
Selamat ulang tahun Alea Damar Wijaya. ucapan selamat bersamaan di teriakan dari anak-anak panti asuhan, untuk gadis kecil yang berada di atas podium setelah lagu selamat ulang tahun di nyanyikan bersama-sama.
Ungkapan tulus di ucapakan dengan memberikan selamat kepada putri pertama dari pemilik perusahaan besar yang mampu menaungi puluhan ribu pekerja di seluruh Negri Indonesia Tercinta.
Acara potong kue ulang tahun yang menjulang tinggi dengan angka 4 di pucuknya di potong bersama-sama oleh Alea dengan di bantu Dirga. Suara riuh tepukan tangan terdengar kembali saat Alea memberikan suapan pertamanya untuk sesosok pria yang teramat di sayanginya.
Untuk pria yang sudah merangkulnya dalam kesakitan, untuk pria yang selalu melindungi, untuk pria yang melimpahkan curahan kasih sayang tanpa batasan, untuk pria yang megikrarkan dirinya menjadi Papi baginya sehingga nasibnya tidak seperti ratusan anak yang saat ini ada di hadapannya.
Untuk Pria yang tanpa syarat telah memberikan nama belakangnya kepada gadis kecil yang bukan darah dagingnya. Untuk pria yang selalu memanggilnya dengan sebutan putriku. Saat sosok ayah kandungnya tak memberikan itu semua kepadanya.
Acara ini di sematkan sebelum acara makan siang dan akan di lanjutkan dengan acara yang telah di persiapkan oleh perusahaan hingga berlanjut sampai malam.
Satu persatu anak-anak dari beberapa panti asuhan naik ke atas podium untuk meyalami, memberikan selamat kepada gadis mungil yang terlihat cantik, imut, dan menggemaskan, dengan di dampingi Bastian, Alyne, Bu rahma, Dirga dan Anin yang memang masih berada di atas podium..
Tawa ceria dan gembira selalu Alea tunjukkan, saat menyambut uluran tangan sebagai bentuk ucapan, di barengi dengan menyerahkan satu persatu amplop dan satu box kue ulang tahun yang telah di persiapkan hingga sampai di urutan terakhir dan di lanjut dengan acara makan siang bersama, sebelum menuju acara puncaknya.
*
*
*
Bayu membisikkan sesuatu ke telinga Dirga. Ketika pria itu sudah turun dari podium dan sudah menyelesaikan perayaan ulang tahun Alae. Bayu menyampaikan keinginan dan permintaan yang di sampaikan oleh Johan.
"Sayang, aku.." Dirga nampak berpikir, ia tidak ingin apa yang di sampaikan ke istrinya akan membuat Anin cemburu dan curiga.
"Temuilah, Mas.. Aku mengijinkanmu.. Kalian harus bicara berdua. Selesaikan apa yang belum terselesaikan. Aku percaya kepadamu." Anin mengecup bibir Dirga sekilas.
"Aku menunggumu di sini Tuan. Janji.." Anin tersenyum dengan menunjukkan dua jarinya ke wajah suaminya.
"Bik, jangan tinggalkan istriku. Tunggu di sini, jangan kemana-mana."
"Baik, Tuan."
Saat turun dari podium, tidak di sengaja Anin mendengar pembicaraan Johan dan Bayu saat ia meminta Bik Asih menemaninya untuk pergi ke kamar mandi.
Dirga dan Bayu pergi ke tempat tertutup tak jauh dari podium, sebuah tenda yang di peruntukkan untuk beristirahat para tim Dokter. Dengan Bayu dan para keamanan berada di luar.
"Mas.." Ratna bangun dari duduknya ketika melihat Dirga masuk ke dalam tenda mendatanginya.
"Kamu memintaku untuk menemuimu?"
Dirga bicara dengan tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia bisa melihat perubahan di diri Ratna. Biasanya wanita itu akan menggenakan pakaian kurang bahan, tetapi saat ini Ratna menggunakan pakaian yang terlihat sopan.
"Ya, Mas.. Maaf, aku harus meminta waktumu sebentar di tengah kesibukanmu. Ada yang harus aku sampaikan kepadamu."
"Katakan, aku tidak bisa lama-lama meninggalkan istriku."
Menarik napas panjang Ratna mulai memberanikan diri untuk bicara.
"Yang pertama, aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Kamu sudah mendapatkan pendamping yang tepat. Aku turut berbahagia, selamat juga untuk kehamilannya." kamu akan mendapatkan penerus keluarga Wijaya.
Dirga mendengarkan.
"Aku juga sangat berterimakasih, panti asuhan delima tidak tercoret dari daftar list perusahaan Wijaya sebagai penerima bantuan setiap bulannya. Terimaksih, apa yang kami terima sangatlah berarti sehingga dapat membantu kelangsungan hidup dan sekolah anak-anak panti."
