spons lembut, Tangan itu terus bergerak mengikuti setiap lekukan tubuh yang tampak semakin berisi efek kehamilanny.
"Mas, tanganmu tolong di kondisikan." Anin menepuk pelan tangan jail itu.
"Sayang, tanganku bergerak sendiri."
Pria itu mulai berniat mengakali istrinya
"Aku baru tau ada tangan bergerak sendiri tanpa mendapatkan perintah."
"Jangan protes, Nyonya.. Cukup rasakan saja, biarkan aku yang bekerja. Sekalian aku akan memijit punggungmu.."
"Tenang saja aku akan memberikan servis terbaik untuk wanita cantik sedunia."
"Mas, itu bukan memijit namanya." Anin protes saat tangan itu mulai bergerak kemana-mana.
"Ini pijatan untuk ibu hami, Sayang …aku sudah mempelajarinya di NewTube.."
Anin terkikik menahan geli meraskan pijatan Dirga yang seperti mengelitik, sesekali pria itu mengecup dan mengigit pundaknya.
"Aku terapis bersertifikat, Sayang.. Pijatan ini khusus, special untuk wanitaku tersayang. Pijatanku tidak ada duanya."
"Ya, Mas.. Pijatanmu memang yang terbaik, selalu memberikan rasa nikmat yang luar biasa." memejamkan mata, Anin mulai merasakan pijatan itu mulai berubah menjadi elusan yang terus turun ke bawah dan sampai ke pangkal paha.
Wanita hamil itu menurut ketika Dirga memintanya membalikkan badan dengan duduk di pangkuannya dengan alasan ingin membersihkan bagian depan.
Bermulut manis pintar merayu, pria itu berhasil membuat air di dalam bathup bergoyang kencang …menyerupai banjir bandang, berubah meluap-luap bak sunami dadakan.
Maaassss....
©©©©©
Dirga mengenakan jubah handuknya, saat pengantar makanan memencet bel kamarnya. Ia baru selesai berlayar di tengah gelombang. Acara menggosok punggung dan memijit itu berubah menjadi guncangan dahsyat hingga membelah lautan. Pria itu berlayar dengan menggunakan kapal pesiar lalu berhenti di dermaga saat penumpangnya sudah kelaparan.
Pelayan itu mendorong troly ke dalam berisikan beragam menu yang akan ia hidangkan, dan di pindahkan di atas meja makan. Seusai yang di pesan, segala macam makanan sudah tertata rapi dengan dekorasi layaknya makan romantis di tengah malam
Anin keluar dari dalam kamar mandi sama-sama menggunakan jubah handuk, dengan rambut basah yang masih menetes menyentuh lantai.
"Mas.." Anin mencari keberadaan Dirga.
"Ya, Sayang.." pria itu muncul dari arah balkon dengan pemandangan sungai Amstel dengan perahu yang terus bergerak mengitari Kota Amsterdam.
Dirga membawa Anin agar duduk di kursi dengan meja yang telah di penuhi segala macam menu hidangan lezat yang tampak menggugah selera, dari mulai waterzooi, sejenis sup yang di buat dari bahan dasar ikan yang tentunya enak dan sehat, di dalamnya di tambahkan beberapa jenis sayuran sehat di makan denga roti belanda, sup ini memiliki kuah berwarna putih mirip seperti opor ayam jika di indonesia. Di tambah menu yang lainnya, dari mulai daging-dagingan seperti Hutspot, tak ketinggalan, kentang, wafel, dan beberapa macam minuman segar dan buah-buahan.
"Duduklah, aku akan mengeringkan rambutmu dulu." Dirga mulai mengusak rambut basah wanitanya dengan handuk, sebelum ia mulai menyantap makanan..
Selesai dengan apa yang di lakukannya, pasangan yang sudah kelaparan itu menyantap hidangan dengan lahap dan di selingi obrolan.
Melalui kaca tembus pandang, dan pintu balkon yang terbuka, Anin dan Dirga dapat menikmati pemandangan kota Amsterdam sambil menikmati hidangan dengan hanya mengenakan jubah handuk berwarna putih sebagai penutup tubuh.
"Mas, kapan kita akan kembali ke Indonesia?" Anin bertanya di sela-sela makannya.
Seminggu lagi, Sayang..
****
Bersambung ❤️