"Aku tidak pernah mencampur adukkan masalah pribadi dengan kewajibanku." Dirga merespon ucapan Ratna.
"Ya, aku tau Mas.. Seumur hidupku, aku mengenalmu sebagai pria baik dan bertanggung jawab. Maka dari itu aku Ratna Diyanti sungguh-sungguh meminta maaf kepadamu, selama 12 tahun hidup berdampingan denganmu, aku telah banyak mengecewakan dan menyakitimu, aku mohon maafkan aku."
"Aku telah menghianatimu, aku telah membohongimu. Maafkan aku Mas, aku mengungkit masalalu kita.. Aku, mengakui semua kesalahanku, yang selama ini tidak pernah aku akui, aku juga selalu melimpahkannya kepadamu."
Dirga menghembuskan napas panjang setelah mendengarkan penuturan Ratna. Ia menatap wanita masa lalunya, wanita yang pernah di cintainya selama 5 tahun. Ia pun harus mengakui, apa yang telah di perbuat Ratna, tak lepas dari kesalahannya juga. Waktu dan kesibukan membuatnya tak sadar telah mengabaikannya.
"Aku sudah memaafkanmu. Begitupun sebaliknya, akupun meminta maaf, tidak banyak momen bahagia yang bisa aku berikan untukmu. Bukan hanya kamu yang bersalah, tetapi aku juga. Aku telah gagal menjadi imam yang baik saat bersamamu."
"Lupakan semuanya. Masa lalu kita
jadikan cerminan dan pembelajaran untuk kita melangkah ke depan bersama pasangan kita. Aku harap, kamu menjalani hidupmu dengan tenang."
"Jangan sia-siakan pria yang dengan rela, dan bersedia mendampingimu juga mencintaimu. Aku rasa sudah cukup, pembicaraan kita.. Nikmatilah hari ini dan selanjutnya."
Ada rasa lega di hati Ratna, saat Dirga pergi meninggalkannya, setitik air mata yang ia tumpahkan bukanlah air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagian dan ketenangan yang sudah ia dapatkan.
Tekadnya sudah bulat, ia tidak akan menyia-nyiakan hidupnya dan orang-orang yang mencintainya dengan tulus. Ia akan melanjutkan perjuangan Buk Dini dengan menghabiskan sisa hidupnya berada di bandung. Di panti asuhan delima sebagai bentuk penghormatan untuk sosok wanita yang sudah tulus ikhlas membesarkannya.
"Bumiiiilllll...." suara cempreng Dewi memekakkan telinga, wanita itu datang bersama Mira. Menemui Anin di tenda khusus keluarga.
"Kangaeeeen..." Dewi memeluk Anin dengan luapan gembira, begitupun dengan Mira yang bergantian memeluk Anin.
"Gak berubah-beruah ya dari dulu, senengnya teriak-teraik.." Anin balas bicara.
"Apa kabar Wi, Mir?" Anin bergantian bertanya..
"Seperti yang kamu lihat.. Aku sehat." Dewi berpose memperlihatkan tubuhnya.
"Dasar narsis.."
"Kamu tau gak Nin?"
"Enggak.."
"Issh, kamu juga tidak berubah.. Selalu mematahkan ucapanku."
"Biarin.." Anin mencebikkan bibirnya.
"Aku senang banget liat kamu di podium tadi, serasa sedang menonton dongeng sebuah kerajaan di negri antah berantah yang berperan sebagai permaisuri di peristri pangeran tampan."
"Terus kamu berperan menjadi nenek sihirnya ya, Wi." Anin mencandai Dewi, dengan di sambut gelakan tawa dari Mira.
"An, kamu sudah dengar kabar?" Mira bertanya
"Kabar? Kabar apa Mir?"
"Tidak lama lagi temanmu ini akan menyusulmu naik ke pelaminan. Bulan kemarin, Aldi di promosikan naik jabatan menjadi Kepala Bagian." ucap Mira sambil melirik Dewi yang tersenyum malau-malu.
"Ohyaaa.... Selamat ya Wi, kog kamu gak kabarin aku sih?"
"Gimana mau kasih kabar, kalau info yang aku terima, istri seorang pengusaha pemilik perusahaan Wijaya Grup sedang Babymoon keliling Negara Eropa. Gak tanggung-tanggung sampai dua bulan."
Obrolan ketiga wanita itu berlanjut sangat seru, sampai Anin tak menyadari kehadiran Dirga yang langsung datang mendekat.
"Sayang, kamu harus istirahat.."
****
Bersambung ❤️
Tinggalkan dukungan ya